YANG SAMA MENGENAL YANG SAMA

Mengamati kampanye para kandidat presiden akhir-akhir ini, saya sangat tertarik dengan fenomena yang ditampilkan Jokowi dan para pendukungnya dalam perjuangan untuk memenangkan pemilihan presiden 2014. Ada yang lain dari yang lain. Lepas dari menang atau tidaknya Jokowi dalam pilpres kali ini, lepas dari mendukung atau tidak mendukung Jokowi menjadi presiden, lepas dari hasil survei elektabilitasnya, satu hal yang tidak bisa dipungkiri akal sehat, adalah bahwa dukungan dari arus bawah begitu nyata. Mereka bahkan berani menyumbang dana dan meluangkan waktu mereka untuk aktif dalam aksi-aksi yang semakin mengasyikkan ini. Rakyat seperti menemukan diri dan identitasnya dalam diri Jokowi. Rakyat merasa bahwa mereka adalah Jokowi. Sepertinya ada kesamaan antara rakyat kecil dan Jokowi.

Apa yang terjadi pada Jokowi ini membuat saya teringat akan Empedokles, salah satu filsuf Yunani kuno yang pernah memperkenalkan prinsip yang sama mengenal yang sama. Prinsip ini dibicarakan ketika dia membuat penyelidikan untuk menjawab pertanyaan: apa yang sesungguhnya zat pertama yang menjadi asal mula bagi segala sesuatu yang ada di dunia ini (to apeiron). Menurut dia ada empat unsur pokok atau to apeiron itu yakni: api, air, tanah, dan udara. Dan semua realitas yang ada di dunia ini mengandung empat unsur tersebut, dengan komposisi berbeda yang dibentuk berdasarkan prinsip cinta dan benci. Tentu saja cinta dan terutama benci di sini tidak dimaknai dari segi penilaian moral melainkan dari segi faktual.

Ketika mengalami pemurnian, realitas yang ada mengalami semacam proses cinta dan benci. Keempat unsur itu terurai dan menyatu dengan unsur-unsur yang sama, api dengan api, air dengan air, tanah dengan tanah, dan udara dengan udara, dan timbul semacam kebencian pada unsur-unsur yang tidak sama sehingga terjadilah pemisahan dan penguraian. Ini bisa terlihat misalnya ketika kita membakar kayu. Seperti benda-benda lain, kayu juga memiliki komposisi tertentu dari empat unsur itu yang kemudian terurai ketika dibakar. Api (sedang membakar), air (menguap dengan bunyi kretek-kretek), udara (asap yang membubung), dan tanah (abu, sisa pembakaran). Peristiwa alamiah ini sepertinya menggambarkan bahwa dalam masa-masa pemurnian yang penuh tantangan, setiap unsur menemukan identitasnya. Dan identitas-identitas yang sama cenderung untuk saling mendekat dan menyatu.

Konsep ini sepertinya tanpa disadari telah terjadi pada Jokowi, saat dia berupaya membangun strateginya dalam kontestasi pemilihan presiden. Dia mengidentikkan dirinya dengan rakyat kecil. Slogan “Jokowi adalah kita” seperti mau mengatakan bahwa yang menjadi presiden itu bukan Jokowi melainkan rakyat. Agaknya dia sadar bahwa rakyat tengah mengalami pemurnian, dan karena itu akan terurai dan menyatu dalam identitas-identitas yang sama. Rakyat merasa seolah-olah merekalah yang menjadi presiden. Mereka tak segan-segan berjuang, bukan agar Jokowi menjadi presiden, melainkan agar rakyat yang menjadi presiden. Pantas kalau dukungan itu begitu otentik dan original dan karena itu sangat kaya dengan kreativitas, penuh semangat, dan benar-benar inspiratif. Kemenangan Jokowi adalah kemenangan kita. Perhatikan Lagu Salam Dua Jarinya Jokowi: Kita harus menang (bukan Jokowi harus menang, bukan juga Jokowi presidenku). Revolusi mental yang diperkenalkan di sini pun tidak dimulai dari atas melainkan dari bawah. Mental keteladanan dari atas tampaknya telah gagal, dan harus direvolusi dengan gerakan moral dari bawah. Dan akhirnya rakyat diberi premis dan konklusi hipotetis kondisional, yakni jika ingin menjadi presiden, jangan lupa pilih Jokowi.

Apa yang terjadi di sini bukan sekadar solidaritas, karena sikap itu sudah serta merta ada pada Jokowi yang memang bukan datang dari dunia lain dan masuk ke arus bawah, melainkan merupakan bagian arus bawah itu sendiri. Pantas saja kalau ada yang merasa kurang sreg dengan tampang capres yang satu ini dan merasa sangat tidak nyaman kalau punya presiden yang berpenampilan seperti itu. Rasa-rasanya bangsa kita bakalan diremehkan oleh bangsa lain. Bahkan putri seorang tokoh reformasi meragukan kemampuan Jokowi menjadi presiden, dan memintanya untuk berpikir ulang. Ada pula artis yang enggan memasang foto Jokowi di rumahnya kalau Jokowi terpilih jadi presiden. (Artis tersebut akhirnya terjebak dalam identitas fasis Nazi yang tanpa sengaja termanifestasi dalam pilihan kostum yang dikenakannya untuk tampil dalam sebuah video-clip. Mungkin di sini berlaku juga prinsip yang sama mengenal yang samanya Empedokles, atau pembenaran atas psiko-analisisnya Sigmund Freud).

Tetapi apakah soal tampang akan membuat Jokowi kalah dalam pilpres? Entahlah. Yang jelas Jokowi telah memulai sesuatu yang tak akan terbendung lagi dalam demokrasi Indonesia: pemimpin harus mendengarkan suara rakyat, pemimpin harus mengabdi kepada rakyat, dan melayani rakyat.

Benyamin Molan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s