SOTERIA DAN PHOBIA

Kata phobia sepertinya lebih akrab di telinga kita daripada kata soteria. Phobia adalah ketakutan yang irasional terhadap suatu obyek atau kondisi. Misalnya, takut terhadap ketinggian, takut terhadap kegelapan, takut sendirian, takut naik pesawat terbang. Ada orang juga yang sangat takut terhadap cicak. Tidak masuk akal sebenarnya. Cicak sekecil itu pasti merasa jauh lebih ngeri melihat manusia yang sebegitu besarnya.

Sebaliknya soteria adalah rasa tertarik yang irasional terhadap suatu obyek atau kondisi. Misalnya, ada anak yang ke mana-mana harus membawa sarung, atau bantal, selimut, boneka, atau terus melakukan kebiasaan mengenyot untuk bisa mendapatkan rasa tenang. Dengan kata lain, “soteria adalah analogi yang positif dari phobia”, tulis Christopher Peterson, dalam bukunya Pursuing the Good Life.

Dalam bukunya dia menulis tentang soteria yang walaupun irasional tetapi perlu mendapat perhatian, karena menyangkut kondisi yang menenangkan. Dia bercerita tentang mahasiswanya yang menolak untuk datang mengikuti ujian dengan pakaian resmi jas, dasi, atau pakaian formal. Mereka ingin mengenakan pakaiannya sendiri yang dianggapnya membawa keberuntungan. Ada yang mengenakan jean lusuh, yang sobek di bagian lutut; ada yang mengenakan sandal jepit, bahkan ada yang tidak mandi apa lagi berdandan.

Ternyata ini bukan soal irasional atau tahyul, melainkan soteria. Mahasiswa itu akan lebih sukses mengerjakan ujian dalam kondisi ketika mereka merasa nyaman. Mereka itu sukses bukan karena kelihatan nyaman (look good) melainkan karena merasa nyaman (feel good). Rasa nyaman dalam pakaian seadanya (casual) membuat mereka lebih sukses daripada kelihatan nyaman ketika mengenakan pakaian formal dengan jas dan dasi.

Soteria mungkin irasional, tetapi tidak menghakimi, demikian Christopher. Soteria selalu menuntut tekstur yang menyenangkan dan aroma yang sudah dikenali. Seperti phobia, soteria adalah potensi biologis. Kita sering mengalami bahwa ada anak yang begitu terikat pada selimut atau bantal. Kemana-mana selimut atau bantal itu harus dibawa. Jika tidak, si anak tak bisa tidur. Terlebih lagi, selimut atau bantal itu tak boleh diganti, bahkan dicuci sajapun tak boleh. Kasus ini populer dikenal sebagai Linus’ blanket. Seperti yang kita kenal dalam kasus ini, selain kehilangan selimut, hal terburuk yang tak dapat dibayangkan Linus adalah ketika selimut itu dicuci. Seperti Linus kita juga sering mengalami hal itu. Walaupun ada iklan sabun cuci, kita kadang-kadang tidak menginginkan barang-barang kita beraroma segar.

Christopher mengingatkan bahwa mungkin soteria perlu mendapat perhatian, karena soteria bisa mengurangi kecemasan dan menghasilkan kenyamanan, karenanya berkontribusi pada kehidupan yang baik. Soteria perlu diberi tempat sejauh tidak menimbulkan hal-hal yang negatif atau mengganggu. Bentuk-bentuk soteria yang lazim selain selimut (Linus’s blanket) adalah boneka, sweater berleher kura-kura, kaos oblong, celana jeans. Tetapi tentu saja jangan dikonversi, untuk keperluan rasionalisasi atau excuse. Untuk itu orang perlu jujur menilai apa yang merupakan soterianya. Jika tidak maka apa yang dianggap soteria itu bukannya menyelamatkan melainkan menjerumuskan. Misalnya saja orang yang malas mandi, malas mencuci pakaiannya, atau malas merapikan kamarnya dapat saja bersembunyi di belakang soteria. Atau orang yang kecanduan alkohol atau narkoba, langsung menganggap kedua zat itu sebagai linus’s blanket-nya. Sekali lagi, yang bukan soteria akan bermasalah ketika diakui sebagai soteria.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s