RESENSI BUKU “PSIKOLOGI-KITA & EKSISTENSIALISME”

Penulis: Fuad Hassan

Penerbit: Komunitas Bambu 2014

Jumlah Halaman: xviii + 360

Ukuran:   24 x 15 cm

ISBN: 978-602-9402-53-7

Buku “Psikologi-Kita & Eksistensialisme” karya Fuad Hassan ini sesungguhnya merupakan kumpulan dari tiga karya sebelumnya yakni (1) Pengantar Filsafat Barat, (2) Berkenalan dengan Eksistensialisme, dan (3) Kita dan Kami.

Buku pertama dimulai dengan asal mula filsafat alam (kosmologi) yang diprakrasi oleh para filsuf prasokratik Yunani, seperti para filsuf dari Milesis (Thales, Anaximander, Anaximenes, dan Heraklitos, dan para filsuf dari mazhab Elea seperti Xenophanes, Parmenides, Anaxagoras, Empedokles, Pythagoras, serta filsuf atomis seperti Demokritos). Pembicaraan dilanjutkan dengan pembahasan tentang filsafat masa Sokratik, (Sokrates, Plato, Aristoteles), menyusul filsafat Abad pertengahan, Renaissance, abad modern, khususnya eksistensialisme. Di sini sepertinya tersirat keinginan penulis untuk menghantar kembali psikologi ke rumah induknya. Bagaimana pun juga ilmu psikologi itu berawal mula dari filsafat.

Buku kedua berbicara tentang eksistensialisme. Nampaknya eksistensialisme sangat mempengaruhi psikologi Fuad Hassan. Eksistensialisme adalah filsafat yang sangat manusiawi. Di tangan eksistenstensialisme filsafat mulai menginjak bumi. Filsafat tidak lagi bersemayam di menara gading dan hanya digeluti oleh para elitnya. Filsafat mulai menyentuh sastra, seni, bahasa, dan tentu saja psikologi.

Para filsuf eksistensialisme seperti Kierkegaard, Sartre, Camus, bukan lagi filsuf pengamat, melainkan filsuf aktor. Dunia ini dilihat bukan sebagai sesuatu yang ada “di luar sana” yang menjadi obyek observasi, analisis, dan spekulasi, melainkan tempat manusia hidup dan bereksistensi. Di sini tercakup keterlibatan manusia secara eksistensial, bukan sekadar aktivitasnya dalam membuat analisis.

Bagi para filsuf eksistensialis, eksistensi itu mendahului essensi. Artinya manusia seutuhnya itu ada dalam eksistensinya. Dia bebas untuk menentukan eksistensinya, tanpa terdeterminasi oleh essensinya. Dalam hal ini manusia itu berbeda dari hewan dan makhluk infrahuman lainnya yang perkembangannya sudah terdeterminasi oleh, dan karena itu selalu mengarah ke, esensinya. Di sini tampilan pergumulan pengalaman-pengalaman pribadi Kierkegaard dengan Tuhan dan sesamanya menjadi menarik karena sangat eksistensial; atau juga pandangan Nietzche yang ingin menyisihkan Tuhan demi kedewasaan manusia, dan membebaskannya dari esensinya, untuk selanjutnya membiarkan sang manusia menentukan eksistensinya ke depan. Pinjam ungkapannya Sartre (filsuf eksistensialist lainnya): “man is nothing else but what he makes himself. Such is the first principle of existentialism” dan dilanjutkan dengan “Man is nothing else but his plan; he exist only to the extent that he fulfills himself” (hal. 120).

Buku ketiga adalah ”Kita dan Kami”. Sebagaimana dikatakan penulis “Studi ini bermaksud meninjau konsep neurosis dalam hubungannya dengan paham-paham yang dikemukakan oleh filsafat eksistensi, dan atas dasar itu mencoba untuk mencapai suatu interpretasi dalam konteks yang lebih luas daripada sekadar memahami gejala neurosis sebagai hal psikopatologi semata” (hal. 259). Dan menurut dia neurosis itu memang suatu momen konflik tetapi bukan konflik patologis yang mendasar melainkan konflik eksistensial (hal. 262). Ini ditunjukkannya dalam konsepnya tentang “kita” dan “kami”. Dalam “kami” ada eksklusifikasi diri, anonimitas, obyektivasi diri, reduksi-diri, alienasi-diri, berhadapan dengan yang lain. Sedangkan dalam “kita” ada inklusi, yang dihayati sebagai kebersamaan dan keterlibatan yang subyektif. Dan bahwa dalam kekitaan yang inklusif subyektif (communion) itulah manusia bisa membangun dirinya dan autonominya. Dengan kata lain hanya dalam kebersamaan, manusia bisa menemukan diri dan membentuk eksistensinya. Di sinilah dia menemukan identitasnya. Dan neurosis “berakar pada kegagalan individu menerima identitasnya sendiri.” Maka bagi penulis, mengembangkan we-psychology (psikologi-kita) dalam konteks “kita” menggantikan ego-psychology (psikologi ego) (hal x) dalam konteks “kami”, adalah hal yang penting dalam psikologi.

Penyusunan ketiga karya Fuad Hassan dalam satu buku ini, sempat menimbulkan pertanyaan menyangkut mengapa buku “Kita dan Kami” yang merupakan disertasi dan diterbitkan lebih dahulu dari kedua buku lainnya justru ditempatkan pada bagian akhir. Pantas kalau timbul pertanyaan, apakah buku ini buku filsafat atau psikologi?

Kiranya ini kelemahan sekaligus kekuatan buku ini. Pembaca dibiarkan mengeksplorasi sendiri kekayaan buku ini sebagai sumbangan yang inspiratif dan kreatif dalam perkembangan pemikiran filsafat dan psikologi. Salah satu dari eksplorasi tersebut adalah pembaca diajak untuk membaca konsep Fuad Hassan ini secara terbalik, bukan dari kronologis historisnya, melainkan dari kronologis konseptualnya. Bukankah karya yang bagus, akan tetap bagus dilihat dari sisi mana saja?

Selain itu karya ini juga seperti ingin mengajak psikologi untuk selalu menemukan dirinya. Bahwa psikologi, seperti halnya disiplin ilmu lain, berakar pada filsafat. Psikologi dikatakan baru menjadi disiplin ilmu sendiri sejak Wilhelm Wundt mendirikan laboratorium psikologi pada tahun 1879 di Leipzig. Buku Psikologi-Kita & Eksistensialisme karya Fuad Hassan ini justru menempatkan kembali psikologi pada landasannya, yakni filsafat. Artinya bagi dia, pemahaman psikologi secara utuh hanya bisa didapatkan dengan memahami juga filsafat, khususnya filsafat manusia (anthropologi metafisik yang mengerucut pada eksistensialisme). Kedua disiplin ilmu ini walaupun memiliki obyek formal yang berbeda, sebenarnya memiliki obyek material yang sama yakni manusia. Dan pemahaman terhadap obyek formal tidak dapat dilakukan secara utuh tanpa perspektif obyek material.

Latar belakang inilah yang kiranya membuat Fuad Hassan, yang juga pernah menjadi menteri pendidikan, tidak ingin melepaskan filsafat dari psikologi. Dia ingin manusia dipahami secara utuh, dan tidak hanya berdasarkan analisis penggalan-penggalan perilaku fragmentaris, seperti yang dilakukan dalam psikologi eksperimen, psikologi behaviorisme, atau strukturalisme.

Kecenderungan eksistensialis ini pun sesungguhnya sudah menjiwai disiplin ilmu lain juga yang memiliki obyek material yang sama. Di bidang medis misalnya, saya kerap menemukan nasihat William Osler disajikan dalam ujian esai mahasiswa Fakultas Kedokteran Atma Jaya: “It is much more important to know what sort of patient has a disease, than what sort of disease a patient has.” Nasihat bernuansa eksistensialis ini ingin mengingatkan bahwa para dokter perlu membedakan antara disease dan illness. Jauh lebih penting mengenali seperti apa pasien yang menderita sebuah penyakit, daripada mengenali jenis penyakit yang diderita pasien. Artinya eksistensi manusia seutuhnya harus selalu menjadi fokus perhatian.

Melihat manusia secara utuh, kiranya menjadi pesan kuat buku ini. Dan yang jelas pesan kuat ini juga telah disampaikan dengan gaya penulisan yang mengalir, cerdas dan enak untuk dibaca. Kutipan-kutipan dari karya-karya para filsuf dan psikolog terkemuka telah menjadi ilustrasi yang mengesankan dan sangat inspiratif. Tentu saja buku ini pantas dibaca oleh siapa saja, yang ingin memahami manusia secara utuh.

Benyamin Molan

Catatan: Resensi ini sudah dimuat di www.atmajaya.ac.id, 27 Juni 2015

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s