SELAMAT DATANG TAHUN AYAM

snapshot_20170128_1Kita memasuki Tahun Baru Imlek 2568 sebagai tahun Ayam, tepatnya Ayam Emas/Api.

Ayam itu termasuk hewan yang percaya diri, kalau tidak mau dikatakan sombong. Dia sepertinya menjadi trend setter untuk hidup sehat dan sukses. Ketika senja turun, dan hari sudah mulai gelap, ayam sudah mencari tempat untuk tidur. Seolah-olah dia yang memerintahkan matahari agar segera menyingkir dan terbenam, karena para ayam mau tidur. Dan saat hari masih subuh, dunia masih terlelap, ayam sudah bangun dan mewartakan kabar gembira, bahwa fajar akan segera menyingsing, bangunlah semuanya, dan cepatlah mencari rejeki. Dia sepertinya bangga dan menyatakan  ke seluruh dunia bahwa dialah yang membangunkan matahari, untuk segera terbit karena dunia ingin segera beraktivitas dan bekerja.

Tahun ayam adalah tahun kerja. Mudah-mudahan semakin banyak lapangan kerja tersedia, entah karena meningkatnya investasi, atau meningkatnya kreativitas yang produktif, sehingga angka pegangguran dan kemiskinan pun semakin menurun, serta berefek pula pada kedilan sosial, yang pada gilirannya semakin mempersempit kesenjangan antara kaya dan miskin.

Ayam juga dikenal jujur, transparan, tidak mengenal tipu daya. Saat bertelor, dia akan berkotek, sehingga tidak sulit untuk menemukan dan menunjukkan di mana telornya. Mudah-mudahan ayam bisa menjadi inspirasi untuk transparansi dan pemberantasan korupsi di negeri ini. Gebrakan KPK menjelang tahun ayam emas ini bisa menjadi tabuhan genderang perang yang berkelanjutan, dan mudah-mudahan lebih dahsyat, terutama menyangkut reformasi hukum. Maka bukan kebetulan bahwa tahun ayam emas ini menjadi tahun reformasi hukum. Ini adalah program emas yang akan segera berpendar. Semoga tahun ini akan lebih banyak mengumandangkan kokok ayam, biar kita senantiasa diingatkan untuk kerja, kerja, kerja, dan diramaikan oleh kotekannya karena telah menghasilkan banyak telur.

Biarlah anak ayam turun sepuluh, semuanya tetap hidup, dan terus menghasilkan nilai-nilai emas dan aturan-aturan emas bagi bangsa dan negeri tercinta ini.

Selamat datang Tahun Ayam. Gong Xie Fa Chai

REFLEKSI MENJELANG TAHUN BARU 2017: SPIRIT MOANIK

Saya bersyukur bahwa pada akhir tahun ini saya berkesempatan menonton film Moana, film animasi terbaru dari Disney. Film ini diambil dari cerita rakyat Polynesia. Tokoh utamanya adalah Moana, anak kepala suku (Tui), yang tinggal di pulau Motunui. Pada suatu saat penduduknya merasakan bahwa hidup mereka semakin susah. Ikan-ikan semakin menjauh dari perairan mereka. Padahal mereka dilarang oleh kepala suku untuk keluar dari batas karang di pulau mereka, karena pengalaman buruk masa lalu. Pengalaman itu yang membuat mereka akhirnya memutuskan untuk memarkir semua perahu mereka, dan tidak lagi berlayar. Sementara itu, usaha pertanian mereka juga gagal, buah kelapa mereka semua membusuk.

Dari neneknya (Tala), Moana mendengar cerita bahwa bencana tersebut merupakan akibat dari kutukan dewi Te Fiti. Sang dewi marah, lantaran hatinya dicuri oleh Maui, seorang manusia setengah dewa. Keadaan pulau mereka Motunui akan kembali membaik, bila hati dewi Te Fiti dikembalikan. Hati yang berbentuk batu liontin itu ditemukan Moana, saat si bocah kecil ini sedang mengumpulkan siput di pinggir laut. Konon lama sebelumnya, hati tersebut telah jatuh ke lautan, ketika Maui sang pencuri hati itu diserang para monster Teka.

Film ini selanjutnya mengisahkan perjuangan heroik Moana selama berlayar mencari Maui dan menuntutnya untuk mengembalikan hati itu ke dewi Te Fiti. Sebagai anak kepala suku dia merasa bertanggung jawab atas keselamatan hidup penduduk pulau itu. Ayahnya melarangnya, tetapi neneknya, Tala, mendorongnya untuk menjalani misi yang penuh tanggung jawab itu. Dia pun merasa terpanggil dan memutuskan untuk menjalani misi tersebut.

Ternyata perjalanan itu tidak mudah. Dia bahkan sempat hampir putus asa dan merasa bahwa dirinya bukanlah orang yang tepat untuk menjalani misi itu. Tetapi dia dan Maui akhirnya bisa bertemu dengan Te Fiti dan menyerahkan kembali hatinya. Wajah Te Fiti pun kembali tersenyum dan cantik lagi seperti semula; pulau Motunui selanjutnya menjadi hijau lagi, dan ikan-ikan kembali bermain di perairannya. Berkat perjuangan Moana masyarakat di pulau Motunui telah diselamatkan.

Dan yang tak kalah menarik adalah musik dan lagu serta tokoh-tokoh animasinya yang sangat tribal dan alamiah, seolah menampilkan semangat oseanik dan jiwa maritimnya manusia-manusia Polynesia di Motunui. Sangat inspiratif.

Munculnya film ini di penghujung tahun 2016 seperti mau mengatakan bahwa tahun yang segera berlalu ini telah menjadi tahun yang membuat kita telah kehilangan hati. Kita membutuhkan semangat dan spirit Moanik untuk mengembalikan hati itu. Hati yang damai, tetapi tetap dinamis. Hati yang jujur dan penuh keikhlasan. Hati yang sejuk tetapi tetap hangat. Hati yang penuh persaudaraan dan menghargai perbedaan. Hati yang tidak mengkerut karena kebencian yang menumpuk. Hati yang tetap dipandu oleh akal sehat. Hati yang tidak mengempis melainkan tetap berkembang menerima perbedaan. Hati yang lembut terhadap lingkungan sehingga kita terhindar dari bencana. Hati yang alamiah yang membuat kita semakin bersahabat dengan alam dan berdamai dengan manusia. Hati yang religius dan tidak sekadar formalistik atau legalistik. Hati yang kritis, dan bukannya hipokritis (munafik). Hati yang setia menjalankan kesepakatan.dan autentik menjalankan pandangan hidup (Weltanschaung).

Namun perlu diingat, bahwa upaya untuk mengembalikan hati yang hilang itu, bukan pekerjaan yang mudah. Seperti Moana kita akan didampingi oleh Maui yang menjadi biang kerok permasalahan, pemberani tetapi kadang-kadang agak pengecut dan ogah-ogahan. Kita akan berhadapan dengan para monster seperti bajak laut Kakamora, atau raksasa buruk rupa berbentuk batok kelapa seperti Tomatoa, atau monster larva Te Ka.

Dan, tahun 2017 akan menjadi tahun bersemangat Moanik yang mengajak kita untuk berani mengarungi lautan dan menemukan kembali hati yang hilang.

Selamat Tahun Baru 2017.

Semoga di tahun 2017 kita mendapatkan kembali hati kita yang hilang.

Benyamin Molan

OM TELOLET NATAL OM

Saat ini “om telolet om” menjadi viral di dunia media sosial, sampai-sampai pemusik dunia, serta pesepak bola sekelas Ronaldo atau Michael Ballack, ikut-ikutan terserang demam telolet. Banyak orang tidak mengerti dan bertanya: “apa itu?” Setelah dijelaskan, muncul pertanyaan lagi, “apanya yang menyenangkan?” Tetapi nyatanya, kegiatan yang bermula dari keisengan itu memang menyenangkan. Para teloleters itu datang ke pinggir jalan, menunggu bus antar kota lewat, lalu meminta sang sopir membunyikan klakson dengan berteriak “om telolet om”, … lalu sang sopir dengan senang hati membunyikan klaksonnya yang bersuara khas “telolet…”, dan … semua senang bersorak gembira. Begitu sederhananya. Itu artinya orang mau senang, ya senang, walaupun dalam kondisi yang tidak bisa dipahami sebagai menyenangkan. Orang bisa secara kreatif membuat hatinya senang, dan membuat kondisi yang biasa-biasa, bahkan tidak dimengerti sebagai menyenangkan, pada akhirnya menjadi menyenangkan.

Om Telolet Natal Om

Om Telolet Natal Om

Mungkin ada orang lain yang bisa saja tak mengerti mengapa kegiatan itu mengasyikkan, tetapi kenyataannya, memang mengasyikkan. Mengapa itu mengasyikkan? Kita bisa bertanya, dan orang yang merasa mengasyikkan itu bisa menjelaskan, tetapi penjelasan itu terasa hanya untuk memuaskan si penjelas, dan tidak membuat orang yang mendengarkannya akhirnya merasa jelas, apa lagi menyepakatinya. Terutama lagi kalau si pendengar sudah memasang tameng atau kuda-kuda ketidak-sukaan, maka semakin dijelaskan, tingkat gagal paham si pendengar semakin meningkat.

Keasyikan itu adalah sesuatu yang privat tidak bisa diajak masuk dunia publik. Sama halnya soal selera, orang Latin mengatakan de gustibus non est disputandum (soal selera itu tidak bisa didiskusikan). Anda tidak bisa mengatakan bahwa orang yang mengatakan buah duren itu tidak enak sebagai salah dan bodoh. Soal keyakinan tidak bisa dimasukkan dalam wilayah dikotomis (Baca artikel “Dikotomi dan Orang-Orangan” di blog ini)

Itu baru soal privat yang menyangkut selera. Belum lagi soal privat yang menyangkut keyakinan. Keyakinan juga adalah wilayah privat yang sulit dipahami di dunia publik. Maka penjelasan-penjelasan tentang keyakinan mungkin tidak bisa diterima oleh pihak yang tidak yakin. Tetapi tidak yakin tidak sama dengan salah. Persoalan di sini adalah tidak adanya bukti-bukti terukur untuk mengatakan bahwa suatu keyakinan itu benar atau salah. Maka mengharapkan bahwa penjelasan-penjelasan mengenai keyakinan itu bisa diterima semua pihak adalah mustahil. Sikap bersikukuh untuk menyalahkan keyakinan seseorang hanya akan menimbulkan kegemasan yang menumpuk dan pada gilirannya berakumulasi menjadi kejengkelan dan kebencian yang justru semakin menambah tingkat gagal paham.

Penjelasan tentang Natal pun mungkin sulit disampaikan secara tuntas, karena tradisi perayaan Natal yang sudah begitu panjang. Tetapi yang tak pernah lepas dari tradisi panjang ini adalah bahwa Natal merupakan selebrasi damai, kasih, sukacita. Selamat berbagi damai, kasih dan sukacita. “Om Telolet Natal Om”, Damai, Damai, Damailah Senantiasa, huaaahaaa.  “Om Telolet Natal Om” Jingle Bell, Jingle Bell, …. Huahahaha. Selamat Natal 2016.

Benyamin Molan

DIKOTOMI DAN ORANG-ORANGAN

Kalau bukan kawan artinya lawan, bukan hitam berarti putih, bukan perempuan berarti laki. Bukan panas berarti dingin. Cinta atau benci. Pintar atau Bodoh. Rajin atau Malas. Baik atau jahat. Seiman atau tak seiman. Hidup atau mati. Kami atau kamu. Kita atau mereka. Orang beriman atau kafir. Pria atau wanita. Jantan atau betina. Timur atau Barat, Modern atau tradisional.

Sering cara berpikir ini sengaja dibangun untuk menciptakan efek-efek tertentu sesuai dengan tujuan-tujuan (politis?) tertentu. Ketika ada diskursus dahulu tentang rancangan undang-undang anti pornografi, kaum dikotomis selalu mengandaikan bahwa pihak yang menentang undang-undang pornografi adalah pendukung pornografi. Padahal kedua belah pihak sama-sama menolak pornografi.

Dikotomi itu sengaja dibangun dengan membentuk kubu yang semu. Pandangan yang berseteru sesungguhnya adalah antara pendukung RUU Anti-Pornografi dan penentang RUU Anti-Pornografi. Dan kedua kelompok yang berseteru ini sesungguhnya sama-sama menentang pornografi. Tetapi oleh para dikotomis, kondisi ini dipelintir menjadi perseteruan antara pihak yang mendukung pornografi dan pihak yang menolak pornografi. Persoalannya bukan pada menolak pornografi atau mendukung pornografi, melainkan pada mendukung atau menolak rancangan undang-undang anti pornografi.

Kedua kubu sesungguhnya menolak pornografi, dan bertekad memerangi pornografi. Masalahnya adalah apakah pornografi bisa diperangi dengan cara menetapkan sebuah undang-undang? Pornografi itu sesuatu yang subyektif dan berada di wilayah privat, bagaimana bisa dipatok secara obyektif di wilayah publik? Tentu saja ada obyek atau sikap dan perilaku tertentu yang bisa berefek porno pada seseorang, tetapi bagi orang lain tertentu, efek itu tidak terasa. Pakaian minim di Jakarta mungkin berefek porno, tetapi tidak demikian untuk masyarakat tribal di wilayah-wilayah pedalaman Indonesia. Pornografi juga sering diasosiasikan dengan pakaian minim, padahal ada juga pria yang malah bisa berfantasi ria di angan-angan pornografis ketika berhadapan dengan wanita yang berpakaian lengkap dan tertutup.

Pola serupa muncul lagi ketika ada diskursus tentang hukuman mati bagi para terpidana narkoba. Ada pihak yang setuju dengan hukuman mati ada yang menentang hukuman mati. Cara berpikir dikotomis pun dibangun dengan cara menganggap para penentang hukuman mati sebagai pendukung narkoba. Padahal kedua pihak sama-sama anti narkoba, hanya saja yang satu menunjukkannya dengan memberlakukan hukuman mati, yang lainnya bukan dengan hukuman mati.

Salah satu model aplikatif dari dikotomi ini lazim dikenal sebagai the straw man. Istilah ini lazim diterjemahkan sebagai kesesatan orang-orangan atau manusia jerami. Subyek yang menjadi sasaran tembak sering dijadikan semacam orang-orangan, supaya kemudian mudah untuk dibidik dan ditembaki. Trik ini sering digunakan oleh para provokator dan kaum demagog. Karena itu, domain yang paling laris bagi model ini adalah saat pemilu, pilpres atau pilkada; saat di mana ada kompetisi antara dua atau lebih kubu untuk memperebutkan sebuah kedudukan. Suasana lalu menjadi lebih hangat, dan upaya dukung mendukung bisa menciptakan perkubuan yang sering tidak mudah cair, bahkan setelah pemilu, pilpres atau pilkada lama berlalu.

Dalam suasana yang cenderung menghangat itu, sebuah tuturan yang mungkin pada saat diucapkan tidak dipermasalahkan, bisa saja kemudian ditampilkan menjadi argumentasi semu yang membuat pikiran sehat menjadi terselubung oleh emosi yang terus digosok. Caranya adalah dengan menjadikan penuturnya sebagai the straw man. Dan trik the straw man ini akan efektif bila dilakukan oleh provokator, dengan berbagai cara. Misalnya dengan menghasut dan mengkompori, membuat rasionalisasi semu, atau bujukan rayuan dan sogokan.

Sebuah tuturan atau perilaku yang tidak menimbulkan kemarahan atau meninggikan tensi emosi dan suasana hati audiens, sesungguhnya telah mencair bersama dengan konteks tuturan. Suasananya kemudian akan berubah ketika ada provokator yang merangsang dan menggosok emosi audiensnya agar menjadi emosional. Dengan demikian emosi itu tidak ditimbulkan oleh tuturannya melainkan oleh sang komporer. Konteks tuturan tidak lagi menjadi perhatian; yang dijadikan acuan adalah teks tertentu, yang kemudian diberi aksen. Pantas kalau dikatakan bahwa berhadapan dengan orang yang dibenci atau tidak disukai selalu bisa saja ditemukan alasan untuk membenci dan membully. Lebih parah lagi adalah bahwa orang yang tidak disukai hanya karena alasan etnis, agama, golongan atau kubu, tetap tidak akan disukai walaupun sudah banyak hal baik yang dilakukannya; ada semacam kebencian eksistensial.

Dan sebaik-baiknya orang, pasti ada sisi buruknya. Karena itulah budaya manusia menghadirkan mekanisme untuk menghadapi kelemahan ini, dengan permohonan dan pemberian maaf atau saling memaafkan. Nah, si pembenci hanya akan melihat sisi buruknya saja. Dan sisi buruk inilah yang akan ditampilkan (framing) sebagai orang-orangan (the straw man) di tempat yang strategis, agar jelas teramati dan mudah untuk dibidik dan ditembaki.

Sesungguhnya tidak ada dikotomi murni dalam diri manusia. Karena identititas manusia tidak bisa dieksklusifikasi menjadi dikotomis. Dikotomi orang beriman dan orang kafir, akan kehilangan batasnya dalam dikotomi etnis (Jawa dan nonJawa, misalnya),  karena dalam etnis Jawa ada juga orang yang dianggap beriman dan yang dianggap kafir), yang pada gilirannya juga akan kehilangan batasnya karena terlintas oleh dikotomi  pria dan wanita, dan seterusnya. Maka dalam masyarakat yang sehat perlu dipupuk terus kondisi anti-dikotomi yang secara serta merta akan mencairkan suasana ketika ada ketegangan dikotomis antara satu kelompok dan kelompok lainnya.

Kondisi dikotomis itu tidak akan bisa bertumbuh dengan sendirinya secara kodrati dan alamiah kalau tidak direkayasa. Rekayasa itu manipulatif; ada pihak yang memanipulasi dan ada pihak yang dimanipulasi, ada pihak yang memperalat dan ada yang diperalat. Di sana tidak ada kesetaraan sebagai manusia. Pada hal politik, menurut Hannah Arendt, adalah tindakan manusia yang paling tinggi di mana orang bertindak dalam kebersamaan (in concerto). Di sini ada transaksi argumentasi yang menuntut kesetaraan. Transaksi argumentasi akan menjadi fair kalau dilakukan dalam kesetaraan. Di sinilah kualitas sebuah argumentasi bisa teruji secara autentik tanpa tekanan atau sanjungan manipulatif. Argumentasi dikotomis atau argmentasi ala the straw man pasti bukan argumentasi yang bermutu untuk ditransaksikan dalam politik.

Benyamin Molan

“TERIMA-KASIH” DALAM BAHASA KEDANG

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan oleh para pemerhati bahasa Kedang adalah: apa istilah “terima-kasih” dalam bahasa Kedang. Bahkan ada yang mengatakan bahwa dalam Bahasa Kedang, istilah terima kasih itu tidak ada. Berarti orang Kedang tidak tahu terima-kasih. Ini kesimpulan yang menyesatkan. Kata terima-kasih sebenarnya berarti saya menerima dan mengakui kasihmu, kebaikanmu, perhatianmu, dan semua jasa dan pengorbanan yang kau lakukan untukku dengan kebesaran hati.

Dalam bahasa Kedang istilah “terima kasih” atau kerennya “thanks” memang tidak ada. Tetapi itu tidak secara niscaya berarti ekspresi terima kasih juga tidak ada pada orang Kedang. Orang Kedang mengekspresikan terima kasihnya dalam bahasa yang lebih bersifat naratif.  Berarti terima kasih dalam bahasa Kedang tidak disampaikan dengan istilah melainkan dengan narasi.  Ketika orang datang mengunjungi keluarga saya, misalnya, dan membawa sesuatu sebagai buah tangan (jarang orang pergi mengunjungi orang  atau keluarga lain dan tidak membawa buah tangan), biasanya yang diucapkan oleh ibu saya adalah kira-kira seperti ini: “Eroq e, o meq ape ta noq wa… ma piloq e kohaq di paq meq nore ape-ape heneq, dst.  (Sayang e, apa nih yang dibawa … datang kunjungi kami koq mesti bawa-bawa segala, dst). Dan ketika pulang pun si kerabat yang datang berkunjung itu akan juga diberi buah tangan untuk dibawa pulang. Narasi yang terdengar adalah kira-kira seperti ini “eroq e, keq ape-ape beq tokong ne, meq mo hengan nore iqa turin hara ite noq” dst. (sayang e, kami tak punya apa-apa, ini ada sedikit jagung titi dan ikan kering, mohon dibawa ya, dst). Inilah bahasa ekspresif orang Kedang untuk menyatakan terima kasih, bukan dalam rumusan istilah yang sudah pakem, eksak, dan mati, melainkan dalam bentuk narasi yang hidup, komunikatif, tulus, dan datang dari hati. Sekarang, karena pengaruh yang ditimbulkan oleh bahasa Indonesia, orang Kedang mulai terbiasa mengucapkan kata terima kasih, tetapi tetap dalam formula bahasa Indonesia yang sudah dipolesi dengan nuansa Kedang sehingga menjadi “tarimaq kasih e, rai-rai” (terima kasih ya, banyak-banyak).

Dalam dunia pergaulan modern pun budaya komunikasi ekspresif naratif itu sudah mulai kurang mendapat perhatian. Orang mulai terasuk oleh budaya yang serba instan, praktis, dan pragmatis. Anak-anak tidak lagi diajarkan untuk berterima kasih dalam bentuk narasi, tetapi dalam bentuk  istilah yang lebih singkat, sederhana, dan barangkali lebih enteng. Ketika anak diberi sesuatu, permen atau kue, dari seseorang, ibunya akan mengajarkan anaknya untuk mengucapkan “terima kasih”. Seorang Ibu Kedang akan mengatakan pada anaknya: “Teheq tele terima kasih” (Bilang terima kasih); lebih praktis memang, daripada harus mengajarkan anak bernarasi. Bahkan lebih singkat dan praktis lagi ketika diucapkan dalam  bahasa Inggris, “thanks”. Suatu saat ibu Kedang akan, atau mungkin sudah, mengajarkan anaknya, ketika diberi sesuatu oleh orang lain, “teheq tele, thanks”.

Bahasa tidak hanya mengekspresikan budaya tetapi juga menciptakan dan membentuk budaya. Maka bahasa juga mengindikasikan sekaligus juga membentuk perilaku, cara berpikir, sikap hidup, mental, budaya, peradaban dan lain-lain. Ketika pertama kali tiba di Yogyakarta, saya merasa aneh, ketika menawar becak, dan tukang becak bertanya “Orang berapa?” Bukankah bahasa Indonesia yang benar itu “berapa orang” (yang akan menumpangi becak saya)? Baru saya ingat bahwa dalam bahasa Kedang dan, setahu saya, dalam bahasa Lamaholot (bertetangga dengan bahasa Kedang) pun, ada struktur yang sama: Orang berapa (Bahasa Jawanya: wong piro; Kedangnya: ate pie? Lamaholotnya, ata pira?). Struktur bahasa ini memberi kesan bahwa orang, lebih ditekankan di sini, daripada berapa. Orang menjadi perhatian utama, bukan berapa.

Walaupun belum ada penelitian yang pasti tetapi ada kesan bahwa penutur bahasa Kedang mulai menyusut, tidak hanya dalam soal kuantitas (semakin banyak eksodus), tetapi juga dalam hal kualitas (dipengaruhi oleh bahasa lain). Tidak heran bahwa para penutur muda dari Kedang, kurang berbahasa Kedang dengan baik. Pernah salah satu anak muda dari generasi ini,  saat baru tiba di rumah (di Jakarta), saya tawari makan dalam bahasa Kedang, “ka min” (ayo, makan); dan karena sudah makan, dia menjawab “ka min deq ku”.  Saya terkejut. Bahasanya kacau. Seharusnya jawabannya ‘a ‘in deq ku (saya sudah makan), atau kalau “kami sudah makan” ka min deq ke. (bukan ka min dek ku), atau kalau mereka sudah makan “a sin deq ya”, atau dia sudah makan, “ka nin deq ne”. Apakah engkau sudah makan “ka min deq ko?”. Kalimat Ka min deq ku adalah kalimat yang salah dari gabungan dua kalimat yang benar. Dua kalimat yang benar adalah: ka min deq ke  dan ‘a ‘in deq ku, menjadi satu yang salah yakni: ka min deq ku. Sayangnya, bahwa hal yang salah ini sering berpotensi untuk kemudian menjadi kebiasaan lalu dianggap wajar dan selanjutnya serta merta menjadi benar.

Ini sering terjadi pada Bahasa Indonesia. Dulu orang menganggap aneh kalau ada yang mengatakatan “Jawabanmu sangat tepat sekali”. Tetapi sekarang uangkapan itu sudah menjadi biasa. Atau kalimat “Di Indonesia memiliki aneka ragam budaya” dulu dianggap aneh karena salah (kata depannya mengacaukan), tetapi sekarang sudah dianggap biasa. Kalimat yang salah ini sesungguhnya berasal dari dua kalimat yang benar, lalu dijadikan satu kalimat yang salah. Kalimat benar pertama: “Di Indonesia terdapat beraneka ragam budaya”. Kalimat benar kedua: “Indonesia memiliki beraneka ragam budaya”. Dua kalimat ini dijadikan satu kalimat yang salah. Dari kalimat pertama diambil “Di Indonesia”, dan dari kalimat kedua diambil “memiliki beraneka ragam budaya”. Jadilah kalimat baru yang salah: “Di Indonesia memiliki beraneka ragam budaya”.

Untuk mencegah punahnya bahasa Kedang karena merosotnya penuturnya, perlu ada pelestarian yang dikembangkan secara sadar dan sengaja. Penuturan bahasa Kedang perlu lebih diintensifkan. Grup-grup bahasa Kedang dalam WA, BBM, FB, Twitter dan sebagainya perlu dilestarikan dan dikembangkan terus. Mudah-mudahan dengan bantuan teknologi ini, bahasa Kedang tetap lestari di lidah para punya penuturnya. Orang Kedang perlu bersyukur bahwa ada peneliti yang sudah mengabadikan beberapa aspek budaya dan bahasa Kedang. Nama-nama seperti van Trier, Rober H. Barnes, dan Ursula Samely, sudah tidak asing lagi di kuping orang Kedang. Siapa menyusul?

PILKADA LEMBATA: KONSTRUKSI, DEKONTRUKSI, REKONSTRUKSI, ATAU ANAMNESE DAN REVISI

Lembata: Selamat berkompetisi tanpa mengeruhkan air

Lembata: Selamat berkompetisi tanpa mengeruhkan air

Berbagai media sudah memberitakan bahwa sudah ada lima pasangan bakal calon (balon) bupati dan balon wakil bupati Lembata yang lolos seleksi administrasi Komisi Pemilihan Umum (KPU).  Lima pasangan balon tersebut, adalah Tarsisia Hani Chandra dan Linus Beseng (Paket Halus), yang menempuh jalur perseorangan; pasangan Eliaser Yentji Sunur dan Thomas Ola Langoday (paket Sunday) yang diusung partai Golkar, NasDem dan Hanura, serta didukung oleh PKPI dan PPP; pasangan Herman Loli Wutun dan Yohanes Vianney Burin (Paket Titen) yang diusung Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS); Pasangan Viktor Mado Watun dan Muhammad Nasir (Paket Viktori) yang diusung oleh PDIP dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB); pasangan Lukas Lipatama Witak dan Ferdinandus Leu (Paket Winners), yang diusung Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Demokrat.

Barangkali selain paket HALUS,  paket-paket balon ini sesungguhnya tidak menampilkan wajah-wajah baru. Kalau dianalogikan dengan liga sepak bola, bisa dikatakan bahwa yang tampil sekarang adalah tim-tim lama yang akan kembali berkompetisi; termasuk di sini sang petahana. Apakah petahana akan mampu menapakkan kakinya kembali, atau malah tersingkir oleh tim lainnya.

Setelah mencermati paket-paket ini, timbul semacam kesan bahwa masing-masing paket ini menampilkan kekhasannya yang memiliki ciri-ciri dan posisi strategi tertentu, yang terbentuk dalam perjalanan mereka berkompetisi memperebutkan posisi menjadi orang nomor satu di Lembata. Ciri-ciri ini tidak bersifat begitu eksklusif dan ketat, melainkan lebih sebagai kecenderungan yang ikut dipengaruhi oleh kondisi paket entah sebagai wajah baru atau lama. Wajah-wajah lama pun harus diakui, sesungguhnya datang dari berbagai tipe dengan masing-masing konstruksi historisnya; entah muka lama yang tidak lolos seleksi, atau lolos tetapi kalah dalam pertarungan, lolos tetapi tidak puas dengan posisinya, atau yang menyesal, karena sebetulnya sudah lolos, tetapi barangkali adanya blunder pada detik-detik akhir, telah menjadi nila setitik yang merusak susu sebelanga. Lima paket ini memiliki lima kekhasan yang akan menjadi modal dan arah gerakan mereka menuju kesuksesan, entah sukses mendapatkan kursi bupati, atau sukses membangun satu landasan politis yang bisa menjadi kapital bagi masa depan jangka dekat atau barangkali masa depan jangka jauh.

Lima kekasan yang bisa dikenakan pada masing-masing paket adalah konstruksi, rekonstrusi, dekonstruksi, anamnese, dan revisi.

KONSTRUKSI

Sederhananya konstruksi adalah usaha untuk membangun sesuatu dari awal mula. Ini akan merupakan pendekatan yang bakal lebih banyak dilakukan oleh wajah baru, seperti paket Halus. Paket Halus barangkali akan lebih berkonsentrasi dalam melakukan konstruksi. Maka paket ini harus mengkonstruksi sesuatu yang baru, yang menarik perhatian, dan mengejutkan. Tampil beda menjadi ciri khas paket ini. Dan karena baru mulai membangun konstruksi, maka paket ini harus kerja keras. Do the best and God does the rest. Buat yang terbaik dan bagaimana hasilnya serahkan saja ke tangan Tuhan. Barangkali yang terpenting bagi paket ini adalah ingin memanfaatkan panggung ini seoptimal mungkin untuk menunjukkan eksistensinya, dan siapa tahu bisa langsung memenangkan pertarungan ini.

REKONSTRUKSI

Dalam rekonstruksi yang dilakukan adalah menata kembali apa yang sudah dibangun tetapi sempat terbengkalai, dan tertinggal karena, ibaratnya, tidak ada izin membangun. Maka seluruh mesin yang sempat dioperasikan dan kemudian tersimpan di gudang, kembali diberi pelumas dan dipanaskan sehingga bisa mulai diefektifkan lagi.

Ini kiranya menjadi ciri khas paket Winner (Lukas Witak dan Ferdinandus Leu). Rasa penasaran karena (di)gagal(kan) pada tahap pemeriksaan kesehatan, bisa meningkatkan energi dan dinamika tersendiri untuk bergerak lebih sepenuh hati dalam mengejar cita-cita ini.

DEKONSTRUKSI

Dalam dekonstruksi mau diperlihatkan bahwa tidak ada penafsiran tunggal dan absolut terhadap sebuah “teks” pembangunan. Ini akan menjadi kekhasan paket Viktori (Viktor Mado Watun, dan Muhammad Nasir). Sebagai mantan wakil bupati, dia harus melepaskan diri dari bayang-bayang bupati yang sekarang menjadi petahana. Pernyataannya di Pos Kupang (28 September) “maju tanpa dendam” beraroma dekonstruksi.

ANAMNESE

Anamnese atau pengenangan, sepertinya akan menjadi cirinya petahana. Ini akan menjadi strateginya paket Sun-Day (E. Yentji Sunur dan Thomas Ola Langoday). Petahana hanya perlu mengajak orang mengenang kembali apa yang sudah dikerjakannya. Bukti-bukti sudah ada. Dia hanya melanjutkan program-programnya yang belum terlaksana. Tetapi anamnese juga bisa menjadi bumerang kalau ternyata obyek anamnesenya dimodifikasi menjadi anamnese yang negatif. Anamnese bisa dibuat dan berubah menjadi amnesia.

REVISI

Titen adalah pesaing berat petahana dalam pemilukada periode yang lalu. Bahkan ada pengamat yang mengatakan kekalahannya pada putaran kedua itu lebih disebabkan karena blunder yang menjadi bumerang pada saat-saat akhir. Artinya untuk Titen sekarang yang perlu dilakukan adalah mengevaluasi dan merevisi kekurangan-kekurangan di masa lalu, dan mampu membuktikan dan menunjukkan kekurangan-kekurangan dari petahana. Perlu diingat bahwa pada periode yang lalu tidak ada petahana. Maka berhadapan dengan petahana, pasti berbeda dengan ketika sama-sama bukan petahana. Situasi ini bisa merugikan, bisa juga menguntungkan, tergantung bagaimana titen memanfaatkan anamnese yang dibuat oleh petahana. Tetapi tentu saja paket-paket lain juga perlu diperhitungkan.

Tentu saja, tulisan ini hanya melihat dari satu aspek saja. Aspek lain pasti sudah cukup diperhitungkan masing-masing paket, misalnya pertimbangan-pertimbangan dalam menentukan pasangan dengan memperhitungkan berbagai aspek lain menyangkut jumlah, asal, gender, usia, serta kecenderungan pemilih, dan tentu saja isu-isu negatif seperti money politic, primordialistik dan sebagainya.

Yang jelas, pilkada akan seru dengan paket-paket yang cukup bervariasi. Semoga kompetisi berjalan secara sehat jujur dan adil, sehingga hanya ada tepuk tangan, sorak sorai, saling berkompetisi, dalam suasana demokrasi yang sehat dan manusiawi.

SEPAKAT UNTUK TIDAK SEPAKAT

Sepakat untuk tak sepakat
Itu juga kesepakatan
Kenapa kau bilang
Tak ada kesepakatan?

Setuju untuk tidak setuju
Itu juga persetujuan
Kenapa kau bilang
Tiada persetujuan?

Bebas untuk tidak bebas
Itu juga kebebasan
Kenapa kau mencibir aku
sebagai persona tak bebas?

Mau untuk tidak mau
Itu juga kemauan
Mengapa kau beritahu
Aku tak punya kemauan?

Memutuskan untuk tidak memutuskan
Itu juga keputusan
Mengapa aku kau anggap
Tak punya keputusan?

Tidak menyesal untuk menyesal
Itu juga bukan penyesalan
Kenapa kau sebut
Aku cengeng?

Karena itu
Orang yang demikian itu tidak selalu demikian
Atau orang yang demikian itu selalu demikian
Atau orang yang demikian selalu tidak demikian

Juga lantaran itu
Orang yang tidak demikian itu tidak selalu demikian
Atau orang yang tidak demikian itu selalu demikian
Atau orang yang tidak demikian itu selalu tidak demikian

Maka demikian dan tidak demikian
Tidak harus dikonfrontasi dengan cacian dan makian
Apa lagi dengan bom karbitan dan meriam rakitan

Melainkan disapa bijak dengan nyanyian dan tarian
Demi berpendarnya intan berlian
Dari lubuk insan yang aslinya memang brilian
Karya pencipta sembahan kita, Sang Hyang

Benyamin Molan