INTELEKTUALISME POLITIS

Polines, punya akar kata yang sama dengan politik: in concerto untuk kebaikan bersama

Polines, punya akar kata yang sama dengan politik: in concerto untuk kebaikan bersama

Ironis sekali bahwa dari seorang Sokrates, filsuf besar Yunani kuno yang dicurigai buta huruf lantaran tidak meninggalkan karya tulis, lahirlah konsep yang sangat berkarakter  tentang pengetahuan. Sokrates dikatakan tidak percaya pada bacaan dan tulisan, karena tulisan-tulisan itu tidak bisa diajak berdialog, dan dimintai penjelasan. Bacaan dan tulisan bahkan dianggap melemahkan kemampuan mental orang dan menghalangi komunikasi, yang menuntut adanya percakapan (Christopher  Peterson, 2013).

Yang jelas pandangan ini menimbulkan inspirasi bahwa pengetahuan itu hanya bisa dikembangkan dalam interaksi dan kebersamaan. Sementara kebersamaan hanya bisa dibangun kalau mengarah kepada kebaikan bersama (bonum commune). Dengan demikian, pengetahuan, kebaikan, dan kebersamaan, tidak bisa dipreteli satu dari yang lain. Tiga hal inilah yang menghantar manusia menuju kebahagiaan (eudaimonia).

Kebaikan adalah suatu keadaan obyektif yang tidak ditentukan oleh kekuasaan apa pun, bahkan para dewa. Kita ingat akan dialog Sokrates dengan Euthypro yang menegaskan bahwa yang baik itu pada dasarnya baik, bukan karena diperintahkan para dewa, melainkan, maka diperintahkan para dewa. Bagi Sokrates, pengetahuan sejati sesungguhnya adalah pengetahuan tentang yang baik. Itulah kebenaran, yang tidak bisa dibendung, bahkan oleh kekuasaan apa pun, termasuk kekuasan ilahi para dewa. Pengadilan dan hukuman mati yang dijatuhkan atas dirinya pun bukanlah hukuman mati atas pengetahuan.

Intelektualisme etis

Menurut Sokrates tidak masuk akal bahwa orang yang mengetahui tentang yang baik, tidak melakukannya. Orang baik sesungguhnya adalah orang yang berpengetahuan. Orang jahat adalah orang yang tidak berpengetahuan. Maka konsepnya mengenai pengetahuan sering disebut intelektualisme etis.

Pengetahuan itu pada dasarnya selalu etis, karena terintegrasi dengan kemanusiaan. Orang bodoh adalah orang yang tidak tahu tentang yang baik. Tanda bahwa orang berpengetahuan adalah bahwa dia bertindak baik. Artinya pengetahuan bukan hanya mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, melainkan juga dimahkotai oleh aspek etis. Bagi Sokrates pengetahuan dan etika tidak bisa dipisahkan. Pemisahan akan membuat seseorang tidak pantas disebut manusia.

Pengetahuan tentang yang baik itu hanya bisa didapatkan dalam dan melalui interaksi dengan orang lain. Nilai-nilai etis yang baik, luhur, dan mulia itu selalu didapatkan dan diimplementasikan dalam interaksi dengan orang lain. Itu berarti pendidikan harus interaktif. Karena itu orang tidak bisa disebut baik kalau dia mundur dari interaksi, atau secara pasif sibuk dengan dirinya sendiri.

Orang yang tidur saja dan tidak melakukan kegiatan apa pun, pasti tidak melakukan kejahatan, tidak membunuh, tidak mencuri; tetapi dia sesungguhnya juga tidak melakukan kebaikan, karena tidak berinteraksi dengan orang lain. Keadilan tidak bisa dijalankan tanpa orang lain. Persoalan keadilan  selesai ketika dunia hanya dihuni satu orang saja (Bertens). Begitu juga kejujuran, kesetiaan, kesabaran, kemurahan hati, kerendahan hati, yang semuanya bermuara pada relasi dan interaksi dengan orang lain.

Intelektualisme Politis

Arti kata politik sesungguhnya merujuk pada konteks polis Yunani kuno. Polis adalah negara kota yang punya kedaulatan dan pemerintahan sendiri. Di situ para anggotanya melakukan kegiatan dalam kebersamaan (politik) untuk mencapai kebaikan bersama (bonum commune). Karena itu politik merupakan tindakan manusia untuk kebaikan bersama. Kebaikan bersama harus menjadi tujuan.

Tidak heran kalau dengan merujuk pada Aristoteles yang mengelompokkan vita activa manusia, sebagai kerja (labor), karya (work) dan tindakan (action), Hannah Arendt menempatkan politik pada tingkatan activitas manusia yang paling tinggi yakni tindakan (action).  Politik tidak bisa menjadi bagian dari aktivitas kerja (labor) karena kerja itu tidak khas manusia; hewan juga bisa bekerja. Politik juga tidak bisa jadi bagian dari aktivitas karya (work), karena karya (work) itu bisa dilakukan oleh manusia dalam kesendirian. Politik justru ditempatkan sebagai vita activa paling tinggi yakni tindakan (action).  Jelas bahwa politik tidak bisa dilakukan oleh hewan, juga tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri dan menghasilkan produk (lemari, meja, kursi, rumah, dsb.). (Baca artikel Hannah Arendt: Mengurai Kekerasan dalam blog ini).

Politik adalah tindakan yang dilakukan dalam kebersamaan (in concerto: Hannah Arendt) untuk mencapai kebaikan bersama.  Intelektualisme politis mengandaikan bahwa orang yang tahu tentang politik pasti akan bertindak politis. Bertindak politis adalah bertindak dalam kebersamaan untuk mencapai kebaikan bersama. Berargumentasi, berdialog, bermusyawarah, adalah cara untuk mencapai kebaikan bersama. Maka dalam politik ada persoalan menyangkut tujuan dan cara. (Hal ini tidak jadi persoalan pada kerja (labor) dan karya (work). Kerbau boleh dipekerjakan tanpa diberi gaji. Tukang boleh memutilasi kayu ketika membuat lemari).

Ada prinsip etis utilitarianisme yang menganggap bahwa suatu perbuatan itu baik kalau tujuan dan hasil perbuatan itu baik (when the act accuses, the result excuses). Kalau caranya salah, hasilnya memaafkan. Politik Machiavellian dianggap sedikit banyak merujuk pada prinsip ini. Di sini tujuan membenarkan cara. Ada juga prinsip deontologis yang berpendapat bahwa baik atau buruknya suatu perbuatan itu tidak tergantung pada tujuan dan hasil melainkan pada perbuatan itu sendiri. Mencuri adalah perbuatan yang secara obyektif buruk dan tidak bisa menjadi baik. Cara yang buruk tidak bisa menjadi baik, karena tujuannya baik.

Politik yang kita alami akhir-akhir ini jauh dari intelektualisme politis; sangat membingungkan karena tidak terjaring dalam prinsip etis apa pun. Yang tampak adalah, entah caranya buruk, tujuannya dan hasilnya juga buruk, atau caranya baik, manis, santun, ramah, religius, konstitusional, tetapi tujuannya buruk. Politik pilkada misalnya, lebih diwarnai oleh upaya untuk menjatuhkan orang daripada upaya untuk mendapatkan pemimpin yang handal demi kebaikan bersama.

Kemenangan yang sehat dalam politik sejati seharusnya ditandai dengan saling berkompetisi dan bukannya saling mengamputasi. Ironis sekali bahwa lembaga-lembaga negara seperti BPK, KPK, KPU pun diincar sebagai sarana untuk menjalankan trik-trik anti-politik. Bahkan  imunitas anggota DPR pun bisa dimanfaatkan untuk menjalankan trik-trik kontra-politik. Politik sepertinya dianggap arena kamuplatif yang menghalalkan segala cara. Karena itu perlu ada gerakan untuk mengembalikan politik pada posisinya sebagai gerakan intelektualisme politis. Generasi berikut harus menjadi generasi intelektualisme politis, yang “tahu” apa artinya politik, dan menjalankannya sebagai tindakan bersama (in concerto) untuk kebaikan bersama.

Benyamin Molan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s