PUASA: MERAYAKAN KEBEBASAN MANUSIA

Puasa dan makan bersama merayakan kebebasan

Puasa dan makan bersama merayakan kebebasan

Puasa hanya bisa dilakukan oleh manusia. Dengan berpuasa orang menyadari dirinya sebagai makhluk yang bebas. Sebagai makhluk yang bebas, manusia selalu mengambil jarak terhadap segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Segala sesuatu yang melingkupi, atau yang berada di sekitar manusia, tidak bisa serta merta menguasai manusia. Tampak bahwa walaupun dalam keadaan lapar dan ada makanan yang tersedia, manusia tetap bisa mengambil jarak terhadapnya dan mengatakan “maaf, saya tidak makan.”

Manusia adalah makhluk yang menentukan, bukan ditentukan. Manusia tidak ditentukan oleh makanan dan segala sesuatu yang menarik keinginannya. Semua yang menarik hasrat dan keinginan itu tidak harus menentukan tindakan manusia. Walaupun punya uang, dan bisa membeli apa yang diinginkannya, manusia bisa memutuskan untuk tidak membeli. Manusia tidak dikuasai oleh keinginannya, melainkan menguasai keinginannya. Di sinilah letak kebebasannya.

Berbeda dari manusia, hewan justru tidak memiliki kebebasan itu. Hewan selalu tak bisa mengambil jarak dari apa yang ada disekitarnya. Antara hewan dan makanan, misalnya, tidak ada jarak. Saat lapar, sikap hewan akan ditentukan oleh makanan. Hewan tidak akan berbuat lain daripada makan. Tindakan hewan, dalam hal ini, ditentukan oleh makanan. Makanan memerintahkan hewan untuk makan. Hewan tidak akan mengambil jarak terhadap makanan, sambil bertanya, makanan ini milik siapa. Hewan juga tidak bisa menunda atau menyimpan makanan yang didapatkannya untuk dimakan pada kesempatan lain. Saat makan siang, hewan tidak berpikir untuk menyisihkan sedikit makannya untuk makan malam. Makanan yang ada dimakannya, bahkan sampai habis. Hewan tidak mengenal perjamuan. Ketika hendak makan pun, hewan tidak berpikir untuk menunggu temannya, biar bisa makan bersama. Karena itu, makan bersama juga merupakan tanda kebebasan manusia. Manusia tetap mengambil jarak terhadap makanan, dan tidak serta merta makan. Dia masih dengan bebas menunggu sampai para sahabatnya duduk sekeliling meja, dan mulai makan bersama.

Karena bebas, maka tindakan manusia juga tidak harus ditentukan dari luar. Dia bebas untuk menentukan sendiri sikapnya dan apa yang dilakukannya. Anjing kalau diganggu pasti marah. Membuat anjing marah, cukup dengan menganggu atau menyakiti dia. Apakah kalau diganggu, manusia akan serta merta marah? Belum tentu. Ungkapan bahwa ketika ditampar pipi kiri, pasang lagi pipi kanan, itu bukan pameran kebodohan, apa lagi peragaan keberanian, melainkan bermaksud untuk menyadarkan bahwa manusia itu bebas. Tindakan manusia tidak harus ditentukan oleh orang lain. Manusia adalah makhluk yang aktif bukan reaktif. Orang yang aktif selalu menentukan sendiri tindakannya (bebas), orang yang reaktif selalu ditentukan oleh, dan tergantung pada (ditentukan), aksi sebelumnya. Karena itulah penganut eksistensialisme beranggapan bahwa pada manusia itu eksistensi mendahului esensi. (Baca artikel Eksistensi Mendahului Esensi pada blog ini). Esensi meja misalnya, sudah ada sebelum diciptakan eksistensinya oleh tukang. Dan eksistensinya harus sesuai esensi itu, jika tidak maka tidak bisa disebut meja. Kambing bereksistensi sesuai dengan esensinya sebagai kambing. Esensi manusia justru baru terwujud setelah dia bereksistensi. Manusia tidak ditentukan oleh masa lalunya. Dia bisa mengambil jarak terhadapnya, dan bertindak tidak sejalan dengan masa lampaunya. Pada saat dia bersikap sangat beradab sebagai manusia yang berbudaya tinggi, dia sebenarnya punya peluang untuk menjadi penjahat, dan berperilaku beringas seperti harimau. Artinya sikap beradab itu adalah pilihan bebasnya. Dia tidak terpaksa menjadi orang beradab. Justru di sini sikapnya menjadi bermutu manusiawi, karena ada ruangan kebebasan itu.

Terhadap daya tarik seksual, misalnya, hewan juga tidak bisa mengambil jarak. Dia ditentukan oleh instingnya. Pada musim kawin, hewan akan kawin dengan pasangan yang dia temukan. Dia tidak bertanya, ini isteri/suami siapa, anak siapa, agama apa, suku apa. Manusia justru tidak ditentukan oleh insting seperti halnya hewan. Manusia siap setiap saat dan available untuk menjalankan aktivitas seksual. Tetapi manusia bisa mengambil jarak terhadap dorongan itu. Menganalogikan pria, ketika melihat wanita seksi, dengan kucing, ketika menemukan ikan asin, pasti menyesatkan. Analogi ini terlalu melecehkan kebebasan manusia, dan mereduksi martabat manusia sampai pada tingkat infrahuman.

Emosi juga tidak harus menentukan tindakan manusia. Manusia harus menguasai emosinya. Orang yang tidak menguasai emosinya terhadap orang lain memperlihatkan bahwa dia tidak bebas. Marah atau tidaknya seseorang, tidak harus ditentukan orang lain. Ada pepatah Indonesia yang mengatakan “pikir itu pelita hati”. Artinya pikiran harus menjadi penerang bagi hati. Hati yang emosional sering kehilangan akal sehat dan kebebasan; maka perlu diterangi oleh pikiran. Memutuskan untuk bertindak, didahului dengan pertimbangan-pertimbangan yang sesuai dengan akal sehat (reasonable) adalah tanda kebebasan manusia.

Kebebasan ini juga disadari pada saat puasa. Orang tidak berpuasa karena terpaksa melainkan karena pilihannya sendiri. Pantas kalau puasa banyak dijalankan sebagai ibadah dan ritual dalam berbagai agama dan kepercayaan. Hal ini bisa dimengerti karena agama selalu mengandalkan kebebasan manusia. Agama selalu ingin mempertobatkan manusia. Dan pertobatan itu sejatinya hanya bisa terjadi dalam kebebasan. Hanya manusialah yang bisa bertobat. Hewan tidak pernah bertobat. Kucing, yang setiap kali mengambil makanan dari dapur, dipukul, ditendang, dan akhirnya tidak berani lagi mengambil makanan, bukan karena kucing itu sudah bertobat, melainkan bertakut. Tobat atau takut bisa saja sama hasilnya: orang berhenti melakukan perbuatan yang buruk. Tetapi tobat itu terjadi karena kesadaran hati nuraninya (internal), karena itu bisa langgeng. Sedangkat takut itu terjadi karena ada ancaman dari luar (eksternal), dan karenanya bersifat temporal. Kalau ancaman eksternal itu hilang, maka yang terjadi bukan lagi tobat melainkan kumat.

Tentu saja kebebasan di sini bukan kebebasan semau gue tanpa ada kepedulian pada orang lain. Kebebasan model semau gue sesungguhnya bukan kebebasan sejati melainkan keliaran. Orang yang atas nama kebebasan melakukan tindakan-tindakan sewenang-wenang seenaknya sendiri, sebenarnya menipu diri. Orang macam ini sesungguhnya sedang dikuasai oleh nafsu dan keserakahannya sendiri; karena itu dia pasti bukan orang yang bebas. Sering dikatakan bahwa orang yang bebas adalah orang yang tidak taat pada aturan. Bukankah orang yang tidak taat pada aturan justru bukan orang bebas? Orang yang taat pada peraturan lalu lintas, misalnya, justru lebih bebas daripada orang yang bertindak semaunya di jalan raya. Orang pertama akan dengan leluasa dan bebas untuk melintas di jalan raya sesuai dengan tujuannya. Sedangkan orang kedua yang bertindak semaunya di jalan raya karena ingin bebas, justru akan dihentikan di tengah jalan oleh polisi, kalau bukan oleh kecelakaan.

Kebebasan sebagai kesewenang-wenangan justru tidak memerlukan puasa. Tanpa puasa pun kebebasan model ini bisa didapatkan. Dan perlu dicatat, kebebasan semacam ini justru yang dimiliki makhluk infrahuman yang tidak mengenal puasa. Karenanya lebih tepat disebut keliaran. Puasa justru akan membawa manusia pada kebebasan sejati bersama dengan manusia-manusia lain di dunia ini. Kebebasan itu milik bersama, dia bukan milik pribadi. Karena itu harus di-share-kan dan bukannya ditumpukkan atau ditimbun. Semakin orang berbagi kebebasan, semakin banyak dia mendapatkannya. Dan itu diwujudkan dalam berpuasa. Mari kita merayakannya.

Benyamin Molan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s