LEMBATA MENJELANG PEMILUKADA

Mendayung sampan perlu keterampilan, mendayung Lembata perlu keterpanggilan

Mendayung sampan perlu keterampilan, mendayung Lembata perlu keterpanggilan

Tahun ini saya beruntung mendapatkan kesempatan mudik alias pulang kampung. Ini merupakan  pengalaman refreshing paling total setelah bertahun-tahun bergulat dengan kebisingan dan hingar bingar kota Jakarta. Kebetulan saat indah ini saya dapatkan, bertepatan dengan berkeriapnya kabupaten Lembata menjelangi pemilukada. Tampak ada beberapa spanduk yang telah terpancang, entah dari balon bupati yang sudah resmi diusung partai politik, balon yang masih mencari-cari jalur dan kendaraan politik, balon yang menyatakan diri maju melalui jalur independen, atau juga balon wakil bupati yang belum dilamar oleh bakal calon bupati mana pun. Semuanya indah-indah saja, kalau tujuannya juga luhur dan elok yakni membangun Lembata dan mensejahterakan rakyatnya.

Seperti biasa dalam pemilukada, orang akan menempuh berbagai cara yang dianggap halal (kadang-kadang tidak halal), untuk mencapai kesuksesan. Yang pertama adalah adu argumentasi (program) dan yang kedua adalah adu kepantasan (persona). Tentu saja kedua cara ini akan sah-sah saja kalau dilancarkan secara bertanggung jawab, dengan data-data yang valid, tidak mengada-ada, dan bebas dari berbagai bentuk fitnah.

Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang mulus dalam kedua jalur ini. Pemimpin itu harus memiliki program-program yang mensejahterakan rakyat, dan sekaligus merupakan pribadi yang pantas menjadi pemimpin. Dalam hal ini, para balon perlu menilai apa yang sesungguhnya merupakan kecenderungan rakyat Lembata. Apakah mereka lebih mengindahkan program-program atau lebih menuntut kepantasan. Tentu saja tim sukses masing-masing balon sudah membuat penelitian agar bisa bergerak ke arah yang tepat.

Petahana

Pemilukada Lembata kali ini masih memberi kesempatan kepada petahana untuk kembali mencalonkan dirinya. Seperti pada umumnya disadari, posisi petahana akan sangat ditentukan oleh sepak terjangnya pada periode sebelumnya. Kalau selama masa jabatannya, dia berhasil merebut hati rakyat dengan hasil-hasil pembangunan yang nyata, maka posisi petahana akan sangat kuat. Tetapi kalau petahana ternyata tidak berkenan di hati rakyat, maka akan dengan mudah disingkirkan secara konstitusional melalui pemilukada.

Sasaran bidikan para penantang petahana yang sukses merebut hati rakyat dengan program-programnya yang sudah terlaksana, adalah pada aspek kepantasan atau kepatutan. Ketika dia melanggar kepantasan dan kepatutan maka dia akan disingkirkan dengan mudah oleh konstitusi. Karenanya menyerang petahana yang sudah berkenan di hati rakyat sering dilakukan dengan menyingkirkannya secara konstitusional yakni menunjukkan dan membuktikan ketidak-pantasannya. Tetapi perlu diingat bahwa kesimpulan konversifnya juga seringkali bisa menjadi bumerang ketika dikatakan bahwa petahana yang dibombardir terus dengan masalah-masalah kepantasan, sebenarnya adalah petahana yang kuat dalam program-programnya. Dengan kata lain, karena program-program petahan tidak bisa ditandingi, maka para lawan politik akan beralih ke soal kepantasan.

Petahana yang kuat dalam program dan pelaksanaan program, akan sulit dilawan dengan program dan hasil kerjanya. Seberapa bagusnya program-program penantang, program-program tersebut masih tetap berbentuk penawaran, kecuali kalau para penantang itu sudah melakukan sesuatu untuk rakyat. Tawaran-tawaran program itu harus benar-benar meyakinkan hati rakyat dan mengalihkan perhatian mereka dari apa yang sudah dilakukan petahana. Jika tidak maka para penantang akan frustrasi dan mengalihkan perhatiannya lebih ke aspek kepantasan.

Lagi pula ada kecenderungan pada calon yang tidak memiliki program-program yang benar-benar memenangkan hati rakyat, untuk lebih berkonsentrasi pada aspek kepantasan, yang bila tak dikontrol, akan berubah menjadi tindakan-tindakan yang kurang berkenan seperti upaya jegal menjegal. Dalam hal ini kesimpulan konversif bisa juga diefektifkan dengan mengatakan bahwa calon yang suka jegal menjegal sebernarnya tidak memiliki program-program yang bisa diandalkan untuk merebut hati pemilih.

Perlu disadari juga bahwa ketika mempersoalkan kepantasan, para penantang juga harus sudah benar-benar teruji soal kepantasannya. Apalagi kalau gugatan terhadap kepantasan itu ternyata keliru. Kondisi ini akan sangat menguntungkan petahana.

Penantang

Posisi penantang pada pemilukada ini harus benar-benar kuat, terutama kalau terdapat lebih dari satu penantang. Setiap penantang harus cukup bertenaga untuk mengatasi persaingannya dengan petahana, sekaligus persaingannya dengan sesama penantangnya. Pertanyaan yang patut diajukan adalah apakah para penantang sudah cukup diandalkan untuk menghadapi dua tantangan tersebut?

Penantang yang ingin mengandalkan kekuatannya pada program, perlu membuat programnya benar-benar memiliki tingkat probabilitas kesuksesan yang yang tinggi;  bahwa program-program itu realistis dan sesuai dengan akal sehat. Jika tidak maka para penantang hanya akan beralih dan mengandalkan cara kedua yakni kepantasan. Seperti sudah dikatakan, penantang yang tidak memiliki program-program yang bisa merebut hati rakyat akan cenderung mengandalkan aspek kepantasan.

Masalahnya apakah rakyat benar-benar peduli pada soal kepantasan, terutama kalau kepantasan yang dipersoalkan itu tidak didukung oleh bukti-bukti yang kuat, lepas dari soal benar atau salahnya, karena yang diuji di sini adalah kepantasan publik, sementara kepantasan privat dikembalikan kepada suara hati masing-masing. Dalam wilayah privat ini, yang bisa dilakukan adalah seruan profetis pertobatan, agar yang bersangkutan secara bebas mengambil sikap sendiri. Kalau merasa tak pantas, silahkan mengundurkan diri. Tetapi sekali lagi ini adalah wilayah privat yang tidak bisa ditembus oleh publik.

Mudah-mudahan pemilukada di Lembata nanti benar-benar menjadi arena transaksi dan adu argumentasi yang menghasilkan pemimpin terbaik dengan program-program bermutu bagi kesejahteraan rayat Lembata. Biarkan rakyat Lembata memilih pemimpinnya; pemimpin yang tidak hanya lolos dalam pengujian publik dengan program-program yang teruji, dan merupakan pribadi yang bersih dari pelanggaran konstitusional, melainkan  juga pemimpin yang mampu menguji diri sendiri secara privat dan etis, serta berkenan di hadapan Tuhan dan manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s