DIKOTOMI DAN ORANG-ORANGAN

Kalau bukan kawan artinya lawan, bukan hitam berarti putih, bukan perempuan berarti laki. Bukan panas berarti dingin. Cinta atau benci. Pintar atau Bodoh. Rajin atau Malas. Baik atau jahat. Seiman atau tak seiman. Hidup atau mati. Kami atau kamu. Kita atau mereka. Orang beriman atau kafir. Pria atau wanita. Jantan atau betina. Timur atau Barat, Modern atau tradisional.

Sering cara berpikir ini sengaja dibangun untuk menciptakan efek-efek tertentu sesuai dengan tujuan-tujuan (politis?) tertentu. Ketika ada diskursus dahulu tentang rancangan undang-undang anti pornografi, kaum dikotomis selalu mengandaikan bahwa pihak yang menentang undang-undang pornografi adalah pendukung pornografi. Padahal kedua belah pihak sama-sama menolak pornografi.

Dikotomi itu sengaja dibangun dengan membentuk kubu yang semu. Pandangan yang berseteru sesungguhnya adalah antara pendukung RUU Anti-Pornografi dan penentang RUU Anti-Pornografi. Dan kedua kelompok yang berseteru ini sesungguhnya sama-sama menentang pornografi. Tetapi oleh para dikotomis, kondisi ini dipelintir menjadi perseteruan antara pihak yang mendukung pornografi dan pihak yang menolak pornografi. Persoalannya bukan pada menolak pornografi atau mendukung pornografi, melainkan pada mendukung atau menolak rancangan undang-undang anti pornografi.

Kedua kubu sesungguhnya menolak pornografi, dan bertekad memerangi pornografi. Masalahnya adalah apakah pornografi bisa diperangi dengan cara menetapkan sebuah undang-undang? Pornografi itu sesuatu yang subyektif dan berada di wilayah privat, bagaimana bisa dipatok secara obyektif di wilayah publik? Tentu saja ada obyek atau sikap dan perilaku tertentu yang bisa berefek porno pada seseorang, tetapi bagi orang lain tertentu, efek itu tidak terasa. Pakaian minim di Jakarta mungkin berefek porno, tetapi tidak demikian untuk masyarakat tribal di wilayah-wilayah pedalaman Indonesia. Pornografi juga sering diasosiasikan dengan pakaian minim, padahal ada juga pria yang malah bisa berfantasi ria di angan-angan pornografis ketika berhadapan dengan wanita yang berpakaian lengkap dan tertutup.

Pola serupa muncul lagi ketika ada diskursus tentang hukuman mati bagi para terpidana narkoba. Ada pihak yang setuju dengan hukuman mati ada yang menentang hukuman mati. Cara berpikir dikotomis pun dibangun dengan cara menganggap para penentang hukuman mati sebagai pendukung narkoba. Padahal kedua pihak sama-sama anti narkoba, hanya saja yang satu menunjukkannya dengan memberlakukan hukuman mati, yang lainnya bukan dengan hukuman mati.

Salah satu model aplikatif dari dikotomi ini lazim dikenal sebagai the straw man. Istilah ini lazim diterjemahkan sebagai kesesatan orang-orangan atau manusia jerami. Subyek yang menjadi sasaran tembak sering dijadikan semacam orang-orangan, supaya kemudian mudah untuk dibidik dan ditembaki. Trik ini sering digunakan oleh para provokator dan kaum demagog. Karena itu, domain yang paling laris bagi model ini adalah saat pemilu, pilpres atau pilkada; saat di mana ada kompetisi antara dua atau lebih kubu untuk memperebutkan sebuah kedudukan. Suasana lalu menjadi lebih hangat, dan upaya dukung mendukung bisa menciptakan perkubuan yang sering tidak mudah cair, bahkan setelah pemilu, pilpres atau pilkada lama berlalu.

Dalam suasana yang cenderung menghangat itu, sebuah tuturan yang mungkin pada saat diucapkan tidak dipermasalahkan, bisa saja kemudian ditampilkan menjadi argumentasi semu yang membuat pikiran sehat menjadi terselubung oleh emosi yang terus digosok. Caranya adalah dengan menjadikan penuturnya sebagai the straw man. Dan trik the straw man ini akan efektif bila dilakukan oleh provokator, dengan berbagai cara. Misalnya dengan menghasut dan mengkompori, membuat rasionalisasi semu, atau bujukan rayuan dan sogokan.

Sebuah tuturan atau perilaku yang tidak menimbulkan kemarahan atau meninggikan tensi emosi dan suasana hati audiens, sesungguhnya telah mencair bersama dengan konteks tuturan. Suasananya kemudian akan berubah ketika ada provokator yang merangsang dan menggosok emosi audiensnya agar menjadi emosional. Dengan demikian emosi itu tidak ditimbulkan oleh tuturannya melainkan oleh sang komporer. Konteks tuturan tidak lagi menjadi perhatian; yang dijadikan acuan adalah teks tertentu, yang kemudian diberi aksen. Pantas kalau dikatakan bahwa berhadapan dengan orang yang dibenci atau tidak disukai selalu bisa saja ditemukan alasan untuk membenci dan membully. Lebih parah lagi adalah bahwa orang yang tidak disukai hanya karena alasan etnis, agama, golongan atau kubu, tetap tidak akan disukai walaupun sudah banyak hal baik yang dilakukannya; ada semacam kebencian eksistensial.

Dan sebaik-baiknya orang, pasti ada sisi buruknya. Karena itulah budaya manusia menghadirkan mekanisme untuk menghadapi kelemahan ini, dengan permohonan dan pemberian maaf atau saling memaafkan. Nah, si pembenci hanya akan melihat sisi buruknya saja. Dan sisi buruk inilah yang akan ditampilkan (framing) sebagai orang-orangan (the straw man) di tempat yang strategis, agar jelas teramati dan mudah untuk dibidik dan ditembaki.

Sesungguhnya tidak ada dikotomi murni dalam diri manusia. Karena identititas manusia tidak bisa dieksklusifikasi menjadi dikotomis. Dikotomi orang beriman dan orang kafir, akan kehilangan batasnya dalam dikotomi etnis (Jawa dan nonJawa, misalnya),  karena dalam etnis Jawa ada juga orang yang dianggap beriman dan yang dianggap kafir), yang pada gilirannya juga akan kehilangan batasnya karena terlintas oleh dikotomi  pria dan wanita, dan seterusnya. Maka dalam masyarakat yang sehat perlu dipupuk terus kondisi anti-dikotomi yang secara serta merta akan mencairkan suasana ketika ada ketegangan dikotomis antara satu kelompok dan kelompok lainnya.

Kondisi dikotomis itu tidak akan bisa bertumbuh dengan sendirinya secara kodrati dan alamiah kalau tidak direkayasa. Rekayasa itu manipulatif; ada pihak yang memanipulasi dan ada pihak yang dimanipulasi, ada pihak yang memperalat dan ada yang diperalat. Di sana tidak ada kesetaraan sebagai manusia. Pada hal politik, menurut Hannah Arendt, adalah tindakan manusia yang paling tinggi di mana orang bertindak dalam kebersamaan (in concerto). Di sini ada transaksi argumentasi yang menuntut kesetaraan. Transaksi argumentasi akan menjadi fair kalau dilakukan dalam kesetaraan. Di sinilah kualitas sebuah argumentasi bisa teruji secara autentik tanpa tekanan atau sanjungan manipulatif. Argumentasi dikotomis atau argmentasi ala the straw man pasti bukan argumentasi yang bermutu untuk ditransaksikan dalam politik.

Benyamin Molan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s