NARASI NATAL: NARASI JINGLE BELLS

Kalau lilin akrab dengan Perayaan Paskah, maka lonceng akrab dengan Perayaan Natal (Jingle Bells menjadi salah satu icon Natal). Lilin yang membakar dirinya sendiri untuk memberi terang, menjadi simbol Kristus yang mengorbankan dirinya sendiri demi memberi terang yang menyelamatkan hidup manusia. Sementara lonceng yang bergoyang sambil memukul dirinya sendiri melambangkan dentangan pertobatan. Artinya Natal sebagai selebrasi kedatangan Mesias hanya akan bermakna ketika kita menyambutnya dengan pertobatan.

“Lonceng” memberi tanda bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Ini bisa dianalogikan dengan ning nong pada pintu perlintasan kereta, yang tidak hanya mengumumkan datangnya kereta api melainkan juga menjadi tanda bahwa para pengguna jalan siap untuk tidak melanggar jalur kereta. Jika tidak maka keselamatan akan terancam.

Itu berarti tanda datangnya Kerajaan Allah harus ditanggapi dengan pertobatan. Dengan kata lain pertobatan adalah persyaratan untuk menerima Kerajaan Allah. Tobat selalu digambarkan dengan memukul diri sendiri (dada), atau bahkan mencambuk diri sendiri, pengorbanan.  Ini tersimbolkan pada lonceng yang memukul dirinya sendiri untuk menyuarakan tanda. Artinya lonceng mendentangkan ajakan untuk bertobat, berubah sikap, agar selalu baru.

Kerajaan Allah sudah dekat, artinya Kerajaan Allah sudah ada di tengah kita; dan syarat untuk menerimanya   adalah bertobat. Lonceng Natal memberi tanda kedatangan Kerajaan Allah sekaligus tanda pertobatan untuk menyambut kedatangan kerajaan Allah.

Tetapi antara kedatangan kerajaan Allah dan lonceng pertobatan tidak ada hubungan yang bersifat serta merta.  Artinya harus ada keputusan bagi setiap orang untuk melakukan pertobatan. Analoginya adalah: pintu perlintasan kereta yang tidak diberi palang. Orang tidak perlu dipaksa untuk berhenti, melainkan harus mengambil keputusan sendiri untuk berhenti. Analogi ini ingin menggambarkan bahwa pertobatan itu tidak berjalan secara automatis, atau terpaksa, melainkan dalam kebebasan. Pertobatan mengandaikan adanya kesadaran dalam memutuskan, menentukan, dan mengambil sikap yang tepat. Orang yang mengubah sikapnya karena terancam atau tertindas itu tidak bertobat, melainkan takut. Locus of control-nya tidak berada dalam dirinya (internal) melainkan di luar dirinya (eksternal). Maka kalau kontrol eksternal itu hilang maka tobat akan berubah menjadi kumat. Misalnya ketika orang bertobat hanya karena takut dibakar di neraka (eksternal) maka sikap tobat itu akan melemah bersama dengan keraguannya akan adanya neraka. Tetapi kalau kontrol itu berada dalam dirinya (internal) maka keraguan itu tidak akan memengaruhi pertobatannya.

Pertobatan selalu berhadapan dengan perubahan, dalam arti mengubah sikap yang buruk, atau mempertahankan sikap yang baik di tengah tantangan perubahan yang buruk. Maka bertobat tidak selalu dalam arti dari buruk menjadi baik, melainkan bisa juga dari baik menjadi tetap baik atau menjadi lebih baik. Misalnya saja, sikap orang tua yang baik terhadap anak ketika si anak berusia 5 tahun belum tentu masih tetap baik untuk anak yang sama ketika si anak berusia 17 tahun. Masalah yang sering terjadi adalah anak berubah tetapi orang tua tidak berubah.  Atau perubahannya tidak sesuai dengan pertumbuhan. Ketika anak masih kecil dia bebas melakukan apa saja semaunya. Ketika sudah besar dan bisa mengambil keputusan sendiri baru mulai serba dilarang.

Di sekolah pun, masalah sering terjadi karena pendidik tidak mau berubah. Para guru memberikan materi yang sama, menggunakan metode yang sama sepanjang profesinya menjadi guru. Bahkan ada yang hanya menyontek apa yang dilakukan oleh gurunya terdahulu. Pada hal para siswa dan dunia pendidikan terus berkembang. Di sini lonceng Natal akan berbunyi: ubah, ubah, ubah. Berlaku di sini, prinsip populer yang mengatakan: berubah atau mati.

Pertobatan bisa juga berarti tetap. Seorang yang jujur akan tetap jujur ketika di dunia sekelilingnya korupsi semakin meraja lela. Seorang mahasiswa akan tetap mempertahankan otentisitas karyanya ketika semua mahasiswa lain melakukan tindakan menyontek atau melakukan plagiarisme dalam karya tulis mereka. Seorang yang sabar akan selalu sabar, walaupun seluruh dunia sudah menjadi tidak sabar; tetap lembut hati, walaupun dunia sekelilingnya beringas dan penuh dengan kekerasan. Seorang yang sederhana, tetap akan sederhana, walaupun dunia seputarnya gemerlap dan penuh dengan kemewahan; tetap rendah hati walaupun menghadapi kenyataan di mana banyak orang menjual diri dan menawarkan kesombongan untuk merebut kemuliaan semu; senantiasa damai hati walaupun dunia menawarkan kedengkian dan keberingasan untuk mencengkram kekuasaan palsu; tetap otentik dan jujur terhadap diri sendiri ketika kemunafikan dan pembohongan diri menjadi gaya hidup. Artinya, pertobatan adalah keputusan untuk tetap setia pada prinsip. Dalam hal ini lonceng Natal akan berbunyi: tetap, tetap, tetap. Di sini berlaku prinsip yang tak kalah populer: setia sampai mati.

Karena itu perayaan Natal setiap tahun harus menjadi lonceng bagi kita untuk mengingatkan apakah kita sudah dan selalu bertobat. Artinya Natal adalah saatnya untuk meluruskan yang berliku-liku, meratakan yang lekak-lekuk, dan menjaga yang lurus agar tetap lurus dan tidak bengkok, yang rata agar tetap rata dan tidak menjadi lekak-lekuk. Selamat Berdentang dan Berdendang Natal, 2013. Jingle Bells, Jingle Bells, Jingle All the Way.

Benyamin Molan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s