OM TELOLET NATAL OM

Saat ini “om telolet om” menjadi viral di dunia media sosial, sampai-sampai pemusik dunia, serta pesepak bola sekelas Ronaldo atau Michael Ballack, ikut-ikutan terserang demam telolet. Banyak orang tidak mengerti dan bertanya: “apa itu?” Setelah dijelaskan, muncul pertanyaan lagi, “apanya yang menyenangkan?” Tetapi nyatanya, kegiatan yang bermula dari keisengan itu memang menyenangkan. Para teloleters itu datang ke pinggir jalan, menunggu bus antar kota lewat, lalu meminta sang sopir membunyikan klakson dengan berteriak “om telolet om”, … lalu sang sopir dengan senang hati membunyikan klaksonnya yang bersuara khas “telolet…”, dan … semua senang bersorak gembira. Begitu sederhananya. Itu artinya orang mau senang, ya senang, walaupun dalam kondisi yang tidak bisa dipahami sebagai menyenangkan. Orang bisa secara kreatif membuat hatinya senang, dan membuat kondisi yang biasa-biasa, bahkan tidak dimengerti sebagai menyenangkan, pada akhirnya menjadi menyenangkan.

Om Telolet Natal Om

Om Telolet Natal Om

Mungkin ada orang lain yang bisa saja tak mengerti mengapa kegiatan itu mengasyikkan, tetapi kenyataannya, memang mengasyikkan. Mengapa itu mengasyikkan? Kita bisa bertanya, dan orang yang merasa mengasyikkan itu bisa menjelaskan, tetapi penjelasan itu terasa hanya untuk memuaskan si penjelas, dan tidak membuat orang yang mendengarkannya akhirnya merasa jelas, apa lagi menyepakatinya. Terutama lagi kalau si pendengar sudah memasang tameng atau kuda-kuda ketidak-sukaan, maka semakin dijelaskan, tingkat gagal paham si pendengar semakin meningkat.

Keasyikan itu adalah sesuatu yang privat tidak bisa diajak masuk dunia publik. Sama halnya soal selera, orang Latin mengatakan de gustibus non est disputandum (soal selera itu tidak bisa didiskusikan). Anda tidak bisa mengatakan bahwa orang yang mengatakan buah duren itu tidak enak sebagai salah dan bodoh. Soal keyakinan tidak bisa dimasukkan dalam wilayah dikotomis (Baca artikel “Dikotomi dan Orang-Orangan” di blog ini)

Itu baru soal privat yang menyangkut selera. Belum lagi soal privat yang menyangkut keyakinan. Keyakinan juga adalah wilayah privat yang sulit dipahami di dunia publik. Maka penjelasan-penjelasan tentang keyakinan mungkin tidak bisa diterima oleh pihak yang tidak yakin. Tetapi tidak yakin tidak sama dengan salah. Persoalan di sini adalah tidak adanya bukti-bukti terukur untuk mengatakan bahwa suatu keyakinan itu benar atau salah. Maka mengharapkan bahwa penjelasan-penjelasan mengenai keyakinan itu bisa diterima semua pihak adalah mustahil. Sikap bersikukuh untuk menyalahkan keyakinan seseorang hanya akan menimbulkan kegemasan yang menumpuk dan pada gilirannya berakumulasi menjadi kejengkelan dan kebencian yang justru semakin menambah tingkat gagal paham.

Penjelasan tentang Natal pun mungkin sulit disampaikan secara tuntas, karena tradisi perayaan Natal yang sudah begitu panjang. Tetapi yang tak pernah lepas dari tradisi panjang ini adalah bahwa Natal merupakan selebrasi damai, kasih, sukacita. Selamat berbagi damai, kasih dan sukacita. “Om Telolet Natal Om”, Damai, Damai, Damailah Senantiasa, huaaahaaa.  “Om Telolet Natal Om” Jingle Bell, Jingle Bell, …. Huahahaha. Selamat Natal 2016.

Benyamin Molan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s