PLEASURE DAN COMFORT

termasuk pleasure atau comfort?

termasuk pleasure atau comfort?

Christopher Peterson dalam bukunya Pursuing the Good Life (2013), menunjukkan perbedaan antara pleasure dan comfort. Dalam bahasa Indonesia kedua kata bahasa Inggris ini diartikan secara sama saja sebagai senang, nikmat, nyaman. Tetapi pleasure sebenarnya adalah kondisi nikmat atau nyaman yang tidak berlangsung lama, sementara comfort itu berlangsung lama dan saking lamanya dan orang sudah menjadi terbiasa dengannya, lalu kehadirannya tidak disadari lagi. Kesadaran tentang comfort baru terasa ketika comfort itu hilang.

Peterson memberikan contoh yang bagus. Ketika pertama kali membeli AC, hidup terasa adem, nyaman, (pleasure). Tetapi lama kelamaan ketika kita sudah terbiasa merasakan kenyamanan (pleasure) itu, pleasure pun berubah menjadi comfort. Kita sudah terbiasa dengan keadaan itu, dan karenanya tidak menyadari kehadirannya sebagai sesuatu yang menciptakan rasa nyaman. Baru ketika ACnya rusak, kita merasakan adanya comfort itu, dan kita merasa kehilangan. Pada hal sebelum ada AC, tuntutan akan adanya AC tidak sebesar yang kita rasakan seperti ketika AC-nya rusak.

Masyarakat yang belum disentuh listrik sebenarnya merasa biasa-biasa saja dengan hidup tanpa listrik. Tetapi begitu listrik masuk desa, ada pleasure tersendiri, yang kemudian berubah menjadi comfort. Orang sudah merasa terbiasa, dan tidak lagi terlalu merasakan kehadirannya, sampai pada suatu saat listrik mati, dan masyarakat merasa tidak nyaman (kehilangan comfort). Pada hal seperti sudah dikatakan, sebelum ada listrik, mereka hidup nyaman-nyaman saja tanpa listrik.

Sebelum munculnya ponsel dan kemungkinan untuk berkomunikasi secara lebih cepat, orang tidak terlalu merasa risau karena tidak adanya telepon. Tetapi begitu ponsel muncul, pleasure yang didapatkan karena bisa berkomunikasi secara mudah melalui ponsel, berubah menjadi comfort. Pantas dan bisa dimengerti bahwa ketika HP ketinggalan di rumah, saat kita bepergian, atau barangkali dicopet orang, kita lalu merasa ada yang pincang dalam hidup. Hal yang tidak kita rasakan di saat sebelumnya ketika kita tidak memiliki ponsel. Sekarang ponsel sudah menjadi comfort, dan kalau hilang, harus dibelikan yang baru.

Banyak orang miskin sebenarnya sudah terbiasa menerima nasib sebagai orang miskin. Bukan salah bunda mengandung. Lahir dalam keluarga miskin (atau kaya) sebenarnya bukan pilihan melainkan nasib. Maka sering kali orang miskin sebenarnya sudah ditempa secara alamiah untuk menerima nasib. Kelaparan dan kekurangan makanan bergizi itu sudah biasa. Kalau sakit, berobat seadanya dan jika tidak mampu, ya tinggal pasrah dan menunggu maut menjemput. Tetapi begitu ada subsidi bagi mereka yang sakit, atau program BPJS, dan dengan demikian orang miskin ini bisa merasakan kenyamanan untuk berobat secara layak, tentu saja ada “pleasure” tersendiri yang berpeluang untuk menjadi “comfort” dalam pengertian yang lebih luas. Dan kalau sudah menjadi comfort, kebutuhan terhadapnya harus tetap terpenuhi. Jika tidak, maka penderitaan yang ditimbulkan lebih besar ketimbang ketika ada kepasrahan untuk menerima nasib. Karenanya, program-program yang menciptakan pleasure yang berpeluang menjadi comfort, harus dijaga kelanggengannya. Jangan sampai masyarakat menjadi tambah menderita karena kehilangan apa yang sudah telanjur menjadi comfort.

Tentu saja tidak dimaksudkan bahwa ketakutan itu akan membuat kita sebaiknya menciptakan program-program yang hanya menciptakan pleasure saja tanpa menjadi comfort, melainkan agar program-program yang menciptakan comfort harus dipastikan kelestariannya. Karena itu, yang penting bukan hanya penciptaan program dan sarana pendukung comfort, melainkan juga pemeliharaannya (maintenance). Dan bangsa kita terkenal sebagai bangsa yang pandai mencipta tetapi kurang pandai merawat, bangsa yang kreatif tetapi kurang kuratif, senang dengan yang baru, tetapi tidak senang memperbaharui. Ini adalah salah satu sikap mental yang perlu direvolusi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s