DIKOTOMI DAN ORANG-ORANGAN

Kalau bukan kawan artinya lawan, bukan hitam berarti putih, bukan perempuan berarti laki. Bukan panas berarti dingin. Cinta atau benci. Pintar atau Bodoh. Rajin atau Malas. Baik atau jahat. Seiman atau tak seiman. Hidup atau mati. Kami atau kamu. Kita atau mereka. Orang beriman atau kafir. Pria atau wanita. Jantan atau betina. Timur atau Barat, Modern atau tradisional.

Sering cara berpikir ini sengaja dibangun untuk menciptakan efek-efek tertentu sesuai dengan tujuan-tujuan (politis?) tertentu. Ketika ada diskursus dahulu tentang rancangan undang-undang anti pornografi, kaum dikotomis selalu mengandaikan bahwa pihak yang menentang undang-undang pornografi adalah pendukung pornografi. Padahal kedua belah pihak sama-sama menolak pornografi.

Dikotomi itu sengaja dibangun dengan membentuk kubu yang semu. Pandangan yang berseteru sesungguhnya adalah antara pendukung RUU Anti-Pornografi dan penentang RUU Anti-Pornografi. Dan kedua kelompok yang berseteru ini sesungguhnya sama-sama menentang pornografi. Tetapi oleh para dikotomis, kondisi ini dipelintir menjadi perseteruan antara pihak yang mendukung pornografi dan pihak yang menolak pornografi. Persoalannya bukan pada menolak pornografi atau mendukung pornografi, melainkan pada mendukung atau menolak rancangan undang-undang anti pornografi.

Kedua kubu sesungguhnya menolak pornografi, dan bertekad memerangi pornografi. Masalahnya adalah apakah pornografi bisa diperangi dengan cara menetapkan sebuah undang-undang? Pornografi itu sesuatu yang subyektif dan berada di wilayah privat, bagaimana bisa dipatok secara obyektif di wilayah publik? Tentu saja ada obyek atau sikap dan perilaku tertentu yang bisa berefek porno pada seseorang, tetapi bagi orang lain tertentu, efek itu tidak terasa. Pakaian minim di Jakarta mungkin berefek porno, tetapi tidak demikian untuk masyarakat tribal di wilayah-wilayah pedalaman Indonesia. Pornografi juga sering diasosiasikan dengan pakaian minim, padahal ada juga pria yang malah bisa berfantasi ria di angan-angan pornografis ketika berhadapan dengan wanita yang berpakaian lengkap dan tertutup.

Pola serupa muncul lagi ketika ada diskursus tentang hukuman mati bagi para terpidana narkoba. Ada pihak yang setuju dengan hukuman mati ada yang menentang hukuman mati. Cara berpikir dikotomis pun dibangun dengan cara menganggap para penentang hukuman mati sebagai pendukung narkoba. Padahal kedua pihak sama-sama anti narkoba, hanya saja yang satu menunjukkannya dengan memberlakukan hukuman mati, yang lainnya bukan dengan hukuman mati.

Salah satu model aplikatif dari dikotomi ini lazim dikenal sebagai the straw man. Istilah ini lazim diterjemahkan sebagai kesesatan orang-orangan atau manusia jerami. Subyek yang menjadi sasaran tembak sering dijadikan semacam orang-orangan, supaya kemudian mudah untuk dibidik dan ditembaki. Trik ini sering digunakan oleh para provokator dan kaum demagog. Karena itu, domain yang paling laris bagi model ini adalah saat pemilu, pilpres atau pilkada; saat di mana ada kompetisi antara dua atau lebih kubu untuk memperebutkan sebuah kedudukan. Suasana lalu menjadi lebih hangat, dan upaya dukung mendukung bisa menciptakan perkubuan yang sering tidak mudah cair, bahkan setelah pemilu, pilpres atau pilkada lama berlalu.

Dalam suasana yang cenderung menghangat itu, sebuah tuturan yang mungkin pada saat diucapkan tidak dipermasalahkan, bisa saja kemudian ditampilkan menjadi argumentasi semu yang membuat pikiran sehat menjadi terselubung oleh emosi yang terus digosok. Caranya adalah dengan menjadikan penuturnya sebagai the straw man. Dan trik the straw man ini akan efektif bila dilakukan oleh provokator, dengan berbagai cara. Misalnya dengan menghasut dan mengkompori, membuat rasionalisasi semu, atau bujukan rayuan dan sogokan.

Sebuah tuturan atau perilaku yang tidak menimbulkan kemarahan atau meninggikan tensi emosi dan suasana hati audiens, sesungguhnya telah mencair bersama dengan konteks tuturan. Suasananya kemudian akan berubah ketika ada provokator yang merangsang dan menggosok emosi audiensnya agar menjadi emosional. Dengan demikian emosi itu tidak ditimbulkan oleh tuturannya melainkan oleh sang komporer. Konteks tuturan tidak lagi menjadi perhatian; yang dijadikan acuan adalah teks tertentu, yang kemudian diberi aksen. Pantas kalau dikatakan bahwa berhadapan dengan orang yang dibenci atau tidak disukai selalu bisa saja ditemukan alasan untuk membenci dan membully. Lebih parah lagi adalah bahwa orang yang tidak disukai hanya karena alasan etnis, agama, golongan atau kubu, tetap tidak akan disukai walaupun sudah banyak hal baik yang dilakukannya; ada semacam kebencian eksistensial.

Dan sebaik-baiknya orang, pasti ada sisi buruknya. Karena itulah budaya manusia menghadirkan mekanisme untuk menghadapi kelemahan ini, dengan permohonan dan pemberian maaf atau saling memaafkan. Nah, si pembenci hanya akan melihat sisi buruknya saja. Dan sisi buruk inilah yang akan ditampilkan (framing) sebagai orang-orangan (the straw man) di tempat yang strategis, agar jelas teramati dan mudah untuk dibidik dan ditembaki.

Sesungguhnya tidak ada dikotomi murni dalam diri manusia. Karena identititas manusia tidak bisa dieksklusifikasi menjadi dikotomis. Dikotomi orang beriman dan orang kafir, akan kehilangan batasnya dalam dikotomi etnis (Jawa dan nonJawa, misalnya),  karena dalam etnis Jawa ada juga orang yang dianggap beriman dan yang dianggap kafir), yang pada gilirannya juga akan kehilangan batasnya karena terlintas oleh dikotomi  pria dan wanita, dan seterusnya. Maka dalam masyarakat yang sehat perlu dipupuk terus kondisi anti-dikotomi yang secara serta merta akan mencairkan suasana ketika ada ketegangan dikotomis antara satu kelompok dan kelompok lainnya.

Kondisi dikotomis itu tidak akan bisa bertumbuh dengan sendirinya secara kodrati dan alamiah kalau tidak direkayasa. Rekayasa itu manipulatif; ada pihak yang memanipulasi dan ada pihak yang dimanipulasi, ada pihak yang memperalat dan ada yang diperalat. Di sana tidak ada kesetaraan sebagai manusia. Pada hal politik, menurut Hannah Arendt, adalah tindakan manusia yang paling tinggi di mana orang bertindak dalam kebersamaan (in concerto). Di sini ada transaksi argumentasi yang menuntut kesetaraan. Transaksi argumentasi akan menjadi fair kalau dilakukan dalam kesetaraan. Di sinilah kualitas sebuah argumentasi bisa teruji secara autentik tanpa tekanan atau sanjungan manipulatif. Argumentasi dikotomis atau argmentasi ala the straw man pasti bukan argumentasi yang bermutu untuk ditransaksikan dalam politik.

Benyamin Molan

“TERIMA-KASIH” DALAM BAHASA KEDANG

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan oleh para pemerhati bahasa Kedang adalah: apa istilah “terima-kasih” dalam bahasa Kedang. Bahkan ada yang mengatakan bahwa dalam Bahasa Kedang, istilah terima kasih itu tidak ada. Berarti orang Kedang tidak tahu terima-kasih. Ini kesimpulan yang menyesatkan. Kata terima-kasih sebenarnya berarti saya menerima dan mengakui kasihmu, kebaikanmu, perhatianmu, dan semua jasa dan pengorbanan yang kau lakukan untukku dengan kebesaran hati.

Dalam bahasa Kedang istilah “terima kasih” atau kerennya “thanks” memang tidak ada. Tetapi itu tidak secara niscaya berarti ekspresi terima kasih juga tidak ada pada orang Kedang. Orang Kedang mengekspresikan terima kasihnya dalam bahasa yang lebih bersifat naratif.  Berarti terima kasih dalam bahasa Kedang tidak disampaikan dengan istilah melainkan dengan narasi.  Ketika orang datang mengunjungi keluarga saya, misalnya, dan membawa sesuatu sebagai buah tangan (jarang orang pergi mengunjungi orang  atau keluarga lain dan tidak membawa buah tangan), biasanya yang diucapkan oleh ibu saya adalah kira-kira seperti ini: “Eroq e, o meq ape ta noq wa… ma piloq e kohaq di paq meq nore ape-ape heneq, dst.  (Sayang e, apa nih yang dibawa … datang kunjungi kami koq mesti bawa-bawa segala, dst). Dan ketika pulang pun si kerabat yang datang berkunjung itu akan juga diberi buah tangan untuk dibawa pulang. Narasi yang terdengar adalah kira-kira seperti ini “eroq e, keq ape-ape beq tokong ne, meq mo hengan nore iqa turin hara ite noq” dst. (sayang e, kami tak punya apa-apa, ini ada sedikit jagung titi dan ikan kering, mohon dibawa ya, dst). Inilah bahasa ekspresif orang Kedang untuk menyatakan terima kasih, bukan dalam rumusan istilah yang sudah pakem, eksak, dan mati, melainkan dalam bentuk narasi yang hidup, komunikatif, tulus, dan datang dari hati. Sekarang, karena pengaruh yang ditimbulkan oleh bahasa Indonesia, orang Kedang mulai terbiasa mengucapkan kata terima kasih, tetapi tetap dalam formula bahasa Indonesia yang sudah dipolesi dengan nuansa Kedang sehingga menjadi “tarimaq kasih e, rai-rai” (terima kasih ya, banyak-banyak).

Dalam dunia pergaulan modern pun budaya komunikasi ekspresif naratif itu sudah mulai kurang mendapat perhatian. Orang mulai terasuk oleh budaya yang serba instan, praktis, dan pragmatis. Anak-anak tidak lagi diajarkan untuk berterima kasih dalam bentuk narasi, tetapi dalam bentuk  istilah yang lebih singkat, sederhana, dan barangkali lebih enteng. Ketika anak diberi sesuatu, permen atau kue, dari seseorang, ibunya akan mengajarkan anaknya untuk mengucapkan “terima kasih”. Seorang Ibu Kedang akan mengatakan pada anaknya: “Teheq tele terima kasih” (Bilang terima kasih); lebih praktis memang, daripada harus mengajarkan anak bernarasi. Bahkan lebih singkat dan praktis lagi ketika diucapkan dalam  bahasa Inggris, “thanks”. Suatu saat ibu Kedang akan, atau mungkin sudah, mengajarkan anaknya, ketika diberi sesuatu oleh orang lain, “teheq tele, thanks”.

Bahasa tidak hanya mengekspresikan budaya tetapi juga menciptakan dan membentuk budaya. Maka bahasa juga mengindikasikan sekaligus juga membentuk perilaku, cara berpikir, sikap hidup, mental, budaya, peradaban dan lain-lain. Ketika pertama kali tiba di Yogyakarta, saya merasa aneh, ketika menawar becak, dan tukang becak bertanya “Orang berapa?” Bukankah bahasa Indonesia yang benar itu “berapa orang” (yang akan menumpangi becak saya)? Baru saya ingat bahwa dalam bahasa Kedang dan, setahu saya, dalam bahasa Lamaholot (bertetangga dengan bahasa Kedang) pun, ada struktur yang sama: Orang berapa (Bahasa Jawanya: wong piro; Kedangnya: ate pie? Lamaholotnya, ata pira?). Struktur bahasa ini memberi kesan bahwa orang, lebih ditekankan di sini, daripada berapa. Orang menjadi perhatian utama, bukan berapa.

Walaupun belum ada penelitian yang pasti tetapi ada kesan bahwa penutur bahasa Kedang mulai menyusut, tidak hanya dalam soal kuantitas (semakin banyak eksodus), tetapi juga dalam hal kualitas (dipengaruhi oleh bahasa lain). Tidak heran bahwa para penutur muda dari Kedang, kurang berbahasa Kedang dengan baik. Pernah salah satu anak muda dari generasi ini,  saat baru tiba di rumah (di Jakarta), saya tawari makan dalam bahasa Kedang, “ka min” (ayo, makan); dan karena sudah makan, dia menjawab “ka min deq ku”.  Saya terkejut. Bahasanya kacau. Seharusnya jawabannya ‘a ‘in deq ku (saya sudah makan), atau kalau “kami sudah makan” ka min deq ke. (bukan ka min dek ku), atau kalau mereka sudah makan “a sin deq ya”, atau dia sudah makan, “ka nin deq ne”. Apakah engkau sudah makan “ka min deq ko?”. Kalimat Ka min deq ku adalah kalimat yang salah dari gabungan dua kalimat yang benar. Dua kalimat yang benar adalah: ka min deq ke  dan ‘a ‘in deq ku, menjadi satu yang salah yakni: ka min deq ku. Sayangnya, bahwa hal yang salah ini sering berpotensi untuk kemudian menjadi kebiasaan lalu dianggap wajar dan selanjutnya serta merta menjadi benar.

Ini sering terjadi pada Bahasa Indonesia. Dulu orang menganggap aneh kalau ada yang mengatakatan “Jawabanmu sangat tepat sekali”. Tetapi sekarang uangkapan itu sudah menjadi biasa. Atau kalimat “Di Indonesia memiliki aneka ragam budaya” dulu dianggap aneh karena salah (kata depannya mengacaukan), tetapi sekarang sudah dianggap biasa. Kalimat yang salah ini sesungguhnya berasal dari dua kalimat yang benar, lalu dijadikan satu kalimat yang salah. Kalimat benar pertama: “Di Indonesia terdapat beraneka ragam budaya”. Kalimat benar kedua: “Indonesia memiliki beraneka ragam budaya”. Dua kalimat ini dijadikan satu kalimat yang salah. Dari kalimat pertama diambil “Di Indonesia”, dan dari kalimat kedua diambil “memiliki beraneka ragam budaya”. Jadilah kalimat baru yang salah: “Di Indonesia memiliki beraneka ragam budaya”.

Untuk mencegah punahnya bahasa Kedang karena merosotnya penuturnya, perlu ada pelestarian yang dikembangkan secara sadar dan sengaja. Penuturan bahasa Kedang perlu lebih diintensifkan. Grup-grup bahasa Kedang dalam WA, BBM, FB, Twitter dan sebagainya perlu dilestarikan dan dikembangkan terus. Mudah-mudahan dengan bantuan teknologi ini, bahasa Kedang tetap lestari di lidah para punya penuturnya. Orang Kedang perlu bersyukur bahwa ada peneliti yang sudah mengabadikan beberapa aspek budaya dan bahasa Kedang. Nama-nama seperti van Trier, Rober H. Barnes, dan Ursula Samely, sudah tidak asing lagi di kuping orang Kedang. Siapa menyusul?

PILKADA LEMBATA: KONSTRUKSI, DEKONTRUKSI, REKONSTRUKSI, ATAU ANAMNESE DAN REVISI

Lembata: Selamat berkompetisi tanpa mengeruhkan air

Lembata: Selamat berkompetisi tanpa mengeruhkan air

Berbagai media sudah memberitakan bahwa sudah ada lima pasangan bakal calon (balon) bupati dan balon wakil bupati Lembata yang lolos seleksi administrasi Komisi Pemilihan Umum (KPU).  Lima pasangan balon tersebut, adalah Tarsisia Hani Chandra dan Linus Beseng (Paket Halus), yang menempuh jalur perseorangan; pasangan Eliaser Yentji Sunur dan Thomas Ola Langoday (paket Sunday) yang diusung partai Golkar, NasDem dan Hanura, serta didukung oleh PKPI dan PPP; pasangan Herman Loli Wutun dan Yohanes Vianney Burin (Paket Titen) yang diusung Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS); Pasangan Viktor Mado Watun dan Muhammad Nasir (Paket Viktori) yang diusung oleh PDIP dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB); pasangan Lukas Lipatama Witak dan Ferdinandus Leu (Paket Winners), yang diusung Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Demokrat.

Barangkali selain paket HALUS,  paket-paket balon ini sesungguhnya tidak menampilkan wajah-wajah baru. Kalau dianalogikan dengan liga sepak bola, bisa dikatakan bahwa yang tampil sekarang adalah tim-tim lama yang akan kembali berkompetisi; termasuk di sini sang petahana. Apakah petahana akan mampu menapakkan kakinya kembali, atau malah tersingkir oleh tim lainnya.

Setelah mencermati paket-paket ini, timbul semacam kesan bahwa masing-masing paket ini menampilkan kekhasannya yang memiliki ciri-ciri dan posisi strategi tertentu, yang terbentuk dalam perjalanan mereka berkompetisi memperebutkan posisi menjadi orang nomor satu di Lembata. Ciri-ciri ini tidak bersifat begitu eksklusif dan ketat, melainkan lebih sebagai kecenderungan yang ikut dipengaruhi oleh kondisi paket entah sebagai wajah baru atau lama. Wajah-wajah lama pun harus diakui, sesungguhnya datang dari berbagai tipe dengan masing-masing konstruksi historisnya; entah muka lama yang tidak lolos seleksi, atau lolos tetapi kalah dalam pertarungan, lolos tetapi tidak puas dengan posisinya, atau yang menyesal, karena sebetulnya sudah lolos, tetapi barangkali adanya blunder pada detik-detik akhir, telah menjadi nila setitik yang merusak susu sebelanga. Lima paket ini memiliki lima kekhasan yang akan menjadi modal dan arah gerakan mereka menuju kesuksesan, entah sukses mendapatkan kursi bupati, atau sukses membangun satu landasan politis yang bisa menjadi kapital bagi masa depan jangka dekat atau barangkali masa depan jangka jauh.

Lima kekasan yang bisa dikenakan pada masing-masing paket adalah konstruksi, rekonstrusi, dekonstruksi, anamnese, dan revisi.

KONSTRUKSI

Sederhananya konstruksi adalah usaha untuk membangun sesuatu dari awal mula. Ini akan merupakan pendekatan yang bakal lebih banyak dilakukan oleh wajah baru, seperti paket Halus. Paket Halus barangkali akan lebih berkonsentrasi dalam melakukan konstruksi. Maka paket ini harus mengkonstruksi sesuatu yang baru, yang menarik perhatian, dan mengejutkan. Tampil beda menjadi ciri khas paket ini. Dan karena baru mulai membangun konstruksi, maka paket ini harus kerja keras. Do the best and God does the rest. Buat yang terbaik dan bagaimana hasilnya serahkan saja ke tangan Tuhan. Barangkali yang terpenting bagi paket ini adalah ingin memanfaatkan panggung ini seoptimal mungkin untuk menunjukkan eksistensinya, dan siapa tahu bisa langsung memenangkan pertarungan ini.

REKONSTRUKSI

Dalam rekonstruksi yang dilakukan adalah menata kembali apa yang sudah dibangun tetapi sempat terbengkalai, dan tertinggal karena, ibaratnya, tidak ada izin membangun. Maka seluruh mesin yang sempat dioperasikan dan kemudian tersimpan di gudang, kembali diberi pelumas dan dipanaskan sehingga bisa mulai diefektifkan lagi.

Ini kiranya menjadi ciri khas paket Winner (Lukas Witak dan Ferdinandus Leu). Rasa penasaran karena (di)gagal(kan) pada tahap pemeriksaan kesehatan, bisa meningkatkan energi dan dinamika tersendiri untuk bergerak lebih sepenuh hati dalam mengejar cita-cita ini.

DEKONSTRUKSI

Dalam dekonstruksi mau diperlihatkan bahwa tidak ada penafsiran tunggal dan absolut terhadap sebuah “teks” pembangunan. Ini akan menjadi kekhasan paket Viktori (Viktor Mado Watun, dan Muhammad Nasir). Sebagai mantan wakil bupati, dia harus melepaskan diri dari bayang-bayang bupati yang sekarang menjadi petahana. Pernyataannya di Pos Kupang (28 September) “maju tanpa dendam” beraroma dekonstruksi.

ANAMNESE

Anamnese atau pengenangan, sepertinya akan menjadi cirinya petahana. Ini akan menjadi strateginya paket Sun-Day (E. Yentji Sunur dan Thomas Ola Langoday). Petahana hanya perlu mengajak orang mengenang kembali apa yang sudah dikerjakannya. Bukti-bukti sudah ada. Dia hanya melanjutkan program-programnya yang belum terlaksana. Tetapi anamnese juga bisa menjadi bumerang kalau ternyata obyek anamnesenya dimodifikasi menjadi anamnese yang negatif. Anamnese bisa dibuat dan berubah menjadi amnesia.

REVISI

Titen adalah pesaing berat petahana dalam pemilukada periode yang lalu. Bahkan ada pengamat yang mengatakan kekalahannya pada putaran kedua itu lebih disebabkan karena blunder yang menjadi bumerang pada saat-saat akhir. Artinya untuk Titen sekarang yang perlu dilakukan adalah mengevaluasi dan merevisi kekurangan-kekurangan di masa lalu, dan mampu membuktikan dan menunjukkan kekurangan-kekurangan dari petahana. Perlu diingat bahwa pada periode yang lalu tidak ada petahana. Maka berhadapan dengan petahana, pasti berbeda dengan ketika sama-sama bukan petahana. Situasi ini bisa merugikan, bisa juga menguntungkan, tergantung bagaimana titen memanfaatkan anamnese yang dibuat oleh petahana. Tetapi tentu saja paket-paket lain juga perlu diperhitungkan.

Tentu saja, tulisan ini hanya melihat dari satu aspek saja. Aspek lain pasti sudah cukup diperhitungkan masing-masing paket, misalnya pertimbangan-pertimbangan dalam menentukan pasangan dengan memperhitungkan berbagai aspek lain menyangkut jumlah, asal, gender, usia, serta kecenderungan pemilih, dan tentu saja isu-isu negatif seperti money politic, primordialistik dan sebagainya.

Yang jelas, pilkada akan seru dengan paket-paket yang cukup bervariasi. Semoga kompetisi berjalan secara sehat jujur dan adil, sehingga hanya ada tepuk tangan, sorak sorai, saling berkompetisi, dalam suasana demokrasi yang sehat dan manusiawi.

SEPAKAT UNTUK TIDAK SEPAKAT

Sepakat untuk tak sepakat
Itu juga kesepakatan
Kenapa kau bilang
Tak ada kesepakatan?

Setuju untuk tidak setuju
Itu juga persetujuan
Kenapa kau bilang
Tiada persetujuan?

Bebas untuk tidak bebas
Itu juga kebebasan
Kenapa kau mencibir aku
sebagai persona tak bebas?

Mau untuk tidak mau
Itu juga kemauan
Mengapa kau beritahu
Aku tak punya kemauan?

Memutuskan untuk tidak memutuskan
Itu juga keputusan
Mengapa aku kau anggap
Tak punya keputusan?

Tidak menyesal untuk menyesal
Itu juga bukan penyesalan
Kenapa kau sebut
Aku cengeng?

Karena itu
Orang yang demikian itu tidak selalu demikian
Atau orang yang demikian itu selalu demikian
Atau orang yang demikian selalu tidak demikian

Juga lantaran itu
Orang yang tidak demikian itu tidak selalu demikian
Atau orang yang tidak demikian itu selalu demikian
Atau orang yang tidak demikian itu selalu tidak demikian

Maka demikian dan tidak demikian
Tidak harus dikonfrontasi dengan cacian dan makian
Apa lagi dengan bom karbitan dan meriam rakitan

Melainkan disapa bijak dengan nyanyian dan tarian
Demi berpendarnya intan berlian
Dari lubuk insan yang aslinya memang brilian
Karya pencipta sembahan kita, Sang Hyang

Benyamin Molan

TAHU DAN MELAKUKAN YANG BAIK.

Sokrates, filsuf besar Yunani kuno yang tidak meninggalkan karya tulis ini, sempat  membuat orang berpikir bahwa dia sesungguhnya buta huruf. Sokrates dikatakan tidak percaya pada bacaan dan tulisan, karena tulisan-tulisan itu tidak bisa diajak berdialog, dan dimintai penjelasan. Bacaan dan tulisan bahkan dianggap melemahkan kemampuan mental orang dan menghalangi komunikasi, yang menuntut adanya percakapan. (Baca Intelekturlaisme Politis dalam blog ini). Hanya dalam dialog itulah orang bisa sampai pada pengetahuan tentang yang baik dan melakukannya. Karena pengetahuan sejati adalah pengetahuan tentang kebaikan.

Ini ponsel, apa kata Sokrates? (Lokasi Bukit Doa Lewoleba)

Ini ponsel, apa kata Sokrates? (Lokas: Bukit Doa Lewoleba/Lembata)

Menurut Sokrates tidak masuk akal bahwa orang yang mengetahui tentang yang baik, tidak melakukannya. Maka orang yang berpengetahuan adalah orang baik. Orang jahat adalah orang yang tidak berpengetahuan. Karena itu konsepnya tentang pengetahuan, sering disebut intelektualisme etis. Sesungguhnya pengetahuan itu memang selalu etis. Pengetahuan menurut dia, terintegrasi dengan kemanusiaan. Makhluk lain tidak punya pengetahuan. Dan pengetahuan selalu terintegrasi dengan yang baik.

Orang bodoh (tidak selalu yang buta huruf atau tidak sekolah) adalah orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang yang baik. Tanda orang berpengetahuan, bukan pada kemampuannya untuk membaca, memecahkan rumus-rumus, atau menguasai teori ilmu pengetahuan, melainkan bertindak baik. Dengan kata lain orang yang berpengetahuan adalah orang yang bertindak baik. Bagi dia pengetahuan bukan hanya mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, melainkan juga dimahkotai oleh aspek etis. Bagi Sokrates pengetahuan dan etika tidak bisa dipisahkan. Pemisahan akan membuat seseorang tidak bisa lagi disebut manusia. Kemanusiaan orang tersebut menjadi cacat karena telah bertindak tidak etis.

Bertanya

Pengetahuan tentang yang baik itu didapatkan dari dialog interaktif, dengan memanfaatkan metode-metode yang menggunakan pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban yang kembali melahirkan pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban baru. Dan kalau pengetahuan itu selalu baik, maka kebaikan hanya bisa didapatkan dalam dan melalui interaksi dengan orang lain. Hal yang yang baik, luhur, dan mulia itu selalu didapatkan dan diimplementasikan dalam interaksi dengan orang lain. Itu berarti pendidikan harus interaktif. Dalam interaksi dan dialog dengan orang lain itulah, pikiran dan kepribadian seseorang bisa berkembang. Dengan demikian pembelajaran dalam kondisi interaktif dengan bertanya dan berdialog, membuat orang tidak hanya mendapatkan ilmu pengetahuan baru melainkan juga belajar untuk bersosialisasi dengan orang lain. Sekali lagi, di sini tidak hanya terjadi pembelajaran di bidang kognitif, melainkan juga afektif dan psikomotorik.

Selain itu, biasanya alasan orang bertanya adalah karena tidak tahu. Dengan bertanya orang bisa mendapatkan pengetahuan untuk dieksekusi. Ini bisa dianalogikan dengan seorang yang tersesat, menanyakan arah dan jalur yang benar, malah mengikuti jalur yang salah. Ini berarti orang ini belum tahu, dan karenanya melakukan kesalahan. Semakin seseorang belajar, seharusnya semakin dia berpengetahuan. Semakin berpengetahuan, semakin dia melakukan yang baik, karena pengetahuan tertinggi adalah pengetahuan tentang yang baik.

Konklusi yang bisa ditarik adalah bahwa orang yang melakukan hal yang tidak baik itu sesungguhnya tidak berpengetahuan. Para koruptor, penjegal, pembegal, maling, perampok, perompak, penipu, perusuh, provokator, pembohong, teroris, adalah orang-orang bodoh, yang tidak punya pengetahuan tentang yang baik dan karena itu tidak melakukannya. Sesungguhnya mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.  Mereka perlu lebih banyak belajar, lebih banyak bertanya, berdialog, berinteraksi dengan orang lain dan belajar tentang yang baik. Karena itu orang tidak bisa disebut baik kalau dia mundur dari interaksi, atau secara pasif sibuk dengan dirinya sendiri, dan tidak bertanya lagi.

Orang yang baik adalah orang yang berpengetahuan. Dan orang yang berpengetahuan itu bukan orang yang membuat banyak pernyataan melainkan yang banyak membuat pertanyaan. Isidor I. Rabi, pemenang hadiah Nobel dalam ilmu fisika, pernah bercerita bahwa tiap hari sepulang sekolah, ibunya selalu bertanya kepadanya mengenai peristiwa di sekolahnya. Sang ibu tidak terlalu tertarik pada apa yang telah dipelajari anaknya hari itu, tetapi lebih tertarik pada mutu pertanyaan yang diajukan anaknya.  Apakah sang anak memberi pertanyaan yang bagus di sekolah? Erick Jensen dalam bukunya Deeper Learnig, mengatakan  “Question keep brain more focused than statements” Pertanyaan membuat otak lebih fokus daripada pernyataan (Erick Jensen, LeAnn Nickelsen, Deeper Learning, hal. 2710.). Bahkan Filsafat itu lebih merupakan ilmu untuk bertanya daripada ilmu untuk menjawab. Menjawab adalah tugas ilmuwan positif (Magnis Suseno).

Jabatan dan martabat

Orang yang memiliki jabatan sesungguhnya adalah orang yang mempunyai martabat. Tetapi banyak pemilik jabatan yang sudah kehilangan martabat. Keterpisahan antara jabatan dan martabat sebenarnya mencerminkan keterpisahan antara pengetahuan dan kebaikan .  Orang yang diberi jabatan seharusnya adalah orang yang memiliki pengetahuan. Dan kalau konsep Sokrates ini berlaku maka orang yang punya jabatan itu mestinya melakukan yang baik. Dan pejabat yang melakukan yang baik adalah pejabat yang bermartabat. Tetapi sering kita ketahui banyak pejabat sudah tidak lagi punya martabat.  Bahkan ironis sekali bahwa sering kali orang yang tadinya bermartabat, kehilangan martabatnya ketika mendapatkan jabatan.  Dan pada akhirnya, setelah terendus KPK, jabatan pun hilang menyusuli martabatnya.

Bagi seorang pejabat, memiliki jabatan itu pasti, tetapi menjadi bermartabat itu pilihan. Maka yang harus dikejar itu bukan jabatannya melainkan martabatnya. Ketika pejabat ingin bermartabat, dia harus punya pengetahuan  tentang yang baik. Pejabat yang hanya mengumbar pangkat dan mengabaikan martabat adalah orang bodoh, orang yang sesungguhnya tidak berpengetahuan.  Karena orang yang berpengetahuan itu melakukan yang baik.

LEMBATA MENJELANG PEMILUKADA

Mendayung sampan perlu keterampilan, mendayung Lembata perlu keterpanggilan

Mendayung sampan perlu keterampilan, mendayung Lembata perlu keterpanggilan

Tahun ini saya beruntung mendapatkan kesempatan mudik alias pulang kampung. Ini merupakan  pengalaman refreshing paling total setelah bertahun-tahun bergulat dengan kebisingan dan hingar bingar kota Jakarta. Kebetulan saat indah ini saya dapatkan, bertepatan dengan berkeriapnya kabupaten Lembata menjelangi pemilukada. Tampak ada beberapa spanduk yang telah terpancang, entah dari balon bupati yang sudah resmi diusung partai politik, balon yang masih mencari-cari jalur dan kendaraan politik, balon yang menyatakan diri maju melalui jalur independen, atau juga balon wakil bupati yang belum dilamar oleh bakal calon bupati mana pun. Semuanya indah-indah saja, kalau tujuannya juga luhur dan elok yakni membangun Lembata dan mensejahterakan rakyatnya.

Seperti biasa dalam pemilukada, orang akan menempuh berbagai cara yang dianggap halal (kadang-kadang tidak halal), untuk mencapai kesuksesan. Yang pertama adalah adu argumentasi (program) dan yang kedua adalah adu kepantasan (persona). Tentu saja kedua cara ini akan sah-sah saja kalau dilancarkan secara bertanggung jawab, dengan data-data yang valid, tidak mengada-ada, dan bebas dari berbagai bentuk fitnah.

Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang mulus dalam kedua jalur ini. Pemimpin itu harus memiliki program-program yang mensejahterakan rakyat, dan sekaligus merupakan pribadi yang pantas menjadi pemimpin. Dalam hal ini, para balon perlu menilai apa yang sesungguhnya merupakan kecenderungan rakyat Lembata. Apakah mereka lebih mengindahkan program-program atau lebih menuntut kepantasan. Tentu saja tim sukses masing-masing balon sudah membuat penelitian agar bisa bergerak ke arah yang tepat.

Petahana

Pemilukada Lembata kali ini masih memberi kesempatan kepada petahana untuk kembali mencalonkan dirinya. Seperti pada umumnya disadari, posisi petahana akan sangat ditentukan oleh sepak terjangnya pada periode sebelumnya. Kalau selama masa jabatannya, dia berhasil merebut hati rakyat dengan hasil-hasil pembangunan yang nyata, maka posisi petahana akan sangat kuat. Tetapi kalau petahana ternyata tidak berkenan di hati rakyat, maka akan dengan mudah disingkirkan secara konstitusional melalui pemilukada.

Sasaran bidikan para penantang petahana yang sukses merebut hati rakyat dengan program-programnya yang sudah terlaksana, adalah pada aspek kepantasan atau kepatutan. Ketika dia melanggar kepantasan dan kepatutan maka dia akan disingkirkan dengan mudah oleh konstitusi. Karenanya menyerang petahana yang sudah berkenan di hati rakyat sering dilakukan dengan menyingkirkannya secara konstitusional yakni menunjukkan dan membuktikan ketidak-pantasannya. Tetapi perlu diingat bahwa kesimpulan konversifnya juga seringkali bisa menjadi bumerang ketika dikatakan bahwa petahana yang dibombardir terus dengan masalah-masalah kepantasan, sebenarnya adalah petahana yang kuat dalam program-programnya. Dengan kata lain, karena program-program petahan tidak bisa ditandingi, maka para lawan politik akan beralih ke soal kepantasan.

Petahana yang kuat dalam program dan pelaksanaan program, akan sulit dilawan dengan program dan hasil kerjanya. Seberapa bagusnya program-program penantang, program-program tersebut masih tetap berbentuk penawaran, kecuali kalau para penantang itu sudah melakukan sesuatu untuk rakyat. Tawaran-tawaran program itu harus benar-benar meyakinkan hati rakyat dan mengalihkan perhatian mereka dari apa yang sudah dilakukan petahana. Jika tidak maka para penantang akan frustrasi dan mengalihkan perhatiannya lebih ke aspek kepantasan.

Lagi pula ada kecenderungan pada calon yang tidak memiliki program-program yang benar-benar memenangkan hati rakyat, untuk lebih berkonsentrasi pada aspek kepantasan, yang bila tak dikontrol, akan berubah menjadi tindakan-tindakan yang kurang berkenan seperti upaya jegal menjegal. Dalam hal ini kesimpulan konversif bisa juga diefektifkan dengan mengatakan bahwa calon yang suka jegal menjegal sebernarnya tidak memiliki program-program yang bisa diandalkan untuk merebut hati pemilih.

Perlu disadari juga bahwa ketika mempersoalkan kepantasan, para penantang juga harus sudah benar-benar teruji soal kepantasannya. Apalagi kalau gugatan terhadap kepantasan itu ternyata keliru. Kondisi ini akan sangat menguntungkan petahana.

Penantang

Posisi penantang pada pemilukada ini harus benar-benar kuat, terutama kalau terdapat lebih dari satu penantang. Setiap penantang harus cukup bertenaga untuk mengatasi persaingannya dengan petahana, sekaligus persaingannya dengan sesama penantangnya. Pertanyaan yang patut diajukan adalah apakah para penantang sudah cukup diandalkan untuk menghadapi dua tantangan tersebut?

Penantang yang ingin mengandalkan kekuatannya pada program, perlu membuat programnya benar-benar memiliki tingkat probabilitas kesuksesan yang yang tinggi;  bahwa program-program itu realistis dan sesuai dengan akal sehat. Jika tidak maka para penantang hanya akan beralih dan mengandalkan cara kedua yakni kepantasan. Seperti sudah dikatakan, penantang yang tidak memiliki program-program yang bisa merebut hati rakyat akan cenderung mengandalkan aspek kepantasan.

Masalahnya apakah rakyat benar-benar peduli pada soal kepantasan, terutama kalau kepantasan yang dipersoalkan itu tidak didukung oleh bukti-bukti yang kuat, lepas dari soal benar atau salahnya, karena yang diuji di sini adalah kepantasan publik, sementara kepantasan privat dikembalikan kepada suara hati masing-masing. Dalam wilayah privat ini, yang bisa dilakukan adalah seruan profetis pertobatan, agar yang bersangkutan secara bebas mengambil sikap sendiri. Kalau merasa tak pantas, silahkan mengundurkan diri. Tetapi sekali lagi ini adalah wilayah privat yang tidak bisa ditembus oleh publik.

Mudah-mudahan pemilukada di Lembata nanti benar-benar menjadi arena transaksi dan adu argumentasi yang menghasilkan pemimpin terbaik dengan program-program bermutu bagi kesejahteraan rayat Lembata. Biarkan rakyat Lembata memilih pemimpinnya; pemimpin yang tidak hanya lolos dalam pengujian publik dengan program-program yang teruji, dan merupakan pribadi yang bersih dari pelanggaran konstitusional, melainkan  juga pemimpin yang mampu menguji diri sendiri secara privat dan etis, serta berkenan di hadapan Tuhan dan manusia.

INTELEKTUALISME POLITIS

Polines, punya akar kata yang sama dengan politik: in concerto untuk kebaikan bersama

Polines, punya akar kata yang sama dengan politik: in concerto untuk kebaikan bersama

Ironis sekali bahwa dari seorang Sokrates, filsuf besar Yunani kuno yang dicurigai buta huruf lantaran tidak meninggalkan karya tulis, lahirlah konsep yang sangat berkarakter  tentang pengetahuan. Sokrates dikatakan tidak percaya pada bacaan dan tulisan, karena tulisan-tulisan itu tidak bisa diajak berdialog, dan dimintai penjelasan. Bacaan dan tulisan bahkan dianggap melemahkan kemampuan mental orang dan menghalangi komunikasi, yang menuntut adanya percakapan (Christopher  Peterson, 2013).

Yang jelas pandangan ini menimbulkan inspirasi bahwa pengetahuan itu hanya bisa dikembangkan dalam interaksi dan kebersamaan. Sementara kebersamaan hanya bisa dibangun kalau mengarah kepada kebaikan bersama (bonum commune). Dengan demikian, pengetahuan, kebaikan, dan kebersamaan, tidak bisa dipreteli satu dari yang lain. Tiga hal inilah yang menghantar manusia menuju kebahagiaan (eudaimonia).

Kebaikan adalah suatu keadaan obyektif yang tidak ditentukan oleh kekuasaan apa pun, bahkan para dewa. Kita ingat akan dialog Sokrates dengan Euthypro yang menegaskan bahwa yang baik itu pada dasarnya baik, bukan karena diperintahkan para dewa, melainkan, maka diperintahkan para dewa. Bagi Sokrates, pengetahuan sejati sesungguhnya adalah pengetahuan tentang yang baik. Itulah kebenaran, yang tidak bisa dibendung, bahkan oleh kekuasaan apa pun, termasuk kekuasan ilahi para dewa. Pengadilan dan hukuman mati yang dijatuhkan atas dirinya pun bukanlah hukuman mati atas pengetahuan.

Intelektualisme etis

Menurut Sokrates tidak masuk akal bahwa orang yang mengetahui tentang yang baik, tidak melakukannya. Orang baik sesungguhnya adalah orang yang berpengetahuan. Orang jahat adalah orang yang tidak berpengetahuan. Maka konsepnya mengenai pengetahuan sering disebut intelektualisme etis.

Pengetahuan itu pada dasarnya selalu etis, karena terintegrasi dengan kemanusiaan. Orang bodoh adalah orang yang tidak tahu tentang yang baik. Tanda bahwa orang berpengetahuan adalah bahwa dia bertindak baik. Artinya pengetahuan bukan hanya mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, melainkan juga dimahkotai oleh aspek etis. Bagi Sokrates pengetahuan dan etika tidak bisa dipisahkan. Pemisahan akan membuat seseorang tidak pantas disebut manusia.

Pengetahuan tentang yang baik itu hanya bisa didapatkan dalam dan melalui interaksi dengan orang lain. Nilai-nilai etis yang baik, luhur, dan mulia itu selalu didapatkan dan diimplementasikan dalam interaksi dengan orang lain. Itu berarti pendidikan harus interaktif. Karena itu orang tidak bisa disebut baik kalau dia mundur dari interaksi, atau secara pasif sibuk dengan dirinya sendiri.

Orang yang tidur saja dan tidak melakukan kegiatan apa pun, pasti tidak melakukan kejahatan, tidak membunuh, tidak mencuri; tetapi dia sesungguhnya juga tidak melakukan kebaikan, karena tidak berinteraksi dengan orang lain. Keadilan tidak bisa dijalankan tanpa orang lain. Persoalan keadilan  selesai ketika dunia hanya dihuni satu orang saja (Bertens). Begitu juga kejujuran, kesetiaan, kesabaran, kemurahan hati, kerendahan hati, yang semuanya bermuara pada relasi dan interaksi dengan orang lain.

Intelektualisme Politis

Arti kata politik sesungguhnya merujuk pada konteks polis Yunani kuno. Polis adalah negara kota yang punya kedaulatan dan pemerintahan sendiri. Di situ para anggotanya melakukan kegiatan dalam kebersamaan (politik) untuk mencapai kebaikan bersama (bonum commune). Karena itu politik merupakan tindakan manusia untuk kebaikan bersama. Kebaikan bersama harus menjadi tujuan.

Tidak heran kalau dengan merujuk pada Aristoteles yang mengelompokkan vita activa manusia, sebagai kerja (labor), karya (work) dan tindakan (action), Hannah Arendt menempatkan politik pada tingkatan activitas manusia yang paling tinggi yakni tindakan (action).  Politik tidak bisa menjadi bagian dari aktivitas kerja (labor) karena kerja itu tidak khas manusia; hewan juga bisa bekerja. Politik juga tidak bisa jadi bagian dari aktivitas karya (work), karena karya (work) itu bisa dilakukan oleh manusia dalam kesendirian. Politik justru ditempatkan sebagai vita activa paling tinggi yakni tindakan (action).  Jelas bahwa politik tidak bisa dilakukan oleh hewan, juga tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri dan menghasilkan produk (lemari, meja, kursi, rumah, dsb.). (Baca artikel Hannah Arendt: Mengurai Kekerasan dalam blog ini).

Politik adalah tindakan yang dilakukan dalam kebersamaan (in concerto: Hannah Arendt) untuk mencapai kebaikan bersama.  Intelektualisme politis mengandaikan bahwa orang yang tahu tentang politik pasti akan bertindak politis. Bertindak politis adalah bertindak dalam kebersamaan untuk mencapai kebaikan bersama. Berargumentasi, berdialog, bermusyawarah, adalah cara untuk mencapai kebaikan bersama. Maka dalam politik ada persoalan menyangkut tujuan dan cara. (Hal ini tidak jadi persoalan pada kerja (labor) dan karya (work). Kerbau boleh dipekerjakan tanpa diberi gaji. Tukang boleh memutilasi kayu ketika membuat lemari).

Ada prinsip etis utilitarianisme yang menganggap bahwa suatu perbuatan itu baik kalau tujuan dan hasil perbuatan itu baik (when the act accuses, the result excuses). Kalau caranya salah, hasilnya memaafkan. Politik Machiavellian dianggap sedikit banyak merujuk pada prinsip ini. Di sini tujuan membenarkan cara. Ada juga prinsip deontologis yang berpendapat bahwa baik atau buruknya suatu perbuatan itu tidak tergantung pada tujuan dan hasil melainkan pada perbuatan itu sendiri. Mencuri adalah perbuatan yang secara obyektif buruk dan tidak bisa menjadi baik. Cara yang buruk tidak bisa menjadi baik, karena tujuannya baik.

Politik yang kita alami akhir-akhir ini jauh dari intelektualisme politis; sangat membingungkan karena tidak terjaring dalam prinsip etis apa pun. Yang tampak adalah, entah caranya buruk, tujuannya dan hasilnya juga buruk, atau caranya baik, manis, santun, ramah, religius, konstitusional, tetapi tujuannya buruk. Politik pilkada misalnya, lebih diwarnai oleh upaya untuk menjatuhkan orang daripada upaya untuk mendapatkan pemimpin yang handal demi kebaikan bersama.

Kemenangan yang sehat dalam politik sejati seharusnya ditandai dengan saling berkompetisi dan bukannya saling mengamputasi. Ironis sekali bahwa lembaga-lembaga negara seperti BPK, KPK, KPU pun diincar sebagai sarana untuk menjalankan trik-trik anti-politik. Bahkan  imunitas anggota DPR pun bisa dimanfaatkan untuk menjalankan trik-trik kontra-politik. Politik sepertinya dianggap arena kamuplatif yang menghalalkan segala cara. Karena itu perlu ada gerakan untuk mengembalikan politik pada posisinya sebagai gerakan intelektualisme politis. Generasi berikut harus menjadi generasi intelektualisme politis, yang “tahu” apa artinya politik, dan menjalankannya sebagai tindakan bersama (in concerto) untuk kebaikan bersama.

Benyamin Molan