BAIK DAN JAHAT

Kita sering bicara tentang “baik”. “Baik” itu baik. Tidak pernah menjadi tidak baik. Dan “tidak baik” itu tidak baik dan tidak pernah menjadi baik. Yang baik itu selamanya baik, dan yang tidak baik itu selamanya tidak baik. Yang bisa berubah dari jahat menjadi baik atau sebaliknya dari baik menjadi jahat adalah subyek (manusianya). (Makanya perlu dibedakan antara perbuatan baik dan orang baik).

Tetapi apa landasannya untuk mengatakan sesuatu itu baik dan sesuatu itu tidak baik? Apakah baik itu sesuatu yang bersifat relatif dan tergantung pada masing-masing orang? Ataukah baik itu merupakan sesuatu yang bersifat mutlak dan berlaku secara universal? Apa yang menjadi patokan untuk “baik” dan patokan untuk “tidak baik” (jahat)?

Sokrates pernah mendiskusikan masalah ini. Dan laporan tentang diskusi ini ditulis oleh Plato dalam dialog yang dikenal sebagai Euthypro. Dalam diskusi itu Sokrates mempertanyakan soal kesalehan dan kebaikan. Apakah kesalehan itu baik karena para dewa menghendaki atau kesalahen itu baik maka para dewa menyukai. Pertanyaan ini mengarah pada satu landasan penting, yang mempertanyakan apakah kita melakukan yang baik karena para dewa menyukainya atau karena perbuatan yang kita lakukan itu baik maka para dewa menyukainya. Dengan kata lain, apakah suatu perbuatan itu baik karena para dewa menyukainya ataukah perbuatan itu memang baik maka para dewa menyukainya?

Kalau suatu perbuatan itu baik karena para dewa menyukainya berarti perbuatan itu bisa saja pada dasarnya buruk, tetapi karena para dewa menyukainya, maka perbuatan itu menjadi baik. Hal penting yang menjadi perhatian di sini adalah kepastian mengenai apa yang dikehendaki para dewa. Jika tidak, maka setiap orang bisa mengklaim perbuatannya sendiri sebagai dikehendaki oleh para dewa lalu menjadi baik. Orang mudah mengklaim kehendaknya sendiri sebagai kehendak para dewa. Sementara pendapat bahwa suatu perbuatan itu baik maka para dewa menyukainya, meninggalkan persoalan mengenai siapa yang menentukan satu perbuatan itu sebagai baik dan buruk?

Kita bisa menerapkan pemikiran Sokrates itu dalam konteks kita. Kita bisa juga mengatakan: apakah suatu perbuatan itu baik karena Tuhan menyukainya, ataukah suatu perbuatan itu baik maka Tuhan menyukainya?

Konsep yang pertama cenderung beranggapan bahwa Tuhan itu sewenang-wenang, yang menjadi penentu atas apa yang baik dan apa yang buruk. Baik atau buruk ditentukan oleh Tuhan. Artinya bisa saja satu perbuatan itu pada dasarnya buruk, tetapi karena Tuhan menghendakinya lalu perbuatan itu menjadi baik. Tetapi tentu saja ketika konsep keTuhanan yang kita anut adalah bahwa Tuhan itu sempurna, selalu baik dan tidak pernah melakukan yang jahat, maka kita akan mengatakan bahwa Tuhan tidak mungkin memerintahkan hal yang buruk karena Tuhan itu pada dasarnya baik. Tetapi kembali lagi kita terjebak dalam konsep tentang yang baik. Siapa sebenarnya yang menetapkan bahwa Tuhan itu baik? Berarti “baik” itu mesti sesuatu yang terlepas dari Tuhan.

Masalah berikutnya adalah apakah sesuatu perbuatan itu baik ketika dilakukan hanya karena diperintahkan. Kalau kita melakukan yang baik hanya karena diperintahkan oleh Tuhan, berarti kita sesungguhnya tidak melakukan yang baik melainkan kita melakukan perintah Tuhan. Apa lagi kalau kita melakukan yang baik itu karena terpaksa, atau hanya karena takut, apakah masih disebut baik? Apakah melakukan sesuatu yang baik bukan dari kehendak sendiri melainkan karena terpaksa, masih boleh disebut baik?

Tampak di sini bahwa konsep pertama ini tidak bisa melepaskan diri dari konsep kedua bahwa “baik” itu mesti sesuatu yang dari dirinya sendiri baik. Baik itu karena pada dasarnya baik. Dan konsep itu sudah ditanamkan dalam diri setiap manusia melalui suara hatinya (satu hal yang kemudian sangat dikagumi Immanuel Kant), yang oleh Sokrates disebut daimon. Dan tujuan manusia adalah eudaimonia, kebahagiaan (jiwa), yang berarti mencapai tujuan hidup manusia. Caranya adalah dengan bertindak baik melalui kebajikan (aretê). Dan itu akan dipandu oleh intelek. Orang yang tahu tentang yang baik tetapi tidak melakukan yang baik adalah orang bodoh. Dia perlu belajar lagi. Tolok ukur kecerdasannya adalah ketika dia tahu tentang yang baik dan melaksanakannya. Konsep Sokrates ini sering dikenal dengan intelektualisme etis.

Dalam hal ini Tuhan bisa dipandang sebagai pendamping manusia yang membantu dan menguatkan manusia untuk menemukan yang baik itu dan menjalankannya secara bebas, demi kebahagiaan manusia. Baik itu dari dirinya sendiri baik. Ini menjadi landasan prinsip etika deontologis yang menganggap bahwa satu perbuatan itu baik karena memang baik. Satu perbuatan yang baik menjadi perbuatan moral ketika dilakukan sebagai kewajiban, bukan karena ancaman rasa takut atau terdorong oleh pretensi dan iming-iming. Dari sini muncullah konsep imperatif kategoris dan imperatif hipotetis yang dikemukakan Immanuel Kant. Yang pertama adalah perintah tanpa syarat, dan yang kedua adalah perintah bersyarat. Yang tergolong sebagai perintah moral adalah perintah tanpa syarat. Perintah itu  dijalankan  tanpa ancaman dan tanpa pamrih; artinya perintah itu dijalankan melalui perbuatan yang dilakukan karena perbuatan itu memang baik. Imperatif hipotetis merujuk pada perintah moral yang dilakukan dengan syarat (berpamrih). Perintah moral semacam ini akan kehilangan aspek moralnya ketika dilaksanakan dengan tujuan tertentu. Misalnya, saya ingin menolong orang miskin supaya saya masuk surga. Perbuatan ini kehilangan aspek moralnya karena dilakukan bukan karena perbuatan itu baik melainkan karena berpamrih untuk masuk surga. Di sini telah terjadi manipulasi.

Pandangan ini berbeda dengan apa yang dikemukakan dalam konsep etis teleologis, yang beranggapan bahwa sesuatu perbuatan itu baik karena membawa akibat yang baik. Makin banyak akibat membahagiakan yang ditimbulkan oleh satu perbuatan, makin baik perbuatan tersebut (greatest happiness of the greatest number) (utilitarisme).

Tidak berarti bahwa konsep deontologis tidak perduli terhadap hasil, melainkan bahwa hasil itu hanya boleh muncul sebagai akibat dan bukan tujuan. Kalau akibat menjadi tujuan, maka bisa terbuka kemungkinan munculnya sikap “tujuan menghalalkan cara” ala Machavelli atau gaya Robinhood (mencuri dari orang kaya untuk dibagikan kepada orang miskin). Yang baik itu dari dirinya sendiri baik, dan karena itu harus dilakukan sebagai kewajiban dan bukan untuk tujuan tertentu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s