CURANG DAN KORUPSI

Akhir-akhir ini suhu politik semakin memanas. Kedua capres dan cawapres serta tim-suksesnya masing-masing, bersaing untuk memperebutkan suara rakyat. Sayangnya persaingan itu menjadi semakin tak sehat. Berbagai macam cara telah ditempuh untuk mengambil hati rakyat, dan mengantongi kedaulatannya. Argumentasi-argumentasi yang ditampilkan sering kali lebih bersifat persuasif ad hominem ketimbang analitis ad rem. Ini terutama disebabkan karena sasarannya adalah menggiring pemilih untuk mencoblos, dan bukannya memandu pemilih untuk  mencoblos secara bebas sesuai hati nuraninya.

Kesuksesan para capres di sini tidak diukur berdasarkan berbobot atau tidaknya program, visi, misi, melainkan lebih pada berapa banyak suara yang berhasil diraup. Dengan kata lain, sasarannya bukan pada produk bermutu yang dihasilkan melalui proses yang teruji, melainkan pada produknya saja, tanpa ada kepedulian pada mutu sebuah proses. Yang penting menangnya, bukan cara mencapai kemenangannya.

Namun tetap harus disadari bahwa produk yang berkualitas biasanya dihasilkan melalui proses yang berkualitas. Dengan demikian presiden yang terpilih melalui proses yang tidak berkualitas alias curang, adalah presiden yang kurang bermutu, dan mungkin lebih pantas untuk dicemooh ketimbang dibanggakan.

Manipulasi afeksi

Tidak jarang terjadi bahwa tim-sukses berupaya menggiring masyarakat pemilih kita yang tingkat pendidikannya masih dianggap rendah, dengan lebih menggosok aspek afeksi dan psikomotoriknya ketimbang aspek kognitifnya. Akibatnya apa yang ditampilkan di benak rakyat adalah informasi-informasi yang lebih menggosok emosi daripada mengasah kecerdasan. Rakyat kecil yang kurang berpengetahuan ini gampang dimanipulasi dengan berbagai informasi palsu dan menyesatkan lalu, diumpan dengan money politics, yang disamarkan dengan political cost (biaya politik).

Rakyat kecil yang masih lurus hati, pasti akan merasa disudutkan oleh tuntutan moral dalam hatinya, lantas merasa berdosa kalau tidak memilih capres yang telah memberi mereka uang. Sangat disayangkan bahwa ketulusan moral yang bening dan lurus hati ini dikotori dan dimanipulasi untuk sebuah kepentingan yang jauh dari bermoral. Kalau ini yang terjadi maka para politisi kita bertanggung jawab atas tindakan pembodohan dan manipulatif ini.

Inconsistency ad hominem

Mengamati paparan program para capres kita, tampak bahwa korupsi masih tetap menjadi musuh yang harus terus diperangi. Pada hal korupsi adalah bagian dari kecurangan. Sangat kontradiktif ketika ada capres yang bersuara lantang memberantas korupsi dan ingin menutup segala kebocoran anggaran, namun tetap saja membiarkan kecurangan-kecurangan ikut menyerapi prosesnya mengejar kekuasaan. Memang bisa tidak jelas siapa yang telah melakukan kecurangan-kecurangan itu, dan berada di pihak mana sesungguhnya si pelaku tersebut. Tetapi sangat bermartabat kalau para capres secara terbuka mengutuk tindakan-tindakan yang curang itu, ketika ada indikasi yang cukup jelas bahwa ada kampanye hitam, dan bukannya mendiamkannya, atau berpura-pura tidak tahu, sambil menikmati keuntungannya.

Bukankah kecurangan adalah bagian dari penyelewengan yang tentu saja termasuk dalam daftar kejahatan yang harus diberantas? Tetapi bagaimana seorang capres bisa berjanji untuk memberantas kecurangan pada hal dia sendiri, atau orang-orang di sekitarnya selalu bermain curang. Apakah sang capres nantinya bisa memberantas korupsi kalau sekarang memilih diam terhadap kecurangan yang dibangun di sekitarnya?

Kalau seperti ini situasinya, maka harus kita akui bahwa telah terjadi apa yang dalam Logika disebut kesesatan inconsistency ad hominem. Dalam kesesatan ini, orang hanya mengeritik dan ingin meniadakan ketidak-beresan yang ada di luar dirinya, sementara dia sendiri tidak sadar bahwa apa yang dikritiknya sebenarnya melekat dalam dirinya sendiri. Itu artinya orang itu tidak walk the talk (melakukan apa yang dikatakannya). Dia melawan dirinya sendiri. Dia memberlakukan standar ganda. Standar yang digunakan untuk dirinya sendiri, berbeda dari standar yang digunakan untuk orang lain.

Capres yang berkoar-koar memberantas korupsi tetapi membiarkan saja kecurangan-kecurangan terjadi, sebenarnya telah melakukan kesesatan inconsistency ad hominem, dan menganut standar ganda. Bagaimana mungkin dengan standar ganda semacam ini, para capres atau cawapres juga bisa berbicara dan menjanjikan kesetaraan di hadapan hukum, alias tidak adanya diskriminasi, ketika kecurangan di kubu lain dipelototi, sementara kecurangan di kubu sendiri malah dipelupuki? Mungkin saja di hadapan hukum, semua kita sama (ought to), tetapi di hadapan hakim tetap saja ada diskriminasi (is). Janji kesetaraan ini hanya bisa mendapatkan kepastian moral, ketika para capres dan cawapres sudah menunjukkan integritasnya. Jika tidak maka inconsistency ad hominem akan terus menggerogoti kepercayaan pada sang capres.

Menentukan posisi

Tentu saja ada ruang untuk berkelit bahwa kecurangan-kecurangan itu tidak selalu dilancarkan oleh lawan politik. Artinya kecurangan itu bisa saja dilakukan oleh pihaknya sendiri untuk menyudutkan pihak lawan. Tetapi harus ada niat baik untuk membuktikannya secara serius; atau sekurang-kurangnya para capres bisa bersikap tegas mengecam, bahkan mengutuk dengan serius, kecurangan itu, walaupun ada kemungkinan bahwa kecurangan tersebut dilakukan oleh pendukungnya sendiri. Perlu disadari bahwa kecurangan itu bukan hanya perbuatan tercela dalam pemilu, melainkan juga tercela dalam seluruh bidang dan sendi kehidupan manusia.

Inconsistency ad hominem merujuk pada nilai-nilai etis yang merupakan satu keutuhan integral. Kejujuran, keadilan, integritas, kesetiaan, keberanian, kesederhanaan adalah nilai-nilai etis yang tidak bisa dijalankan secara fragmentaris. Maka kelantangan seruan para capres dalam memberantas korupsi misalnya, harus juga menjadi kelantangan seruan untuk memberantas pelanggaran kecurangan dan fitnah yang sedang terjadi entah dari kubu lawan politik atau dari kubu sendiri. Jika tidak, maka slogan plesetan “katakan tidak pada hal korupsi” akan muncul dalam wajah baru menjadi “katakan tidak korupsi pada hal curang”.

Benyamin Molan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s