“TUMBUH” DAN “TERTAWA” DALAM BAHASA KEDANG

Hidup, tumbuh, tertawa

Hidup, tumbuh, tertawa

Kata “tumbuh” dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Kedang dengan kata “tawe”. Tetapi kata yang sama ini (“tawe”) bisa juga berarti tertawa atau bertumbuh dalam bahasa Indonesia. Yang membedakannya tentu saja konteks dan kata pengukuhan yang mengkualifikasinya. Kata tawe yang digandengkan dengan kata tobeq menjadi tawe tobeq berarti bertumbuh. Kata tawe akan berarti lain kalau digandengkan dengan kata heko, atau heler, menjadi tawe heko atau tawe heler berarti tertawa lepas. Kata “tawe” juga digunakan untuk tindakan memasangkan laong (perhiasan antik untuk wanita) pada telinga seorang wanita (Ursula Samely, 2013). Tetapi penggunaan terakhir ini mulai kurang populer, seiring dengan semakin langkanya pemakaian laong di Kedang. Ursula Samely (2013) juga menambahkan arti kata tawe lainnya yakni berkumpul. Sebagai orang Kedang perantau saya harus akui bahwa saya kurang akrab dengan arti terakhir ini.

Contoh lainnya, kata “tutuq” artinya berbicara. Tetapi “tutuq teheq” itu berbeda dari “tutuq nanang”. Yang pertama berarti memberi nasihat dan saran. Yang kedua berarti bercakap-cakap. Begitu juga “witing anen” dan “witing wawi”. Yang pertama menunjuk pada kambing dalam arti dagingnya (harfiahnya kambing nasi yang disajikan saat pesta), yang kedua berarti banyak kambing dalam arti hewan; arti harfiahnya adalah kambing babi, walaupun kadang-kadang hanya ada banyak kambing tanpa ada babi (semacam bentuk plural).

Ini sejalan juga dengan konsep identitas pada orang Kedang. Nama panggilan seseorang selalu digandeng dengan nama bapaknya. Kora Sio, artinya Kora anaknya Sio. Ada banyak orang lain yang bernama Kora, tetapi yang membedakan mereka satu sama lain adalah nama ayahnya (Sio). Kora Sio berbeda dari Kora Dolu. Kalau ada lebih dari satu Kora Sio, maka biasanya dipanggil bersama kakeknya. Kora Sio Subang. Kora anaknya Sio cucunya Subang.

Yang menarik untuk dikaji adalah mengapa kata tawe dalam bahasa Kedang dipakai untuk pengertian tertawa dan tumbuh dalam bahasa Indonesia? Mungkin karena ketika bertumbuh, benih (biji) pecah di saat mengeluarkan kecambah. Benih atau biji itu terlihat seperti tertawa.

Atau barangkali terkandung makna filosofis yang berkembang di belakang konsep bahasa itu. Tumbuh itu memang tertawa. Apakah ini bisa dikonversikan menjadi tertawa itu memang tumbuh? Kalau tidak seluruhnya benar, mungkin sekurang-kurangnya sebagian. Bahwa tertawa itu ada hubungannya dengan tanda kehidupan dan berarti juga tanda pertumbuhan. “Taweheko sebenarnya arti harfiahnya adalah tertawa sambil banting badan (mungkin sama dengan “rotfl” [rolling on the floor laughing] dalam bahasa BBM). Bukankah hanya orang yang benar-benar hidup dan bertumbuh, yang bisa tertawa sambil banting badan?

Mungkin gambaran serupa bisa dibayangkan pada istilah tawe laong (pasang laong di telinga). Ketika laong dipasang, lubang telinga akan membesar karena ditarik oleh beratnya laong. Lubang telinga sepertinya tertawa ketika menerima perhiasan itu. Agaknya istilah ini lebih dimaksudkan untuk membesarkan hati. Lebih baik mengatakan tawe laong dari pada kueq (menangis) laong. Ada maksud tersirat di sini yakni untuk memotivasi dan membesarkan hati. Walaupun sakit tetapi sebaiknya tertawa karena perhiasan yang menimbulkan rasa sakit itu ternyata membuat Anda cantik.   Bukankah senyum dan tawa itu merupakan bagian dari kecantikan?

Pertumbuhan selalu mengandung unsur tertawa. Yang tidak tertawa –seperti batu dan benda-benda mati lainnya– tak punya gaya dan daya pertumbuhan. Maka semua makhluk hidup sebenarnya adalah makhluk yang memiliki daya dan gaya tertawa. Pohon yang bertumbuh sebenarnya pohon yang sedang tertawa. Hewan yang bertumbuh adalah hewan yang tertawa. Begitu juga manusia yang hidup adalah manusia yang tertawa. Hidup tidak cukup ditandai dengan nafas dan denyut jantung, melainkan juga tertawa. Maka tertawa itu tanda hidup. Artinya, bukan hanya orang hidup maka tertawa melainkan juga orang tertawa maka hidup. Hubungan tertawa dan hidup itu tidak seperti ayam dan fajar yakni: “Fajar menyingsing maka ayam berkokok,” dan bukan “ayam berkokok maka fajar menyingsing”. Hubungannya lebih seperti mesin dan roda mobil. “Mesin hidup maka roda mobil bisa berputar” (starter). Sebaliknya bisa juga, “roda mobil diputar maka mesin hidup” (dorong). Jadi bukan hanya hidup dan bertumbuh maka tertawa, melainkan tertawa dan tumbuh maka hidup. Implikasinya? Tertawalah maka kita akan hidup dan bertumbuh. Hahahaero.

Benyamin Molan Amuntoda. 

8 thoughts on ““TUMBUH” DAN “TERTAWA” DALAM BAHASA KEDANG

    • Tutuq tèhèq sebenarnya mirip dengan tèhèq nahaq, berarti memberi nasihat. Tetapi tutuq tèhèq itu lebih keras, dan bernada menegaskan. Tèhèq nahaq (Kamus Ursula: tèhèq nadaq) itu lebih mengacu pada nasihat yang lebih halus, seperti tèhèq tadaq . Sedangkan teheq lari itu kan sebenarnya berarti mengata-ngatai, memarahi, memaki dan mengumpat seseorang. Lebih tegas lagi kalau menjadi tèhèq lari pake bie, mempermalukan menelanjangi, membeberkan kejelekan-kejelakan seseorang.

      • Mohon maaf amo, terlambat menjawabnya.
        Saya kira ungkapan ini sudah bernuansakan konsep agama (Katolik?) dan bukan asli Kedang. Amo laha ula loyo itu sepertinya terjemahan dari Bapa pencipta bulan dan bintang (alam semesta). Bahasa Kedangnya juga kaku dan sederhana, pada hal bahasa poan kemer itu mestinya bahasa sastra dan mistik tingkat tinggi. Ini masih perlu dikonfirmasi dengan kalimat-kalimat lain selanjutnya. Mesti didengar rekaman poan kemer dan kemudian ditulis. Apakah punya rekaman atau transkripnya? Saya sangat berterima kasih kalau bisa mendapatkannya. Wassalam.

      • Oh ya makasih jawabannya.Amo yang saya pahami adat kedang itu sudah ada jauh sebelum datangnya agama. kalau memang arti dari amo laha ula loyo itu adalah “bapak pencipta alam semesta”, maka orang kedang sudah mengenal tuhan jauh sebelum datangnya agama. benar begitu amo?

      • Betul amo, adat Kedang itu sudah ada sebelum agama (Islam dan Katolik) datang. Dan adat itu juga termasuk di dalamnya keyakinan religius, kalau tidak mau disebut agama. Adat inilah yang lama sekali menjadi pedoman bagi kehidupan-bersama, dalam hal ini, orang Kedang, dan menjaga kelestarian orang Kedang. Tanpa adat orang Kedang sudah lama musnah. Penyakit, bencana, dan kematian tidak wajar, selalu dikaitkan dengan pelanggaran adat. Pelanggaran adat (misalnya mengganggu isteri orang) akan membuat si pelaku menjadi tidak tenang dan daya tahan tubuhnya menjadi lemah, dan karenanya mudah sekali terserang malaria (penyakit yang paling mematikan) di zaman itu. Maka masalahnya perlu dibereskan biar si sakit menjadi tenang, kuat, dan punya semangat hidup lagi, dan tidak heran bahwa dia bisa sembuh. Sayangnya, dengan masuknya agama dari luar, praktik-praktik adat ini mulai tergerus atau sengaja digerus. Bahkan rumusan poan kemer pun tidak luput dari pengaruh ini. Istilah seperti amo laha ula loyo, saya kira itu pengaruh Katolik; Tuangallah laha tala, itu pasti pengaruh dari Islam (Allah SWT). Pelestarian adat itu penting untuk tetap mempersaudarakan orang Kedang, entah apa pun agamanya, suku, partai politik, status sosial, tingkat pendidikan, aliran ideologi, dan sebagainya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s