TAHU DAN MELAKUKAN YANG BAIK.

Sokrates, filsuf besar Yunani kuno yang tidak meninggalkan karya tulis ini, sempat  membuat orang berpikir bahwa dia sesungguhnya buta huruf. Sokrates dikatakan tidak percaya pada bacaan dan tulisan, karena tulisan-tulisan itu tidak bisa diajak berdialog, dan dimintai penjelasan. Bacaan dan tulisan bahkan dianggap melemahkan kemampuan mental orang dan menghalangi komunikasi, yang menuntut adanya percakapan. (Baca Intelekturlaisme Politis dalam blog ini). Hanya dalam dialog itulah orang bisa sampai pada pengetahuan tentang yang baik dan melakukannya. Karena pengetahuan sejati adalah pengetahuan tentang kebaikan.

Ini ponsel, apa kata Sokrates? (Lokasi Bukit Doa Lewoleba)

Ini ponsel, apa kata Sokrates? (Lokas: Bukit Doa Lewoleba/Lembata)

Menurut Sokrates tidak masuk akal bahwa orang yang mengetahui tentang yang baik, tidak melakukannya. Maka orang yang berpengetahuan adalah orang baik. Orang jahat adalah orang yang tidak berpengetahuan. Karena itu konsepnya tentang pengetahuan, sering disebut intelektualisme etis. Sesungguhnya pengetahuan itu memang selalu etis. Pengetahuan menurut dia, terintegrasi dengan kemanusiaan. Makhluk lain tidak punya pengetahuan. Dan pengetahuan selalu terintegrasi dengan yang baik.

Orang bodoh (tidak selalu yang buta huruf atau tidak sekolah) adalah orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang yang baik. Tanda orang berpengetahuan, bukan pada kemampuannya untuk membaca, memecahkan rumus-rumus, atau menguasai teori ilmu pengetahuan, melainkan bertindak baik. Dengan kata lain orang yang berpengetahuan adalah orang yang bertindak baik. Bagi dia pengetahuan bukan hanya mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, melainkan juga dimahkotai oleh aspek etis. Bagi Sokrates pengetahuan dan etika tidak bisa dipisahkan. Pemisahan akan membuat seseorang tidak bisa lagi disebut manusia. Kemanusiaan orang tersebut menjadi cacat karena telah bertindak tidak etis.

Bertanya

Pengetahuan tentang yang baik itu didapatkan dari dialog interaktif, dengan memanfaatkan metode-metode yang menggunakan pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban yang kembali melahirkan pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban baru. Dan kalau pengetahuan itu selalu baik, maka kebaikan hanya bisa didapatkan dalam dan melalui interaksi dengan orang lain. Hal yang yang baik, luhur, dan mulia itu selalu didapatkan dan diimplementasikan dalam interaksi dengan orang lain. Itu berarti pendidikan harus interaktif. Dalam interaksi dan dialog dengan orang lain itulah, pikiran dan kepribadian seseorang bisa berkembang. Dengan demikian pembelajaran dalam kondisi interaktif dengan bertanya dan berdialog, membuat orang tidak hanya mendapatkan ilmu pengetahuan baru melainkan juga belajar untuk bersosialisasi dengan orang lain. Sekali lagi, di sini tidak hanya terjadi pembelajaran di bidang kognitif, melainkan juga afektif dan psikomotorik.

Selain itu, biasanya alasan orang bertanya adalah karena tidak tahu. Dengan bertanya orang bisa mendapatkan pengetahuan untuk dieksekusi. Ini bisa dianalogikan dengan seorang yang tersesat, menanyakan arah dan jalur yang benar, malah mengikuti jalur yang salah. Ini berarti orang ini belum tahu, dan karenanya melakukan kesalahan. Semakin seseorang belajar, seharusnya semakin dia berpengetahuan. Semakin berpengetahuan, semakin dia melakukan yang baik, karena pengetahuan tertinggi adalah pengetahuan tentang yang baik.

Konklusi yang bisa ditarik adalah bahwa orang yang melakukan hal yang tidak baik itu sesungguhnya tidak berpengetahuan. Para koruptor, penjegal, pembegal, maling, perampok, perompak, penipu, perusuh, provokator, pembohong, teroris, adalah orang-orang bodoh, yang tidak punya pengetahuan tentang yang baik dan karena itu tidak melakukannya. Sesungguhnya mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.  Mereka perlu lebih banyak belajar, lebih banyak bertanya, berdialog, berinteraksi dengan orang lain dan belajar tentang yang baik. Karena itu orang tidak bisa disebut baik kalau dia mundur dari interaksi, atau secara pasif sibuk dengan dirinya sendiri, dan tidak bertanya lagi.

Orang yang baik adalah orang yang berpengetahuan. Dan orang yang berpengetahuan itu bukan orang yang membuat banyak pernyataan melainkan yang banyak membuat pertanyaan. Isidor I. Rabi, pemenang hadiah Nobel dalam ilmu fisika, pernah bercerita bahwa tiap hari sepulang sekolah, ibunya selalu bertanya kepadanya mengenai peristiwa di sekolahnya. Sang ibu tidak terlalu tertarik pada apa yang telah dipelajari anaknya hari itu, tetapi lebih tertarik pada mutu pertanyaan yang diajukan anaknya.  Apakah sang anak memberi pertanyaan yang bagus di sekolah? Erick Jensen dalam bukunya Deeper Learnig, mengatakan  “Question keep brain more focused than statements” Pertanyaan membuat otak lebih fokus daripada pernyataan (Erick Jensen, LeAnn Nickelsen, Deeper Learning, hal. 2710.). Bahkan Filsafat itu lebih merupakan ilmu untuk bertanya daripada ilmu untuk menjawab. Menjawab adalah tugas ilmuwan positif (Magnis Suseno).

Jabatan dan martabat

Orang yang memiliki jabatan sesungguhnya adalah orang yang mempunyai martabat. Tetapi banyak pemilik jabatan yang sudah kehilangan martabat. Keterpisahan antara jabatan dan martabat sebenarnya mencerminkan keterpisahan antara pengetahuan dan kebaikan .  Orang yang diberi jabatan seharusnya adalah orang yang memiliki pengetahuan. Dan kalau konsep Sokrates ini berlaku maka orang yang punya jabatan itu mestinya melakukan yang baik. Dan pejabat yang melakukan yang baik adalah pejabat yang bermartabat. Tetapi sering kita ketahui banyak pejabat sudah tidak lagi punya martabat.  Bahkan ironis sekali bahwa sering kali orang yang tadinya bermartabat, kehilangan martabatnya ketika mendapatkan jabatan.  Dan pada akhirnya, setelah terendus KPK, jabatan pun hilang menyusuli martabatnya.

Bagi seorang pejabat, memiliki jabatan itu pasti, tetapi menjadi bermartabat itu pilihan. Maka yang harus dikejar itu bukan jabatannya melainkan martabatnya. Ketika pejabat ingin bermartabat, dia harus punya pengetahuan  tentang yang baik. Pejabat yang hanya mengumbar pangkat dan mengabaikan martabat adalah orang bodoh, orang yang sesungguhnya tidak berpengetahuan.  Karena orang yang berpengetahuan itu melakukan yang baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s