SELAMAT HARI LEBARAN 1439 H

Puasa menyadarkan bahwa kita mampu menguasai diri
Lebaran menjadi momentum perayaan kemenangan atas diri
Menguasai diri itu lebih bermartabat dari menguasai orang lain
Benci dan dendam berhulu pada hati yang tersandera
Maaf memaafkan menebar dari nurani yang merdeka

Selamat Menuntaskan Ibadah Puasa
Selamat Merayakan Hari Raya Idul Fitri 1439 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin

 

Advertisements

BOM MASUK KELUARGA?

Anakmu bukanlah anakmu. Kau dapat memberi mereka cinta-kasihmu tapi tidak pikiranmu.

Peristiwa bom bunuh diri beberapa waktu yang lalu di Surabaya sangat mengejutkan.  Bukan hanya karena bom itu dahsyat dan merenggut nyawa orang tak berdosa, melainkan bahwa pelaku di setiap lokasi masing-masingnya, adalah anggota satu keluarga (ayah, ibu dan anak). Bom kali ini, tidak hanya menghancurkan keluarga korban, tetapi juga menghancurkan keluarga pelaku, dan bisa saja menjadi inspirasi tak kritis bagi pelaku potensial lainnya. Peristiwa itu menyiratkan pesan bahwa faham-faham radikal yang mengilhami aksi-aksi ini, tidak hanya tumbuh dalam ranah publik melainkan telah merasuk dan menginfiltrasi wilayah privat. Keluarga sebagai ranah privat pengasuhan dan pendidikan paling awal, yang memberikan dasar bagi kehidupan manusia, sudah dicekoki dan direcoki dengan faham-faham ideologis, radikal, yang malah menghancurkan kehidupan itu sendiri, mulai dari hulu tempat kehidupan itu mulai dibangun dalam keluarga. Maka peristiwa ini seharusnya memberi warning kepada kita, bahwa lembaga keluarga sedang terancam bom dan kekerasan.

Fenomena ini seharusnya menyadarkan kita untuk benar-benar memperhatikan pendidikan dasar dalam keluarga, bahkan seharusnya juga sudah dimulai dengan persiapan untuk membangun keluarga. Keluarga hendaknya menjadi taman persemaian benih cinta dan kehidupan, dan bukannya menjadi gudang mesiu yang menebarkan aroma kebencian dan mimpi buruk kematian. Keluarga seharusnya menjadi tempat untuk melantunkan dendang-dendang kehidupan, dan bukannya tempat untuk mendentumkan ledakan-ledakan kematian. Keluarga seharusnya menjadi taman untuk membangun sikap inklusif dengan saling mencintai dan menghargai dan bukan menjadi tempat eksklusif untuk menata fitnah dan kebencian kepada sesama manusia.

Dalam membentuk keluarga sebagai taman untuk membangun dan merawat kehidupan paling awal, ada peran suami dan isteri. Dua pribadi yang berbeda ini tidak dimaksudkan untuk menjadi pribadi yang sama dalam keluarga. Sering sekali, ada yang menganut satu ekstrim bahwa suami adalah kepala rumah tangga, maka kecenderungannya adalah isteri selalu harus tunduk patuh pada suami. Dalam keluarga semacam ini bisa diberlakukan kaidah ini: (1) suami tak pernah salah, (2) kalau suami salah, lihat aturan (1). Semua harus tunduk dan terserah kepada suami, entah mau dibawa ke mana keluarganya. Nasib keluarga ada di tangan suami. Isteri dan anak-anak diperlakukan sebagai miliknya yang boleh dimanipulasi untuk mencapai tujuannya sendiri yang dianggap tak pernah salah.

Tipe lainnya adalah suami takut isteri (STI). Isteri lebih dominan dalam keluarga. Istilah akronim lain yang sering juga digunakan sebagai guyonan adalah DKI (di bawah kuasa isteri). Saking dominannya isteri, bisa saja orang lebih mengenal nama isterinya daripada nama suaminya. Dalam kehidupan sehari-hari, orang biasanya memanggil isteri dengan nama suami. Dewi, isteri pak Budi, misalnya, akan dipanggil bu Budi, dan bukannya bu Dewi. Tetapi dalam kondisi STI, panggilan ini bisa dibalik. Bu Dewi akan tetap dipanggil bu Dewi, sementara pak Budi, suaminya, malah bisa dipanggil “pak Dewi” (suaminya bu Dewi). Ini adalah kondisi ekstrim pada pendulum sebaliknya. Secara teoritis bisa dikatakan suami adalah kepala rumah tangga, tetapi praktisnya isteri yang menjalankan fungsi itu.

Berkaitan dengan kedua kondisi ekstrim ini, puisi penyair asal Libanon, Kahlil Gibran, patut dan sudah sering menjadi panutan. Sebagai penyair, Gibran menyampaikan kata-kata bijaknya dengan menggunakan syair-syair sastra yang indah dan inspiratif. Tidak heran puisi Gibran tentang perkawinan sering dikutip dalam berbagai event perkawinan. Begini katanya tentang perkawinan:

“Kau dilahirkan bersama-sama dan bersama-sama pula engkau akan ada selamanya. Kau akan ada bersama, kala sayap-sayap putih kematian mengobrak abrik hari-harimu. Ya, kau akan ada bersama sebagaimana di dalam kenangan sunyi Tuhan. Namun biarkanlah tersedia ruang di dalam kebersamaanmu. Dan biarlah angin surga menari-nari di antara kalian. Saling mencintailah, namun jangan membuat belenggu cinta. Lebih baik biarkan cinta menjadi sebentang laut yang bergerak di antara pantai-pantai jiwamu. Isilah cawan satu sama lain, tapi jangan minum dari satu cawan. Bernyanyi dan menarilah bersama-sama dan bergembiralah, tapi biarkan masing-masing engkau menghayati kesendiriannya. Sebagaimana dawai-dawai kecapi tetap sendiri walau mereka bergetar dengan musik yang sama. Berikan hatimu, tapi jangan saling memasuki penyimpanannya, karena hanya tangan Kehidupan yang dapat mengisi hatimu. Dan tegaklah bersama tapi jangan berkumpul terlampau dekat; karena tiang-tiang kuil pun berdiri terpisah. Dan pohon oak serta pohon sipres tiada tumbuh dalam bayangan satu sama lain”.  

Suami isteri adalah pribadi yang tetap berbeda, masing-masing berkontribusi pada kehidupan keluarga sesuai dengan apa yang ada pada dirinya. Mereka tidak boleh dilebur jadi satu. Cinta menjadi hangat ketika datang dari dua pribadi yang berbeda. Kerinduan menjadi meluap ketika ada jarak di antara keduanya. Lagu menjadi indah ketika dinyanyikan dengan suara yang berbeda, seperti senar dawai yang tetap pada posisinya ketika memainkan lagu yang sama. Keluarga menjadi kokoh ketika keduanya berdiri teguh pada posisinya masing-masing, ibarat tiang kuil yang tak boleh saling mendekat, atau pohon cemara yang tidak boleh saling menutup matahari yang menghidupkan keduanya.

Keluarga juga harus menjadi tempat anak berkembang menjadi dirinya sendiri, dan tidak menjadi komponen mainan untuk menghbur, menyenangkan, dan membanggakan hati orang tuanya. Gibran bilang: “Anakmu bukanlah anakmu. Mereka putera-puteri kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka datang melalui engkau tapi bukan dari engkau, dan walau mereka ada bersamamu tetapi mereka bukan kepunyaanmu. Kau dapat memberi mereka cinta-kasihmu tapi tidak pikiranmu, sebab mereka memiliki pikirannya sendiri. Kau bisa merumahkan tubuhnya tapi tidak jiwanya. Sebab jiwa mereka bermukim di rumah masa depan, yang tiada dapat kau sambangi, bahkan tidak dalam impian-impianmu. Kau boleh berusaha menjadi seumpama mereka, tetapi jangan berusaha membuat mereka seperti dirimu. Sebab kehidupan tiada surut ke belakang, pun tiada tinggal bersama hari kemarin. Engkaulah busur dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur. Sang pemanah membidik tanda-sasaran di atas jalan nan tiada terhingga, dan Dia menekukkan engkau dengan kekuasaan-Nya agar anak panah-Nya dapat melesat cepat dan jauh. Meliuklah dengan riang di tangan Sang Pemanah, sebab sebagaimana Dia mengasihi anak panah yang melesat, demikian pula Dia mengasihi busur nan mantap.”

Orang tua dan anak punya zaman yang berbeda. Anak-anak berada di zaman now, orang tua berada di zaman nuh. Biarkan anak-anak berkembang di zaman now, dan tidak ditekuk kembali ke zaman nuh. Tugas orang tua adalah menjalankan fungsinya sebagai busur yang melengkungkan diri sedapatnya agar anak panahnya bisa melejit jauh ke sasaran di depan di dunia anak, sesuai dengan kehendak sang Perencana, yang mencintai baik anak panah yang melejit, maupun busur yang melentur dan meliuk dengan riang dan sempurna. Tali busur berfungsi untuk membuat anak panah melejit ke dunianya, dan bukan untuk mengikat dan melumpuhkan anak panah di dunia busurnya.

Selanjutnya, apa yang sesungguhnya bisa menjadi patokan untuk menguji sebuah pandangan dan keyakinan yang dibangun dalam keluarga? Keyakinan tidak pernah bisa dibantah, karena tidak ada cukup bukti untuk menyalahkannya atau membenarkannya. Tetapi keyakinan itu dapat dinilai berdasarkan metodenya. Maka kuncinya ada pada metode. Sebuah keyakinan yang  benar pasti akan dicapai dengan metode yang dapat dipertanggung jawabkan. Menyangkut keyakinan, orang bisa saja berbeda pendapat, dan mungkin juga tidak bisa sepakat, tetapi soal metode, orang bisa mendiskusikannya dan sampai pada kesepakatan. Karenanya, keyakinan mengenai surga itu seperti apa, neraka itu seperti apa, kehendak Tuhan itu yang mana, bisa berbeda pada setiap orang. Tetapi metode untuk mencapainya harus dapat dipertanggung jawabkan. Metode bom dan kekerasan, fitnah dan kebencian, pembohongan dan pemalsuan, misalnya, tentu saja tidak dapat dibenarkan untuk tujuan sebaik apa pun. Semoga keluarga-keluarga kita bebas dari ancaman kekerasan dan bom yang disebarkan oleh ideologi-idologi radikal, yang berpotensi menghancurkan keluhuran hidup dan adab manusia.

MARX: DIAGNOSIS DAN RESEP

Karl Marx menilai bahwa sistem kapitalisme sesungguhnya telah menimbulkan banyak masalah bagi manusia, seperti ketidak adilan, penindasan, kesenjangan sosial, eksploitasI tenaga kerja manusia yang mengakibatkan alienasi (manusia diasingkan dari hasil kerjanya). Dulu manusia bekerja, berproduksi, dan selanjutnya menikmati sendiri hasil produksinya. Dia membangun rumah untuk menjadi tempat tinggalnya sendiri. Dia menenun untuk membuat pakaiannya sendiri. Dia bekerja di ladang untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Kapitalislah yang telah mengasingkan manusia dari produk dan hasil kerjanya. Hasil kerja tidak lagi dinikmati oleh pekerjanya sendiri, melainkan oleh orang lain, yakni pemilik kapital/modal.

Marx mengkonsepkanmasyarakat komunis sebagai gerakan sosialis untuk membangun masyarakat yang lebih egaliter. Maka dia ingin membangun masyarakat komunisme untuk memendamkan kapitalis. Dia meramal bahwa suatu saat kapitalis dengan segala praktiknya yang menciptakan kelas-kelas dan kesenjangan sosial dalam masyarakat manusia akan lenyap dengan sendirinya setelah orang mengenal masyarakat komunis yang sosialis. Maka yang dilakukan Marx bukan memerangi kapitalis melainkan membangun masyarakat komunis yang nantinya akan menyingkirkan kapitalisme.

Dan ramalan itu tidak terbukti. Malahan dengan bantuan kritik-kritik dari sosialisme, sistem kapitalis semakin berbenah diri dan semakin kokoh. Sementara komunisme sosialis justru semakin terpuruk karena tergoda oleh kapitalis (Ignas Kleden, 2001).

Sikap Marx terhadap agama pun sama. Menurut dia agama sesungguhnya adalah pelarian dari alienasi ini. Agama muncul sebagai candu yang membuat orang mampu melupakan segala ketimpangan sosial ini, dan mengharapkan suatu eskaton yang akan menghapus semua ketimpangan ini. Maka, menurut Marx, kalau kondisi material masyarakat terpenuhi dengan baik, maka kesejahteraan akan tercapai, dan agama sebagai candu itu akan hilang dengan sendirinya (Mark Vernon, 2012). Orang pun hidup dalam satu masyarakat komunis di mana semua berperingkat sama, tidak ada kesenjangan lagi antara kaya dan miskin. Seluruh rakyat menjadi sejahtera secara merata. Dan, menurut Marx, pada saat itulah agama akan ditinggalkan.

Namun yang dilakukan oleh masyarakat berideologi komunis adalah sebaliknya, menyingkirkan agama, supaya terbentuk masyarakat sejahtera yang berideologi komunis. Penganut ideologi ini bahkan tidak canggung-canggung menggunakan kekerasan untuk menyingkirkan agama, dan memperlawankan agama dengan masyarakat komunis. Terjadi pemutar balikan atas apa yang dipikirkan Marx. Apa yang dilakukan di sini, tidak sesuai dengan diagnosis dan resepnya Marx. Yang diperjuangkan Marx adalah kesejahteraan sosial, bukan menyingkirkan agama. Dia hanya meramalkan bahwa agama akan hilang, sejalan dengan terciptanya kesejahteraan sosial. Dengan demikian, Marx bukannya ingin menyingkirkan agama, melainkan ingin membangun kesejahteraan sosial. Dan dia meramalkan bahwa suatu saat agama akan hilang, ketika kesejahteraan sosial tercapai. Apakah ramalannya ini akan terwujud?

Sayangnya konsep Marx ini diterapkan secara terbalik. Para penganut komunisme justru ingin menghilangkan agama karena dianggap menghambat pembangunan kesejahteraan manusia. Ibaratnya, ketika seorang pasien mengeluh demam, dan dokter mendiagnosa pasien tersebut  telah terserang penyakit malaria. Malaria itulah yang sesungguhnya membuat pasien demam. Maka seharusnya yang dilakukan dokter adalah meresepkan obat yang menyingkirkan malaria. Malarianya mati, maka serta merta demam akan hilang dengan sendirinya, dan pasien akan sehat kembali. Namun, ibaratnya, dokter tidak bertindak demikian. Yang dilakukan adalah sebaliknya. Dokter memberikan resep obat untuk menghilangkan gejala demam, dengan harapan demamnya hilang, dan malarianya akan mati. Hasilnya, demam memang hilang, tetapi malaria akan tetap terus berkembang.

Dan seperti ramalannya tentang kehancuran kapitalis, ramalannya tentang agama pun tidak terbukti, walaupun penganut komunisme salah menafsirkan konsep Marx yang sesungguhnya. Ketika dikatakan kesejahteraan sosial akan menghentikan kapitalis, yang dilakukan para penganut adalah bukannya membangun kesejahteraan melainkan menyerang kapitalis, supaya kesejahteraan sosial tercapai. Dan memang tidak terjadi demikian. Ketika kesejahteraan sosial dikatakan akan melenyapkan agama, yang dilakukan adalah bukannya membangun kesejahteraan sosial, melainkan melenyapkan agama supaya kesejahteraan tercapai. Dan memang tidak terjadi demikian. Karena kesimpulannya tidak valid.

Ini adalah bagian dari prinsip siologisme hipotetis. Jika kesejahteraan sosial komunis tercapai, agama lenyap. Telah disimpulkan secara tidak valid bahwa agama harus dilenyapkan, supaya kesejahteraan sosial komunis tercapai. Begitu juga silogisme hipotetis lainnya bahwa “jika kesejahteraan sosial komunis tercapai, kapitalisme akan lenyap.”

Mungkin setelah melihat perkembangan sejarah dewasa ini, bisa dikatakan bahwa ramalan Marx tidak tepat. Tetapi perhatian dan cara berpikirnya tepat. Dia memprihatinkan kesejahteraan kaum tertindas terutama para buruh di zaman perkembangan industri, dan maraknya kapitalisme; memperjuangkan dan menyerukan perbaikan nasib mereka. Dia telah menjadi bagian dari gerakan humanis yang menjunjung tinggi martabat manusia. Dia pantas dikenang di hari buruh yang bersejarah ini. . .

BANGKIT TANPA DENDAM

SELAMAT PASKAH 2018

Seorang teman pernah mengkhayal. Seandainya aku Yesus, yang pertama kucari setelah bangkit adalah Hanas, karena dia adalah mertua Kayafas, Imam Agung yang telah menghukum aku.  Hehehe, mungkin temanku seorang mertua phobia.

Yesus tidak melakukan itu. Setelah bangkit, yang dicari bukan mereka yang telah membunuh Dia, melainkan para sahabatNya, murid-muridNya. Bagi Dia para sahabat itu lebih penting daripada musuh. Kasih itu lebih kuat daripada dendam kesumat. Jasad bisa dibinasakan tetapi kasih tidak. Karena kasih itu tidak berkesudahan. “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih” 1 Kor 13:13.

Kasih itulah yang membangkitkan. Kalau kebangkitan itu direncanakan untuk membalas dendam, kebangkitan bakal mustahil terwujud. Kasihlah yang membangkitkan, amarah dan kedengkian itu membinasakan. Dendam rindu itu membangkitkan, menumbuhkan, menghidupkan, dendam kesumat itu mematikan, membinasakan.

Paskah adalah kebangkitan oleh kekuatan kasih. Selamat Paskah 2018 para sahabat.  Mari bangkit dalam Kasih.

Benyamin Molan

SISI LAIN PENGADILAN YESUS

Mengamati pengadilan Yesus dari sisi lain, terlihat seperti telah terjadi semacam  interaksi antara masalah publik dan privat. Apa yang dikemukakan Thomas Hobbes  tujuhbelas abad kemudian, sesungguhnya telah menjadi masalah pada zaman Yesus.  Hobbes mengemukakan perlunya membedakan wilayah publik dan privat dalam sebuah negara modern. Negara hanya mengatur wilayah publik yang terukur dengan peraturan-peraturan hukum. Sementara wilayah privat yang tidak bisa terbukti secara publik, tidak bisa diatur oleh negara. Apakah sebuah ajaran agama itu sesat atau tidak, tidak bisa ditetapkan oleh negara, karena negara tidak memiliki alat untuk mengukur sebuah ajaran sesat atau tidak. Negara hanya bisa bertindak ketika ada warga negara yang melanggar konstitusi atau hukum yang sudah disepakati.

Yesus diajukan ke pengadilan publik di bawah walinegeri Pontius Pilatus, dengan tuduhan menghujat. Tuduhannya  itu berada di wilayah privat. Pantas kalau Pilatus sebagai pejabat publik mengalami kesulitan untuk menggelar pengadilan. Dia tidak menemukan kesalahan apa pun pada Yesus. Yesus tidak melanggar hukum publik. Dia tidak memberontak, dia tidak membunuh, dia tidak korupsi, dia tidak mencuri, tidak melakukan makar melawan pemerintahan Romawi. Tuduhan yang didakwakan pada Yesus adalah menghujat Allah. Sesuatu yang tidak diatur dalam wilayah publik. Itu adalah wilayah privat. Karena itu kaum Farisi dan ahli Taurat harus berupaya menggiring Yesus ke wilayah publik, supaya Dia bisa dijatuhi hukuman mati oleh Pilatus yang adalah pejabat publik.

Upaya ke arah ini pernah juga dilancarkan sebelumnya, ketika kaum Farisi mengajukan pertanyaan untuk menjebak Yesus dan menggiringnya ke wilayah publik. Pertanyaannya adalah “apakah kami harus membayar pajak kepada kaisar atau tidak?” (Luk 20:22). Mereka berharap pertanyaan itu bisa menjerat Yesus. Ternyata Yesus mengetahui maksud mereka. Mereka ingin menjebakNya. Bila Yesus ingin mendapat simpati dari kaum Yahudi, lalu mengatakan “tidak harus”, makaYesus serta merta bisa dituduh sebagai pemberontak terhadap Kaisar. Dia harus dihukum. Bila Yesus menjawab “harus”, maka orang Yahudi akan menolak Dia, karena Dia menunjukkan sikap keberpihakan pada kaisar.  Yesus pun menjawab pertanyaan mereka dengan pertanyaan: “Gambar dan tulisan siapa, (yang ada pada mata uang dinar)?” (Luk 20:24) Mereka menjawab, “gambar dan tulisan kaisar”. Dengan cerdik Yesus menjawab, “berikan kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” Luk 20: 25). Niat mereka untuk menggiring Yesus ke wilayah publik tidak kesampaian.

Kini kemarahan mereka sudah sampai pada puncaknya, ketika Yesus masuk Yerusalem dan dieluk-elukkan massa. Maka mereka pun menangkap Yesus dan ingin membunuhnya. Tetapi pemerintahan Romawi tidak membolehkan membunuh orang yang tidak bertindak melawan hukum publik. Pantas kalau dalam pemeriksaan pengadilan, Pilatus bingung, lantaran tidak menemukan kesalahan apa pun yang melanggar konstitusi, agar Yesus layak untuk dijatuhi hukuman mati. Tetapi orang Yahudi menghendaki Yesus dijatuhi hukuman mati.

Mula-mula mereka mendapat kesulitan, karena Yesus tidak terbukti melanggar konstitusi. Orang Yahudi pun akhirnya mulai bergeser ke ranah publik, ketika Yesus dinyatakan sebagai Raja oleh Pilatus. Orang Farisi dan ahli taurat mendapatkan mesiu untuk menembak dengan mengatakan “Barangsiapa mengaku dirinya raja, dia melawan kaisar”. Di sini Yesus dianggap melanggar hukum publik. Dia dianggap makar. Padahal Yesus menyatakan dengan jelas KerajaanNya bukan dari dunia ini. Artinya kerajaanNya bukan ada di wilayah publik melainkan privat. Dia menentang para pemuka agama Yahudi di bawah para imam besar Yahudi dan kaum Farisi, yang penuh dengan kemunafikan.  Mereka tidak bertindak sesuai hati nurani mereka. Mereka menjalani praktik formalistik dan legalistik yang kental. Mereka menggunakan standar ganda. Norma dan standar untuk dirinya sendiri berbeda dari norma dan standar untuk orang lain. Ketika Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, mereka menuduh Yesus melanggar hukum Sabat. Pada hari Sabat orang tidak boleh bekerja, dan Yesus dianggap bekerja karena menyembuhkan orang sakit. Padahal mereka sendiri, kalau hewan piaraannya terperosok ke dalam lubang, boleh menariknya dan tidak membiarkan hewan itu mati. Mereka melakukan sesuatu untuk dihargai dan dipuji. Berdoa di depan umum, supaya dianggap orang saleh dan dihormati, memberikan sedekah kepada orang miskin, kalau ada yang melihat. Tidak boleh bergaul dengan kaum pemungut cukai dan pelacur. Doa-doanya menunjukkan kesombongan.

Yesus pernah menceritakan sebuah perumpamaan tentang dua orang yang masuk bait Allah untuk berdoa. “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezina dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul dirinya dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah sedangkan orang lain itu tidak. Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Luk 18:9-14).

Yesus justru mengecam sikap yang lebih melihat kesalahan orang lain daripada kesalahannya sendiri. Mengapa engkau melihat selumbar di mata saudaramu , tetapi balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui (Luk 6: 41). Sama seperti pepatah Indonesia yang mengatakan “kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak”.

Pantas kalau orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu sangat marah pada Yesus. Dia telah membuka borok dan dosa-dosa mereka. Dan dosa-dosa mereka inilah telah menghasilkan dosa baru, yakni dosa pembunuhan. Yesus harus dihabisi, demi menyelamatkan wajah mereka, martabat mereka. Tetapi ternyata tidak bisa demikian. Pelanggaran di di wilayah privat (dosa) harus diselesaikan di wilayah privat, yakni dengan pertobatan. Pelanggaran di wilayah publik harus diselesaikan secara publik (hukum).  Penyelesaian masalah tidak berjalan baik,  ketika masalah privat diselesaikan dengan cara publik. Orang yang berpikir porno itu dosa, tetapi tidak bisa diselesaikan menggunakan aparat hukum, karena pemikiran itu masih di wilayah privat, polisi tidak bisa menangkap orang itu.  Begitu juga sebaliknya masalah publik tidak bisa diselesaikan secara privat. Kalau bisa diselesaikan secara privat, maka seseorang yang terbukti korupsi cukup diminta untuk bertobat, dan tak perlu lagi diproses secara hukum. Jungkir balik semuanya.

Walaupun menyadari bahwa Yesus tidak bersalah sesuai hukum publik, ketakutan Pilatus akhirnya yang berperan dalam pengambilan keputusannya. Yesus diserahkan ke tangan orang Yahudi untuk disalibkan (Yoh. 19:16a).

 

NGANTRI DAN KEBERADABAN

Sehat mental dan fisik dengan mengantri berobat

Lawrence Kohlberg pernah membuat penelitian mengenai tingkat kesadaran moral manusia. Walaupun dikritik oleh Carol Gilligan, bahwa Kohlberg hanya memperhatikan anak laki-laki dalam penelitiannya (Bertens 2017), penelitian Kohlberg sedikit banyak membantu kita untuk memahami perilaku orang dan diri sendiri  . Sebuah pengalaman kecil ketika mengantri di sebuah puskesmas, membuat saya teringat akan Kohlberg.

Seperti pada umumnya di puskesmas atau rumah sakit, pasien cenderung datang pagi-pagi sekali untuk mendapatkan nomor antrian lebih awal. Saya juga melakukan hal yang sama. Ketika saya dan sejumlah pasien lainnya nongkrong di beranda depan puskesmas yang lumayah sempit, belum ada petugas yang mengoperasikan mesin antrian. Para pasien dengan inisiatip sendiri, secara tertib dan teratur meletakkan kartu pasien mereka di atas kotak mesin registrasi, sesuai urutan kedatangannya. Semuanya aman-aman saja, sampai agak lama berselang, setelah datang seorang ibu paruh baya. Ibu ini menghampiri mesin registrasi untuk mengambil nomor dulu, sebelum pulang menjemput anaknya. Itu biasa dilakukan karena loket baru dibuka hampir satu setengah jam kemudian. Tetapi ibu paruh baya ini bingung, karena mesin registrasi belum beroperasi, sementara dia pun tidak membawa kartu apa pun.

Seorang ibu lain (sebut saja ibu A) yang ada di situ, menawarkan untuk menumpukkan kartu penduduknya, agar ibu paruh baya itu bisa mendapatkan nomor. Nomor itu akan diambil oleh ibu A, dan akan diserahkan nantinya kepada ibu paruh baya tadi, sekembalinya dia dari menjemput anaknya. Tetapi seorang ibu lainnya (sebut saja ibu B), malah mengusulkan supaya ibu A tidak perlu menumpukkan kartu baru lagi, melainkan mengambil saja dua nomor, ketika petugas memanggilnya nanti, untuk mengambil nomor antrian. Ternyata ibu A berkeberatan karena tindakan itu akan menyelak antrian. Ibu paruh baya yang datang belakangan itu akan serta merta mendapatkan nomor sangat awal, karena ibu A berada di urutan ketiga, sementara pasien lain yang sudah datang lebih awal, automatis akan tergeser semua. Tetapi menurut ibu B “itu tidak apa-apa, karena petugas membolehkan”.

Keduanya sempat bersitegang sampai akhirnya ibu B mengambil salah satu kartunya, entah kartu apa lagi, dan menumpukkannya bersama kartu lainnya di atas mesin registrasi itu. Kedengaran ibu A masih saja menggerutu, “bukannya aku gak ngerti tetapi itu kan menyelak antrian orang banyak, kan gak boleh”.

Ketika petugas datang dan membagikan nomor, ternyata ibu B meminta 3 nomor pada panggilan untuk kartu pertamanya, dan 3 nomor lagi pada panggilan untuk selipan kartu keduanya. Tidak ada rasa risi dan terganggu sedikir pun, bahkan dengan kepala tegak dan terkesan arogan. Dan, rupanya, ketika tadinya dia meletakkan kartu kedua di atas tumpukan kartu pasien setelah beradu argumentasi dengan ibu A, dia tidak menumpukkan kartu keduanya itu sesuai urutan, melainkan menyelipkannya di antara tumpukan kartu yang ada. Saya menyadari hal itu ketika ternyata ibu B sudah mendapat panggilan untuk kartu keduanya sebelum saya. Kalau dia menumpukkan kartu keduanya di atas kartu lain, maka panggilan untuk kartu keduanya semestinya setelah saya. Kenyataannya dia dipanggil sebelum saya.

Saya terkesima dengan apa yang dikatakan ibu B: “petugas membolehkan”. Rupaya dia mau menyatakan bahwa dia tidak melanggar aturan. Petugas membolehkan, artinya yang punya kuasa membolehkan. Seolah-olah dia mau mengatakan bahwa yang penting tindakannya tidak melanggar kehendak penguasa, tidak perduli dengan banyaknya orang yang akan sakit hati oleh tindakannya.

Sikap ibu B ini sepertinya merepresentasikan mental banyak orang. “Yang penting sesuai aturan”. Kalau sesuai aturan, maka tidak ada masalah. Bahkan kalau boleh, misalnya, dibuatkan saja aturan yang sesuai dengan penyakit, supaya orang sakit itu bisa dianggap sehat. Dan kalau tindakan saya sesuai aturan kesehatan, maka tidak ada yang salah dengan saya, saya sehat dan kalau perlu menjadi arogan. Dalam analogi lain, bukankah dalam masyarakat yang sebagian besar anggotanya gila, orang waras yang dianggap gila?

Sepintas kaca mata Kohlberg pun melintas dalam ingatanku. Dari enam tahap kesadaran moralnya, sepertinya perilaku seperti ini cenderung mengacu pada kesadaran moral tahap keempat,  yakni orientasi hukum dan ketertiban; dalam bahasa lainnya bisa dikatakan perilaku yang cenderung legalistik dan formalistik. Sikap yang memberi peluang bagi sikap-sikap yang lebih memperhatikan pesona ketimbang persona, yang lebih peduli pada paras ketimbang waras, yang lebih terkesima pada riak ketimbang kedalaman; lebih senang dilihat daripada melihat.

Kalau kenyataannya memang demikian, mudah-mudahan saja akan ada peningkatan perkembangan kesadaran ini ke tahap yang lebih tinggi, setelah terjadi ketidak-seimbangan kognitif dalam pertimbangan moral dalam diri orang. Dan ini tampak tersirat dalam sikap ibu lainnya (ibu A), yang mulai menyadari ketidak-seimbangan kognitif itu, ketika dia menyadari bahwa semua orang memiliki hak yang sama, dan bahwa hak itu harus dijamin oleh aturan. Dan aturan yang melibas kesetaraan hak orang lain patut disikapi secara kritis.

Dalam hal ini, budaya ngantri bisa menjadi potret sederhana yang secara gamblang memperlihatkan tingkat kesadaran moral masyarakatnya. Pantas kalau ada budaya yang sangat menekankan pendidikan ngantri pada anak-anak untuk mengenbangkan tingkat kesadaran moralnya. Pada budaya tertentu itu, orang tua lebih merasa risau ketika anak mereka tidak bisa ngantri, daripada ketika anak mereka tidak mampu menyelesaikan soal matematika. Yang tidak mampu mengerjakan matematika itu mungkin siswa yang kurang berbakat (di bidang matematika), tetapi yang tidak mampu ngantri adalah siswa yang kurang beradab.  Pendidikan tidak untuk membuat orang atau siswa menjadi lebih berbakat, melainkan untuk menjadi lebih beradab.

Benyamin Molan

BAHASA ANNOUNCEMENT KITA

Announcement di sebuah stasiun kereta

Bahasa mencerminkan pemikiran. Bahasa yang kacau menunjukkan struktur pemikiran yang juga tidak teratur. Akibatnya orang tidak akan menangkap dengan baik apa yang ingin disampaikan, dan harus berusaha memahaminya berdasarkan konteks. Ironisnya apa yang rancu ini kemudian dibiasakan, dan selanjutnya dianggap sebagai benar. Apa lagi kalau bahasa yang rancu itu sering digunakan dalam announcement; struktur bahasa macam itu lama-kelaman dianggap sebagai benar dan digunakan banyak orang, tanpa disadari  kerancuannya. Akibatnya, orang tak mampu lagi merumuskan pendapatnya dengan bahasa yang baik, dan lebih cenderung mengandalkan konteks. Bahasa kita menjadi semakin high context, dan menimbulkan pernyataan-pernyataan yang amfibologik alias ambigu. Dan karena sudah terbiasa, ungkapan-ungkapan itu diterima sebagai benar dan digunakan secara umum tanpa ada perasaan terganggu.

Misalnya saja, orang cenderung tidak merasa aneh kalau dikatakan “Ternyata kulit manggis itu sangat banyak sekali manfaatnya.” Kalimat ini sebenarnya terdiri dari dua kalimat yang benar lalu dijadikan satu yang salah. Kalimat pertama: “Ternyata kulit manggis itu sangat banyak manfaatnya.” Kalimat kedua: “Ternyata kulit manggis itu banyak sekali manfaatnya.” Lalu digabung menjadi “Ternyata kulit manggis itu sangat banyak sekali manfaatnya.”  Sekalii lagi, cara berbahasa yang kacau menunjukkan cara berpikir yang juga kacau. Mentalitas yang kacau terkaca juga dari bahasa yang kacau.

Ketika menggunakan KRL, saya sering merasa terganggu dengan announcement yang kerap disampaikan oleh announcer KRL. Para pengguna KRL alias kereta rel listrik yang sering disebut commutter line itu, pasti sudah terbiasa dengan announcement ini. “Sebentar lagi kereta Anda akan tiba di stasiun (Sudirman).  Penumpang yang hendak turun, mohon periksa kembali tiket dan barang bawaan Anda, agar  tidak tertinggal dalam kereta atau pun merasa kehilangan.” Maksud kalimat ini sederhana. Tetapi bahasa announcernya membingungkan. Kalau subyeknya adalah tiket dan barang bawaan, dan predikatnya adalah tidak tertinggal atau merasa kehilangan, maka kalimat ini mengingindikasikan bahwa tiket barang bawaan bisa merasa kehilangan. Bagaimana mungkin barang bawaan bisa merasa kehilangan. Kecuali kalau barang bawaan itu adalah anak. Tetapi, bagaimana anak bisa disebut sebagai barang bawaan. Kemungkinan pengertian lain adalah: “penumpang diminta memeriksa barang bawaannya, agar (penumpang) tidak tertinggal atau merasa kehilangan”. Seolah-olah penumpang bisa tertinggal di kereta kalau tidak memeriksa tiket dan barang bawaannya. Dengan kata lain, “penumpang dimohon periksa tiket dan barang bawaannya, agar penumpang tidak tertinggal di kereta. Seolah-olah kalau penumpang yang sudah memeriksa barang bawaannya, tidak akan tertinggal. Padahal yang dimaksudkan di sini sederhana saja. “Penumpang yang hendak turun mohon periksa tiket dan barang bawaan agar barang-barang tersebut tidak hilang atau tertinggal di dalam kereta”.

Di stasiun kereta, para pengguna KRL juga pasti sering mendengar pengumuman ini: “Segera masuk di jalur dua, commuter line ke arah Manggarai, Tebet, Cawang Pasar Minggu, dan mengakhiri stasiun Bogor”.  Wah, menyeramkan juga pengumuman ini; commutter line ke arah manggarai ….. nantinya akan mengakhiri stasiun Bogor. Padahal maksudnya: “akan segera masuk di jalur dua, commuter line jurusan Manggarai, Tebet, Cawang Pasar Minggu, yang mengakhiri perjalanannya di stasiun Bogor”.

Gambar terlampir juga menyampaikan pengumuman yang menarik. “Mintalah bantuan petugas apabila akan mengambil barang Anda yang terjatuh di peron yang tinggi”. Artinya, kalau Anda sedang berada di peron yang tinggi dan barang Anda jatuh (di atas peron) maka Anda harus minta bantuan petugas. Ini aneh. Mengapa harus minta bantuan petugas?  Padahal maksudnya, apabila ada barang Anda yang jatuh dari peron yang tinggi, maka, untuk mengambilnya, Anda harus meminta bantuan petugas. Beberapa stasiun sudah mengoreksi pengumuman ini menjadi “Mintalah bantuan petugas apabila akan mengambil barang Anda yang terjatuh dari peron yang tinggi”

Perhatikanlah contoh lagi berikut ini yang bisa ditemukan di beberapa SPBU di Jakarta: Hak Konsumen: (1) Mendapatkan 3 S (Salam, Senyum, Sapa) dari petugas (2) Ditunjuk angka nol sebelum pengisian BBM (3) Menerima bukti pembayaran bila diminta (4) Penanganan yang baik terhadap keluhan Anda.

Butir 1 dan 2 cukup konsisten, walaupun mungkin rumusannya perlu sedikit dimodifikasi. Butir 3, kelihatannya membingungkan. Pengertian kalimatnya adalah “Konsumen berhak menerima bukti pembayaran bila diminta”. Pertanyaannya, adalah diminta oleh siapa?

Apakah ada petugas atau orang lain di situ yang meminta konsumen untuk menggunakan haknya menerima bukti pembayaran? Maksudnya sebenarnya bisa ditebak: Konsumen berhak mendapatkan bukti pembayaran bila konsumen tersebut memintanya. Rumusan yang lebih tepat: Mendapatkan bukti pembayaran bila meminta.

Butir 4 lebih kacau lagi: Hak konsumen untuk penanganan yang baik terhadap keluhan Anda. Siapa yang dimaksudkan dengan Anda? Pengumuman ini ditujukan kepada petugas SPBU, yang ditembuskan ke konsumen. Maka menurut kalimat ini yang dimaksudkan dengan Anda itu adalah petugas SPBU. Maka “keluhan Anda” artinya keluhan petugas SPBU. Pada hal maksudnya adalah keluhan konsumen. Arti harfiah dari kalimat ini adalah bahwa “konsumen berhak untuk mendapatkan penanganan yang baik terhadap keluhan petugas”.  Tentu saja itu bukan apa yang mau dikatakan. Yang mau dikatakan adalah “konsumen berhak untuk mendapatkan penangan yang baik dari petugas, terhadap keluhan konsumen. Maka supaya bentuknya sejajar, kalimat yang seharusnya adalah: “Mendapatkan penanganan yang baik terhadap keluhannya (konsumen)”.

Dengan demikian rumusan yang lebih tepat adalah: Konsumen berhak untuk: (1) mendapatkan 3 S (salam, senyum, sapa) dari petugas; (2) ditunjuki angka nol sebelum pengisian BBM; (3) memperoleh bukti pembayaran bila meminta; (4) mendapatkan penanganan yang baik terhadap keluhannya.

Perlu diadari bahwa bahasa announcement kita perlu diperhatikan, agar kita tidak ikut menciptakan dan membiasakan penggunaan bahasa Indonesia yang rancu, yang tidak merumuskan dengan tepat apa yang dimaksudkan. Kebenaran akan mudah teramati dan tertangkap ketika dirumuskan dan dikomunikasikan dengan bahasa yang tepat.