MEMBELI DAN MEMBERI

Dua kata ini berbeda satu huruf saja. Huruf “L” pada membeLi berubah menjadi “R” pada membeRi. Pantas kalau perbedaan itu menjadi rada tipis. Membeli adalah menyampaikan sesuatu yang senilai dengan apa yang diterima. Memberi adalah menyampaikan sesuatu tanpa mengharapkan bahwa akan menerima sesuatu yang setimpal. Dengankata lain membeli adalah trade off. Sedangkan memberi itu off trade.

Dalam bahasa Kedang kedua kata itu sangat berbeda. Membeli itu “ier” dan memberi itu “sorong”. Pasangan katanya justru lebih memperjelas lagi “ier hen” (beli ambil) dan “sorong nateng” (beri sampaikan/serahkan). Dalam memberi ada penyerahan, dalam membeli ada pengambilan.

Karena itu keduanya perlu dibedakan. Mengacaukan keduanya tidak hanya akan mengacaukan pengertian melainkan juga akan mengacaukan posisi mental. Ingin memberi tetapi dengan mental membeli, akan membuat pihak pemberi akan kecewa dan frustrasi karena tidak mendapatkan imbalan timbal balik. Orang yang memberi sesuatu dan mengharapkan ada timbal baliknya, sebenarnya bukan memberi tetapi membeli. Karena itu ada orang yang sebenarnya membeli sesuatu, tetapi bertindak seolah-olah memberi. Padahal memberi ya memberi, jangan dipelokkan menjadi membeli. Memberi berarti kita ingin bahwa subyek yang mendapatkan pemberian itu senang. Membeli berarti membuat pihak yang mendapatkan pembelian itu senang, karena keinginannya terpenuhi.

Mental do ut des (memberi dengan mengharapkan balasan) sebenarnya adalah mental membeli yang dilakukan dengan cara memberi. Begitu juga ungkapan tidak ada makan siang gratis. Ungkapan itu mau mengatakan bahwa tidak ada orang yang mengeluarkan biaya makan siang bagi Anda tanpa mengharapkan sesuatu sebagai imbalannya. Bahkan kalau perlu imbalannya lebih besar. Immanuel Kant tidak menganggap ini sebagai tindakan moral karena ini adalah bagian dari imperatif hipotetis (perintah bersyarat), dan bukan imperatif kategoris (perintah tidak bersyarat). Kohlberg dalam penelitiannya tentang tingkat kesadaran moral, menempatkan tindakan ini pada tingkat kesadaran moral yang masih rendah, yakni pada tahap kedua dari enam tahap.

Ini juga dianggap sebagai praktik dari konsep egoisme etis. Dalam egoisme etis, pencapaian kebahagiaan sendiri merupakan tujuan moral tertinggi (Ayn Rand, 1961, dalam James Rachels, 1993). “Memberi makan kepada orang lapar dengan harapan masuk surga”, apakah ini bukan termasuk egoisme etis? Tidak mau korupsi karena takut dibakar di neraka, bukankah juga termasuk egoisme etis?. Apakah tidak tersendus juga aroma kapitalis di sini?

Kisah tentang pengadilan terakhir sering menjadi rujukan untuk memberi atau berbuat baik kepada sesama. Karena berbuat baik kepada sesama atau memberi adalah sama dengan berbuat baik kepada Tuhan sendiri. Yang sering dilupakan dari kisah ini adalah bahwa orang yang berbuat baik kepada sesama (juga yang tidak berbuat baik) itu, sama sekali tidak mengetahui bahwa mereka telah berbuat baik (tidak berbuat baik) kepada Tuhan. Ini artinya bahwa perbuatan baik kepada sesama manusia itu harus menjadi perbuatan baik kepada manusia. Titik. Apakah itu akan mendapatkan imbalan dari Tuhan, tidak harus menjadi tujuan.

Orang Jawa mengatakan memberi atau berbuat baik hendaknya dilakukan tanpa pamrih. Atau ketika tangan kanan memberi, hendakanya tangan kiri tidak melihat. Artinya tidak perlu ada saksi, yang kemudian memberikan Anda imbalan pujian. Budaya lain mengungkapkannya dengan cara yang sangat vulgar tetapi lugas: memberi atau berbuat baik itu ibarat ke toilet, setelah memberi selesai, tak perlu dipikirkan lagi, apakah ada imbalannya atau tidak. Maka memberi ya memberi, jangan pernah menjadi membeli yang tersamar. Itu manipulasi.

One thought on “MEMBELI DAN MEMBERI

  1. hukum tabur tuai mengatakan bahwa setiap tindakan baik kita akan mendapat upahnya, upah adalah hadiah bukan tujuan. ketika kita memberi dengan tujuan untuk mendapat pujian maka pada saat itu kita telah menerima upahnya yaitu pujian dari manusia, namun kita telah kehilangan upah yang lebih bernilai yaitu upah dari surgawi dari Tuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s