URSULA SAMELY DAN KAMUS BAHASA KEDANG

Ursula Samely dan Kamus Bahasa Kedang

Ursula Samely dan Kamus Bahasa Kedang

Bahasa Kedang dianggap salah satu bahasa yang unik di Nusantara ini. Bahasa yang penuturnya adalah penghuni wilayah Kedang yang melingkupi dua kecamatan di ujung timur pulau, sekaligus Kabupaten, Lembata, NTT ini, sangat berbeda dari berbagai dialek bahasa Lamaholot yang melingkupinya di pulau itu dan sekitarnya. Pantas kalau bahasa ini menarik untuk menjadi obyek penelitian. (Tentang ini, Robert H. Barnes menulis dalam bukunya: Kedang: A Study of the Collective Thought of an Eastern Indonesian People: “East Flores and the three islands to the east, Solor, Adonara, and Lembata, are inhabited by a population which, everywhere except in Kedang, speaks the Solor or Lamaholot language” (hal. 4). (Flores Timur dan tiga pulau sebelah timurnya yakni Solor, Adonara, dan Lembata, dihuni oleh penduduk yang, semuanya, kecuali Kedang, menggunakan bahasa Solor atau Lamaholot). Dengan merujuk pada catatan W. G. Munro (1913), Richard Salzner (1960) dan Ernst Vatter (1932), Barnes sampai pada kesimpulan berikut: “It seems to me that language of Kedang is best considered a language in its own right, and should not be listed as a dialect of any of its neighbours” (hal. 22) Jadi, menurut dia sepertinya bahasa Kedang itu lebih tepat dianggap sebagai satu bahasa sendiri, dan bukan merupakan dialek dari salah satu bahasa di sekitarnya, entah itu bahasa Lamaholot atau bahasa Pantar dan Alor.

Nama-nama seperti Prof. Karl van Trier, Robert H. Barnes, Ursula Samely (selain nama-nama seperti Beckering, Munro, Vatter, Salzner yang pernah membuat penelitian di Lembata, Flores Timur atau Flores) adalah sejumlah peneliti dari Barat yang pernah melakukan penelitiannya di Kedang. Prof. Karl van Trier yang melakukan penelitian atas prakarsa para misionaris, memperkenalkan penulisan bahasa Kedang dengan menggunakan huruf q untuk melafalkan bunyi gottal stop (tanda hamzah ‘) dalam bahasa Kedang. Karena sulit melafalkan bunyi ini, orang dari luar Kedang, termasuk orang dari kecamatan lain di pulau itu, sering menggantikannya dengan lafal k. Misalnya ‘Edang, diganti menjadi Kedang dalam bahasa Melayu. Atau nama-nama tempat di Kedang seperti ‘Ali’ur menjadi Kalikur. Atau, supaya tidak merepotkan, ada yang menghilangkan saja lafal tersebut, sebagaimana terjadi pada penyebutan nama kota kecamatan Bale’uring, menjadi Balauring. Atau Aliur’oba menjadi Aliuroba. Bahkan ada yang menggantinya saja dengan ng seperti Dolulolo’ menjadi Dolulolong (Lamaholot). Karena gottal stop itu sangat banyak dalam bahasa Kedang, maka van Trier memperkenalkan huruf q untuk melafalkannya. Sebagai contoh, kalimat: Aduh anakku dalam Bahasa Indonesia, akan menjadi: Ero’ ko’ ana’, dalam bahasa Kedang, dan akan ditulis menjadi Eroq koq anaq. Jika tidak demikian, maka kita akan menemukan banyak sekali tanda gottal stop pada penulisan bahasa Kedang.

Ursula Samely, yang khusus membuat penelitian tentang bahasa Kedang, telah menulis sebuah buku berjudul: Kedang (Eastern Indonesia): Some Aspects of Its Grammar (1991). Dan pada tahun 2013, bekerja sama dengan Robert H. Barnes, yang sudah sebelumnya membuat penelitian anthropologi budaya di sana, Ursula juga telah berhasil menyusun sebuah kamus bahasa Kedang yang tentu saja sangat berarti untuk mengabadikan bahasa ini. Judulnya: A Dictionary of the Kedang Language: Kedang-Indonesian-English (2013). Dari judulnya terlihat bahwa kamus ini menggunakan tiga bahasa: Bahasa Kedang, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris.

Selain hard edition, kamus ini pun tersedia secara online. Artinya mesin pencari yang sering dijuluki Mbah Google pun bisa diajak untuk mencari entri dalam bahasa Kedang. Ketika mencari arti sebuah kata bahasa Kedang, Mbah Google akan menghantar Anda ke kamus ini, untuk menemukan artinya. Misalnya, cobalah mencari arti kata “areq weriq” dalam bahasa Kedang..Anda akan mudah menemukannya.

Orang Kedang  patut berterima kasih kepada para peneliti ini khususnya Prof Karl van Trier, Ursula Samely dan Robert H. Barnes, yang telah melakukan karya besar mereka. Mereka bahkan harus menetap selama beberapa tahun di tengah orang Kedang di desa Leuwayan untuk keperluan penelitian tersebut (Ursula Samely, 1980-an; Robert H. Barnes, 1970-an); bahkan masih harus bolak balik lagi untuk memperdalam karya mereka. Mereka telah membantu orang Kedang memahami lebih dalam pola pikir dan perilakunya sendiri dalam adat istiadat dan bahasa yang merupakan kekayaan dan kreativitas warisan para leluhur. Kita tunggu karya-karya berikutnya yang bisa menggali aspek-aspek lain lagi dari seluruh harta warisan kualitatif para leluhur yang sudah berbudaya dan beradab; mudah-mudahan itu semua bisa membangkitkan semangat untuk mengembangkan lebih lanjut seluruh tatanan budaya ini, yang sudah sejak lama mampu mengatur hidup bersama yang rukun, harmonis, dinamis, berwawasan, dan berkeadaban.

Kiranya karya Ursula ini bisa ikut berkontribusi dalam membuka mata kita semakin lebar akan keberagaman kekayaan kultur dan peradaban suku bangsa di Indonesia. Dan yang tidak kalah penting adalah harapan bahwa komunitas-komunitas kultur yang merukun-saudarakan ini tidak dirusak oleh komunitas-komunitas lainnya seperti komunitas politik, ekonomi, sosial dsb. Bahkan kalau tidak waspada, komunitas agama yang semestinya lebih merukun-saudarakan ini bisa malah ikut-ikutan memberikan kontribusinya yang destruktif.

Benyamin Molan Amuntoda

14 thoughts on “URSULA SAMELY DAN KAMUS BAHASA KEDANG

  1. Sebagai orang Kedang saya sangat berterima kasih atas karya besar Ursula dan Barnes. Saya pingin mendapatkan kamus bhs Kedang-Indonesia-Inggris. Bagaimana caranya? Terima kasih atas info!

    • Terima kasih pater atas commentnya. Beberapa orang sudah mengontak saya dan menanyakan hal yang sama.Saya hanya dikirimi satu eksemplar. Ursula ingin mengirimkan satu untuk sebuah universitas di Indonesia, maka saya merekomendasikan UNWIRA Kupang. Saya juga tidak tahu bagaimana mendapatkannya, karena tidak ada di toko buku di Indonesia. Saya akan mengontak penulisnya untuk menanyakan hal ini. Sementara itu mudah-mudahan Ursula atau Barnes membaca comment ini dan memberikan info langsung. Salam.

    • Hallo adik-adik dari MTs Negeri Pantar. Saya sudah kunjungi blok Anda yang keren. Pasti siswa-siswinya pandai-pandai. Saya juga mau belajar dari Anda. Tulis yang banyak. Saya sudah pernah mampir di Baranusa. Bahkan beberapa kali berkunjung ke Kabir. Saya berharap suatu saat masih bisa ke Kabir. Salam untuk para guru dan pembimbing.

  2. Tks kepada ursula dan barnest yg telah meneliti bahasa kami.
    Mohon infonya bagaimana bisa kami dapatkan/beli kamus kedang-indonesia-inggris

    Tks sebelumnya
    Putra kedang yg berada di maumere

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s