BANGKIT TANPA DENDAM

SELAMAT PASKAH 2018

Seorang teman pernah mengkhayal. Seandainya aku Yesus, yang pertama kucari setelah bangkit adalah Hanas, karena dia adalah mertua Kayafas, Imam Agung yang telah menghukum aku.  Hehehe, mungkin temanku seorang mertua phobia.

Yesus tidak melakukan itu. Setelah bangkit, yang dicari bukan mereka yang telah membunuh Dia, melainkan para sahabatNya, murid-muridNya. Bagi Dia para sahabat itu lebih penting daripada musuh. Kasih itu lebih kuat daripada dendam kesumat. Jasad bisa dibinasakan tetapi kasih tidak. Karena kasih itu tidak berkesudahan. “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih” 1 Kor 13:13.

Kasih itulah yang membangkitkan. Kalau kebangkitan itu direncanakan untuk membalas dendam, kebangkitan bakal mustahil terwujud. Kasihlah yang membangkitkan, amarah dan kedengkian itu membinasakan. Dendam rindu itu membangkitkan, menumbuhkan, menghidupkan, dendam kesumat itu mematikan, membinasakan.

Paskah adalah kebangkitan oleh kekuatan kasih. Selamat Paskah 2018 para sahabat.  Mari bangkit dalam Kasih.

Benyamin Molan

Advertisements

SISI LAIN PENGADILAN YESUS

Mengamati pengadilan Yesus dari sisi lain, terlihat seperti telah terjadi semacam  interaksi antara masalah publik dan privat. Apa yang dikemukakan Thomas Hobbes  tujuhbelas abad kemudian, sesungguhnya telah menjadi masalah pada zaman Yesus.  Hobbes mengemukakan perlunya membedakan wilayah publik dan privat dalam sebuah negara modern. Negara hanya mengatur wilayah publik yang terukur dengan peraturan-peraturan hukum. Sementara wilayah privat yang tidak bisa terbukti secara publik, tidak bisa diatur oleh negara. Apakah sebuah ajaran agama itu sesat atau tidak, tidak bisa ditetapkan oleh negara, karena negara tidak memiliki alat untuk mengukur sebuah ajaran sesat atau tidak. Negara hanya bisa bertindak ketika ada warga negara yang melanggar konstitusi atau hukum yang sudah disepakati.

Yesus diajukan ke pengadilan publik di bawah walinegeri Pontius Pilatus, dengan tuduhan menghujat. Tuduhannya  itu berada di wilayah privat. Pantas kalau Pilatus sebagai pejabat publik mengalami kesulitan untuk menggelar pengadilan. Dia tidak menemukan kesalahan apa pun pada Yesus. Yesus tidak melanggar hukum publik. Dia tidak memberontak, dia tidak membunuh, dia tidak korupsi, dia tidak mencuri, tidak melakukan makar melawan pemerintahan Romawi. Tuduhan yang didakwakan pada Yesus adalah menghujat Allah. Sesuatu yang tidak diatur dalam wilayah publik. Itu adalah wilayah privat. Karena itu kaum Farisi dan ahli Taurat harus berupaya menggiring Yesus ke wilayah publik, supaya Dia bisa dijatuhi hukuman mati oleh Pilatus yang adalah pejabat publik.

Upaya ke arah ini pernah juga dilancarkan sebelumnya, ketika kaum Farisi mengajukan pertanyaan untuk menjebak Yesus dan menggiringnya ke wilayah publik. Pertanyaannya adalah “apakah kami harus membayar pajak kepada kaisar atau tidak?” (Luk 20:22). Mereka berharap pertanyaan itu bisa menjerat Yesus. Ternyata Yesus mengetahui maksud mereka. Mereka ingin menjebakNya. Bila Yesus ingin mendapat simpati dari kaum Yahudi, lalu mengatakan “tidak harus”, makaYesus serta merta bisa dituduh sebagai pemberontak terhadap Kaisar. Dia harus dihukum. Bila Yesus menjawab “harus”, maka orang Yahudi akan menolak Dia, karena Dia menunjukkan sikap keberpihakan pada kaisar.  Yesus pun menjawab pertanyaan mereka dengan pertanyaan: “Gambar dan tulisan siapa, (yang ada pada mata uang dinar)?” (Luk 20:24) Mereka menjawab, “gambar dan tulisan kaisar”. Dengan cerdik Yesus menjawab, “berikan kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” Luk 20: 25). Niat mereka untuk menggiring Yesus ke wilayah publik tidak kesampaian.

Kini kemarahan mereka sudah sampai pada puncaknya, ketika Yesus masuk Yerusalem dan dieluk-elukkan massa. Maka mereka pun menangkap Yesus dan ingin membunuhnya. Tetapi pemerintahan Romawi tidak membolehkan membunuh orang yang tidak bertindak melawan hukum publik. Pantas kalau dalam pemeriksaan pengadilan, Pilatus bingung, lantaran tidak menemukan kesalahan apa pun yang melanggar konstitusi, agar Yesus layak untuk dijatuhi hukuman mati. Tetapi orang Yahudi menghendaki Yesus dijatuhi hukuman mati.

Mula-mula mereka mendapat kesulitan, karena Yesus tidak terbukti melanggar konstitusi. Orang Yahudi pun akhirnya mulai bergeser ke ranah publik, ketika Yesus dinyatakan sebagai Raja oleh Pilatus. Orang Farisi dan ahli taurat mendapatkan mesiu untuk menembak dengan mengatakan “Barangsiapa mengaku dirinya raja, dia melawan kaisar”. Di sini Yesus dianggap melanggar hukum publik. Dia dianggap makar. Padahal Yesus menyatakan dengan jelas KerajaanNya bukan dari dunia ini. Artinya kerajaanNya bukan ada di wilayah publik melainkan privat. Dia menentang para pemuka agama Yahudi di bawah para imam besar Yahudi dan kaum Farisi, yang penuh dengan kemunafikan.  Mereka tidak bertindak sesuai hati nurani mereka. Mereka menjalani praktik formalistik dan legalistik yang kental. Mereka menggunakan standar ganda. Norma dan standar untuk dirinya sendiri berbeda dari norma dan standar untuk orang lain. Ketika Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, mereka menuduh Yesus melanggar hukum Sabat. Pada hari Sabat orang tidak boleh bekerja, dan Yesus dianggap bekerja karena menyembuhkan orang sakit. Padahal mereka sendiri, kalau hewan piaraannya terperosok ke dalam lubang, boleh menariknya dan tidak membiarkan hewan itu mati. Mereka melakukan sesuatu untuk dihargai dan dipuji. Berdoa di depan umum, supaya dianggap orang saleh dan dihormati, memberikan sedekah kepada orang miskin, kalau ada yang melihat. Tidak boleh bergaul dengan kaum pemungut cukai dan pelacur. Doa-doanya menunjukkan kesombongan.

Yesus pernah menceritakan sebuah perumpamaan tentang dua orang yang masuk bait Allah untuk berdoa. “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezina dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul dirinya dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah sedangkan orang lain itu tidak. Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Luk 18:9-14).

Yesus justru mengecam sikap yang lebih melihat kesalahan orang lain daripada kesalahannya sendiri. Mengapa engkau melihat selumbar di mata saudaramu , tetapi balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui (Luk 6: 41). Sama seperti pepatah Indonesia yang mengatakan “kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak”.

Pantas kalau orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu sangat marah pada Yesus. Dia telah membuka borok dan dosa-dosa mereka. Dan dosa-dosa mereka inilah telah menghasilkan dosa baru, yakni dosa pembunuhan. Yesus harus dihabisi, demi menyelamatkan wajah mereka, martabat mereka. Tetapi ternyata tidak bisa demikian. Pelanggaran di di wilayah privat (dosa) harus diselesaikan di wilayah privat, yakni dengan pertobatan. Pelanggaran di wilayah publik harus diselesaikan secara publik (hukum).  Penyelesaian masalah tidak berjalan baik,  ketika masalah privat diselesaikan dengan cara publik. Orang yang berpikir porno itu dosa, tetapi tidak bisa diselesaikan menggunakan aparat hukum, karena pemikiran itu masih di wilayah privat, polisi tidak bisa menangkap orang itu.  Begitu juga sebaliknya masalah publik tidak bisa diselesaikan secara privat. Kalau bisa diselesaikan secara privat, maka seseorang yang terbukti korupsi cukup diminta untuk bertobat, dan tak perlu lagi diproses secara hukum. Jungkir balik semuanya.

Walaupun menyadari bahwa Yesus tidak bersalah sesuai hukum publik, ketakutan Pilatus akhirnya yang berperan dalam pengambilan keputusannya. Yesus diserahkan ke tangan orang Yahudi untuk disalibkan (Yoh. 19:16a).

 

NGANTRI DAN KEBERADABAN

Sehat mental dan fisik dengan mengantri berobat

Lawrence Kohlberg pernah membuat penelitian mengenai tingkat kesadaran moral manusia. Walaupun dikritik oleh Carol Gilligan, bahwa Kohlberg hanya memperhatikan anak laki-laki dalam penelitiannya (Bertens 2017), penelitian Kohlberg sedikit banyak membantu kita untuk memahami perilaku orang dan diri sendiri  . Sebuah pengalaman kecil ketika mengantri di sebuah puskesmas, membuat saya teringat akan Kohlberg.

Seperti pada umumnya di puskesmas atau rumah sakit, pasien cenderung datang pagi-pagi sekali untuk mendapatkan nomor antrian lebih awal. Saya juga melakukan hal yang sama. Ketika saya dan sejumlah pasien lainnya nongkrong di beranda depan puskesmas yang lumayah sempit, belum ada petugas yang mengoperasikan mesin antrian. Para pasien dengan inisiatip sendiri, secara tertib dan teratur meletakkan kartu pasien mereka di atas kotak mesin registrasi, sesuai urutan kedatangannya. Semuanya aman-aman saja, sampai agak lama berselang, setelah datang seorang ibu paruh baya. Ibu ini menghampiri mesin registrasi untuk mengambil nomor dulu, sebelum pulang menjemput anaknya. Itu biasa dilakukan karena loket baru dibuka hampir satu setengah jam kemudian. Tetapi ibu paruh baya ini bingung, karena mesin registrasi belum beroperasi, sementara dia pun tidak membawa kartu apa pun.

Seorang ibu lain (sebut saja ibu A) yang ada di situ, menawarkan untuk menumpukkan kartu penduduknya, agar ibu paruh baya itu bisa mendapatkan nomor. Nomor itu akan diambil oleh ibu A, dan akan diserahkan nantinya kepada ibu paruh baya tadi, sekembalinya dia dari menjemput anaknya. Tetapi seorang ibu lainnya (sebut saja ibu B), malah mengusulkan supaya ibu A tidak perlu menumpukkan kartu baru lagi, melainkan mengambil saja dua nomor, ketika petugas memanggilnya nanti, untuk mengambil nomor antrian. Ternyata ibu A berkeberatan karena tindakan itu akan menyelak antrian. Ibu paruh baya yang datang belakangan itu akan serta merta mendapatkan nomor sangat awal, karena ibu A berada di urutan ketiga, sementara pasien lain yang sudah datang lebih awal, automatis akan tergeser semua. Tetapi menurut ibu B “itu tidak apa-apa, karena petugas membolehkan”.

Keduanya sempat bersitegang sampai akhirnya ibu B mengambil salah satu kartunya, entah kartu apa lagi, dan menumpukkannya bersama kartu lainnya di atas mesin registrasi itu. Kedengaran ibu A masih saja menggerutu, “bukannya aku gak ngerti tetapi itu kan menyelak antrian orang banyak, kan gak boleh”.

Ketika petugas datang dan membagikan nomor, ternyata ibu B meminta 3 nomor pada panggilan untuk kartu pertamanya, dan 3 nomor lagi pada panggilan untuk selipan kartu keduanya. Tidak ada rasa risi dan terganggu sedikir pun, bahkan dengan kepala tegak dan terkesan arogan. Dan, rupanya, ketika tadinya dia meletakkan kartu kedua di atas tumpukan kartu pasien setelah beradu argumentasi dengan ibu A, dia tidak menumpukkan kartu keduanya itu sesuai urutan, melainkan menyelipkannya di antara tumpukan kartu yang ada. Saya menyadari hal itu ketika ternyata ibu B sudah mendapat panggilan untuk kartu keduanya sebelum saya. Kalau dia menumpukkan kartu keduanya di atas kartu lain, maka panggilan untuk kartu keduanya semestinya setelah saya. Kenyataannya dia dipanggil sebelum saya.

Saya terkesima dengan apa yang dikatakan ibu B: “petugas membolehkan”. Rupaya dia mau menyatakan bahwa dia tidak melanggar aturan. Petugas membolehkan, artinya yang punya kuasa membolehkan. Seolah-olah dia mau mengatakan bahwa yang penting tindakannya tidak melanggar kehendak penguasa, tidak perduli dengan banyaknya orang yang akan sakit hati oleh tindakannya.

Sikap ibu B ini sepertinya merepresentasikan mental banyak orang. “Yang penting sesuai aturan”. Kalau sesuai aturan, maka tidak ada masalah. Bahkan kalau boleh, misalnya, dibuatkan saja aturan yang sesuai dengan penyakit, supaya orang sakit itu bisa dianggap sehat. Dan kalau tindakan saya sesuai aturan kesehatan, maka tidak ada yang salah dengan saya, saya sehat dan kalau perlu menjadi arogan. Dalam analogi lain, bukankah dalam masyarakat yang sebagian besar anggotanya gila, orang waras yang dianggap gila?

Sepintas kaca mata Kohlberg pun melintas dalam ingatanku. Dari enam tahap kesadaran moralnya, sepertinya perilaku seperti ini cenderung mengacu pada kesadaran moral tahap keempat,  yakni orientasi hukum dan ketertiban; dalam bahasa lainnya bisa dikatakan perilaku yang cenderung legalistik dan formalistik. Sikap yang memberi peluang bagi sikap-sikap yang lebih memperhatikan pesona ketimbang persona, yang lebih peduli pada paras ketimbang waras, yang lebih terkesima pada riak ketimbang kedalaman; lebih senang dilihat daripada melihat.

Kalau kenyataannya memang demikian, mudah-mudahan saja akan ada peningkatan perkembangan kesadaran ini ke tahap yang lebih tinggi, setelah terjadi ketidak-seimbangan kognitif dalam pertimbangan moral dalam diri orang. Dan ini tampak tersirat dalam sikap ibu lainnya (ibu A), yang mulai menyadari ketidak-seimbangan kognitif itu, ketika dia menyadari bahwa semua orang memiliki hak yang sama, dan bahwa hak itu harus dijamin oleh aturan. Dan aturan yang melibas kesetaraan hak orang lain patut disikapi secara kritis.

Dalam hal ini, budaya ngantri bisa menjadi potret sederhana yang secara gamblang memperlihatkan tingkat kesadaran moral masyarakatnya. Pantas kalau ada budaya yang sangat menekankan pendidikan ngantri pada anak-anak untuk mengenbangkan tingkat kesadaran moralnya. Pada budaya tertentu itu, orang tua lebih merasa risau ketika anak mereka tidak bisa ngantri, daripada ketika anak mereka tidak mampu menyelesaikan soal matematika. Yang tidak mampu mengerjakan matematika itu mungkin siswa yang kurang berbakat (di bidang matematika), tetapi yang tidak mampu ngantri adalah siswa yang kurang beradab.  Pendidikan tidak untuk membuat orang atau siswa menjadi lebih berbakat, melainkan untuk menjadi lebih beradab.

Benyamin Molan

BAHASA ANNOUNCEMENT KITA

Announcement di sebuah stasiun kereta

Bahasa mencerminkan pemikiran. Bahasa yang kacau menunjukkan struktur pemikiran yang juga tidak teratur. Akibatnya orang tidak akan menangkap dengan baik apa yang ingin disampaikan, dan harus berusaha memahaminya berdasarkan konteks. Ironisnya apa yang rancu ini kemudian dibiasakan, dan selanjutnya dianggap sebagai benar. Apa lagi kalau bahasa yang rancu itu sering digunakan dalam announcement; struktur bahasa macam itu lama-kelaman dianggap sebagai benar dan digunakan banyak orang, tanpa disadari  kerancuannya. Akibatnya, orang tak mampu lagi merumuskan pendapatnya dengan bahasa yang baik, dan lebih cenderung mengandalkan konteks. Bahasa kita menjadi semakin high context, dan menimbulkan pernyataan-pernyataan yang amfibologik alias ambigu. Dan karena sudah terbiasa, ungkapan-ungkapan itu diterima sebagai benar dan digunakan secara umum tanpa ada perasaan terganggu.

Misalnya saja, orang cenderung tidak merasa aneh kalau dikatakan “Ternyata kulit manggis itu sangat banyak sekali manfaatnya.” Kalimat ini sebenarnya terdiri dari dua kalimat yang benar lalu dijadikan satu yang salah. Kalimat pertama: “Ternyata kulit manggis itu sangat banyak manfaatnya.” Kalimat kedua: “Ternyata kulit manggis itu banyak sekali manfaatnya.” Lalu digabung menjadi “Ternyata kulit manggis itu sangat banyak sekali manfaatnya.”  Sekalii lagi, cara berbahasa yang kacau menunjukkan cara berpikir yang juga kacau. Mentalitas yang kacau terkaca juga dari bahasa yang kacau.

Ketika menggunakan KRL, saya sering merasa terganggu dengan announcement yang kerap disampaikan oleh announcer KRL. Para pengguna KRL alias kereta rel listrik yang sering disebut commutter line itu, pasti sudah terbiasa dengan announcement ini. “Sebentar lagi kereta Anda akan tiba di stasiun (Sudirman).  Penumpang yang hendak turun, mohon periksa kembali tiket dan barang bawaan Anda, agar  tidak tertinggal dalam kereta atau pun merasa kehilangan.” Maksud kalimat ini sederhana. Tetapi bahasa announcernya membingungkan. Kalau subyeknya adalah tiket dan barang bawaan, dan predikatnya adalah tidak tertinggal atau merasa kehilangan, maka kalimat ini mengingindikasikan bahwa tiket barang bawaan bisa merasa kehilangan. Bagaimana mungkin barang bawaan bisa merasa kehilangan. Kecuali kalau barang bawaan itu adalah anak. Tetapi, bagaimana anak bisa disebut sebagai barang bawaan. Kemungkinan pengertian lain adalah: “penumpang diminta memeriksa barang bawaannya, agar (penumpang) tidak tertinggal atau merasa kehilangan”. Seolah-olah penumpang bisa tertinggal di kereta kalau tidak memeriksa tiket dan barang bawaannya. Dengan kata lain, “penumpang dimohon periksa tiket dan barang bawaannya, agar penumpang tidak tertinggal di kereta. Seolah-olah kalau penumpang yang sudah memeriksa barang bawaannya, tidak akan tertinggal. Padahal yang dimaksudkan di sini sederhana saja. “Penumpang yang hendak turun mohon periksa tiket dan barang bawaan agar barang-barang tersebut tidak hilang atau tertinggal di dalam kereta”.

Di stasiun kereta, para pengguna KRL juga pasti sering mendengar pengumuman ini: “Segera masuk di jalur dua, commuter line ke arah Manggarai, Tebet, Cawang Pasar Minggu, dan mengakhiri stasiun Bogor”.  Wah, menyeramkan juga pengumuman ini; commutter line ke arah manggarai ….. nantinya akan mengakhiri stasiun Bogor. Padahal maksudnya: “akan segera masuk di jalur dua, commuter line jurusan Manggarai, Tebet, Cawang Pasar Minggu, yang mengakhiri perjalanannya di stasiun Bogor”.

Gambar terlampir juga menyampaikan pengumuman yang menarik. “Mintalah bantuan petugas apabila akan mengambil barang Anda yang terjatuh di peron yang tinggi”. Artinya, kalau Anda sedang berada di peron yang tinggi dan barang Anda jatuh (di atas peron) maka Anda harus minta bantuan petugas. Ini aneh. Mengapa harus minta bantuan petugas?  Padahal maksudnya, apabila ada barang Anda yang jatuh dari peron yang tinggi, maka, untuk mengambilnya, Anda harus meminta bantuan petugas. Beberapa stasiun sudah mengoreksi pengumuman ini menjadi “Mintalah bantuan petugas apabila akan mengambil barang Anda yang terjatuh dari peron yang tinggi”

Perhatikanlah contoh lagi berikut ini yang bisa ditemukan di beberapa SPBU di Jakarta: Hak Konsumen: (1) Mendapatkan 3 S (Salam, Senyum, Sapa) dari petugas (2) Ditunjuk angka nol sebelum pengisian BBM (3) Menerima bukti pembayaran bila diminta (4) Penanganan yang baik terhadap keluhan Anda.

Butir 1 dan 2 cukup konsisten, walaupun mungkin rumusannya perlu sedikit dimodifikasi. Butir 3, kelihatannya membingungkan. Pengertian kalimatnya adalah “Konsumen berhak menerima bukti pembayaran bila diminta”. Pertanyaannya, adalah diminta oleh siapa?

Apakah ada petugas atau orang lain di situ yang meminta konsumen untuk menggunakan haknya menerima bukti pembayaran? Maksudnya sebenarnya bisa ditebak: Konsumen berhak mendapatkan bukti pembayaran bila konsumen tersebut memintanya. Rumusan yang lebih tepat: Mendapatkan bukti pembayaran bila meminta.

Butir 4 lebih kacau lagi: Hak konsumen untuk penanganan yang baik terhadap keluhan Anda. Siapa yang dimaksudkan dengan Anda? Pengumuman ini ditujukan kepada petugas SPBU, yang ditembuskan ke konsumen. Maka menurut kalimat ini yang dimaksudkan dengan Anda itu adalah petugas SPBU. Maka “keluhan Anda” artinya keluhan petugas SPBU. Pada hal maksudnya adalah keluhan konsumen. Arti harfiah dari kalimat ini adalah bahwa “konsumen berhak untuk mendapatkan penanganan yang baik terhadap keluhan petugas”.  Tentu saja itu bukan apa yang mau dikatakan. Yang mau dikatakan adalah “konsumen berhak untuk mendapatkan penangan yang baik dari petugas, terhadap keluhan konsumen. Maka supaya bentuknya sejajar, kalimat yang seharusnya adalah: “Mendapatkan penanganan yang baik terhadap keluhannya (konsumen)”.

Dengan demikian rumusan yang lebih tepat adalah: Konsumen berhak untuk: (1) mendapatkan 3 S (salam, senyum, sapa) dari petugas; (2) ditunjuki angka nol sebelum pengisian BBM; (3) memperoleh bukti pembayaran bila meminta; (4) mendapatkan penanganan yang baik terhadap keluhannya.

Perlu diadari bahwa bahasa announcement kita perlu diperhatikan, agar kita tidak ikut menciptakan dan membiasakan penggunaan bahasa Indonesia yang rancu, yang tidak merumuskan dengan tepat apa yang dimaksudkan. Kebenaran akan mudah teramati dan tertangkap ketika dirumuskan dan dikomunikasikan dengan bahasa yang tepat.

TAHUN BARU DALAM RUANG DAN WAKTU

Selamat Tahun Baru, j Januari 2018. Selamat Meruang dan Mewaktu.

Setiap orang memiliki ruang dan waktunya sendiri yang tidak dapat direbut oleh kekuasaan seabsolut dan sedahsyat (powerfull) apa pun. Kalau toh bisa direbut, hanya salah satunya, entah ruang saja atau waktu saja. Tidak bisa dua-duanya sekaligus. Ketika orang menggeser saya dan mengambil tempat (ruang) saya, dia hanya bisa melakukan itu pada waktu yang berbeda, yakni waktu setelah saya pindah. Tempat (ruang) saya sebelumnya tidak bisa diambil, karena dia tidak bisa berada di tempat saya berada, di saat yang sama ketika saya berada di tempat itu.  Begitu juga orang lain bisa saja menikmati waktu saya, dengan ikut berada di ruang yang sama bersama dengan saya, tetapi yang sama hanya waktunya, sedangkan tempat atau ruangnya tetap berbeda.  Tempat saya tetap saja menjadi milik saya. Artinya eksistensi saya adalah ruang dan waktu saya. Ketika saya berada di suatu tempat, saya menciptakan ruang dan waktu saya sendiri, yang tidak bisa diambil orang lain. Karena itu setiap orang selalu berada pada ruang dan waktunya sendiri  yang berbeda dari ruang dan waktu orang lain.

Konsep ruang dan waktu ini tampak juga dalam sikap seseorang di penghujung tahun. Ada sikap yang mewaktu dan ada sikap yang meruang. Sikap mewaktu itu tampak pada orang yang lebih sadar waktu daripada ruang. Sementara sikap meruang tampak pada orang yang lebih sadar ruang ketimbang sadar waktu.

Sikap orang dalam hal ini, bisa tercermin dari ucapan selamat tahun baru yang disampaikannya. Ada yang mengatakan “Selamat Menyambut Tahun Baru”. Ucapan ini mengandung makna bahwa tahun baru itu datang, dan kita menyambut. Di sini, waktulah yang bergerak, sementara kita harus mengikuti irama waktu tersebut. Selamat Menyambut Tahun Baru sepertinya senada dengan konsep kids zaman now yang senang touring dan cenderung berpikir praktis dan pragmatis; generasi yang lebih menunjukkan gejala mewaktu daripada meruang. Prinsipnya, orang harus terus bergerak sejalan dengan gerakan waktu, supaya tidak ketinggalan. Hidup berjalan seperti di atas arus air yang terus mengalir dan kita harus mengalir mengikuti aliran arus itu. Di sini berlaku pepatah Latin yang mengatakan “Tempora mutantur et nos mutamur in illis.” Waktu berubah dan kita berubah di dalamnya. Manusia harus pandai-pandai mengatur iramanya agar tidak hanyut oleh aliran waktu dan zaman, tetapi juga agar tidak sampai ketinggalan arus waktu dan zaman.

Sedangkan ucapan “Selamat Memasuki Tahun Baru”, artinya tahun baru adalah satu kondisi, situasi baru, yang menanti kedatangan kita. Artinya yang bergerak adalah kita. Kitalah yang bergerak, berjalan, memasuki ruang baru, tahun baru. Konsep ini lebih cenderung memperhatikan aspek intensivitas ketimbang ekstensivitas. Dalam konsep ini, kita ingin merasakan dan menikmati suasana sampai ke sudut-sudut ruangan. Kita memasuki ruang baru sebagai tuan atas waktu. Waktu adalah saya. Saya menjadi tuan atas waktu dan bukan hamba sang waktu. Saya yang mengatur waktu saya, dan bukan waktu yang mengatur saya. Konsep ini membuat kita menjadi orang yang bebas dan menjadi penguasa waktu. Di sini kita diajak untuk lebih memaknai hidup, dan bukan sekadar numpang lewat. Hidup tidak sebagai waktu yang terus berjalan, melainkan ruang tempat kita berhenti sejenak dan mengatur nafas, menyampaikan syukur dan melambungkan selebrasi atas kenikmatan dan kealotan kehidupan, yang membuat kita nyaman sekaligus menjadi kekar dan tegar. Di sini berlaku apa yang dikatakan Sokrates, “hidup yang tidak direflesikan itu tidak layak untuk dihidupi”.

Sebentar lagi akan ada pergantian tahun. Hendaknya momen yang diselebrasikan di seluruh dunia ini tidak hanya dihadapi secara mewaktu tetapi juga meruang. Hidup tidak sekadar ikut-ikutan, lalu menggumpal dan mengelompok menjadi sikut-sikutan, melainkan kritis melangkah dan bijaksana menata kehidupan, agar ruang hidup kita selalu cair, nyaman, walaupun harus tetap hangat, dinamis, bermakna, dan patut dikenang.  Upaya mengumpulkan harta tidak hanya dijalankan dalam waktu yang dinamis, melainkan juga dalam ruang yang harmonis. Begitu juga aspek kehidupan lainnya, seperti keyakinan, pengetahuan, kedudukan, hendaknya berjalan dalam ruang dan waktu. Sekali lagi, hidup itu tidak sekadar meniti titian di atas waktu kehidupan agar tak ketinggalan zaman, melainkan juga menata tatanan di dalam ruang kehidupan agar menjadi bermakna.

Selamat Tahun Baru 1 Januari 2018

KEBOHONGAN ITU TAK TUNGGAL

Anak belajar banyak hal dari orang dewasa, Tetapi orang dewasa juga perlu belajar dari anak kecil. “belajar untuk tidak berbohong”

Ketika sebuah kebohongan sudah berawal, maka bersiap-siaplah untuk mengkonstruksi kebohongan berikut demi mengamankan kebohongan pertama. Selanjutnya akan menyusul skenario kebohongan-kebohongan berikutnya, demi menutup kebohongan sebelumnya. Dengan kata lain, satu kebohongan akan melahirkan kebohongan-kebohongan baru, hanya demi menutup suatu aib pada awalnya. Dan seluruh rentetan kebohongan itu bisa luluh berantakan, hanya oleh satu kejujuran saja, yang mampu merontokkan rentetan kebohongan tadi, lalu mengunjukkan kebenaran.

Walaupun dianggap sebagai perbuatan yang buruk, kebohongan juga punya unsur positif, seperti berbohong untuk menyelamatkan orang yang tidak bersalah, atau berbohong tentang kondisi penyakit pasien yang harapan hidupnya sudah berkurang, demi tetap memberi semangat hidup pada pasiennya. Termasuk di sini kebohongan putih (little white lies), kebohongan-kebohongan kecil, dalam hidup pergaulan, untuk membesarkan hati orang, dan menimbulkan rasa percaya diri. Misalnya jika seorang gadis menanyakan apakah dia cantik dengan pakaian yang dikenakannya, bisa dijawab cantik (sekadar basa basa basi), agar tidak menyakiti hatinya. Terbongkarnya kebohongan positif, tidak akan merugikan pihak mana pun, selain adanya pemahaman yang bisa diterima, sejalan dengan maksud kebohongan yang terpaksa dilakukan, demi sebuah efek yang lebih baik.

Kebohongan yang dibicarakan di sini lebih pada kebohongan negatif yang mendatangkan kerugian. Kebohongan semacam ini selalu membawa beban, seperti efek bola salju. Ke mana kebohongan itu berlalu, dia akan selalu mengikut-sertakan kebohongan berikut, sehingga menjadi berlapis-lapis. Lama kelamaan bola salju kebohongan itu akan semakin membesar, dan selanjutnya semakin berat juga untuk dikemas dan disimpan secara tersembunyi. Potensi terbongkarnya suatu kebohongan pun makin lama akan makin besar, seiring dengan semakin sulitnya upaya untuk menutup-nutupinya. Segala sesuatu yang disatukan dengan menggunakan kebohongan akan mudah tercerai berai dan menjadi berantakan. “Things come apart so easily when they have been held together with lies” (Dorothy Allison).

Dan begitu sebuah kebohongan terungkap maka efek bola salju akan berubah menjadi efek domino (Sisella Bok 1979), karena  kebohongan yang satu selalu bersandar pada kebohongan lain. Maka kebohongan membutuhkan kerja sama yang rapi, dan menuntut komitmen serta sikap yang konsisten. Begitu ada yang berkhianat maka seluruh kebohongan akan tersingkap. Pantas kalau dikatakan “lies require commitment” (Veronica Roth), (kebohongan menuntut komitmen).

Kebohongan harus ditutup dengan kebohongan berikut, karena kebohongan yang terbongkar akan menimbulkan rasa malu. Rasa malu itu ditimbulkan karena aib atau perbuatan memalukan yang telah dilakukan sebelumnya, dan pada akhirnya terpaparkan. Maka dalam masyarakat yang punya budaya malu, (shame culture) kebohongan, dengan segala kerabat dan kesemendaannya seperti kemunafikan, kepura-puraan, kebiasaan bersandiwara dan menutup diri, akan berkembang subur.

Sedangkan masyarakat dengan budaya rasa bersalah (guilt culture) yang kuat, akan cenderung  merasa risih dengan kebohongan. Ada perasaan seperti terus dicibir oleh rasa bersalah. Beban rasa bersalah itu semakin berat lagi, kalau dilapisi dengan kebohongan baru. Efek bola salju akan menambah bobotnya beban kebohongan. Daripada harus menderita, orang yang memiliki rasa bersalah akan bersedia menghadapinya secara perkasa. Efek suara hati yang terus mencibir, akan tetap dan terus menerus mengganggu, dan itu hanya bisa dihentikan dengan siap mempertanggung jawabkan kesalahan secara bermartabat.

Beban yang ditanggung ketika orang bersikap jujur adalah bahwa beban yang memang berat itu, diimbali dengan penghargaan yang diterima, ketika orang tersebut siap untuk bertanggung jawab. Tanggung jawab sebagai nilai positif, membuat orang yang mau bersikap jujur (tak mau berbohong), bisa mendapatkan respek, dan dihargai sebagai orang yang bermartabat.

Ketika kebohongan bertumpuk, beban kebohongan tersebut akan terbawa terus karena adanya cibiran dari suara hati, sementara suara hati tidak bisa dibungkam, atau disingkirkan jauh-jauh. Suara hati selalu berdiam dalam diri sendiri, dan akan terus mengiring ke mana pun orang itu pergi. Seperti sudah dikatakan, semakin lama sebuah kebohongan tersimpan, semakin besar efek bola salju yang ditimbulkan.

Siapa pun yang bersikap jujur, betapa besar pun kesalahan dan boroknya, lebih terhormat dan bermartabat ketimbang seseorang yang berhasil menutupi boroknya dengan tumpukan kebohongan. Karena kehormatan yang dibangun di atas kebohongan adalah kehormatan semu, yang akan ditertawakan oleh diri sendiri. Apa lagi kalau kebohongan itu pada akhirnya terendus, bahkan tersingkap. Rasa malu sebagai efeknya, jauh lebih berlipat ganda, ketimbang rasa malu yang ditimbulkan ketika kesalahan dilakukan. Pertama, malu karena ketahuan salahnya, dan kedua, malu karena ketahuan bohongnya. Maka sebaiknya membiasakan diri untuk tidak melakukan kebohongan, karena kebohongan itu tidak tunggal, dan secara beruntun tidak hanya merugikan korban kebohongan, melainkan juga pembohongnya sendiri, dan semua yang berada di sekitarnya, karena kebohongan itu tak pernah tunggal. Orang bisa berhasil membohongi seluruh dunia, tetapi tak akan pernah berhasil membohongi diri sendiri.

“DIAM” DALAM BAHASA KEDANG

Kata “diam” dalam bahasa Indonesia, dapat diterjemahkan dengan kata ere dalam bahasa Kedang. Padahal kata yang mirip dengan ere yakni >ere dalam bahasa Kedang, berarti berteriak meringis. Misalnya babi yang ditangkap atau akan disembelih, biasanya akan meringis (>ere), karena kesakitan. Dua kata yang sangat mirip ini menjadi sangat berbeda artinya ketika yang satu diucapkan dengan diawali tanda > e (panjang, tanpa sentakan glottal), sementara yang lainnya tidak.

Dalam bahasa Kedang, sebuah kata akan lebih dikukuhkan artinya ketika diberi pasangan katanya.  Misalnya, pasangan kata ere adalah bèrèq, sehingga kalau disatukan akan menjadi ere bèrèq, yang artinya diam seribu bahasa. Kata bèrèq sebagai pasangan kata ere, sepertinya berasal dari akar kata yang sama dengan èrèq  yang bisa berarti saya tangkap. Dengan demikian bisa saja ditafsirkan bahwa istilah ere bèrèq bisa saja berarti “diam karena sudah menangkap atau memahami, mengerti”. Dengan kata lain, diam di sini adalah diam sambil merenung;  artinya ada sesuatu yang dipikirkan atau dipertimbangkan. Kalau diam dalam arti cuek, sebagai sikap tidak peduli, akan diberi pasangan kata lain, yakni “emi” lalu menjadi “ere emi”.

Maka ere bèrèq adalah kata untuk menggambarkan sikap diam, bukan dalam arti cuek atau tidak perduli (dalam arti pasif), melainkan diam dalam arti aktif, dibarengi dengan kegiatan berpikir, merenung, memaknai, memahami. Dengan demikian ere bèrèq lebih berkonotasi ke pepatah Indonesia yang mengatakan “diam-diam ubi berisi” atau pepatah Inggris, “silence is golden” (diam itu emas), atau pepatah Latin, “si tacuisses philosophus mansisses” (Kalau Anda diam, Anda seorang filsuf. Artinya, ketika Anda bicara, langsung ketahuan bahwa Anda bukan filsuf, maka lebih baik diam saja, biar dianggap filsuf).

Orang yang pendiam lebih dihargai (terutama yang rajin bekerja), daripada orang yang banyak bicara dan penuh tipu muslihat (dan malas bekerja pula). Orang model kedua ini, dalam bahasa Kedang disebut >ihi wowo, Kata  >ihi atau >ihin artinya isi, materi, daging (bukan tulang, bukan lemak).  >Ihi wowo artinya, isinya hanya ada di mulut  dankata-katanya (wowo), tidak dalam kenyataannya.  Istilah ini biasa dikenakan pada orang yang  mencari nafkah dengan menggunakan omongan (kosong di) mulut (banyak bicara bohong, jual-obat, tipu sana tipu sini, dan sebagainya).

Orang yang suka >ihi wowo ini berbeda dari orang yang wowo rai (banyak bicara). Tipe kedua ini adalah orang yang banyak bicara, suka bercanda, banyak guyon, blak-blakan, pandai bergaul. Tipe ini lebih positif, dan termasuk tipe yang  disukai dalam masyarakat.

Dengan demikian orang yang ere bèrèq  dan orang yang wowo rai itu lebih disenangi dalam masyarakat, daripada orang yang ere èmi dan orang yang >ihi wowo.

Anda punya teman orang Kedang? Dia termasuk yang mana? Pendiam? Pendiam yang mana? Ere bèrèq atau ere èmi.  Ataukah teman Anda termasuk orang yang banyak bicara?  Banyak bicara sebagai wowo rai atau >ihi wowo? Dan Anda sendiri? Kenalilah teman Anda, kenalilah diri Anda sendiri.