KATA “MENIKAH” DALAM BAHASA KEDANG

Kata “menikah” dalam bahasa Kedang adalah kuq weq. Terjemahan harafiahnya: kuq artinya ambil dan weq artinya badan. Tetapi apa hubungannya menikah dengan ambil badan? Kalau kita cermati secara lebih teliti, kata kuq weq sepertinya lebih masuk akal kalau dikaitkan dengan kata kuq eq yang dalam bahasa Indonesia berarti “saya ambil dan bawa”. Jadi kata kuq weq (menikah) lebih berarti ambil dan bawa. Mungkin ada hubungan juga dengan kata eweq yang artinya membawa dengan cara menenteng. Dalam pernikahan, mempelai perempuan diambil dan dibawa ke keluarga (suku) suaminya.

Kata kuq weq juga sepertinya bersemenda dengan kata kueq yang bahasa Indonesianya adalah menangis. Terkesan bahwa menangis sedih itu disebabkan karena ada yang diambil; ada yang hilang; ada perpisahan. Ada yang pergi dan ada yang tinggal. (Berbeda dengan menangis karena sakit yang dalam bahasa Kedang disebut dareng [menangis sambil mengaduh]).

Seperti sudah dikatakan kuq weq dalam konteks perkawinan artinya anak perempuan diambil dan dibawa ke suku lain (suku suaminya). Tampak ada nuansa perpisahan di sini. Sedangkan untuk pria mestinya disebut juga kuq neq (dia ambil dan bawa). Maka yang menangis pada saat perkawinan adalah mempelai wanita karena akan berpisah dengan orang tua dan saudara-saudaranya.

Sepertinya nuansa perpisahan di sini lebih berpengaruh ketimbang kebahagiaan sang mempelai wanita (yang baru saja menikah dengan lelaki pilihannya). Dalam hal ini timbul kesan bahwa romantisme percintaan pria dan wanita tampaknya kalah pamor dari romantisme ikatan persaudaraan. Pantas kalau lagu dan pantun orang Kedang lebih banyak beraroma ungkapan rasa persaudaraan, kasih sayang orang tua, dan persahabatan yang mendalam (roho auq), ketimbang pantun percintaan (ebe areq).

Kiranya pantun-pantun berikut mengilustrasikannya:

Tak bariq beni ulo

toang toiq mete mulo

kelen ate diqen palan

laba reun roun wala.

Berikut adalah pasangannya 

Laba liwo leu hiong

nape dei more sio

mieq heaq ko nape dei

tutoq kewa leweolein

Pada pasangan jenis pantun ini (pantun selalu berpasangan), sampirannya ada di baris pertama dan terakhir sedangkan isinya ada di dua baris tengah

Isi pantun ini lebih mudah diterjemahkan dari pada sampirannya. Pantun ini berkisah tentang janji (appointment) akan berangkat bersama, mungkin untuk ikut keramaian bermain tandak (sapang namang). Sahabatnya terpaksa berangkat duluan karena yang ditunggu tidak kunjung datang. “Kasian ditinggal, nanti menyusul sama siapa ya?”

Atau pantun lainnya yang biasa dilantunkan ketika makan bersama dalam sebuah perjamuan, dengan refrennya sederhana saja: A A O ode mai deq nu. Syair refrain ini biasa dipakai untuk membujuk anak yang menangis agar berhenti menangis. Tetapi sebenarnya pantun-pantun yang dilantunkan  sangat menyentuh emosi sehingga kadang-kadang orang bisa meneteskan air mata,  terutama dalam acara perpisahan. Berikut salah satu contohnya:

Lingir laong weren

tema tore wetaq dereng

Lingir laong itu semacam perhiasan emas yang dipakai kaum wanita di telinga (Bagian sampiran). Biar rumah kita bersebelahan (isi)

Eor apiq uman

Tema tore iwar lumar

Eor adalah sejenis burung bersayap kuning (Bagian ini adalah sampiran)

Biar satu ladang kita garap bersama (isi)

Sementara pantun-pantun romantisme percintaan muda-mudi, baru muncul kemudian setelah dunia pacaran mulai dikenal. Sebelumnya pernikahan selalu melalui perjodohan dengan mahan (yang sering diterjemahkan dengan ikan ayam). Anak perempuan dari si A (pria) adalah jodoh (mahan) dari anak lelakinya si B (saudara perempuannya si A).

Pantun-pantun berikut ini muncul ketika mulai ada kebebasan untuk memilih pasangan. Contoh pantunnya:

Ebe hama areq hama

Hoyan weq pan hamang

Boyoq lala kara ode

banting badan model-model

Artinya: Sesama muda-mudi remaja

saling ajak bermain tandak

Dalam perjalanan jangan dicolek

Lengang lenggok berbagai model.

 

Eko tua lahar deq

Ian hoka u deq me

Koloq oyoq kapung anak

Reme-reme loyo panan

Aku sudah generasi tua

Tak bisa lagi turut serta

Rumah jadi tempat nongkrong

Meluk anak di siang bolong.

Yang lebih parah lagi adalah pantun berikut ini:

Areq weriq Weikoroq

Ier kutaq bateq oroq

Kutaq birang tu aran

Permisi ereq ko hara

 Ingin tahu isi pantun ini? Tanyakan pada orang Kedang, atau gunakan saja Kamus Bahasa Kedangnya Ursula secara online..

Pantun muda mudi di atas sudah menunjukkan adanya pergeseran. Di sini tidak lagi ada aturan yang ketat mengenai sampiran dan isi. Kadang-kadang isi semua, atau sampirannya hanya satu baris, walaupun tetap ada perhatian pada aspek keselarasan bunyi. Kesan yang timbul di sini adalah bahwa pantun-pantun ini muncul pada zaman yang lebih baru. Temanya sudah mulai beralih dari pantun-pantun yang menggambarkan nostalgia persaudaraan dan persahabatan (roho auq) menuju ke sekitar romantisme pergaulan muda mudi.

Dari tampilan-tampilan bahasa ini tampak bahwa pernikahan bagi orang Kedang itu berangkat dari kesedihan (menangis) tetapi berujung pada kebahagiaan. Dan ketika sudah bersatu sebagai suami isteri, pasangan tersebut terus memolesi hubungan itu dalam romantika persaudaraan dan berkembang menjadi ikatan keluarga yang kuat. Dan kalau terjadi perpisahan, maka pasti ada tangisan. Berbeda dengan sebagian pernikahan modern, yang mulai dengan kebahagiaan tetapi berproses menjadi kesedihan dan berakhir dalam perceraian yang tak perlu ditangisi.

 Benyamin Molan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s