MATINYA SANG REU : LEMBATA BERKABUNG

Di saat seluruh Nusantara semarak memeriahkan HUT Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ke-69, pada tanggal 17 Agustus 2014, Lembata justru berkabung. Bentrok antar warga di dua desa kecamatan Wulandoni telah menuntut korban, satu tewas dan 5 luka-luka. Requiescat in pace bagi reu yang meninggal, turut berduka bagi keluarga yang ditinggalkan, dan semoga lekas sembuh bagi reu-reu yang luka-luka.

Seperti telah banyak diberitakan, masalahnya adalah sengketa perbatasan desa yang sebenarnya sudah lama menimbulkan gesekan-gesekan di lapangan. Mungkin tiadanya penyelesaian yang tuntas telah ikut membuat intensitas gesekannya meningkat, dan sebuah percikan kecil yang timbul saat pemasangan talud pengaman pantai, sudah cukup untuk menimbulkan kebakaran yang hebat. Bentrok itu seperti api, yang kalau sudah telanjur membesar akan sulit untuk dipadamkan.

Walaupun gubernur NTT mengatakan bahwa ini adalah murni persoalan sengketa perbatasan antara kedua desa dan bukan soal sara, tetap harus diakui bahwa bentrok ini terjadi antar warga yang adalah orang, dan bukan antar tanah atau antar suku atau agama. Maka harus diakui pula bahwa persoalan apa pun sebenarnya bisa dihadapi secara beradab, kalau hubungan antar orang terjalin dengan baik. Relasi manusia yang baik akan menjadi landasan yang kondusif bagi penyelesaian persoalan apa pun tanpa harus mengorbankan nyawa manusia. Jadi persoalannya bukan hanya pada sengketa batas tanah melainkan juga pada tidak terbangunnya relasi yang baik antar manusia.

Kekerasan dan keberingasan itu sebenarnya ada pada tingkat aktivitas manusia paling rendah bahkan setingkat infrahuman (Baca artikel “Hannah Arendt: Mengurai Kekerasan” di blog ini). Ketika relasi antar manusia dibangun dengan baik, maka persoalan apa pun tidak akan turun sampai ke tingkat serendah ini. Ketika orang menggunakan kekerasan, kadar atau tingkat kemanusiaannya sudah tereduksi sampai ke titik yang sangat rendah. Yang bermain dalam arena kekerasan ini bukan lagi keutuhan manusia yang beradab, melainkan sisi animal yang sudah tidak lagi rasionale.

Ketika relasi kemanusiaan tidak dibangun dengan baik, maka persoalan yang kecil pun bisa menjadi besar. Dan relasi yang buruk itu bisa menjadi landasan atau disposisi yang siap tersulut oleh masalah apa saja. Ini sudah sejak lama disadari rakyat di Lembata, ketika Lembata terpecah oleh relasi yang tak sehat antara Paji dan Demon. Ini jugalah yang menjadi inspirasi bagi terselenggaranya Mubesrata 7 Maret 54 yang diprakarsai oleh para politisi guru kita. Mereka sadar betul bahwa yang pertama harus dibangun adalah relasi manusia yang baik, karena ini merupakan fondasi bagi perjuangan dan pembangunan Lembata lebih lanjut. Dengan kata lain relasi antar manusia Lembata perlu dibentangkan supaya tidak menjadi hambatan untuk perjuangan Lembata ke depan termasuk yang urgen saat itu adalah otonomi Lembata. Agenda utama Mubesrata 7 Maret 54 adalah membangun landasan ini, supaya langkah perjuangan otnomi ke depan tidak tersandung oleh relasi yang bermasalah ini. Semboyan Mubesrata untuk membangun landasan ini, adalah ajakan bagi orang Lembata untuk menjadi “reu” bagi sesamanya.

Tetapi peristiwa demi peristiwa di Lembata sepertinya memperlihatkan  bahwa apa yang diambil dari Mubesrata 7 Maret 54 hanyalah “otonomi”nya sementara “reu”nya tersingkir. Karenanya semangat “reu” harus dibangun untuk kembali menjadi landasan bagi otonomi. Sekarang Lembata bersedih. Sang Reu telah diabaikan, ketika semua mata lebih melotot pada otonomi yang telah melahirkan banyak jabatan, kucuran uang, dan banjir proyek. Begitulah kalau Lembata tidak mengambil semangat Mubesrata secara utuh. Otonominya diambil, tetapi reunya ditendang. Otonomi yes, reu no.

Maka kembalikan semangat reu ke Lembata. Sudah saatnya untuk lebih efektif menjadikan Mubesrata sebagai pedoman arah. Untuk itu Mubesrata perlu diselebrasikan karena di sana kita menselebrasikan reu dan otonomi. Menselebrasikan otonomi saja, justru menselebrasikan ketidak-utuhan manusia Lembata.

Program-program pembangunan pun harus lebih memperhatikan juga aspek reu ini. Sudah lama disadari bahwa pembangunan fisik, ekonomi, politik, tidak akan mensejahterakan kalau tidak menyentuh aspek kemanusiaan. Untuk itu, kembalikanlah semangat reu ke Lembata. Itu saja reu.

Benyamin Molan Amuntoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s