NAIK COMMUTER?

KRL Commuterline

KRL Commuter line

Terima kasih

Terima kasih

Neneng dan si Ade anaknya, berkunjung ke tempat kost Nunung, adiknya Neneng, di daerah Pasar Baru. Mereka berangkat dari Bekasi, menumpang KRL Commuter Line, dan turun di stasiun Juanda. Dari situ mereka dihantar tukang ojeg ke tempat kostnya Nunung. Terdengar Nunung menyambut kedatangan mereka, dan berdialog dengan si Ade, ponakannya.

Nunung: Naik apa ke sini tadi De.

Ade:  Naik commuter

Nunung:  Commuter?

Ade:  Yalah, emangnya kenapa?

Nunung:  Berapa lama perjalanannya?

Ade:  Kurang lebih satu jam.

Nunung:  Satu jam? Cepat sekali.

Ade: Yalah, kereta kan ga ada macetnya.

Nunung:    Oh. . . naik kereta . . . katanya      tadi naik commuter. Commuter itu artinya orang yang pergi dan pulang kerja. Jadi, kalau Ade naik commuter artinya Ade naik orang yang pergi dan pulang kerja.

Ade:  Kalau naik commuter line gimana?

Nunung:  Juga ga bisa. Commuter line artinya jalur orang yang pergi dan pulang kerja. Ade ga bisa naik jalur. Yang ade naik adalah KRL Commuter Line, kereta rel listrik yang mengangkut orang yang pergi dan pulang kerja. Salahnya sama seperti ketika orang mengatakan “naik busway”.

Ade:  Tapi kan ade dipangku ibu. Dan ibu pergi dan pulang, kerjanya pangku Ade. Jadi, Ade naik commuter kan?

Nunung:  ???? Umurmu berapa sih?

Ade:  Beda tipislah!

TERIMAKASIHLAH KE SAYA

Di KRL Commuter Line, Boli, pria usia setengah baya, suka memberikan tempat duduknya kepada ibu-ibu penumpang-kereta yang terlihat sudah masuk usia manula, yang menggendong bayi, atau yang sedang hamil. Setiap kali memberikan seat-nya, seringkali dia mendengar penumpang yang diberi tempat-duduk itu  berucap, Alhamdulilah, atau Puji Tuhan.

Lama-lama si Boli mulai mikir, “saya yang beri seat koq terima kasihnya ke Tuhan ya; kenapa bukan terima-kasihnya ke saya sih?” Suatu saat dia curhat ke Bale, temannya yang sama-sama pengguna KRL.

Boli:  Kenapa ya, setiap kali saya memberi seat saya pada orang, terima kasihnya selalu diarahkan ke Tuhan dan bukannya ke saya. Kan saya yang memberikan tempat duduk itu.

Bale:  Tetapi kan Tuhan yang empunya seat itu, maka pantas kalau orang berterima kasih ke Tuhan.

Boli:  Tetapi seat itu kan sudah diberikan Tuhan ke saya. Saya juga sudah berterima kasih ke Tuhan, ketika mendapat seat itu. Seharusnya dia yang saya berikan seat, berterima kasih kepada saya dong. Kenapa orang sepertinya enggan berterima kasih kepada sesama ya?

Bale:  Bukan begitu. Di saat Anda berdiri untuk memberikan seat Anda, Tuhan sudah lebih dahulu duduk kembali di seat yang kosong itu, sebelum orang lain itu duduk. Ketika Anda bangun, Anda mengembalikan seat itu ke Tuhan, dan nanti Tuhan-lah yang memberikan seat tersebut ke orang itu, bukan Anda yang memberikannya. Maka wajarlah kalau orang itu berterima-kasihnya ke Tuhan. Nanti Tuhan yang berterima kasih kepada Anda.

Boli:  Ribet ya. Terima kasih langsung aja kenapa sih, mesti muter-muter begitu?

Bale: Anda yang bikin ribet. Setelah memberikan seat Anda, ya selesai. Jangan nuntut lagi terima kasih. Kalau dia bilang terima kasih, nanti Anda bilang kembali kasih, nanti dia bilang kasih kembali, nanti Anda kembalikan lagi kasihnya, ribettt bett bettt, dan Anda jadi lupa turun dari kereta. Lebih baik balikin ke Tuhan, selesai, tak ribet.

Announcer: Sebentar lagi kereta Anda akan tiba di Stasiun akhir Bekasi. Periksa kembali barang bawaan Anda agar tidak tertinggal di rangkaian kereta. Terima kasih telah menggunakan jasa KRL Commuter Line.

Boli: Alhamdulilah, Puji Tuhan, Deo Gratias, Praise the Lord… Eh lupa, “terima kasih masinis”.

Benyamin Molan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s