LOGIKA ILMU DAN SENI BERPIKIR KRITIS: KATA PENGANTAR

Ketika menerjemahkan buku Phillip Kotler, Marketing Management, edisi 11, saya terkesan oleh salah satu ungkapan Kotler, ketika ghurunya para guru pemasaran ini berbicara tentang iklan:

The best defense against misleading ads . . . is not tighter controls on (advertisers), but more education and more critical judgement among . . . consumers. (Pertahanan paling kokoh terhadap iklan yang menyesatkan bisa diciptakan… bukannya dengan semakin ketat mengontrol para pemasang iklan, melainkan dengan lebih meningkatkan pendidikan dan membangun penilaian yang lebih kritis di kalangan …. konsumen.) Artinya pendidikan dan sikap kritis konsumen harus dibangun untuk membentengi konsumen dari trik-trik iklan yang bisa menyesatkan.

Kotler benar. Dan ini tidak hanya berlaku untuk iklan dalam arti sempit, melainkan juga iklan dalam arti luas. Dalam ruang publik yang semakin terbuka bagi setiap orang untuk menyampaikan pikiran, pendapat, dan mengiklankan pengaruh serta jasanya, di dunia politik, ekonomi, budaya, agama, keyakinan, ideologi, entertain, dan lain sebagainya, upaya proteksi hampir tidak memadai lagi. Lebih tepat adalah membangun karakter berpikir kritis, supaya orang mampu mengambil sikap sendiri yang otentik sesuai dengan kemandiriannya. Di zaman yang penuh dinamika dan gejolak ini orang perlu memperlengkapi dirinya dengan karakter berpikir kritis agar tidak mudah hanyut oleh berbagai pemikiran manipulatif atau menyesatkan yang dikomunikasikan dengan berbagai cara yang sangat persuasif dan meyakinkan itu.

Logika sebagai ilmu sekaligus seni berpikir kritis, sudah dibangun sejak abad kelima sebelum masehi ketika Aristoteles mulai mengembangkannya menjadi alat atau organon, tidak hanya untuk ilmu pengetahuan, melainkan juga untuk orang yang mau menjadi bijaksana. Dari sejarah dan perannya, tampak bahwa Logika banyak berkecimpung dalam ilmu pengetahuan, dan berfungsi sebagai alat untuk menguji kebenaran-kebenaran ilmiah sekaligus validitasnya. Maka jelas bahwa orang tidak bisa mempelajari atau mengembangkan ilmu pengetahuan dengan menyingkirkan logika. Artinya, menyingkirkan logika dari ilmu pengetahuan pasti bukan langkah yang bijaksana.

Dengan demikian menjadi jelas bahwa berpikir kritis adalah bagian dari kebijaksanaan. Bertindak tanpa berpikir kritis mudah melahirkan kecerobohan. Tetapi tidak berarti bahwa berpikir kritis akan sebaliknya melahirkan pribadi-pribadi pengecut yang tidak berani mengambil keputusan. Pengecut atau peragu sesungguhnya juga tak pernah berpikir kritis, terutama menyangkut sikap dan pemikirannya sendiri. Sebaliknya berpikir kritis akan melahirkan pribadi-pribadi matang yang bijaksana; bukan pengecut sekaligus juga bukan penceroboh.

Buku ini mau ikut berkontribusi pada dua aspek ini. Dengan terpenuhinya dua aspek ini maka seseorang bisa menjadi ilmuwan yang bijaksana. Ilmuwan mungkin lebih berkutat dengan soal reputasi, sedangkan kebijaksanaan mungkin lebih berkaitan dengan karakter. Logika ingin berfungsi untuk membangun kedua-duanya. “Reputation is about who you are when people are watching, Character is about who you are when there’s nobody in the room but you.” (Reputasi adalah menyangkut siapakah Anda ketika diperhatikan orang. Karakter adalah menyangkut siapakah Anda ketika tidak ada seorang pun di ruangan selain Anda.) Artinya reputasi itu sesuatu yang dibangun dari luar, sedangkan karakter itu dari dalam.

Karena itu, setelah bagian pendahuluan yang mengintroduksi beberapa hal yang perlu untuk mulai melangkah memasuki dunia logika, buku ini langsung menyajikan berbagai macam sesat-pikir (fallacia) yang tanpa kita sadari begitu sering membuat kita cenderung menjadi kurang cerdas dalam berargumentasi dan kurang cermat dalam mengidentifikasi kebenaran (Bab 2).

Selanjutnya dua bab berikut akan mempersiapkan kita untuk membuat penalaran dan penyimpulan yang tepat. Untuk itu kita perlu bicara tentang pengertian dan term (Bab 3), lalu putusan dan proposisi (Bab 4) yang menjadi syaratnya.

Dan setelah perlengkapan untuk membuat penalaran dan penyimpulan siap, maka langkah selanjutnya adalah membahas soal penalaran Induksi dan Deduksi sebagai langkah atau proses untuk membuat penyimpulan-penyimpulan (Bab 5). Setelah langkah ini ditempuh, mestinya kita siap untuk menilai dan membuat penyimpulan-penyimpulan yang dapat dipertanggung-jawabkan, seperti penyimpulan oposisional, konversi (Bab 6) dan silogisme (Bab 7). Bagian ini merupakan langkah yang penting untuk mengarahkan kita lebih cermat dalam menarik kesimpulan-kesimpulan berdasarkan data-data yang menjadi premisnya. Betapa sering penyimpulan-penyimpulan ini menyesatkan karena tidak sejalan dengan data atau premis-premisnya.

Dengan demikian buku ini pertama-tama bermanfaat bagi mereka yang bergumul langsung dengan ilmu pengetahuan, para ilmuwan, para dosen, mahasiswa, akademisi dari berbagai disiplin ilmu, reporter, pengacara, para praktisi, aktivis yang berkecimpung dalam dunia pengambilan keputusan, para politisi, pejabat dan siapa saja yang ingin membangun karakter berpikir kritis. Harapan kami, semoga buku ini bisa ikut berkontribusi bagi pengembangan reputasi dan karakter pembacanya.

Konsisten dengan tujuannya, maka buku ini pun perlu disikapi secara kritis. Segala saran dan sumbangan pemikiran untuk lebih menyempurnakan buku ini kami terima dengan senang hati.

Benyamin Molan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s