“TERIMA-KASIH” DALAM BAHASA KEDANG

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan oleh para pemerhati bahasa Kedang adalah: apa istilah “terima-kasih” dalam bahasa Kedang. Bahkan ada yang mengatakan bahwa dalam Bahasa Kedang, istilah terima kasih itu tidak ada. Berarti orang Kedang tidak tahu terima-kasih. Ini kesimpulan yang menyesatkan. Kata terima-kasih sebenarnya berarti saya menerima dan mengakui kasihmu, kebaikanmu, perhatianmu, dan semua jasa dan pengorbanan yang kau lakukan untukku dengan kebesaran hati.

Dalam bahasa Kedang istilah “terima kasih” atau kerennya “thanks” memang tidak ada. Tetapi itu tidak secara niscaya berarti ekspresi terima kasih juga tidak ada pada orang Kedang. Orang Kedang mengekspresikan terima kasihnya dalam bahasa yang lebih bersifat naratif.  Berarti terima kasih dalam bahasa Kedang tidak disampaikan dengan istilah melainkan dengan narasi.  Ketika orang datang mengunjungi keluarga saya, misalnya, dan membawa sesuatu sebagai buah tangan (jarang orang pergi mengunjungi orang  atau keluarga lain dan tidak membawa buah tangan), biasanya yang diucapkan oleh ibu saya adalah kira-kira seperti ini: “Eroq e, o meq ape ta noq wa… ma piloq e kohaq di paq meq nore ape-ape heneq, dst.  (Sayang e, apa nih yang dibawa … datang kunjungi kami koq mesti bawa-bawa segala, dst). Dan ketika pulang pun si kerabat yang datang berkunjung itu akan juga diberi buah tangan untuk dibawa pulang. Narasi yang terdengar adalah kira-kira seperti ini “eroq e, keq ape-ape beq tokong ne, meq mo hengan nore iqa turin hara ite noq” dst. (sayang e, kami tak punya apa-apa, ini ada sedikit jagung titi dan ikan kering, mohon dibawa ya, dst). Inilah bahasa ekspresif orang Kedang untuk menyatakan terima kasih, bukan dalam rumusan istilah yang sudah pakem, eksak, dan mati, melainkan dalam bentuk narasi yang hidup, komunikatif, tulus, dan datang dari hati. Sekarang, karena pengaruh yang ditimbulkan oleh bahasa Indonesia, orang Kedang mulai terbiasa mengucapkan kata terima kasih, tetapi tetap dalam formula bahasa Indonesia yang sudah dipolesi dengan nuansa Kedang sehingga menjadi “tarimaq kasih e, rai-rai” (terima kasih ya, banyak-banyak).

Dalam dunia pergaulan modern pun budaya komunikasi ekspresif naratif itu sudah mulai kurang mendapat perhatian. Orang mulai terasuk oleh budaya yang serba instan, praktis, dan pragmatis. Anak-anak tidak lagi diajarkan untuk berterima kasih dalam bentuk narasi, tetapi dalam bentuk  istilah yang lebih singkat, sederhana, dan barangkali lebih enteng. Ketika anak diberi sesuatu, permen atau kue, dari seseorang, ibunya akan mengajarkan anaknya untuk mengucapkan “terima kasih”. Seorang Ibu Kedang akan mengatakan pada anaknya: “Teheq tele terima kasih” (Bilang terima kasih); lebih praktis memang, daripada harus mengajarkan anak bernarasi. Bahkan lebih singkat dan praktis lagi ketika diucapkan dalam  bahasa Inggris, “thanks”. Suatu saat ibu Kedang akan, atau mungkin sudah, mengajarkan anaknya, ketika diberi sesuatu oleh orang lain, “teheq tele, thanks”.

Bahasa tidak hanya mengekspresikan budaya tetapi juga menciptakan dan membentuk budaya. Maka bahasa juga mengindikasikan sekaligus juga membentuk perilaku, cara berpikir, sikap hidup, mental, budaya, peradaban dan lain-lain. Ketika pertama kali tiba di Yogyakarta, saya merasa aneh, ketika menawar becak, dan tukang becak bertanya “Orang berapa?” Bukankah bahasa Indonesia yang benar itu “berapa orang” (yang akan menumpangi becak saya)? Baru saya ingat bahwa dalam bahasa Kedang dan, setahu saya, dalam bahasa Lamaholot (bertetangga dengan bahasa Kedang) pun, ada struktur yang sama: Orang berapa (Bahasa Jawanya: wong piro; Kedangnya: ate pie? Lamaholotnya, ata pira?). Struktur bahasa ini memberi kesan bahwa orang, lebih ditekankan di sini, daripada berapa. Orang menjadi perhatian utama, bukan berapa.

Walaupun belum ada penelitian yang pasti tetapi ada kesan bahwa penutur bahasa Kedang mulai menyusut, tidak hanya dalam soal kuantitas (semakin banyak eksodus), tetapi juga dalam hal kualitas (dipengaruhi oleh bahasa lain). Tidak heran bahwa para penutur muda dari Kedang, kurang berbahasa Kedang dengan baik. Pernah salah satu anak muda dari generasi ini,  saat baru tiba di rumah (di Jakarta), saya tawari makan dalam bahasa Kedang, “ka min” (ayo, makan); dan karena sudah makan, dia menjawab “ka min deq ku”.  Saya terkejut. Bahasanya kacau. Seharusnya jawabannya ‘a ‘in deq ku (saya sudah makan), atau kalau “kami sudah makan” ka min deq ke. (bukan ka min dek ku), atau kalau mereka sudah makan “a sin deq ya”, atau dia sudah makan, “ka nin deq ne”. Apakah engkau sudah makan “ka min deq ko?”. Kalimat Ka min deq ku adalah kalimat yang salah dari gabungan dua kalimat yang benar. Dua kalimat yang benar adalah: ka min deq ke  dan ‘a ‘in deq ku, menjadi satu yang salah yakni: ka min deq ku. Sayangnya, bahwa hal yang salah ini sering berpotensi untuk kemudian menjadi kebiasaan lalu dianggap wajar dan selanjutnya serta merta menjadi benar.

Ini sering terjadi pada Bahasa Indonesia. Dulu orang menganggap aneh kalau ada yang mengatakatan “Jawabanmu sangat tepat sekali”. Tetapi sekarang uangkapan itu sudah menjadi biasa. Atau kalimat “Di Indonesia memiliki aneka ragam budaya” dulu dianggap aneh karena salah (kata depannya mengacaukan), tetapi sekarang sudah dianggap biasa. Kalimat yang salah ini sesungguhnya berasal dari dua kalimat yang benar, lalu dijadikan satu kalimat yang salah. Kalimat benar pertama: “Di Indonesia terdapat beraneka ragam budaya”. Kalimat benar kedua: “Indonesia memiliki beraneka ragam budaya”. Dua kalimat ini dijadikan satu kalimat yang salah. Dari kalimat pertama diambil “Di Indonesia”, dan dari kalimat kedua diambil “memiliki beraneka ragam budaya”. Jadilah kalimat baru yang salah: “Di Indonesia memiliki beraneka ragam budaya”.

Untuk mencegah punahnya bahasa Kedang karena merosotnya penuturnya, perlu ada pelestarian yang dikembangkan secara sadar dan sengaja. Penuturan bahasa Kedang perlu lebih diintensifkan. Grup-grup bahasa Kedang dalam WA, BBM, FB, Twitter dan sebagainya perlu dilestarikan dan dikembangkan terus. Mudah-mudahan dengan bantuan teknologi ini, bahasa Kedang tetap lestari di lidah para punya penuturnya. Orang Kedang perlu bersyukur bahwa ada peneliti yang sudah mengabadikan beberapa aspek budaya dan bahasa Kedang. Nama-nama seperti van Trier, Rober H. Barnes, dan Ursula Samely, sudah tidak asing lagi di kuping orang Kedang. Siapa menyusul?

One thought on ““TERIMA-KASIH” DALAM BAHASA KEDANG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s