NARASI NATAL: NARASI PRINSIP NATALITAS

Kamboja: natalitas dan mortalitas

Kamboja: natalitas dan mortalitas


Prinsip natalitas adalah konsep Hannah Arendt yang mengatakan bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki kemampuan kreatif untuk melahirkan sesuatu yang baik bagi lingkungan masyarakatnya. Arendt mengecam kaum demagog sebagai tiran yang selalu penuh dengan kecurigaan terhadap orang lain sehingga membendung kemampuan natalitas ini. Akibatnya masyarakat yang hidup di bawah tirani kaum demagog, kehilangan spontanitas, dan selalu dicurigai sebagai masyarakat yang berbahaya. Tidak ada lagi kegembiraan, rasa damai dan ketenangan. Yang ada hanyalah ketakutan terhadap sang demagog, yang berakibat pada matinya kreativitas dan tergerusnya niat untuk melakukan sesuatu yang baik bagi sesama manusia.

Ironis sekali bahwa kreativitas untuk membangun sesuatu yang baik bagi masyarakat, justru dicurigai sebagai sesuatu yang membahayakan. Karena dilatar-belakangi oleh dendam dan kebencian, maka kemampuan kreatif untuk melahirkan yang baik ini sering dicibir, entah sebagai pencitraan, sebagai upaya mencari popularitas, atau untuk mendapatkan simpati sambil membangun jaringan kelompok demi memantapkan  atau melestarikan kekuasaan. Itulah gejala demagogis.

Merayakan Natal itu sesungguhnya tidak pernah dipesankan Yesus. Yang dipesankan Yesus adalah supaya kita mengenangNya dalam perjamuan Ekaristi, saling melayani dan saling mengasihi. Dengan demikian Natal adalah perayaan syukur yang muncul dari kreativitas spontan dan niat luhur umat Kristiani, untuk melahirkan sesuatu yang baik bagi lingkungan masyarakatnya. Inilah aspek praktis dan spontanitas dari agama, berhadapan dengan aspek tradisi yang didapatkan karena diwariskan. (Emile Durkheim, 1975). Aspek tradisi yang diwariskan itu dirumuskan, dan wajib dipraktikkan (imperatif), sedangkan aspek praktis itu menyangkut kreasi dan penyesuaian dengan situasi aktual (kreatif).

Berarti perayaan Natal adalah selebrasi atas prinsip natalitas oleh umat Kristiani, yang tidak hanya setia pada tradisi melainkan juga kreatif menciptakan sesuatu yang baik untuk sesama. Melalui Natal kita disadarkan bahwa setiap orang sesungguhnya menginginkan sesuatu yang baik; ingin damai, tenang, saling mengasihi, saling membantu, hidup sederhana, dan tidak dikendalikan oleh berbagai keinginan yang menyesatkan.

Dengan demikian Natal adalah perayaan kreativitas dalam mengupayakan rasa damai, tenteram, hening, dan ketenangan hati. Rasa gembira, damai, tenteram, selalu datang secara spontan, baru, dan segar. Orang tidak akan tertawa dari lelucon yang lama dan basi. Stand up komedi, misalnya, selalu harus mencari unsur yang otentik dan baru. Maka para komikus itu harus kreatif dan spontan melahirkan kreasi-kreasi baru yang membuat gerr audiensnya dan suasana berubah menjadi segar.

Ketika ingin damai dan tenang, orang selalu mendambakan suatu situasi baru, lepas dari hingar bingar kehidupan setiap hari. Orang harus mampu menenangkan diri dan menciptakan situasi baru dalam dunia dan lingkungan yang lama, mencari cara-cara baru untuk membuat hidup ini menjadi lebih bergairah dan menenteramkan, entah itu dalam keluarga, dalam dunia karir, dalam aktivitas sosial, politik, dan sebagainya.

Natal juga menjadi perayaan kreatif untuk menyatakan syukur atas karya keselamatan Tuhan bagi manusia. Sesungguhnya rasa syukur itu tidak dapat dilakukan dalam ketidak-bebasan. Terpaksa bersyukur itu sejatinya bukan syukur. Orang juga tidak bisa diperintahkan untuk bersyukur. Rasa syukur harus datang dari lubuk hati yang paling dalam (internal) dan tidak dijalankan secara terpaksa atau dipaksa dari luar (eksternal).

Rasa syukur itu juga selalu disertai dengan tindakan yang membawa kebaikan. Tindakan yang membawa kehancuran pasti tidak muncul dari hati yang bersyukur melainkan dari hati yang dongkol, sirik, sombong, curiga, penuh dendam dan sarat kesumat.

Maka prinsip natalitas sejalan dengan perayaan Natal. Yang dirayakan adalah kemampuan kreatif untuk melahirkan sesuatu yang baik bagi masyarakatnya. Natal mengajak kita agar menjauh dari sikap demagogis yang melancarkan serangan-serangan melalui hasutan-hasutan untuk memperkeruh suasana, demi tercapainya cita-cita sang demagog. Jelas bahwa sikap demagogis itu bertentangan dengan prinsip natalitas.

Narasi demagog sebenarnya juga tercermin dalam narasi Herodes yang berusaha menghilangkan prinsip natalitas yang terkandung dalam diri sang bayi pembawa kreativitas dan natalitas. Dengan kata lain Herodes adalah wajah sang demagog yang menghasut untuk mencurigai dan mengecam setiap natalitas. Sementara para gembala dan orang majus dari timur adalah mereka yang secara jujur dan otentik menyambut dan menghargai natalitas. Ketenangan malam, nyanyian malaikat, dan bintang, telah menjadi tanda bagi penghargaan terhadap natalitas, bukan terik yang membakar dengan sorakan membahana dan acungan pedang keberingasan Herodes, yang tanpa belas-kasihan menyembeli bayi-bayi tak berdosa demi tujuan dan hasrat demagogisnya.

Singkatnya, narasi Natal adalah narasi natalitas, bukan narasi demagogis, narasi senyum, bukan narasi keberingasan, narasi kreatif, bukan narasi autokratif. Selamat Natal, 25 Desember 2014. Selamat berkreasi melahirkan kebaikan bagi sesama, saling berbagi, dan saling melayani. Selamat merayakan prinsip natalitas.

Benyamin Molan

Jakarta 22 Desember 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s