SELAMAT TAHUN BARU 2016

O tempora, o mores (Gambar:.wikipedia.org)

O tempora, o mores (Gambar:.wikipedia.org)

“Slamat jalan tahun 2015. Slamat jalan mama”. Itulah ungkapan hati anak-anak kerabatku, ketika tepat tanggal 31 Desember 2015 yang baru berlalu, mereka harus menghantar sang ibu tercinta ke tempat peristirahatan terakhir, menyusul sang ayah yang sudah mendahului beberapa tahun lalu. Walaupun sudah dewasa, anak-anak tentu tetap merasa kehilangan. Dan kami sebagai kerabat pun ikut larut dalam situasi itu. Dan dalam perasaan yang seperti tak cepat berlalu itu, sang waktu tetap berjalan. Maka segera setelah itu, anak-anak itu pun harus mengucapkan Selamat Datang Tahun Baru 2016, tahun yang akan mereka lalui, tanpa kehadiran fisik sang ibu di tengah mereka.

Itulah waktu. Semua terus berjalan. Waktu tak pernah lelah, atau meminta jedah. Terus melangkah, tanpa peduli pada apa yang mungin saja terjungkal. Dia seperti kereta yang terus melaju di jalurnya, dan semua yang lewat harus mengatur dirinya, kalau tak ingin terlindas; atau seperti Juggernaut-nya Anthony Giddens, yang meluncur tanpa kendali mengarungi zaman, dan manusialah yang harus mengatur dirinya kalau tak mau ikut terlibas.

Tempora mutantur et nos mutamur in illis. Waktu berubah, dan kita diubah di dalamnya. Itu kata orang Latin. Waktu terus berjalan dan kita harus ikut dalam irama perjalanan sang waktu. Kadang-kadang waktu tampak kejam. Dia seakan tak peduli pada apa yang kita alami. Saat sedang menderita dan dirundung masalah, kita ingin sang waktu segera berlalu, biar masalah dan penderitaan pun ikut terhanyut dalam sekejap. Tetapi sang waktu seolah tak bergeming. Dia terus melenggang sesuai iramanya.

Ketika sedang dalam pelukan sang kekasih, kita tak ingin waktu cepat berlalu, bahkan kalau perlu sang waktu berhenti berjalan. Tetapi dia  seperti tak punya perasaan, dan terus saja melaju; akibatnya, masa-masa yang indah itu pun harus segera berlalu.

Malam tahun baru, yang penuh kemeriahan dan hura-hura pun sesungguhnya tidak lebih lama dari malam-malam lainnya. Waktu untuk meninggalkan tahun lama dan menyambut tahun baru sebenarnya diberi jatah dan irama yang sama.

O tempora o mores, adalah seruan Cicero dalam pidatonya, ketika sang orator itu mengaduh kepada sang waktu, yang tak bisa segera menjatuhkan hukuman kepada Catiline yang berkonspirasi menghancurkan pemerintahan Romawi dan berniat membunuh Cicero. Sang waktu memang tak bisa didikte. Seorang yang sakit harus menunggu proses penyembuhan melalui waktu. Waktu tak bisa dipercepat untuk mempercepat proses penyembuhan.

Menghadapi berbagai peristiwa hidup, yang berjalan seiring dengan perjalanan waktu, Miss Colombia, Ariadna Gutieerez, yang sempat dilantik beberapa menit sebagai Miss Universe 2015, karena kekeliruan pemandu acara Steve Harvey, punya resep yang menarik: “Hidup terus belanjut, dan di masa depan kita akan mengetahui mengapa sesuatu terjadi dengan cara yang telah terjadi” (kompas.com). Maka berjalanlah beriringan dengan sang waktu, nanti mata kita akan terbuka.

Iniah sisi lain dari sang waktu, dia bisa menyembuhkan, dia bisa meneguhkan, dia bisa memulihkan, dan bisa membuat kita melihat yang lama dengan kaca mata yang baru. Tergantung bagaimana kita melihatnya.

Selamat Tahun Baru 2016, bagi para sahabat semua.

Benyamin Molan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s