MULTIKULTURALISME: Cerdas Membangun Hidup Bersama yang Stabil dan Dinamis: KATA PENGANTAR

All this will not be finished in the first one hundred days. Nor will it be finished in the first one thousand days; nor in the life of this Administration; nor even perhaps in our life time on this planet. But let us begin (John F. Kennedy Inaugural Address)[1]

Banyak orang mengartikan multikulturalisme sebagai suatu gerakan idealisme yang mencita-citakan suatu masyarakat yang hidup bersama secara damai dan tenang, tanpa ada gejolak apa pun. Ini adalah multikulturalisme utopis. Multikulturalisme macam ini tidak akan ditemukan dalam masyarakat mana pun.

Judul buku ini mengindikasikan apa yang mau disampaikan yakni membangun hidup bersama dalam satu masyarakat yang stabil dan dinamis. Artinya stabilitas dan dinamika adalah dua hal yang terkandung dalam masyarakat multikulturalistik. Ada kesan bahwa stabilitas hanya bisa dibangun tanpa dinamika. Begitu juga sebaliknya dinamika yang timbul dalam masyarakat akan meniadakan stabilitas. Pada hal stabilitas sejati baru ada ketika ada dinamika sejati. Begitu juga dinamika sejati baru ada kalau ada stabilitas sejati yang menjadi tempat bertumpunya dinamika.

Stabilitas dan dinamika yang saling meniadakan hanya bisa terjadi dalam masyarakat plural, ketika stabilitas dibangun dengan melibas dinamika, atau sebaliknya dinamika dibangun dengan melibas stabilitas. Masyarakat plural harus ditata dengan cerdas dan bijaksana agar tidak menjadi terlalu ekstrim ke stabilitas dan juga tidak menjadi terlalu ekstrim ke dinamika. Ini yang diharapkan dalam masyarakat multikulturalistik. Stabilitas harus dibangun bersama dengan dinamika. Stabilitas yang dibangun tanpa dinamika akan menjadi sebuah kestabilan yang keropos, karena tidak berakar dalam keleluasaan hati dan kebebasan sanubari manusia. Begitu juga dinamika yang dibangun tanpa stabilitas akan memecah belah dan tidak akan membawa keseimbangan dan keharmonisan. Dinamika bisa berfungsi untuk menguji stabilitas. Dan stabilitas harus merupakan buah dari dinamika. Karenanya stabilitas bisa juga berfungsi untuk menguji dinamika. Apakah dinamika bertujuan untuk membangun stabilitas atau justru untuk memecah-belah dan menimbulkan anarkhisme.

Seringkali multikulturalisme dianggap gagal karena masyarakat pendatang tidak menyesuaikan diri dengan penduduk asli. Ini bukan multikulturalisme melainkan kondisi pluralisme yang belum terbangun dengan baik menjadi masyarakat multikulturalistik. Kenyataan ini tidak bisa diklaim sebagai kegagalan multikulturalisme.

Multikulturalisme sesungguhnya harus dibedakan dari pluralisme. Pluralisme berbicara tentang kemajemukan (pluralitas), sedangkan multikulturisme berbicara tentang upaya menata kemajemukan itu. Dengan kata lain pluralisme adalah kata benda; sementara multikulturalisme adalah kata kerja, sebuah proses menjadi, yang terus berjalan tanpa henti; semacam exercise[2] yang membuat kita semakin lama semakin terlatih untuk hidup dalam budaya multikulturalistik.

Buku ini diharapkan bisa sedikit berkontribusi dalam upaya bersama menuju kebaikan bersama membangun sikap hidup multikulturalistik dalam masyarakat yang pluralistik. Dan sikap ini harus dibangun terus menerus dalam upaya yang jujur, dari hati yang damai, dan maksud yang luhur demi terwujudnya sebuah kehidupan bersama yang lebih damai, harmonis, serta tetap dinamis dan menggairahkan.

Dalam konteks membangun masyarakat multikulturalistik ini, kutipan pidato Kennedy di awal pengantar ini, (yang disampaikan pada saat pelantikannya sebagai presiden Amerika Serikat), bisa memberikan sedikit inspirasi. “Semua ini mungkin tidak akan selesai dalam seratus hari pertama. Juga tidak akan selesai dalam seribu hari pertama; juga sepanjang periode pemerintahan ini; bahkan mungkin seumur hidup kita di planet ini. Tetapi mari kita mulai. Membangun sikap multikulturalistik juga adalah sebuah proses yang tidak akan selesai dalam satu semester, empatbelas semester, dan bahkan seumur hidup. Di jalan tak berujung inilah kita harus mulai, dan tak boleh berhenti. Buku kecil ini mau berkontribusi sedikit pada jalan tak berujung ini.

Selain untuk mahasiswa, buku ini juga dipersembahkan untuk Anda yang dengan jujur, setia, dan telaten, mulai, sudah mulai, atau terus menerus dan tak henti-hentinya, membangun masyarakat yang multikulturalistik; entah sebagai penggiat, feminis, pemuka agama, pemangku adat, guru, dosen, pejabat, pengamat sosial politik, pemimpin, atau semua saja yang menaruh perhatian di bidang ini. Semoga buku ini bisa ikut berkontribusi secara langsung atau tidak langsung dalam profesi dan aktivitas Anda, demi mencapai kebaikan bersama.

Kritik dan saran Anda tetap kami harapkan, tidak sekadar untuk menyempurnakan buku ini melainkan terutama untuk terus melahirkan konsep-konsep dan ide-ide baru yang bermanfaat bagi pengembangan hidup bersama yang semakin multikulturalistik, stabil dan dinamis, bebas dan setara, bhineka dan ika.

Benyamin Molan

[1] Dikutip dalam Christopher Peterson. 2013. Pursuing the Good Life. New York: Oxford University Press, hal. 191.

[2] Exercise itu artinya latihan, tetapi bukan latihan untuk mempersiapkan pertandingan, melainkan latihan sekaligus pertandingan itu sendiri. Dengan menjalankan exercise dalam kehidupan multikulturalistik, kita semakin lama semakin terlatih untuk hidup dengan cara ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s