KEBOHONGAN ITU TAK TUNGGAL

Anak belajar banyak hal dari orang dewasa, Tetapi orang dewasa juga perlu belajar dari anak kecil. “belajar untuk tidak berbohong”

Ketika sebuah kebohongan sudah berawal, maka bersiap-siaplah untuk mengkonstruksi kebohongan berikut demi mengamankan kebohongan pertama. Selanjutnya akan menyusul skenario kebohongan-kebohongan berikutnya, demi menutup kebohongan sebelumnya. Dengan kata lain, satu kebohongan akan melahirkan kebohongan-kebohongan baru, hanya demi menutup suatu aib pada awalnya. Dan seluruh rentetan kebohongan itu bisa luluh berantakan, hanya oleh satu kejujuran saja, yang mampu merontokkan rentetan kebohongan tadi, lalu mengunjukkan kebenaran.

Walaupun dianggap sebagai perbuatan yang buruk, kebohongan juga punya unsur positif, seperti berbohong untuk menyelamatkan orang yang tidak bersalah, atau berbohong tentang kondisi penyakit pasien yang harapan hidupnya sudah berkurang, demi tetap memberi semangat hidup pada pasiennya. Termasuk di sini kebohongan putih (little white lies), kebohongan-kebohongan kecil, dalam hidup pergaulan, untuk membesarkan hati orang, dan menimbulkan rasa percaya diri. Misalnya jika seorang gadis menanyakan apakah dia cantik dengan pakaian yang dikenakannya, bisa dijawab cantik (sekadar basa basa basi), agar tidak menyakiti hatinya. Terbongkarnya kebohongan positif, tidak akan merugikan pihak mana pun, selain adanya pemahaman yang bisa diterima, sejalan dengan maksud kebohongan yang terpaksa dilakukan, demi sebuah efek yang lebih baik.

Kebohongan yang dibicarakan di sini lebih pada kebohongan negatif yang mendatangkan kerugian. Kebohongan semacam ini selalu membawa beban, seperti efek bola salju. Ke mana kebohongan itu berlalu, dia akan selalu mengikut-sertakan kebohongan berikut, sehingga menjadi berlapis-lapis. Lama kelamaan bola salju kebohongan itu akan semakin membesar, dan selanjutnya semakin berat juga untuk dikemas dan disimpan secara tersembunyi. Potensi terbongkarnya suatu kebohongan pun makin lama akan makin besar, seiring dengan semakin sulitnya upaya untuk menutup-nutupinya. Segala sesuatu yang disatukan dengan menggunakan kebohongan akan mudah tercerai berai dan menjadi berantakan. “Things come apart so easily when they have been held together with lies” (Dorothy Allison).

Dan begitu sebuah kebohongan terungkap maka efek bola salju akan berubah menjadi efek domino (Sisella Bok 1979), karena  kebohongan yang satu selalu bersandar pada kebohongan lain. Maka kebohongan membutuhkan kerja sama yang rapi, dan menuntut komitmen serta sikap yang konsisten. Begitu ada yang berkhianat maka seluruh kebohongan akan tersingkap. Pantas kalau dikatakan “lies require commitment” (Veronica Roth), (kebohongan menuntut komitmen).

Kebohongan harus ditutup dengan kebohongan berikut, karena kebohongan yang terbongkar akan menimbulkan rasa malu. Rasa malu itu ditimbulkan karena aib atau perbuatan memalukan yang telah dilakukan sebelumnya, dan pada akhirnya terpaparkan. Maka dalam masyarakat yang punya budaya malu, (shame culture) kebohongan, dengan segala kerabat dan kesemendaannya seperti kemunafikan, kepura-puraan, kebiasaan bersandiwara dan menutup diri, akan berkembang subur.

Sedangkan masyarakat dengan budaya rasa bersalah (guilt culture) yang kuat, akan cenderung  merasa risih dengan kebohongan. Ada perasaan seperti terus dicibir oleh rasa bersalah. Beban rasa bersalah itu semakin berat lagi, kalau dilapisi dengan kebohongan baru. Efek bola salju akan menambah bobotnya beban kebohongan. Daripada harus menderita, orang yang memiliki rasa bersalah akan bersedia menghadapinya secara perkasa. Efek suara hati yang terus mencibir, akan tetap dan terus menerus mengganggu, dan itu hanya bisa dihentikan dengan siap mempertanggung jawabkan kesalahan secara bermartabat.

Beban yang ditanggung ketika orang bersikap jujur adalah bahwa beban yang memang berat itu, diimbali dengan penghargaan yang diterima, ketika orang tersebut siap untuk bertanggung jawab. Tanggung jawab sebagai nilai positif, membuat orang yang mau bersikap jujur (tak mau berbohong), bisa mendapatkan respek, dan dihargai sebagai orang yang bermartabat.

Ketika kebohongan bertumpuk, beban kebohongan tersebut akan terbawa terus karena adanya cibiran dari suara hati, sementara suara hati tidak bisa dibungkam, atau disingkirkan jauh-jauh. Suara hati selalu berdiam dalam diri sendiri, dan akan terus mengiring ke mana pun orang itu pergi. Seperti sudah dikatakan, semakin lama sebuah kebohongan tersimpan, semakin besar efek bola salju yang ditimbulkan.

Siapa pun yang bersikap jujur, betapa besar pun kesalahan dan boroknya, lebih terhormat dan bermartabat ketimbang seseorang yang berhasil menutupi boroknya dengan tumpukan kebohongan. Karena kehormatan yang dibangun di atas kebohongan adalah kehormatan semu, yang akan ditertawakan oleh diri sendiri. Apa lagi kalau kebohongan itu pada akhirnya terendus, bahkan tersingkap. Rasa malu sebagai efeknya, jauh lebih berlipat ganda, ketimbang rasa malu yang ditimbulkan ketika kesalahan dilakukan. Pertama, malu karena ketahuan salahnya, dan kedua, malu karena ketahuan bohongnya. Maka sebaiknya membiasakan diri untuk tidak melakukan kebohongan, karena kebohongan itu tidak tunggal, dan secara beruntun tidak hanya merugikan korban kebohongan, melainkan juga pembohongnya sendiri, dan semua yang berada di sekitarnya, karena kebohongan itu tak pernah tunggal. Orang bisa berhasil membohongi seluruh dunia, tetapi tak akan pernah berhasil membohongi diri sendiri.

Advertisements

“DIAM” DALAM BAHASA KEDANG

Kata “diam” dalam bahasa Indonesia, dapat diterjemahkan dengan kata ere dalam bahasa Kedang. Padahal kata yang mirip dengan ere yakni >ere dalam bahasa Kedang, berarti berteriak meringis. Misalnya babi yang ditangkap atau akan disembelih, biasanya akan meringis (>ere), karena kesakitan. Dua kata yang sangat mirip ini menjadi sangat berbeda artinya ketika yang satu diucapkan dengan diawali tanda > e (panjang, tanpa sentakan glottal), sementara yang lainnya tidak.

Dalam bahasa Kedang, sebuah kata akan lebih dikukuhkan artinya ketika diberi pasangan katanya.  Misalnya, pasangan kata ere adalah bèrèq, sehingga kalau disatukan akan menjadi ere bèrèq, yang artinya diam seribu bahasa. Kata bèrèq sebagai pasangan kata ere, sepertinya berasal dari akar kata yang sama dengan èrèq  yang bisa berarti saya tangkap. Dengan demikian bisa saja ditafsirkan bahwa istilah ere bèrèq bisa saja berarti “diam karena sudah menangkap atau memahami, mengerti”. Dengan kata lain, diam di sini adalah diam sambil merenung;  artinya ada sesuatu yang dipikirkan atau dipertimbangkan. Kalau diam dalam arti cuek, sebagai sikap tidak peduli, akan diberi pasangan kata lain, yakni “emi” lalu menjadi “ere emi”.

Maka ere bèrèq adalah kata untuk menggambarkan sikap diam, bukan dalam arti cuek atau tidak perduli (dalam arti pasif), melainkan diam dalam arti aktif, dibarengi dengan kegiatan berpikir, merenung, memaknai, memahami. Dengan demikian ere bèrèq lebih berkonotasi ke pepatah Indonesia yang mengatakan “diam-diam ubi berisi” atau pepatah Inggris, “silence is golden” (diam itu emas), atau pepatah Latin, “si tacuisses philosophus mansisses” (Kalau Anda diam, Anda seorang filsuf. Artinya, ketika Anda bicara, langsung ketahuan bahwa Anda bukan filsuf, maka lebih baik diam saja, biar dianggap filsuf).

Orang yang pendiam lebih dihargai (terutama yang rajin bekerja), daripada orang yang banyak bicara dan penuh tipu muslihat (dan malas bekerja pula). Orang model kedua ini, dalam bahasa Kedang disebut >ihi wowo, Kata  >ihi atau >ihin artinya isi, materi, daging (bukan tulang, bukan lemak).  >Ihi wowo artinya, isinya hanya ada di mulut  dankata-katanya (wowo), tidak dalam kenyataannya.  Istilah ini biasa dikenakan pada orang yang  mencari nafkah dengan menggunakan omongan (kosong di) mulut (banyak bicara bohong, jual-obat, tipu sana tipu sini, dan sebagainya).

Orang yang suka >ihi wowo ini berbeda dari orang yang wowo rai (banyak bicara). Tipe kedua ini adalah orang yang banyak bicara, suka bercanda, banyak guyon, blak-blakan, pandai bergaul. Tipe ini lebih positif, dan termasuk tipe yang  disukai dalam masyarakat.

Dengan demikian orang yang ere bèrèq  dan orang yang wowo rai itu lebih disenangi dalam masyarakat, daripada orang yang ere èmi dan orang yang >ihi wowo.

Anda punya teman orang Kedang? Dia termasuk yang mana? Pendiam? Pendiam yang mana? Ere bèrèq atau ere èmi.  Ataukah teman Anda termasuk orang yang banyak bicara?  Banyak bicara sebagai wowo rai atau >ihi wowo? Dan Anda sendiri? Kenalilah teman Anda, kenalilah diri Anda sendiri.

MULTIKULTURALISME DAN PANCASILA

APP KAJ 2017

Multikulturalisme di Indonesia sesungguhnya mempunyai landasan sekaligus panduan yang sangat jelas dalam Pancasila. Pancasila sebenarnya merupakan satu upaya para founding fathers untuk membangun dan menata Indonesia yang pluralistik menjadi multikulturalistik. Kesadaran akan pluralitas itu ternyata sudah ada sejak awal. Maka sudah sejak awal pula dilakukan upaya-upaya multikulturalistik untuk menghadapi pluralitas bangsa ini. Menetapkan prinsip kebangsaan sebagai dasar negara dan kemudian melandaskannya di atas Pancasila, merupakan gerakan multikulturalistik yang sudah dibangun sejak awal. Karena itu harus dikatakan bahwa multikulturalisme sebenarnya sudah diupayakan sejak awal ketika ada kesepakatan bangsa ini untuk bersama-sama membentuk sebuah negara.

Ketika Bung Karno merumuskan Pancasila dalam pidatonya di depan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonedsia (BPUPKI) pada tanggal 1 Juni 1945, dia memulainya dengan Kebangsaan sebagai sila pertama. Kebangsaan pada zaman itu dianggap paling mendesak (urgent) ketika negara Indonesia mulai dibangun. Rasa nasionalisme yang melintasi rasa kesukuan, kerajaan, kelompok budaya dan agama sangat dibutuhkan waktu itu, karena berkat kesepakatan dari berbagai suku bangsa waktu itu, negara Indonesia berhasil dibentuk.

Dengan “Internasionalisme atau Perikemanusiaan”, Bung Karno mau menunjukkan bahwa bangsa Indonesia adalah bagian dari suku bangsa yang ada di dunia. Bangsa Indonesia harus menghargai sesamanya sebagai manusia. Dengan pernyataan ini Bung Karno ingin mengangkat kembali martabat manusia yang hancur oleh perang dunia kedua. Dia memberi perhatian pada kemanusiaan unversal. Bangsa Indonesia harus menjadi bangsa yang punya jati diri ketika tampil di dunia internasional. Maka bangsa Indonesia tidak dibangun di atas dasar nasionalisme sempit beraroma chauvinisme, melainkan bangsa yang bermartabat karena menghargai kemanusiaan universal. Kesadaran inilah rupanya yang memberi inspirasi bagi perumusan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, ….. bahwa kemerdekaan  adalah hak segala bangsa (bukan hanya hak bangsa Indonesia saja) ….. Jelas bahwa apa yang dikemukakan di sini adalah konsep multikulturalisme. Landasan konsep multikulturalisme adalah kemanusiaan.

Ketika sila ini dimodifikasi menjadi Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, konsep dasarnya tetap tidak berubah. Dalam hal ini Pancasila mengajak kita untuk dan membangun sikap menghargai manusia secara adil dan  beradab. Keadilan menjadi prinsip yang penting untuk menghargai martabat manusia, namun keadilan harus ditegakkan dengan cara yang beradab. Menegakkan keadilan merupakan satu kebajikan yang mulia tetapi kalau dilakukan tidak secara beradab maka akan cenderung menjadi balas dendam. Gigi ganti gigi, mata ganti mata itu adil, tetapi tidak beradab. Karena itu dalam masyarakat multikulturalistik, membangun keadilan harus seiring dengan keberadaban. Dalam hal ini kekerasan selalu merupakan sikap yang tidak beradab. Maka melancarkan kekerasan demi mendapatkan keadilan, pasti adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan.

Begitu pun sebaliknya, keberadaban yang dibangun tanpa keadilan akan cenderung menjadi ajang manipulatif. Orang yang terlalu gampang menunjukkan keberadabannya melalui sikapnya yang selalu dan terus menerus mengampuni, akan mudah dipermainkan dan menjadi obyek manipulasi. Maka dalam masyarakat multikulturalistik yang sehat, keberadaban pun harus dijalankan bersama dengan keadilan. Ketika penghina Jokowi melalui media sosial dimaafkan, banyak orang merasa keberatan, karena akan menjadi preseden yang buruk bagi yang lain. Jika setiap pelanggaran konstitusi diselesaikan dengan pemberian maaf, maka konstitusi kita tidak bisa efektif lagi berfungsi untuk menjaga ketertiban dan keamanan negara.

Mufakat atau Demokrasi yang dikemukakan Bung Karno, merupakan konsep yang juga multikulturalistik. Budaya politik yang cocok untuk dianut oleh masyarakat multikulturalistik adalah demokrasi. Dalam demokrasi ada kebebasan dan kesetaraan. Dalam demokrasi bisa dilakukan musyawarah-musyawarah untuk sampai pada kesepakatan-kesepakatan yang diterima dan dijalankan bersama. Dengan kata lain, demokrasi adalah bagian dari prinsip multikulturalisme. Multikulturalisme hanya bisa berjalan dalam iklim demokrasi. Begitu juga sebaliknya, demokrasi hanya bisa berjalan dengan baik dalam masyarakat yang multikulturalitik. Seperti halnya demokrasi yang intinya adalah kedaulatan di tangan rakyat, begitu pula multikulturalisme. Yang menjadi kepentingan utama dalam multikulturalisme adalah hidup bersama yang harmonis dan dinamis, tenang dan damai tetapi tetap ada kehangatan dan kegairahan. Dan itu hanya bisa dibangun dalam demokrasi yang jujur dan tulus untuk mencapai kebaikan bersama.

Konflik dan dinamika sebagai efek dari demokrasi dalam masyarakat multikulturalistik, bukan untuk memecah belah melainkan untuk menguji berbagai program dan langkah-langkah demi mencapai kesejahteraan bersama. Pembentukan kubu dalam pemilihan pemimpin misalnya, tidak untuk memecah belah, melainkan untuk membuat proses pemilihan menjadi benar-benar efektif untuk mendapatkan pemimpin teruji yang akan menjadi pemimpin semua pihak, bukan hanya pemimpin  bagi pihak yang mendukung.

Kesejahteraan sosial, harus juga menjadi bagian dari konsep masyarakat multikulturalistik. Masyarakat multikulturalistik lebih sulit dibangun dalam kondisi yang tidak ada kesejahteraan dan keadilan sosial. Kesejahteraan sosial sesungguhnya sudah menyelesaikan separuh dari persoalan multikulturalisme dalam sebuah masyarakat, termasuk masyarakat-bangsa Indonesia.

“Ketuhanan yang Berkeadaban” yang dikemukakan dalam pidato Bung Karno 1 Juni 1945 juga sangat multikulturalistik. Bung Karno menyerukan agar bangsa Indonesia sebagai bangsa religius yang bertuhan hendaknya menjalankan keyakinannya masing-masing dengan cara yang beradab. Dengan kata lain Bung Karno mengajak kita untuk beragama secara etis. Gontok-gontokan antar kelompok umat beragama menunjukkan bahwa kita  sesungguhnya tidak beradab. Pada hal keberadaban adalah bagian dari hakikat kehidupan beragama. Maka sangat ironis bahwa agama justru menjadi bagian dari masalah pluralitas yang memecah belah dan bukannya bagian dari upaya multikulturalistik yang harmonis dan dinamis.

Ketika sila ini dimodifikasi menjadi “Ketuhanan yang Maha Esa” dan ditempatkan sebagai sila pertama pun, konsep multikulturalistik tidak terlepas. Sebagai sesama manusia ciptaan Tuhan, dan menjadi gambaran (imago) Tuhan atau wakil Allah (Kalifatullah) di dunia, sikap saling bermusuhan dan saling meniadakan semestinya tidak sejalan dengan hakikat orang berTuhan. Agama dalam hal ini sebagai pewarta keselamatan dari Tuhan sekaligus sebagai persekutuan yang ingin mewujudkan keselamatan itu, seharusnya menjadi pelopor dalam gerakan multikulturalisme. Dan kalau dirunut lebih jauh, agama sebenarnya sejak awal sudah mengajarkan sikap multikulturalistik, walaupun tidak dalam istilah ini.

Begitu juga ketika berbicara tentang Pancasila sebagai filsafat (hasrat, jiwa, semangat yang sedalam-dalamnya yang di atasnya didirikan gedung Indonesia merdeka), Pancasila sebagai etika (landasan untuk perilaku dan tata susila), Pancasila sebagai nilai (religiositas, keadilan, kejujuran, saling menghargai sebagia manusia), dan Pancasila sebagai norma paling dasar (landasan hukum), kita sebenarnya sedang mencita-citakan satu masyarakat yang multikulturalistik, karena semuanya mengarah ke pembangunan bangsa yang satu dan sejahtera.

Dan pembicaraan tentang membangun masyarakat Indonesia yang multikulturalistik itu seolah-oleh menjadi komplit, ketika kita kembali mengarahkan perhatian kita pada lambang garuda dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika dalam genggamannya. Walaupun ada yang menafsirkan bahwa semboyan ini lebih menggambarkan pluralisme daripada multikulturalisme, tetapi penafsiran lain yang juga tentu tetap sah juga. Semboyan ini bisa ditafsirkan juga sebagai menggambarkan masyarakat yang pluralistik faktual (bineka), yang terus berupaya untuk menjadi masyarakat yang multikulturalistik ideal (ketunggal-ikaan). Semoga bangsa Indonesia menjadi semakin mampu menata dirinya yang pluralistik menjadi mosaik indah yang multikulturalistik. (Benyamin Molan. 2015. Multikulturalisme: Cerdas Membangun Hidup Bersama yang Stabil dan Dinamis. Jakarta: Indeks, hlm. 117-121).

ORANG-BAIK

Orang-baik

Orang-baik itu orang baik, titik. Tidak tergantung pada bertambahnya usia, tingginya kedudukan, tingkatan pendidikan, agama, suku, budaya, bangsa, atau negara seseorang. Menjadi tua itu pasti, tetapi menjadi orang-baik itu pilihan. Pejabat itu pasti punya kedudukan, tetapi menjadi pejabat yang baik (bermartabat) itu pilihan. Begitu juga dengan pendidikan. Ketika orang menjalani pendidikan, maka menjadi orang terdidik itu pasti, tetapi menjadi orang-baik tetap merupakan bagian dari pilihan. Bukankah orang yang pandai, bisa juga pandai dalam hal menjadi orang jahat? Dalam hal beragama pun, hal yang sama bisa dikatakan. Penganut agama itu pasti orang beragama, tetapi menjadi orang-baik tetap saja menjadi pilihan. Orang beragama pun tidak serta merta menjadi orang-baik. Lahir dibesarkan dan dididik dalam suku dan budaya tertentu pasti membuat seseorang termasuk suku dan budaya tertentu, tetapi menjadi orang-baik, tetap saja merupakan wilayah pilihan. Orang tidak serta merta menjadi orang baik karena berasal dari suku dan budaya tertentu.

Itu berarti orang-baik atau orang jahat itu bukan label yang sudah dipasang pada usia, kedudukan, pendidikan, agama, suku, budaya, bangsa, negara tertentu, melainkan sebuah pilihan yang harus dibangun. Ada orang beragama yang merupakan orang-baik, dengan penampilan yang agamis dan memberi kesan damai serta menentramkan. Tetapi ada juga orang beragama, yang walaupun penampilannya sangat agamis, tetap saja tidak menunjukkan ciri orang-baik. Mereka ini yang disebut orang munafik, yang memanfaatkan agama untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

Ada juga orang yang tidak beragama tetapi tetap orang-baik. Bahkan orang atheis pun tidak serta merta menjadi orang jahat. Kita sering memberi label jahat pada orang atheis, seolah-olah mereka adalah orang yang tidak takut pada Tuhan, lalu semaunya melakukan kejahatan. Ada orang atheis yang justru sebaliknya. Merekalah kaum atheis humanis, yang sangat menghargai manusia. Mereka memilih untuk menjadi orang-baik bukan karena diperintahkan, bukan juga karena diancam atau diiming-imingi, melainkan karena keputusan bebas mereka sendiri. Mereka mencintai dan menghargai sesama manusia, karena menghargai kemanusiaan dalam diri mereka dan orang lain, dan bukan karena tergiur oleh iming-iming imbalan keselamatan atau decak kekaguman para pengamat.

Karena itu agama, pendidikan, masyarakat, suku, adat istiadat adalah tempat orang diberi ruang dan kesempatan untuk memilih menjadi orang-baik. Artinya pada komunitas dan lembaga-lembaga ini, tetap ada peluang bagi seseorang untuk memilih, menjadi baik atau jahat. Belum lagi, konsep baik dan jahat yang sering kali tidak dipahami secara etis, melainkan lebih dari sudut pandang kepentingan masing-masing kelompok dan komunitas.

Karena itu keyakinan, institusi, dan komunitas tidak menjadi jaminan seseorang menjadi orang-baik atau jahat. Yang bisa menjadi ukuran adalah tujuan dan tentu saja outcome. Kalau outcome agama adalah masuk surga atau neraka, maka tentu saja tidak bisa diukur. Tak ada orang yang bisa menyaksikan apakah seseorang setelah meninggal itu masuk surga atau neraka, selain menggunakan keyakinan iman. Yang bisa menjadi ukuran adalah apa yang bisa terpantau di dunia. Maka outcome yang bisa diamati adalah apakah seseorang menjadi orang baik atau jahat. Dan outcome bersama terukur, yang bisa dijadikan landasan adalah etika. Etika adalah refleksi kritis rasional terhadap ajaran-ajaran moral yang disampaikan oleh berbagai pihak seperti agama, adat istiadat, budaya, guru, orang tua. Etika melandaskan diri pada refleksi kritis rasional yang bisa dilakukan oleh setiap orang terhadap ajaran moral tadi; hal yang tidak terjadi pada agama karena keyakinan dan ajaran masing-masing agama itu berbeda-beda.

Pilihan menjadi orang-baik ini bukan sekadar pemilihan tindakan atau perbuatan, melainkan lebih sebagai sikap dasar (akhlak). Dalam etika, prinsip ini dikenal sebagai etika keutamaan, yang dibedakan dari etika kewajiban. Etika keutamaan berbicara tentang menjadi orang-baik, sedangkan etika kewajiban berbicara tentang melakukan perbuatan yang baik. Orang yang melakukan perbuatan baik belum tentu adalah orang-baik. Seorang jahat bisa juga melakukan perbuatan baik. Bukankah para koruptor sering mendonasikan hasil korupsinya kepada rumah-rumah ibadah atau panti asuhan?

Maka yang menjadi tolok ukur orang-baik adalah apakah orang itu baik hati, bersikap adil, dan menghargai diri sendiri. Sering orang yang baik hati kurang memperhatikan keadilan. Orang baik seperti ini mudah sekali menjadi obyek manipulasi orang lain. Untuk menghindari manipulasi, orang harus bersikap adil dan menghargai dirinya sendiri. Dengan demikian dia tidak akan membiarkan dirinya menjadi obyek manipulasi. Orang yang hanya menuntut harga diri pun, akan mudah menjadi sombong dan merendahkan pihak lain, maka perlu diimbangi dengan sikap adil dan kebaikan hati. Orang yang hanya mencanangkan keadilan adalah orang yang mudah sekali menjadi pembalas dendam. Maka keadilan harus disertai dengan kebaikan hati dan pengampunan.

Ini sebenarnya juga yang dikatakan dalam sila Kedua Pancasila: Kemanusiaan yang adil dan beradab. Kemanusiaan mengarah pada harga diri dan martabat manusia, keadilan yang mengandaikan berbagai rangkaian nilai lain seperti kejujuran, kebenaran, imparsialitas, sedangkan keberadaban, mengandaikan kebaikan hati, penghargaan, pemaafan, pengampunan, sebagai lawan dari rasa iri, dengki, dan rasa dendam.

Mau menjadi orang baik (etika keutamaan)? Jadikan itu pilihan, lalu lakukan perbuatan baik (etika kewajiban) terus menerus, hingga mengkristal menjadi keutamaan. Dengan demikian surga sudah dimulai di bumi ini. Semoga kita bisa.

DAMAI SEJATI

“I do not want the peace that passeth understanding. I want the understanding which bringeth peace.” Helen Keller

Kehidupan berbangsa dan bernegara kita, dari zaman ke zaman, selalu bergerak dalam ayunan pendulum antara stabilitas dan dinamika. Pada zaman kemerdekaan, kondisi bangsa kita sangat dinamis dan kurang stabil. Dalam spirit inilah semboyan Bhineka Tunggal Ika tercetus. Ayunan pendulum kita pada zaman tersebut bergerak dari arah kebhinekaan menuju keikaan, atau dari dinamika menuju stabilitas.  Dalam euphoria kemerdekaan negara kesatuan Republik Indonesia, segala perbedaan dan keanekaragaman menjadi terlalu kecil untuk dipermasalahkan.

Pada zaman Orde Baru, ada keinginan kuat untuk mengukuhkan kestabilan dalam keikaan. Bhineka Tunggal Ika pun berubah  dari semboyan menjadi doktrin. Perbedaan dan pluralitas berganti wajah menjadi momok yang mengancam, dan sepertinya terlalu riskan untuk diremehkan. Sikap dinamis, kreatif, kritis, inspiratif, bebas berpendapat, dianggap gejolak yang menggoncangkan. Kestabilan menjadi begitu menonjol sehingga ayunan pendulum pun bergerak sangat pasti dan berkonsentrasi pada pusat keikaan.

Gerakan reformasi yang dimotori mahasiswa, pada akhirnya berhasil mengembalikan ayunan pendulum ke arah kebhinekaan yang menggairahkan.  Bangsa kita tetap merdeka, dan tidak kehilangan inspirasi serta kreativitas dalam membangun bangsa. Ini adalah masa yang penuh gejolak.

Tampak bahwa zaman Orde Baru, cenderung lebih peduli pada keikaan ketimbang pada– dan karenanya agak mengabaikan– dinamika. Pendulum mengayun  ekstrim ke stabilitas. Sedangkan zaman reformasi lebih memperhatikan kebhinekeaan dan menggoncangkan stabilitas. Pendulumnya bergerak ekstrim ke arah dinamika.

Stabilitas Positif

Sederhanya ada dua kondisi yang akan timbul ketika orang hidup bersama dalam suatu masyarakat. Yang pertama, adalah kondisi yang tenang, stabil, tanpa konflik; dan kedua adalah kondisi yang bergejolak dan dinamis, serta berpeluang untuk terpapar konflik.

Pada umumnya kondisi yang diharapkan masyarakat adalah kondisi atau suasana yang harmonis. Tetapi sering kali keharmonisan yang dibayangkan di sini lebih condong pada pengertian pertama.  Masyarakat dianggap stabil, tidak bergejolak,  bahkan serba adem ayem. Pada hal masyarakat semacam ini cenderung pasif, tidak berkegiatan apa pun. Berbagai  aksi yang dilancarkan untuk perubahan dianggap bisa menimbulkan konflik serta gejolak, dan pada gilirannya meniadakan kedamaian.

Pada hal dalam masyarakat yang hidup, perlu ada juga gejolak dan dinamika, karena kemajuan, perubahan, hanya timbul dalam masyarakat yang aktif, dinamis, kreatif. Makanya keharmonisan sejati tidak hanya berarti stabil saja, di mana semua warga serba diam tanpa aktivitas, melainkan juga dinamis dan berpotensi gejolak. Bahkan harus dikatakan bahwa keharmonisan sejati itu justru semestinya ditempa dan diuji oleh dinamika.

Sesungguhnya ada dua jenis kestabilan. Kestabilan positif dan kestabilan negatif. Istilah positif dan negatif di sini, tidak dipahami dari aspek moralitas (baik dan buruk) melainkan dari aspek logika (afirmatif dan negatif). Kestabilan positif berkaitan dengan pengakuan (afirmasi), sedangkan kestabilan negatif, berkaitan dengan pengingkaran atau negasi.

Kestabilan negatif sering timbul pada  sebuah komunitas masyarakat yang memilih bersikap diam (silent), pasif dan tidak berani melakukan aktivitas apa pun, karena ada ketakutan akan timbulnya gejolak.  Ciri kas kestabilan ini teridentifikasi dalam peraturan yang lebih banyak larangan, dan serba “jangan”.  Ini mengandaikan bahwa kedamaian akan terwujud ketika orang tidak melakukan apa-apa.

Sedangkan kestabilan positif merupakan  kestabilan yang sudah teruji oleh gejolak dan dinamika. Kestabilan positif inilah yang merupakan stabilitas sejati. Keharmonisan yang ideal pada sebuah masyarakat, adalah keharmonisan yang merupakan hasil uji dinamika.

Harmonis dan Damai

Keharmonisan dalam kehidupan bersama sesungguhnya berarti stabil secara positif. Stabilitas dan keharmonisan model inilah yang berkualitas, dan seharusnya tidak akan tergerus oleh dinamika, gejolak, bahkan konflik.  Keharmonisan ini akan dicapai bukan karena orang takut beraksi, melainkan karena dengan beraksi dan beradu argumentasi secara jujur, dalam konflik yang konstruktif, akan tercapai kesepakatan-kesepakatan yang berkualitas dan tahan uji. Di atas kualitas keharmonisan semacam inilah kedamaian sejati bisa tercapai, dan kemerdekaan berpikir dan berinovasi tidak akan merongrong kesatuan sebagai bangsa. Damai dan keharmonisan yang dibangun dalam ancaman dan ketakutan pasti bukan keharmonisan yang berkualitas. Inilah damai yang dimaksudkan oleh Helen Keller dalam kutipan di atas: Damai sebagai hasil uji pemahaman, dan bukan damai yang mengabaikan dan mengorbankan pemahaman.

Untuk itu rakyat harus dididik untuk menjadi kritis dan berakal sehat. Pendidikan logika, etika (bukan sekadar etiket), multikulturalisme, harus diikutsertakan sebagai  bagian dari pendidikan dasar. Dengan demikian rakyat tidak sekadar diperhitungkan dan dimanfaatkan sebagai jumlah belaka, melainkan terutama diperlakukan dan dihargai sebagai pribadi manusia yang unik, utuh, dan bermartabat.  Perbedaan dan kekhasan serta keunikan tidak dilihat sebagai ancaman yang memecah belah, melainkan sebagai rahmat yang mempersatukan.

“BERKELAHI” DALAM BAHASA KEDANG

“Awe weq” (berkelahi) telah berganti wajah menjadi “tawe weq” (saling tertawa)

Kata “berkelahi” dalam bahasa Kedang adalah “awe weq”. Awe artinya rebut, weq artinya badan. Maka awe weq, arti harafiahnya adalah rebut badan.  Kata awe juga dikenal dan dipakai dalam konteks perebutan lain, seperti perebutan tanah kebun (awe lumar), perebutan gading (awe bala tola), perebutan pohon kelapa (awe tak ue), dan lain-lain.

Mengapa berkelahi disebut awe weq (rebut badan)? Mungkin saja perebutan tanah, gading, dan sebagainya bisa berujung atau meningkat menjadi perebutan  badan. Artinya orang berani mempertaruhkan badannya demi harta atau tanahnya. Dengan beralihnya tindakan perebutan dari harta, tanah, dan sebagainya, ke perebutan badan (awe weq), maka masalahnya tidak lagi pada hal yang diperebutkan, melainkan pada badan kedua pihak. Seolah-olah perebutan tanah itu sama dengan perebutan badan (diri, persona) saya, maka saya harus merebut kembali. Jadi ada semacam personifikasi atas barang yang direbut. Pihak lain pun menganut pesan yang sama. Masalah sesungguhnya pada awalnya adalah perebutan tanah atau harta, namun ketika tidak ada jalan keluarnya, maka perebutan-perebutan tersebut seolah-olah bereskalasi menjadi perebutan badan. Maka masing-masing pihak harus merebut badannya kembali.

Karenanya kata awe dalam awe weq, bisa juga diterjemahkan sebagai saling. Dengan demikian, awe weq artinya saling berebut. Seperti juga dalam ungkapan lain sui weq, (saling berjumpa). Suo nape sui weq ya: mereka baru melihat badan, yang artinya mereka baru saling jumpa; atau juga istilah lain: lepaq weq, harafiahnya berarti tampar badan, arti sesungguhnya adalah saling tampar, atau juga olaq weq, yang berarti saling maki.

Yang bisa terlihat di sini adalah bahwa berkelahi dalam konsep bahasa Kedang (rebut badan) atau saling berebut, sesungguhnya terpisahkan dari masalah perebutan-perebutan yang lain. Perebutan tanah, misalnya (awe auq), itu terpisah dari atau tidak harus berujung dan bereskalasi pada awe weq (berebut badan yang sama artinya dengan berkelahi).

Seperti masyarakat adat budaya lainnya, masyarakat budaya Kedang juga memiliki perangkat-perangkat budaya yang utuh dan komplit, untuk menghadapi berbagai persoalan dalam hidup bersama, agar tidak berujung pada adu fisik dan kekerasan. Ada berbagai peraturan adat menyangkut tanah, harta benda, hubungan kawin mawin, keluarga. Juga ada peraturan adat yang dijalankan ketika ada orang yang sakit, atau bermasalah dengan orang lain (mengganggu anak gadis, atau isteri orang) dan sebagainya. Perangkat-perangkat aturan adat inilah yang menjaga agar berbagai macam perebutan itu tetap pada ranah masalahnya (ad rem) dan tidak sampai pada awe weq atau menggerogoti ranah badan (ad personam), atau saling mengganggu. Sayang sekali bahwa perangkat-perangkat yang tadinya merupakan satu kelengkapan yang utuh, akhirnya terfragmentasi menjadi terkeping-keping oleh teknologi dan modernisasi.

Selain itu yang perlu diperhatikan juga oleh para penutur bahasa Kedang bahwa, perebutan-perebutan dalam konteks apa pun, juga dalam masyarakat yang serba canggih sekarang ini, entah perebutan kekuasaan, perebutan kursi, perebutan lowongan kerja, perebutan pangkat, perebutan pasar, atau perebutan uang, tidak harus berujung pada perebutan badan, awe weq. Dalam hal ini bahasa Kedang mengandaikan adanya identifikasi dan lokalisasi masalah. Masalah tanah hendaknya tetap menjadi masalah tanah dan tidak mengganggu relasi badan (personam); begitu juga masalah politik, harus dilokalisasikan dalam dunia politik dan tidak dicampur adukkan dengan hubungan pribadi. Relasi pribadi, persona, harus menjadi jembatan abadi, ketika jembatan-jembatan relasi lainnya bermasalah. Jika masalah di jembatan-jembatan relasi lainnya mengganggu jembatan relasi pribadi, maka kehancuran akan tiba dan awe weq (perkelahian) pun akan terjadi. Ketika awe weq (perkelahian) terjadi maka seluruh relasi berantakan, karena jembatan abadi sudah dihancurkan, dan tidak ada lagi relasi apa pun.

Maka pesan tersirat bahasa Kedang dalam konteks awe weq adalah bahwa relasi pribadi hendaknya tidak diganggu gugat, ketika ada relasi lain yang terganggu. Biarlah soal tanah menjadi soal tanah, soal politik tetap di ranah politik, soal agama tetap di domain agama, dan tidak harus mengakibatkan perkelahian, adu fisik, yang menggerogoti relasi pribadi.

Ini sangat terasa juga dalam pantun-pantun klasik yang populer di Kedang (hampir semua orang Kedang hafal). Yang menarik adalah bahwa pantun-pantun yang bernuansa cinta muda-mudi, sebenarnya tidak banyak. Kalau toh ada, itu baru muncul dalam perkembangan kemudian. Yang lebih banyak adalah pantun-pantun “roho auq weq” pantun persaudaraan, kerukunan, kerinduan untuk berjumpa.

Misalnya: Uyelewun kayak tene.  Dorong dopeq ote ne ne. Kara oneq pana pana weq ne. Dua bait pertama adalah sampiran, dan baris ketiga adalah isinya yang diulang dua kali. Artinya: Jangan saling marahan dan dendam.

Biasanya pantun ini ada pasangannya:

Ular naga arabora. Ahin tutuq kara doraq. Pan mo ebeng bale bale boraq. Artinya pada bait ketiga: Kalau pergi jauh, jangan lupa pulang menengok saudara di kampung halaman.

Pasangan pantun lainnya dengan refrain lagu berbeda:

Bako koli kolor sorong udeq kolor udeq toang, puaq tara doa-doa. Isinya pada bait terakhir: Ada rasa sesal dan rindu karena harus tinggal berjauhan.

Pasangannya:

Ue ubar mal tangen kiri papa rokaq req, nape tena tui weq. Isinya pada bait terakhir: Aduh, kapan kita bisa saling jumpa.

Contoh pasangan pantun lainnya, dengan refrain yang juga berbeda, dan lebih singkat.

Lingir laong weren, tema tore wetaq dereng. Kerinduan untuk tinggal berdekatan

Eor apiq uman, tema tore iwar lumar. Kerinduan untuk memiliki ladang bersama (iwar).

Perlu dicatat juga bahwa dalam bahasa Kedang amarah murka, yang berlebihan yang berubah menjadi amukan, biasanya merupakan pertanda orang sudah kehilangan daya nalar dan akal sehatnya dan menjadi bodoh. Maka berkelahi, awe weq, adu fisik adalah akibat dari ketidak-mampuan untuk berpikir lagi, alias jadi bodoh. Terkait dengan itu, orang Kedang punya istilah “bukeq bekeq”. Baca juga artikel “Bukeq Bekeq”di blog ini.

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI, 1438 H

Manusia adalah penguasa atas makanan dan minuman, bukan sebaliknya
Manusia adalah penguasa atas hawa nafsu, bukan sebaliknya
Manusia adalah penguasa atas harta kekayaan, bukan sebaliknya
Manusia adalah penguasa atas rasa dendam dan amarah, bukan sebaliknya
Manusia adalah penguasa atas nafsu kekuasaan, bukan sebaliknya.
Manusia adalah penguasa atas rasa iri dan dengki, bukan sebaliknya
Bulan Ramadhan membuktikannya.

Mari merayakannya dalam Hari Kemenangan.
Selamat Hari Raya Lebaran, 1438 H. Mari saling Memaafkan.