RESENSI BUKU

20141217_152319-3Judul: Metode dan Perubahan Pandangan

Penulis: Mikhael Dua

Penerbit: Universitas Atma Jaya Jakarta 2014

Jumlah Halaman: xii +180

Ukuran: 23 x 15,5 cm

Buku Metode dan Perubahan Pandangan mengingatkan saya pada ilustrasi yang ditulis Thomas Friedman dalam bukunya The World Is Flat. “Seorang sahabat bertanya kepada Isidor I. Rabi, pemenang hadiah Nobel dalam ilmu fisika, tentang bagaimana dia menjadi seorang ilmuwan. Rabi menjawab bahwa tiap hari sepulang sekolah, ibunya selalu bertanya kepadanya mengenai peristiwa di sekolahnya. Sang ibu tidak terlalu tertarik pada apa yang telah dipelajari anaknya hari itu, melainkan yang selalu ia tanyakan adalah ‘apakah engkau memberi pertanyaan yang bagus hari ini?’ ‘Ya, memberi pertanyaan yang bagus’ jawab Rabi. ‘Itulah yang membuat saya menjadi ilmuwan.’”

Ternyata metode paling klasik yang telah menyebabkan peralihan dari mitos ke logos pada zaman Yunani kuno masih tetap aktual dan mutakhir bagi seorang ilmuwan sehebat Isidor Isaac Rabi. Metode ini tidak hanya melahirkan ilmu pengetahuan, melainkan juga ilmuwan yang handal, berawal dari para filsuf Miletos. Pertanyaan “bagus” yang telah dimulai oleh para filsuf Miletos ini adalah: “apa sesungguhnya yang menjadi prinsip pertama (arkhe) alam semesta, yang darinya berkembang segala sesuatu yang ada sekarang?” Dan sejak itulah diskusi mengenai arkhe dimulai, dan ini menjadi penanda awalnya ilmu pengetahuan yang mengandalkan logos dan meninggalkan mitos.

Buku Metode dan Perubahan Pandangan karya Michael Dua, secara komprehensif menyajikan refleksi filosofis atas seluruh perkembangan ilmu pengetahuan dan metodenya, mulai dari yang bersifat obyektif kosmologis, subyektif antropologis, sampai ke realistis ontologis. Di sini tidak hanya direfleksikan soal obyek ilmu pengetahuan melainkan juga subyek yang merefleksikan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan tidak hanya membedah obyek pengetahuan melainkan juga subyek yang berpengetahuan. Dengan mempelajari metode-metode ilmu pengetahuan dari para ilmuwan, kita tidak hanya merefleksikan apa yang mereka pikirkan melainkan juga bagaimana mereka berpikir. Buku ini mau mengajak kita mengajukan pertanyaan “bagus” tidak hanya tentang apa yang dipikirkan melainkan juga tentang bagaimana berpikir. “Immanuel Kant sudah lama menegaskan bahwa tugas para guru adalah mengajarkan murid-murid, tidak tentang filsafat (dalam arti pengetahuan filsafat), tetapi tentang bagaimana berfilsafat” (hal 19). Hal yang sama disepakati juga oleh Bacon (hal. 77-78). Di sini kita bisa mengamati bagaimana para filsuf itu berfilsafat mulai dari “Plato yang idealistis, Aristoteles yang empiris, Rene Descartes yang rasionalis, filsuf eksistensialis yang subyektivistis dan kaum positivis yang obyektivistis” (hal. 11).

Buku ini berangkat dari filsafat sebagai cikal bakal ilmu pengetahuan yang ditandai dengan pemikiran rasional, dimulai dengan kosmologinya para filsuf Miletos, dilanjutkan dengan pembahasan tentang bagaimana prinsip-prinsip rasional itu terus berkembang melalui, idealisme Plato, dan empirisme Aristoteles. Empirisme terus bergerak sampai memuncak pada Revolusi Ilmu Pengetahuan yang dimotori oleh Kopernikus. Rasionalisme Descartes akhirnya menimbulkan pertanyaan mengenai apa yang sesungguhnya menjadi dasar pengetahuan ilmiah, empirisme atau rasionalisme. Kant muncul untuk mendamaikan dengan metode transendental. Bagi Kant pengetahuan harus memperhatikan unsur a-priori akal budi (rasional) dan a-posteriori inderawi (empiris). A-posteriori yang didasarkan pada singularitas pengalaman, harus dilengkapi dengan a-priori yang mengandung syarat-syarat yang berlaku universal. Dan bahwa pengetahuan tidak ditentukan oleh obyek melainkan oleh subyek, karena tidak ada benda yang dapat diamati tanpa kategori-kategori yang ada pada subyek seperti kausalitas, ruang dan waktu, kuantitas kualitas, relasi dan modalitas (hal. 96-103).

Pembahasan dilanjutkan dengan gejolak ilmu pengetahuan, ketika Charles Darwin muncul dengan pengamatannya pada dunia evolutif. Di sini ilmu pengetahuan mulai menggeluti obyek-obyek kehidupan, yakni, dunia biologis yang juga mengalami evolusi. Darwin sampai pada kesimpulan bahwa “alam memiliki keajaiban atau kreativitasnya sendiri. Ini teramati dari mekanisme mutasi yang kemudian menghasilkan mutant sebagai jenis baru yang tidak dapat diramalkan, karena muncul melalui sebuah proses seleksi alamiah yang spontan tanpa bisa dijelaskan. Dengan konsep ini Darwin menolak prinsip kausalitas dan beralih ke prinsip hukum alam. Dengan demikian ilmu pengetahuan harus membuka diri terhadap kebetulan ontis (berbeda dari kebetulan epistemik) (hal. 126-127).

Karl Popper selanjutnya menganalogikan perkembangan ilmu pengetahuan ini dengan proses seleksi alam, dan setiap hipotesis ilmiah harus bertahan terhadap pengujian terus menerus. Harus diakui bahwa ilmu pengetahuan tidak terbatas pada tiga model saja yakni universality science, explanation science, dan warrant science yang ditentukan oleh logika, matematika, dan statistik, melainkan juga extra-ordinary science, yang juga ditentukan oleh faktor-faktor psikologis, sosial, ekonomi dan politik.

Dari pandangan tentang perkembangan ilmu pengetahuan dengan metode-metode dan perubahan pandangan di belakangnya, terindikasi fleksibilitas ilmu pengetahuan. Dengan demikian “ilmu-ilmu formal seperti matematika sebenarnya dapat menjadi bagian dari kebijaksanaan manusia, jika ilmu tersebut menunjukkan kreativitas dan fleksibilitas, tidak hanya untuk ilmu-ilmu alam melainkan juga untuk kehidupan sehari-hari” (hal. 174). Ini sejalan dengan harapan Michael Polanyi yang tertera pada cover depan bukunya Personal Knowledge: Towards a Post-Critical Philosophy, “A chemist and philosopher attempts to bridge the gap between fact and value, science and humanity.” Hal yang juga diingatkan van Peursen sebagaimana dirujuk dalam epilog karya Michael Dua ini.

Buku ini tergolong alot untuk dimamah. Pembaca diandaikan sudah cukup akrab dengan pemikiran-pemikiran filsafat terutama pandangan-pandangan para filsuf yang dikupas dalam buku ini. Kondisi ini sudah diantipasipasi oleh penulisnya sendiri dalam tiga kesempatan: (1) Pada penjelasannya tentang dua kutub filsafat yakni kutub logis dan jelas serta kutub rumit dan jelimet. Kutub kedua itu tidak bisa diabaikan karena berkaitan dengan Weltanschauung (hal. 18). (2) Pada teks promosi pada cover belakang: “Buku ini dapat menjadi rujukan untuk filsafat ilmu. Para pengampu filsafat ilmu sangat tepat memilikinya.” (3) Dalam saran lisannya (pada sebuah perbincangan informal), agar pembaca dapat juga menemukan metode sendiri untuk membaca buku ini, misalnya dengan memanfaatkan mesin-pencari demi mengisi lowong-lowong pengandaian.

Yang jelas buku ini sangat tepat, tidak sekadar untuk menambah koleksi buku tentang Filsafat Ilmu Pengetahuan yang masih langka, melainkan juga untuk mengajak para ilmuwan agar selalu kreatif dan kritis merefleksikan dan menemukan metode-metode yang tepat bagi perubahan-perubahan pandangan dalam ilmu pengetahuan, demi perkembangan umat manusia.

Jakarta, 12 November 2014

Benyamin Molan

Catatan: Resensi ini sudah dimuat di www.atmajaya.ac.id, 18 Desember 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s