WISUDA ITU SAKRAL

Sakral

Sakral

Setiap kali mengikuti acara wisuda mahasiswa, saya tidak bisa mengabaikan kesan dan nuansa kesakralan yang melingkupi upacara ini. Jelas sekali, wisuda itu sakral. Lihat saja upacaranya, mirip sekali dengan ritus-ritus keagamaan abad pertengahan. Toga, tongkat, perarakan dari anggota senat dan para guru besar, menunjukkan bahwa ini adalah sebuah ritus akademik yang sakral. Sepertinya Ilmu pengetahuan ingin tampil sebagai agama sendiri yang menampilkan kebenaran-kebenaran tak terbantahkan dengan ritual-ritual yang mengundang rasa hormat. Wisuda sepertinya mengukuhkan betapa sakralnya kebenaran ini. Dengan demikian tindakan-tindakan yang mengkhianati kebenaran adalah dosa.

Pada momen yang sakral ini, wisudawan/wati bisa merasa lega dan bahagia merayakan kesuksesannya karena telah berhasil menyelesaikan satu jenjang pendidikannya dengan baik. Selain berterima kasih kepada semua pihak yang telah ikut berkontribusi, tentu keberhasilan ini juga menimbulkan rasa kagum terhadap diri sendiri juga. Ada rasa bangga yang menumbuhkan kepercayaan diri untuk mengayunkan langkah selanjutnya, memasuki dunia baru, dengan tuntutan-tuntutan baru dan mode keberhasilan baru. Kebanggaan ini seolah-olah memancar dari kesakralan tadi.

Karenanya bukan mustahil juga bahwa pada momen istimewa seperti ini pun, bisa saja muncul rasa tak nyaman di hati. Rasa tak nyaman itu bisa berupa rasa terganggu oleh suara hati, yang mungkin akan terus mengejek dan mencemooh serta merongrong, pada saat yang mestinya membahagiakan dan penuh rasa syukur ini. Mungkin saja karena sesungguhnya kebanggaan yang sejatinya original dan otentik itu, telah tercemar oleh rembesan-rembesan kepalsuan sana sini, lantaran telah ditempuhnya berbagai cara tak terpuji untuk mengkhianati kebenaran yang sakral ini.

Yang jelas, selebrasi adalah satu aksi ritual yang mestinya menyeruak secara spontan dari hati yang jujur dan tulus, sarat dengan tebaran rasa syukur. Selebrasi yang dikecam dan tidak sepenuhnya didukung suara hati, akan menjadi selebrasi palsu yang sesungguhnya tidak menyembulkan rasa gembira yang serta merta dari dalam. Pada hal selebrasi itu akan menjadi bermutu ketika keberhasilan yang dicapai adalah keberhasilan dari jerih paya sendiri dan bukan dari hasil contekan atau praktik-praktik plagiarisme. Apakah ada kebanggaan sejati yang menyembul dari hati setiap wisudawan/wati ketika salempang cum laude dililitkan di toganya?Ataukah jangan-jangan selempang prestisius itu justru mendatangkan cemooh dari suara hati sendiri yang cenderung terus menerus menyudutkan. Begitu juga apakah ijazah yang diterima adalah ijazah yang membangkitkan kebanggaan hati atau ijazah yang sepanjang hidup, akan terus menerus mencemooh karena telah diraih dengan cara yang tak elok.

Kebanggaan sejati yang dirasakan saat wisuda yang sakral itulah yang membuat para wisudawan/wati menjadi pantas untuk bergembira. Gaudeamus igitur. Dan kegembiraan itu akan membuat mereka tetap semangat, tetap bergairah, terus berkarya, tetap awet muda (juvenes dum sumus). Dan alumnus yang menghasilkan wisudawan-wisudawati bermutu juga sepantasnya mendapat sorakan, doa, dan harapan: Vivat academica, vivant professores! Hidup akademika, hidup para profesor. Hidup Juga para mahasiswa, semoga terus bersemi dan berkembang (semper sint in flore), menemukan dan merayakan kebenaran-kebenaran yang membanggakan dan bukannya memalsukan dan memutar-balikkan kebenaran, yang akhirnya menodai kesakralan ilmu pengetahuan. Dunia ilmu pengetahuan dan akademi seharusnya menjadi tempat untuk menemukan, menguji, dan memurnikan kebenaran-kebenaran, dan bukannya malah menjadi tempat latihan menyontek dan praktik-praktik plagiarisme.

Kalau catatan-catatan miring ini sudah tersingkirkan, maka kita boleh bernyanyi dengan bangga, ringan hati, dan leluasa tanpa beban pada setiap acara wisuda: Pereat tristitia, pereant osores. Pereat diabolus, qui vis antiburschius, atque irrisores (Singkirkan kesedihan, singkirkan kebencian, singkirkan setan, singkirkan semua yang anti mahasiswa dan juga mereka yang mencemooh). 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s