BANJIR KARANGAN BUNGA

Ale rasa beta rasa. sumber: http://batam.tribunnews.com/

Pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Basuki Djarot yang selama ini terus memerangi banjir di ibu kota, malah terlihat tak kuasa menghadang banjir yang kali ini melanda pekarangan Balai Kota DKI Jakarta: banjir karangan bunga. Banjir karangan bunga untuk Basuki Djarot ini bahkan merembes juga ke daerah lain bahkan ke luar negeri. Sebuah karangan bunga di Batam menarik perhatian saya dengan tulisan kata-katanya bernada Ambon manise, Ale Rasa Beta Rasa, artinya: Apa yang Anda rasakan beta juga rasakan.

Bunga adalah bahasa universal. Ungkapan “katakanlah dengan bunga ketika Anda kehabisan kata-kata”, sudah lazim terdengar. Dan itulah yang terjadi di Balai Kota DKI Jakarta, dan di tempat-tempat lain tadi. Bunga menjadi bahasa bersama yang bisa menyapa orang dari berbagai agama, etnis, budaya, dan keanekaragaman lainnya, untuk menyatakan perasaan bersama. Tidak heran kalau ada yang mengatakan banjir karangan bunga ini adalah cara berunjuk rasa yang kreatif, berkelas, dan beradab, sangat membetot perhatian, tanpa rusuh, macet; tanpa ancaman dan ketakutan.

Karangan bunga tersebut menyerukan rasa kecewa, sedih, tidak mengerti, mengapa pemimpin yang sangat berprestasi, jujur, bekerja keras, dan terbukti membawa perubahan besar bagi Jakarta, dengan program-program yang feasible, bahkan tingkat kepuasan kerjanya di atas 75 persen itu, ditolak oleh warga dengan alasan-alasan yang di luar domain publik. Menurut direktur lembaga survei SMRC, untuk ukuran pejabat publik di Indonesia sekarang ini, prestasi ini termasuk excellent. Mungkin kalau diukur dengan prestasi akademik, pasangan gubernur ini telah lulus dengan embel-embel summa cum laude.

Lantas, mengapa rakyat tidak memilih pemimpin yang berprestasi ini? Karena kriteria yang digunakan untuk keterpilihan adalah bukan prestasinya sebagai gubernur, melainkann identitasnya. Analog dengan dunia akademis ketika seorang dosen yang menguji mata kuliah logika, tidak menggunakan indikasi kemampuan mahasiswa dalam matakuliah logika sebagai nilai untuk menentukan tingkat kelulusan, melainkan apakah dia rajin berdoa atau tidak? Kalau ini yang terjadi, maka mahasiswa tidak perlu belajar logika, yang penting adalah rajin berdoa. Tidak ada yang salah dengan prestasi rajin berdoa, tetapi itu tentu saja tidak bisa dijadikan kriteria untuk memberi penilaian terhadap kemampuan berlogika.

Kalau tolok ukur pemilihan seorang pejabat publik itu tidak didasarkan pada prestasi, maka bisa terjadi bahwa seorang pejabat publik tidak perlu memikirkan program kerjanya dan tidak perlu berprestasi. Yang diperlukan seorang pejabat publik adalah menala dirinya agar senada dengan cita rasa rakyat, membangun simpati, tebar pesona, dan hanya perlu menjalankan program-program populer, yang disukai dan diinginkan rakyat, bukan yang dibutuhkan rakyat. Tugas pemerintah bukan lagi menyejahterakan rakyat melainkan menyenangkan hati rakyat. Rakyat ingin berjualan di badan jalan, tidak apa-apa; membangun rumah di tanah milik negara tak masalah; tinggal di kolong jembatan, di bantaran kali dan berpotensi, menimbulkan banjir, oke-oke saja, karena rakyat lebih takut neraka daripada banjir dan kemacetan. Pilkada nantinya hanya akan diisi oleh calon-calon yang berlomba-lomba menyenangkan hati rakyat.

Kalau ini yang terjadi maka apakah kita masih berharap untuk mendapatkan pemimpin-pemimpin berkualitas, yang jujur, berprestasi, dan tidak korup, punya komitmen dan integritas tinggi untuk membangun pemerintahan yang bersih dan transparan, memberantas korupsi, mengentaskan kemiskinan, dan meningkatkan kesejahterakan rakyat?

Atau barangkali perlu didefinisikan ulang apakah pemimpin yang diidolakan adalah pemimpin seperti apa? Pemimpin yang tidak korup? Ataukah pemimpin yang diidolakan adalah pemimpin yang banyak berbagi (sharing) dari harta kekayaannya, walaupun mungkin semua harta keayaan itu sebenarnya didapatkan dari hasil korupsi? Kalau ini yang terjadi maka sesungguhnya kita telah ikut memperkokoh sebuah struktur yang mengabadikan posisi pejabat yang korup dan tidak berprestasi. Pejabat nantinya tidak segan-segan melakukan korupsi, dan selanjutnya membagi-bagi hasil korupsinya untuk mengambil hati rakyat, yang pada gilirannya akan mempertahankan sang pejabat lagi dalam posisinya. Yang terjadi adalah rakyat akan setia menjadi jelata dan terus mengabdi pada pejabat yang akan tetap mempertahankan statusquo sebagai pejabat. Tentu saja ini adalah praktik yang sangat diskriminatif dan tidak sesuai dengan prinsip hidup berbangsa dan bernegara, bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama, untuk menjadi pemimpin. Dalam kondisi ini pemimpin telah membangun sebuah struktur yang akan mengabadikan posisi mereka sendiri.

Konsep untuk mengatasi ini sebenarnya sudah banyak dipraktikkan oleh negara-negara modern, yakni memisahkan urusan negara dari urusan agama, urusan publik dari urusan privat. Para filsuf politik sudah lama berteriak bahwa ketika negara dan agama dicampur-adukkan, maka akibatnya adalah kekacauan. Thomas Hobbes misalnya, berpendapat bahwa manusia itu sama dengan serigala bagi manusia lain (homo homini lupus), maka perlu ada satu kekuasaan seabsolut Leviathan untuk mengendalikan para serigala ini. Tetapi kekuasaan seabsolut Leviathan pun tidak berkuasa atas hal-hal yang berada dalam ranah privat. Seseorang yang sedang berpikir untuk merampok bank, misalnya, pasti berdosa, tetapi belum bisa ditangkap polisi, karena dia belum melanggar hukum publik. Negara hanya bertindak atas tindakan-tindakan buruk (kriminalitas) di wilayah publik.

Bagaimana pun juga, di zaman ini mestinya orang mengerti bahwa seorang pemimpin negara adalah pemimpin untuk kehidupan bernegara di dunia ini, bukan di wilayah privat, apa lagi di dunia lain. Kalau pemimpin negara menjadi pemimpin juga di dunia sana, maka pemimpin macam ini adalah seorang pemimpin totaliter, menguasai surga dan dunia sekaligus. Lalu siapa yang bisa mengontrol dia? Tuhan? Tuhan menurut penafsiran siapa? Penafsiran pemimpin?

Negara adalah komunitas publik yang perlu diatur dengan peraturan-peraturan publik. Negara hanya mengatur hubungan eksternal antara warganya agar secara negatif tidak saling merugikan, dan secara positif dapat saling mendukung untuk mencapai kesejahteraan bersama. Seorang yang melakukan korupsi tentu saja merugikan warga negara lainnya. Tetapi dia tidak bisa dituntut berdasarkan aturan agama tertentu. Maka negara memiliki landasan etis dan konstitusional formal untuk mengambil tindakan atas perbuatan korupsi. Di Indonesia kita memiliki Pancasila yang berfungsi sebagai norma paling dasar untuk merumuskan berbagai peraturan hukum dan konstitusi negara.

Maka karangan bunga yang membanjiri Bali Kota DKI Jakarta dan juga berbagai tempat lain, adalah upaya untuk mengangkat kembali nilai-nilai kejujuran, kerja keras, prestasi, integritas dalam diri pemimpin, yang seolah-olah telah ikut terpuruk bersama dengan kekalahan dalam sebuah kontesasi pilkada. Bunga itu tetap bunga dan tak pernah menjadi ilalang. Dan nilai-nilai itu yang telah menyentuh perasaan bersama (ale rasa beta rasa), entah siapa pun dari agama apa pun, etnis apa pun, golongan mana pun, yang mendukung nilai-nilai yang sama tersebut untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia tercinta.

Benyamin Molan

JABATAN DAN MARTABAT

Menari menyambut pejabat yang bermartabat
Foto: Colours of Lembata

Suhu politik terasa semakin memanas menjelang putaran kedua pilkada DKI. Kedua calon gubernur dan tim sukses serta pendukung masing-masing pihak, terus berupaya menghimpun suara rakyat. Berbagai cara pun ditempuh. Beraneka jurus dan strategi digelontorkan dalam kampanye. Ada yang bermartabat, tetapi ada juga yang kurang bermartabat.  Ada jurus yang tergolong kampanye positif dan pantas diapresiasi, ada juga yang tergolong kampanye negatif dan perlu diklarifikasi; tetapi tidak sedikit jurus yang beraroma kampanye hitam atau provokatif, dan pantas dibuang ke laut.

Jabatan gubernur (DKI) adalah jabatan yang bermartabat, karena menjadi pengemban kedaulatan rakyat (DKI). Maka yang diemban seorang gubernur itu bukan hanya jabatannya, melainkan juga martabatnya.  Itu berarti jabatan gubernur tidak dapat diuraikan dari martabat. Cagub yang hanya mengejar jabatan, akan menjadi pejabat yang tidak bermartabat. Cagub tipe ini akan menggunakan segala macam cara untuk merebut jabatan, dan kurang peduli pada martabatnya. Penggunaan cara-cara yang tidak bermartabat untuk meraih jabatan, bisa saja membawa keberhasilan, tetapi keberhasilan tersebut hanya sebatas mencengkeram jabatan, tapi tidak mampu menegakkan martabatnya.

Bebas dan bertanggung jawab

Ketika seseorang menjadi pejabat, dia diberi kebebasan dalam bentuk kekuasaan untuk berkreasi dan berprakarsa menciptakan program-program demi mensejahterakan rakyat. Karena itu kebebasan dalam kekuasaan tersebut harus dijalankan secara bertanggung jawab. Kebebasan itu melekat pada jabatan, sementara tanggung jawab itu terkandung dalam martabat. Dengan kata lain, dalam jabatan berkibarlah kebebasan, keleluasaan, dan kekuasaan; sedangkan dalam martabat tertanamlah tanggung jawabnya. Ibarat bendera dan tiang. Bendera akan berkibar dengan bebas ketika digerek pada sebuah tiang yang kokoh. Sebaliknya bendera akan terbang tanpa arah bila terlepas dari tiangnya.

Dalam kibaran kebebasan itu ada power dan energi, sedangkan dalam ketangguhan tanggung jawab, tertanam pedomannya. Pejabat yang tak punya martabat, setali tiga uang dengan pejabat yang hanya ingin mengibarkan kebebasan, tetapi tak punya akar tanggung jawab yang memberi makna dan arah pada kebebasan.  Kebebasan tanpa tanggung jawab dalam jabatan, akan menjadi keliaran yang kontra-demokrasi dan bakal melibas keluhuran martabat sebuah jabatan.

Maka dalam pemilihan gubernur atau pemimpin pada umumnya, bukan hanya program sang calon yang patut mendapat perhatian, melainkan juga kepeduliannya pada jabatan yang bermartabat. Hanya pejabat yang bermartabat yang bisa efektif mengeksekusi programnya secara efektif dan bertanggung jawab. Program yang hebat tidak akan efektif di tangan seorang pejabat yang tidak bermartabat.  Karenanya calon yang hanya mengejar jabatan dan mengabaikan martabat, pasti bukan calon yang memiliki integritas yang tinggi. Tanda-tandanya bisa terbaca dalam sikap dan perilaku saat berkontestasi. Berjuang gigih menghalalkan segala macam cara yang menyesatkan, entah bermodel farisianistik atau sofistik (baca artikel sebelumnya di blog ini),  jelas menimbulkan kesan yang kuat tentang adanya penguberan jabatan telanjang, tanpa berzirahkan martabat.  Calon pejabat yang bermartabat harus mampu mengontrol seluruh alunan gelombang dan gerakan para pendukungnya, agar mereka tidak hanya berkontribusi pada upayanya mensukseskan sang calon meraih jabatan, melainkan juga berkontribusi untuk mensukseskan dia menjaga integritas dirinya dalam menjaga keluhuran martabat jabatannya. Dia sepatutnya mendapatkan simpati ketika mampu menjaga dan melindungi martabat jabatan, dengan menyikapi secara tegas, berbagai cara yang vulgar, provokatif dan memecah belah, yang dilancarkan sekelompok pendukungnya, dan tidak menerimanya begitu saja (take for granted), dan tidak pula secara santun mengamininya sebagai  blessing in disguise (berkah terselubung).

Etiket dan Etika

Jabatan yang bermartabat juga ditunjukkan dalam berperilaku etis, yang bukan hanya menyangkut etiket (cara berperilaku yang baik dan santun), tetapi juga dan terutama menyangkut etika (perilakunya sendiri yang baik dan benar). Korupsi, milsalnya, merupakan tindakan yang melanggar etika walaupun dilakukan dengan cara yang santun, tanpa melanggar etiket (menerima hasil korupsi dengan tangan kanan). (Bertens, 2017). Kesantunan itu baru sebatas menunjukkan kadar etiket seseorang, tetapi belum menunjukkan etika.

Dengan demikian kalau dikaitkan dengan jabatan dan martabat, bisa dikatakan bahwa jabatan itu lebih menyangkut etiket, sedangkan martabat itu lebih menyangkut etika. Pejabat yang mengutamakan jabatan akan lebih bermain di wilayah etiket. Pejabat yang mengutamakan martabat akan lebih banyak berkecimpung di bidang etika. Kredibilitas seorang pejabat itu lebih berhubungan dengan martabat daripada jabatan.

Ini sepertinya menyambung juga dengan watak para pendukung. Pendukung yang lebih mementingkan etiket dan kesantunan akan kurang memperhatikan aspek martabat pada dukungannya. Sedangkan pendukung yang lebih peduli pada etika akan kurang peduli terhadap aspek jabatan pada dukungannya. Dan para pemilih akan menemukan jalannya sendiri.

Hari pencoblosan sudah semakin dekat. Semoga warga DKI akhirnya mendapatkan seorang gubernur yang tidak hanya mampu meraih jabatan tetapi juga piawai dalam menjaga dan melindungi martabatnya.

Jakarta,  30/03/17

Benyamin Molan

FARISIANISME DAN SOFISME

Farisi adalah salah satu dari dua partai keagamaan Yahudi. Partai lainnya adalah Saduki. Farisi adalah kelompok sangat ekstrim yang berusaha menjaga ajaran Yahudi tetap eksklusif dan tidak terkontaminasi oleh ajaran-ajaran lain. Dengan mendasarkan segala sesuatu pada Torah, kaum Farisi memaksa agar aturan-aturan agama Yahudi dipegang seteguh mungkin bahkan di seluruh aspek kehidupan mereka. Periode aktif Farisianisme yang dianggap berpengaruh besar terhadap perkembangan agama Yahudi yang kolot, berlangsung sampai sekitar tahun 135.

Istilah Farisi kemudian dipakai untuk menunjukkan semangat memegang aturan yang harafiah (menurut hurufnya), sementara makna sesungguhnya dari aturan itu menjadi kabur. Mereka menampilkan sikap formalistis yang ekstrim dalam kehidupan beragama. Mereka selalu mencari kehormatan, dan menampilkan diri sebagai orang paling saleh, memamerkan diri sebagai orang suci; mereka berdoa dan melakukan perbuatan amal di muka umum supaya dilihat, dipuji dan dipuja orang; mereka juga mengikatkan ayat-ayat Torah di kepala mereka, untuk mempromulgasikan kepada khalayak bahwa mereka hidup sesuai dengan ayat-ayat tersebut, dan akan mengklaim tempat di surga.

Mereka juga menjaga dirinya agar tidak tercemar oleh dosa, dengan menjaga jarak dari kaum pendosa seperti pelacur dan pemungut cukai, serta para penderita  lepra (penyakit yang dianggap sebagai kutukan terhadap si penderita karena dosa). Mereka harus menjaga agar diri mereka tidak menjadi najis oleh sentuhan-sentuhan angin kaum pendosa ini.

Kemunafikan yang memuakkan ini membuat mereka sering dikecam dan dianalogikan sebagai batu kubur yang putih di luarnya tetapi di dalamnya berbau busuk. Wajahnya santun tapi hatinya setan. Perilaku mereka penuh dengan tipu muslihat, dan sarat dengan kemunafikan. Mereka lebih mengutamakan hal-hal yang formalistik, legalistik daripada yang batiniah dan spiritual.

Mereka lebih mudah melihat kesalahan orang daripada kesalahannya sendiri. Bagi mereka berlakulah pepatah yang mengatakan: “Kuman seberang lautan tampak, tetapi gajah di pelupuk mata tidak tampak.” Mudah sekali mengamati dan membesar-besarkan kesalahan kecil orang lain, bahkana mengada-ada, sementara kesalahan besar yang dilakukannya sendiri tidak disadari. Mereka sering menggunakan standar ganda. Standar yang dikenakan pada dirinya sendiri cenderung lebih longgar dibanding standar yang digunakan untuk orang lain. Mereka menuntut orang lain tak boleh menfitnah, tetapi mereka sendiri melakukan fitnah.  Orang lain tidak boleh melakukan pekerjaan pada hari Sabat, tetapi mereka sendiri melakukannya sambil membuat rasionalisasi untuk membenarkan diri.

Sofisme

Sofis adalah satu kelompok filsuf di zaman Yunani kuno yang menganggap diri sebagai pemegang kebenaran, dan tidak segan-segan memutar balikkan kebenaran. Seorang filsuf juga yang tidak sepaham dengan kelompok ini adalah Sokrates. Sokrates menuduh mereka menggunakan argumentasi-argumentasi yang menyesatkan orang, terutama mereka yang tidak memiliki karakter berpikir kritis.

Argumentasi-argumentasi dibangun sedemikian rupa sehingga orang yang tidak berpikir kritis akan membenarkannya. Dengan argumentasi-argumentasi itu mereka bisa memutar balikkan kebenaran.

Sifat yang berbau negatif kelompok ini masih terasa dalam istilah bahasa Inggris dengan akar kata yang sama (Bertens, 203), yakni sophist, sophism, dan sophistery, yang merujuk pada orang yang berargumentasi dengan memutar balikkan kebenaran (sophist), atau cara berargumentasi yang memutar balikkan kebenara (sophism atau sophistery).

Sokrates, Plato, dan Aristoteles sempat mengeritik kelompok ini karena mengkomersialisasikan pengajaran mereka, dan mendapatkan uang dari kegiatan itu. Aristoteles bahkan menulis buku Sophistikoi elenchoi yang mengulas cara berargumentasi kaum Sofis yang tidak valid (Bertens. 2003). Cara-cara berargumentasi ini lebih bertujuan untuk meyakinkan (persuasif), dan bukannya untuk mendapatkan kebenaran (argumentatif).

Kritis

Tentu sekali gabungan antara dua gerakan ini akan sangat membahayakan kehidupan bersama dalam masyarakat. Gerakan Farisianisme akan bergerak dan menjalankan misinya di bidang/aspek agama, terutama karena agama itu lebih mengandalkan keyakinan, maka mudah sekali dibangun keyakinan-keyakinan di sana, yang lebih menuntut penjelasan persuasif daripada argumentatif; sementara gerakan Sofisme akan menjalankan misinya dalam bidang ilmu pengetahuan, yang juga tidak dapat dijamin kebenarannya dengan cara verifikasi melainkan hanya dengan falsifikasi. Kita tahu bahwa kebenaran-kebenaran yang didapatkan dari metode induksi, termasuk kebenaran yang tidak dapat ditarik kesimpulan yang pasti, karena kesimpulannya selalu lebih luas dari premis. Karena itu dalam metode induksi kita hanya bisa sampaikan tingkat probabilitas (kemungkinan benar) dari sebuah konklusi, dan bukan kebenaran absolut.

Maka perlu dibangun sikap kritis untuk menghadapi kedua model argumentasi (farisianisme dan sofisme) yang menyesatkan ini. Penghargaan terhadap martabat manusia, akal sehat, dan hati nurani patut dikembangkan. Tuhan tidak pernah salah, tetapi yang bisa salah adalah manusia yang menangkap dan menafsirkan hal benar yang dikatakan Tuhan itu. Ilmu pengetahuan tak pernah salah, tetapi yang bisa salah adalah ilmuwan yang menangkap pengetahuan itu. Tetapi betapa pun diputar balikkan oleh imuwan, kebenaran tetap terang benderang, karena kebenaran tak pernah bisa menjadi kepalsuan. Kebenaran itu tetap akan berpendar walaupun dibungkam dan dipendam.

SELAMAT DATANG TAHUN AYAM

snapshot_20170128_1Kita memasuki Tahun Baru Imlek 2568 sebagai tahun Ayam, tepatnya Ayam Emas/Api.

Ayam itu termasuk hewan yang percaya diri, kalau tidak mau dikatakan sombong. Dia sepertinya menjadi trend setter untuk hidup sehat dan sukses. Ketika senja turun, dan hari sudah mulai gelap, ayam sudah mencari tempat untuk tidur. Seolah-olah dia yang memerintahkan matahari agar segera menyingkir dan terbenam, karena para ayam mau tidur. Dan saat hari masih subuh, dunia masih terlelap, ayam sudah bangun dan mewartakan kabar gembira, bahwa fajar akan segera menyingsing, bangunlah semuanya, dan cepatlah mencari rejeki. Dia sepertinya bangga dan menyatakan  ke seluruh dunia bahwa dialah yang membangunkan matahari, untuk segera terbit karena dunia ingin segera beraktivitas dan bekerja.

Tahun ayam adalah tahun kerja. Mudah-mudahan semakin banyak lapangan kerja tersedia, entah karena meningkatnya investasi, atau meningkatnya kreativitas yang produktif, sehingga angka pegangguran dan kemiskinan pun semakin menurun, serta berefek pula pada kedilan sosial, yang pada gilirannya semakin mempersempit kesenjangan antara kaya dan miskin.

Ayam juga dikenal jujur, transparan, tidak mengenal tipu daya. Saat bertelor, dia akan berkotek, sehingga tidak sulit untuk menemukan dan menunjukkan di mana telornya. Mudah-mudahan ayam bisa menjadi inspirasi untuk transparansi dan pemberantasan korupsi di negeri ini. Gebrakan KPK menjelang tahun ayam emas ini bisa menjadi tabuhan genderang perang yang berkelanjutan, dan mudah-mudahan lebih dahsyat, terutama menyangkut reformasi hukum. Maka bukan kebetulan bahwa tahun ayam emas ini menjadi tahun reformasi hukum. Ini adalah program emas yang akan segera berpendar. Semoga tahun ini akan lebih banyak mengumandangkan kokok ayam, biar kita senantiasa diingatkan untuk kerja, kerja, kerja, dan diramaikan oleh kotekannya karena telah menghasilkan banyak telur.

Biarlah anak ayam turun sepuluh, semuanya tetap hidup, dan terus menghasilkan nilai-nilai emas dan aturan-aturan emas bagi bangsa dan negeri tercinta ini.

Selamat datang Tahun Ayam. Gong Xie Fa Chai

REFLEKSI MENJELANG TAHUN BARU 2017: SPIRIT MOANIK

Saya bersyukur bahwa pada akhir tahun ini saya berkesempatan menonton film Moana, film animasi terbaru dari Disney. Film ini diambil dari cerita rakyat Polynesia. Tokoh utamanya adalah Moana, anak kepala suku (Tui), yang tinggal di pulau Motunui. Pada suatu saat penduduknya merasakan bahwa hidup mereka semakin susah. Ikan-ikan semakin menjauh dari perairan mereka. Padahal mereka dilarang oleh kepala suku untuk keluar dari batas karang di pulau mereka, karena pengalaman buruk masa lalu. Pengalaman itu yang membuat mereka akhirnya memutuskan untuk memarkir semua perahu mereka, dan tidak lagi berlayar. Sementara itu, usaha pertanian mereka juga gagal, buah kelapa mereka semua membusuk.

Dari neneknya (Tala), Moana mendengar cerita bahwa bencana tersebut merupakan akibat dari kutukan dewi Te Fiti. Sang dewi marah, lantaran hatinya dicuri oleh Maui, seorang manusia setengah dewa. Keadaan pulau mereka Motunui akan kembali membaik, bila hati dewi Te Fiti dikembalikan. Hati yang berbentuk batu liontin itu ditemukan Moana, saat si bocah kecil ini sedang mengumpulkan siput di pinggir laut. Konon lama sebelumnya, hati tersebut telah jatuh ke lautan, ketika Maui sang pencuri hati itu diserang para monster Teka.

Film ini selanjutnya mengisahkan perjuangan heroik Moana selama berlayar mencari Maui dan menuntutnya untuk mengembalikan hati itu ke dewi Te Fiti. Sebagai anak kepala suku dia merasa bertanggung jawab atas keselamatan hidup penduduk pulau itu. Ayahnya melarangnya, tetapi neneknya, Tala, mendorongnya untuk menjalani misi yang penuh tanggung jawab itu. Dia pun merasa terpanggil dan memutuskan untuk menjalani misi tersebut.

Ternyata perjalanan itu tidak mudah. Dia bahkan sempat hampir putus asa dan merasa bahwa dirinya bukanlah orang yang tepat untuk menjalani misi itu. Tetapi dia dan Maui akhirnya bisa bertemu dengan Te Fiti dan menyerahkan kembali hatinya. Wajah Te Fiti pun kembali tersenyum dan cantik lagi seperti semula; pulau Motunui selanjutnya menjadi hijau lagi, dan ikan-ikan kembali bermain di perairannya. Berkat perjuangan Moana masyarakat di pulau Motunui telah diselamatkan.

Dan yang tak kalah menarik adalah musik dan lagu serta tokoh-tokoh animasinya yang sangat tribal dan alamiah, seolah menampilkan semangat oseanik dan jiwa maritimnya manusia-manusia Polynesia di Motunui. Sangat inspiratif.

Munculnya film ini di penghujung tahun 2016 seperti mau mengatakan bahwa tahun yang segera berlalu ini telah menjadi tahun yang membuat kita telah kehilangan hati. Kita membutuhkan semangat dan spirit Moanik untuk mengembalikan hati itu. Hati yang damai, tetapi tetap dinamis. Hati yang jujur dan penuh keikhlasan. Hati yang sejuk tetapi tetap hangat. Hati yang penuh persaudaraan dan menghargai perbedaan. Hati yang tidak mengkerut karena kebencian yang menumpuk. Hati yang tetap dipandu oleh akal sehat. Hati yang tidak mengempis melainkan tetap berkembang menerima perbedaan. Hati yang lembut terhadap lingkungan sehingga kita terhindar dari bencana. Hati yang alamiah yang membuat kita semakin bersahabat dengan alam dan berdamai dengan manusia. Hati yang religius dan tidak sekadar formalistik atau legalistik. Hati yang kritis, dan bukannya hipokritis (munafik). Hati yang setia menjalankan kesepakatan.dan autentik menjalankan pandangan hidup (Weltanschaung).

Namun perlu diingat, bahwa upaya untuk mengembalikan hati yang hilang itu, bukan pekerjaan yang mudah. Seperti Moana kita akan didampingi oleh Maui yang menjadi biang kerok permasalahan, pemberani tetapi kadang-kadang agak pengecut dan ogah-ogahan. Kita akan berhadapan dengan para monster seperti bajak laut Kakamora, atau raksasa buruk rupa berbentuk batok kelapa seperti Tomatoa, atau monster larva Te Ka.

Dan, tahun 2017 akan menjadi tahun bersemangat Moanik yang mengajak kita untuk berani mengarungi lautan dan menemukan kembali hati yang hilang.

Selamat Tahun Baru 2017.

Semoga di tahun 2017 kita mendapatkan kembali hati kita yang hilang.

Benyamin Molan

OM TELOLET NATAL OM

Saat ini “om telolet om” menjadi viral di dunia media sosial, sampai-sampai pemusik dunia, serta pesepak bola sekelas Ronaldo atau Michael Ballack, ikut-ikutan terserang demam telolet. Banyak orang tidak mengerti dan bertanya: “apa itu?” Setelah dijelaskan, muncul pertanyaan lagi, “apanya yang menyenangkan?” Tetapi nyatanya, kegiatan yang bermula dari keisengan itu memang menyenangkan. Para teloleters itu datang ke pinggir jalan, menunggu bus antar kota lewat, lalu meminta sang sopir membunyikan klakson dengan berteriak “om telolet om”, … lalu sang sopir dengan senang hati membunyikan klaksonnya yang bersuara khas “telolet…”, dan … semua senang bersorak gembira. Begitu sederhananya. Itu artinya orang mau senang, ya senang, walaupun dalam kondisi yang tidak bisa dipahami sebagai menyenangkan. Orang bisa secara kreatif membuat hatinya senang, dan membuat kondisi yang biasa-biasa, bahkan tidak dimengerti sebagai menyenangkan, pada akhirnya menjadi menyenangkan.

Om Telolet Natal Om

Om Telolet Natal Om

Mungkin ada orang lain yang bisa saja tak mengerti mengapa kegiatan itu mengasyikkan, tetapi kenyataannya, memang mengasyikkan. Mengapa itu mengasyikkan? Kita bisa bertanya, dan orang yang merasa mengasyikkan itu bisa menjelaskan, tetapi penjelasan itu terasa hanya untuk memuaskan si penjelas, dan tidak membuat orang yang mendengarkannya akhirnya merasa jelas, apa lagi menyepakatinya. Terutama lagi kalau si pendengar sudah memasang tameng atau kuda-kuda ketidak-sukaan, maka semakin dijelaskan, tingkat gagal paham si pendengar semakin meningkat.

Keasyikan itu adalah sesuatu yang privat tidak bisa diajak masuk dunia publik. Sama halnya soal selera, orang Latin mengatakan de gustibus non est disputandum (soal selera itu tidak bisa didiskusikan). Anda tidak bisa mengatakan bahwa orang yang mengatakan buah duren itu tidak enak sebagai salah dan bodoh. Soal keyakinan tidak bisa dimasukkan dalam wilayah dikotomis (Baca artikel “Dikotomi dan Orang-Orangan” di blog ini)

Itu baru soal privat yang menyangkut selera. Belum lagi soal privat yang menyangkut keyakinan. Keyakinan juga adalah wilayah privat yang sulit dipahami di dunia publik. Maka penjelasan-penjelasan tentang keyakinan mungkin tidak bisa diterima oleh pihak yang tidak yakin. Tetapi tidak yakin tidak sama dengan salah. Persoalan di sini adalah tidak adanya bukti-bukti terukur untuk mengatakan bahwa suatu keyakinan itu benar atau salah. Maka mengharapkan bahwa penjelasan-penjelasan mengenai keyakinan itu bisa diterima semua pihak adalah mustahil. Sikap bersikukuh untuk menyalahkan keyakinan seseorang hanya akan menimbulkan kegemasan yang menumpuk dan pada gilirannya berakumulasi menjadi kejengkelan dan kebencian yang justru semakin menambah tingkat gagal paham.

Penjelasan tentang Natal pun mungkin sulit disampaikan secara tuntas, karena tradisi perayaan Natal yang sudah begitu panjang. Tetapi yang tak pernah lepas dari tradisi panjang ini adalah bahwa Natal merupakan selebrasi damai, kasih, sukacita. Selamat berbagi damai, kasih dan sukacita. “Om Telolet Natal Om”, Damai, Damai, Damailah Senantiasa, huaaahaaa.  “Om Telolet Natal Om” Jingle Bell, Jingle Bell, …. Huahahaha. Selamat Natal 2016.

Benyamin Molan

DIKOTOMI DAN ORANG-ORANGAN

Kalau bukan kawan artinya lawan, bukan hitam berarti putih, bukan perempuan berarti laki. Bukan panas berarti dingin. Cinta atau benci. Pintar atau Bodoh. Rajin atau Malas. Baik atau jahat. Seiman atau tak seiman. Hidup atau mati. Kami atau kamu. Kita atau mereka. Orang beriman atau kafir. Pria atau wanita. Jantan atau betina. Timur atau Barat, Modern atau tradisional.

Sering cara berpikir ini sengaja dibangun untuk menciptakan efek-efek tertentu sesuai dengan tujuan-tujuan (politis?) tertentu. Ketika ada diskursus dahulu tentang rancangan undang-undang anti pornografi, kaum dikotomis selalu mengandaikan bahwa pihak yang menentang undang-undang pornografi adalah pendukung pornografi. Padahal kedua belah pihak sama-sama menolak pornografi.

Dikotomi itu sengaja dibangun dengan membentuk kubu yang semu. Pandangan yang berseteru sesungguhnya adalah antara pendukung RUU Anti-Pornografi dan penentang RUU Anti-Pornografi. Dan kedua kelompok yang berseteru ini sesungguhnya sama-sama menentang pornografi. Tetapi oleh para dikotomis, kondisi ini dipelintir menjadi perseteruan antara pihak yang mendukung pornografi dan pihak yang menolak pornografi. Persoalannya bukan pada menolak pornografi atau mendukung pornografi, melainkan pada mendukung atau menolak rancangan undang-undang anti pornografi.

Kedua kubu sesungguhnya menolak pornografi, dan bertekad memerangi pornografi. Masalahnya adalah apakah pornografi bisa diperangi dengan cara menetapkan sebuah undang-undang? Pornografi itu sesuatu yang subyektif dan berada di wilayah privat, bagaimana bisa dipatok secara obyektif di wilayah publik? Tentu saja ada obyek atau sikap dan perilaku tertentu yang bisa berefek porno pada seseorang, tetapi bagi orang lain tertentu, efek itu tidak terasa. Pakaian minim di Jakarta mungkin berefek porno, tetapi tidak demikian untuk masyarakat tribal di wilayah-wilayah pedalaman Indonesia. Pornografi juga sering diasosiasikan dengan pakaian minim, padahal ada juga pria yang malah bisa berfantasi ria di angan-angan pornografis ketika berhadapan dengan wanita yang berpakaian lengkap dan tertutup.

Pola serupa muncul lagi ketika ada diskursus tentang hukuman mati bagi para terpidana narkoba. Ada pihak yang setuju dengan hukuman mati ada yang menentang hukuman mati. Cara berpikir dikotomis pun dibangun dengan cara menganggap para penentang hukuman mati sebagai pendukung narkoba. Padahal kedua pihak sama-sama anti narkoba, hanya saja yang satu menunjukkannya dengan memberlakukan hukuman mati, yang lainnya bukan dengan hukuman mati.

Salah satu model aplikatif dari dikotomi ini lazim dikenal sebagai the straw man. Istilah ini lazim diterjemahkan sebagai kesesatan orang-orangan atau manusia jerami. Subyek yang menjadi sasaran tembak sering dijadikan semacam orang-orangan, supaya kemudian mudah untuk dibidik dan ditembaki. Trik ini sering digunakan oleh para provokator dan kaum demagog. Karena itu, domain yang paling laris bagi model ini adalah saat pemilu, pilpres atau pilkada; saat di mana ada kompetisi antara dua atau lebih kubu untuk memperebutkan sebuah kedudukan. Suasana lalu menjadi lebih hangat, dan upaya dukung mendukung bisa menciptakan perkubuan yang sering tidak mudah cair, bahkan setelah pemilu, pilpres atau pilkada lama berlalu.

Dalam suasana yang cenderung menghangat itu, sebuah tuturan yang mungkin pada saat diucapkan tidak dipermasalahkan, bisa saja kemudian ditampilkan menjadi argumentasi semu yang membuat pikiran sehat menjadi terselubung oleh emosi yang terus digosok. Caranya adalah dengan menjadikan penuturnya sebagai the straw man. Dan trik the straw man ini akan efektif bila dilakukan oleh provokator, dengan berbagai cara. Misalnya dengan menghasut dan mengkompori, membuat rasionalisasi semu, atau bujukan rayuan dan sogokan.

Sebuah tuturan atau perilaku yang tidak menimbulkan kemarahan atau meninggikan tensi emosi dan suasana hati audiens, sesungguhnya telah mencair bersama dengan konteks tuturan. Suasananya kemudian akan berubah ketika ada provokator yang merangsang dan menggosok emosi audiensnya agar menjadi emosional. Dengan demikian emosi itu tidak ditimbulkan oleh tuturannya melainkan oleh sang komporer. Konteks tuturan tidak lagi menjadi perhatian; yang dijadikan acuan adalah teks tertentu, yang kemudian diberi aksen. Pantas kalau dikatakan bahwa berhadapan dengan orang yang dibenci atau tidak disukai selalu bisa saja ditemukan alasan untuk membenci dan membully. Lebih parah lagi adalah bahwa orang yang tidak disukai hanya karena alasan etnis, agama, golongan atau kubu, tetap tidak akan disukai walaupun sudah banyak hal baik yang dilakukannya; ada semacam kebencian eksistensial.

Dan sebaik-baiknya orang, pasti ada sisi buruknya. Karena itulah budaya manusia menghadirkan mekanisme untuk menghadapi kelemahan ini, dengan permohonan dan pemberian maaf atau saling memaafkan. Nah, si pembenci hanya akan melihat sisi buruknya saja. Dan sisi buruk inilah yang akan ditampilkan (framing) sebagai orang-orangan (the straw man) di tempat yang strategis, agar jelas teramati dan mudah untuk dibidik dan ditembaki.

Sesungguhnya tidak ada dikotomi murni dalam diri manusia. Karena identititas manusia tidak bisa dieksklusifikasi menjadi dikotomis. Dikotomi orang beriman dan orang kafir, akan kehilangan batasnya dalam dikotomi etnis (Jawa dan nonJawa, misalnya),  karena dalam etnis Jawa ada juga orang yang dianggap beriman dan yang dianggap kafir), yang pada gilirannya juga akan kehilangan batasnya karena terlintas oleh dikotomi  pria dan wanita, dan seterusnya. Maka dalam masyarakat yang sehat perlu dipupuk terus kondisi anti-dikotomi yang secara serta merta akan mencairkan suasana ketika ada ketegangan dikotomis antara satu kelompok dan kelompok lainnya.

Kondisi dikotomis itu tidak akan bisa bertumbuh dengan sendirinya secara kodrati dan alamiah kalau tidak direkayasa. Rekayasa itu manipulatif; ada pihak yang memanipulasi dan ada pihak yang dimanipulasi, ada pihak yang memperalat dan ada yang diperalat. Di sana tidak ada kesetaraan sebagai manusia. Pada hal politik, menurut Hannah Arendt, adalah tindakan manusia yang paling tinggi di mana orang bertindak dalam kebersamaan (in concerto). Di sini ada transaksi argumentasi yang menuntut kesetaraan. Transaksi argumentasi akan menjadi fair kalau dilakukan dalam kesetaraan. Di sinilah kualitas sebuah argumentasi bisa teruji secara autentik tanpa tekanan atau sanjungan manipulatif. Argumentasi dikotomis atau argmentasi ala the straw man pasti bukan argumentasi yang bermutu untuk ditransaksikan dalam politik.

Benyamin Molan