TAK KENAL MAKA TAK …. BENCI

20140806_142432-1
Dalam berbagai macam acara perkenalan, ungkapan “tak kenal maka tak sayang,” sering terdengar. Orang diperkenalkan supaya disayang. Perkenalan sepertinya menjadi prasyarat bagi orang untuk disayangi. Betul, bahwa kita hanya menyayangi orang yang kita kenal. Tak mungkin kita menyayangi, menyukai, menyenangi, atau mencintai orang atau sesuatu, yang tidak pernah kita kenal. Atas dasar itu maka muncul konsep pengenalan, entah pengenalan orang, pengenalan produk, pengenalan program, pengenalan agama, pengenalan budaya, pengenalan konsep, ideologi dsb.

Tetapi sebenarnya yang sebaliknya juga bisa benar. Orang tak bisa membenci seseorang atau sesuatu yang tidak pernah dikenal. Kebencian hanya terjadi di antara orang yang saling mengenal. Karena itu ungkapan tak kenal maka tak sayang, sebenarnya berlaku juga untuk benci: Tak kenal maka tak benci. Perkenalan juga menjadi prasyarat bagi seseorang untuk dibenci. Dengan demikian perkenalan tidak otomatis menimbulkan kecintaan, melainkan juga bisa melahirkan kebencian. Tidak heran bahwa sebelum cukup dikenal, seorang politisi, capres, caleg, atau cagub atau cabup, tampaknya simpatik dan mendapat dukungan. Tetapi setelah lebih jauh dikenal, orang tersebut malah bisa kehilangan rasa simpati, dan tidak lagi mendapat dukungan.

Karenanya, mengenal tidak otomatis akan menimbulkan rasa sayang. Bisa saja terjadi bahwa semakin seseorang dikenal, semakin dia justru dibenci. Maka entah dicintai, disayangi atau dibenci, selalu disyaratkan oleh adanya pengenalan.

Dengan demikian, popularitas itu tidak selalu menjadi credit point tetapi bisa juga menjadi discredit point. Yang bisa menjadi credit point hanyalah popularitas yang berkualitas. Ada “selebriti” atau “politisi” yang memang populer, tetapi justru dibenci dan diumpat orang, karena tutur-kata dan tindak-lakunya yang tidak berkualitas. Dukungan terhadapnya pun semakin merosot justru setelah orang semakin mengenalnya.

Kampanye-kampanye pemilu entah untuk pilkada, pileg, atau pilpres, tentu saja dilancarkan untuk meningkatkan popularitas demi mendapatkan elektabilitas. Tetapi popularitas tidak selalu meningkatkan elektabilitas. Kampanye-kampanye hitam (istilah yang sebenarnya kurang tepat, karena hitam tidak selalu berarti jelek) pasti merupakan cara-cara untuk merebut popularitas yang tidak akan meningkatkan elektabilitas yang bermutu bagi pelaku, malah sebaliknya bisa mendongkrak elektablitas pihak korban.

Maka berhati-hatilah ketika kita memperkenalkan diri, dan mencari popularitas. Bila salah memperkenalkan diri, maka bukan cinta melainkan benci yang kita tuai; bukan elektabilitas melainkan jelektabilitas yang kita petik.

Popularitas yang berkualitas adalah popularitas yang dibangun dalam konsistensi kejujuran, dan tumbuh dalam otentisitas sikap dan perilaku. Popularitas palsu yang sering harus ditunjang dengan suntikan-suntikan energi dari luar otentisitas dan kejujuran, akan terseok-seok bertumbuh-kembang dalam rekayasa dan kepalsuan. Popularitas yang ditunjang oleh kekuatan rekayasa dari luar. seperti money politics, fitnah, berita bohong, informasi-informasi palsu, dan sebagainya, justru akan menciptakan bumerang bagi dirinya sendiri. Seluruh proses pengenalan akhirnya menjadi bias; dan proses tersebut tidak lagi berujung pada dicintai dan meraih simpati, melainkan bermuara pada rasa benci dan menuai antipati.

Jadi semakin kita dikenal, bisa saja semakin kita dicintai; tetapi bisa juga sebaliknya, semakin kita dikenal, semakin kita dibenci. Yang jelas, kenal tidak automatis berujung pada cinta, melainkan bisa juga bermuara pada benci.

Popularitas atau keterkenalan tentu saja bukan merupakan nilai. Berbuat baik, peduli, jujur, setia, berbagi dengan sesama, adalah nilai. Maka yang pertama dan terutama di sini, bukan popularitas melainkan mutu. Kualitas atau mutu yang baik akan melahirkan popularitas yang berujung pada cinta, mutu yang jelek akan melahirkan popularitas yang berujung pada kebencian. Pengenalan atau popularitas yang tidak diawali dengan mutu, akan berujung pada kebuntungan. Lebih baik menjadi manusia yang tidak terkenal daripada menjadi babi yang terkenal; lebih baik menjadi Sokrates yang tidak terkenal daripada menjadi orang tolol yang terkenal (versi pelesetan dari ungkapan John Stuart Mill: “Lebih baik menjadi manusia yang tidak puas daripada menjadi babi yang puas; lebih baik menjadi Sokrates yang tidak puas daripada menjadi orang tolol yang puas.”)

Benyamin Molan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s