KEYAKINAN YANG MENGUBAH

Keyakinan itu berbeda dari penyimpulan. Penyimpulan mengandaikan langkah-langkah pembuktian yang logis dan runtut, serta menuntut ada hubungan yang jelas dengan premis, yang sifatnya serta merta.  Kesimpulan yang ditarik memiliki hubungan yang bersifat niscaya dengan premis. Artinya kebenaran yang didapatkan dari argumentasi dengan premis dan konklusi itu secara obyektif benar. Sementara keyakinan itu selalu bersifat subyektif. Kebenaran obyektif sering mendaulat subyek untuk menerimanya. Adanya bibit malaria dalam diri seseorang (keadaan obyektif) membuat orang tersebut mengalami demam malaria. Obyek dianggap sebagai sebab yang membawa akibat pada subyek.

Keyakinan itu berangkat dari subyek ke obyeknya, dan mengandaikan adanya satu wilayah senjang yang memerlukan loncatan pikiran atau argumentasi (semacam iman) yang mengandung kebebasan untuk mengambil keputusan.   Bukankah keyakinan dalam agama pun membutuhkan satu loncatan iman, karena keyakinan itu tidak seluruhnya bisa dijelaskan melalui pembuktian ilmiah. Perlu ada wilayah senjang untuk memutuskan, meloncat atau tidak. Dan yang memiliki kekuatan untuk meloncat adalah subyek, bukan obyek. Penyimpulan lebih mengarah kepada obyek, sedangkan keyakinan itu lebih mengarah ke keputusan subyek dalam wilayah dan ruang kebebasan seseorang. Cogito ergo sum, kata Descartes. Saya berpikir maka saya ada, bukan saya ada maka saya berpikir.

Seringkali kita alami bahwa subyek meyakini adanya obyek tertentu yang mempengaruhi sikap dan perilakunya, tetapi sesungguhnya obyek itu tidak nyata.  Ada pula orang yang berkeyakian bahwa dia dikejar-kejar orang. Akibatnya dia merasa takut. Timbul semacam halusinasi.Tetapi orang yang dianggap mengejar itu sesungguhnya tidak ada secara obyektif. Maka ketakutan-ketakutan yang dibangun dalam diri subyek itu bukan sepenuhnya dipengaruhi oleh obyek di luar dirinya melainkan dibangun sendiri oleh subyek dalam dirinya sendiri. Hal serupa juga terjadi pada pengalaman eidetik pada anak-anak yang seolah-olah mampu melihat orang yang sudah meninggal.

Bahkan harus dikatakan bahwa obyek yang ada di luar diri manusia pun sebenarnya tidak serta merta menimbulkan sikap tertentu dalam diri subyek. Si subyek sesungguhnya tetap bebas dalam mengambil setiap keputusan. Orang, misalnya, tidak akan merasa terhina kalau dia tidak memutuskan untuk membiarkan tindakan penghinaan ini menghantam dirinya. No one can make you feel inferior without your permission (Eric Jensen, Super Teaching, hal. 126) . Tidak ada orang yang bisa membuat Anda menjadi rendah diri tanpa izin Anda sendiri. Rendah diri atau terhina itu bukan keadaan obyektif melainkan subyektif. Dengan kata lain bukan anggapan orang terhadap kita yang menentukan siapa kita, melainkan keyakinan kita sendirilah yang menentukan apa yang terjadi dengan diri kita sendiri. Sering ada yang mengatakan bahwa pekerjaannya menimbulkan stres. Sesungguhya stres tidak ada dalam pekerjaan (obyektif) melainkan dalam pribadi manusianya. Stress is not “out there.” There are no stressful jobs, only people who esperience stress at their workplace! (Eric Jensen, Super Teaching, 182). Stres tidak nun jauh di sana”. Tidak ada pekerjaan yang penuh dengan stres; yang ada hanyalah orang yang mengalami stres di tempat kerja. Dengan kata lain stres di tempat kerja itu tidak akan ada kalau subyek sendiri tidak menjadi stres. Maka supaya tidak stress orang tidak harus berganti pekerjaan melankan berganti sikap dan keyakinannya, bahwa dia tidak akan menjadi stress dalam pekerjaan macam apa pun.

Otak sebagai penentu

Sudah banyak penelitian dilakukan tentang otak manusia. Bahwa sebenarnya seluruh kegiatan manusia itu ditentukan oleh otak. Bekerja, berpikir, melihat, mendengar, merasakan, tertawa, bergerak, menyanyi, berjalan, berlari, dan berbagai tindakan manusia lainnya, semuanya dikontrol berdasarkan rangsangan pada otak. Rangsangan itu akan ditransmisi melalui syaraf-syaraf ke alat indera kita. Ketika bagian tertentu otak mendapatkan rangsangan, misalnya, maka akan muncul perasaan tertentu pada diri si subyek. Dengan kata lain “otak” dari seluruh kegiatan manusia adalah otak manusia. Tanpa otak, alat-alat indera manusia tidak berfungsi. Penderita stroke yang kehilangan fungsi lengan kirinya misalnya, sebenarnya mengalami gangguan pada syaraf-syaraf otak yang mengontrol gerakan pada lengan kirinya.

Maka mengubah sikap dan perilaku tidak harus dilakukan melalui, dan bergerak dari sudut, obyek (orientasi pada obyek) yang merangsang otak, melainkan melalui, dan bergerak dari, tindakan membangun rangsangan pada otak sendiri (orientasi pada subyek). Tidak heran kalau banyak orang yang sembuh dari sakit misalnya, bukan hanya karena tindakan yang dilakukan pada obyek yang menyakitkan (penyakit) melainkan juga pada subyek yang merasa sakit. Itulah sebabnya mengapa rasa optimis dan sikap positif bisa membawa perubahan dalam diri seseorang. Kekuatan-kekuatan penyembuh yang ditimbulkan dalam pengobatan tradisional oleh dukun dan “orang pintar” misalnya, lebih mengandalkan orientasi subyektif. Penyembuhan yang didapatkan dari menjalani terapi urine misalnya, lebih besar didapatkan dari aspek orientasi subyektifnya ketimbang dari orientasi obyektif. Hanya orang yang punya niat dan kepercayaan serta keyakinan yang kuat untuk sembuhlah, yang berani menjalani terapi urine.

Sukses dan sejahtera juga sering dianggap sebagai suatu keadaan atau kondisi yang lebih dikaitkan dengan situasi obyektif daripada subyektif. Sering orang menganggap bahwa keadaan obyektif yang wah akan membuat orang menjadi sejahtera. Orang yang keadaan obyektifnya berkelimpahan harta kekayaan akan dianggap sebagai orang yang sejahtera (subyektif). Sementara orang yang tidak hidup dalam kelimpahan harta benda akan dianggap kurang sejahtera. Biar bagaimana pun, sejahtera dan bahagia adalah keadaan subyektif. Maka untuk menjadi sejahtera, orang harus berangkat dari keadaan subyektifnya. Keyakinan dan tekad untuk berubah bisa juga membawa perubahan pada keadaan obyektifnya.

Orientasi subyektif

Dengan demikian dalam menghadapi persoalan dan berbagai perubahan dalam hidup, kita jangan hanya memusatkan perhatian pada orientasi obyektif, melainkan juga pada orientasi subyektif. Sesungguhnya yang menjadi tujuan utama dari setiap usaha kita adalah  kesejahteraan subyektif. Yang dikejar orang bukan harta kekayaan (keadaan obyektif) melainkan kesejahteraan (subyektif). Dan pandangan umum selalu mengaitkan harta kekayaan dengan kesejahteraan. Artinya orang akan menjadi sejahtera ketika dia memiliki kekayaan. Yang diinginkan manusia adalah kesejahteraan bukan harta kekayaan. Dengan kata lain, harta kekayaan itu sebenarnya dikejar untuk menjamin kesejahteraan hidup. Seandainya saja orang bisa mendapatkan kesejahteraan tanpa melalui harta kekayaan, maka orang tidak akan peduli lagi pada harta kekayaan. Dalam hal ini sesungguhnya telah terjadi pelembagaan nilai (Ivan Illich). Nilai kesejahteraan telah dilembagakan dan dimeteraikan pada harta kekayaan. Kesuksesan selalu diperagakan dengan tugu yang dibangun dalam berbagai bentuk, entah rumah yang bagus, mobil yang mewah, duit berlimpah. Tetapi apakah semua itu memenuhi kebutuhan kita akan kesejahteraan? Jangan-jangan semua kelimpahan itu justru telah menggerogoti kesejahteraan yang kita butuhkan.

Kesejahteraan adalah suatu kondisi subyektif. Kenyataan obyektif hanya bisa mensejahterakan kalau dikondisikan secara subyektif. Tikus tidak akan kelaparan di gudang makanan. Tetapi manusia justru memutuskan untuk berpuasa walaupun berhadapan dengan makanan berlimpah. Tikus bisa dikondisikan secara obyektif. Tetapi manusia tidak. Manusia itu bebas. Dia bisa mengkondisikan dirinya sendiri secara bebas dan subyektif.

Menjadi manusia berarti memiliki keyakinan. Makhluk infrahuman tidak punya keyakinan. Maka sebagai manusia, keyakinan perlu difungsikan untuk membangun hidup. Obat untuk membereskan kondisi obyektif yang sakit, tidak ada manfaatnya kalau tidak didukung dengan keyakinan sembuh untuk membangun kondisi subyektif. Harta kekayaan untuk membangun kondisi obyektif kesejahteraan, perlu dilengkapi dengan kondisi subyektif. Jika tidak maka kondisi obyektif justru merongrong kesejahteraan subyektif. Singkatnya kondisi obyektif tidak akan mensejahterakan kalau tidak diamini oleh kesejahteraan subyektif. Sesungguhnya yang dibutuhkan itu bukan kasur yang enak, melainkan tidur yang lelap.

Benyamin Molan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s