EKSISTENSI MENDAHULUI ESENSI

Eksistensialisme menjadi populer karena telah melepaskan filsafat dari lingkup menara gadingnya yang eksklusif, masuk ke dalam dunia publik. Eksistensialisme berjasa membawa filksafat masuk ke kehidupan publik, atau menurut istilahnya Sartre “pasar”. Dulu filsafat hanya menjadi konsumsi para filsuf, sementara publik tidak peduli dan kurang memahami, tetapi eksistensialisme telah membawa filsafat masuk “pasar”. Artinya filsafat harus berkaitan dengan hidup, dengan masalah-masalah dan keputusan keseharian yang dihadapi orang. Mereka menolak pengertian filsafat sebagai masalah spekulasi intelektual tentang makna dari segala sesuatu pada umumnya; bagi mereka pemikiran selalu tertanam dalam pengalaman manusia.

Di sini tokoh-tokoh seperti Sartre, Simone de Beauvoir dan Albert Camus sangat berjasa. Mereka menyampaikan ide-ide filsafat mereka melalui karya-karya mereka dalam bentuk sastra. “Kaum eksistensialist sangat berbeda dari banyak pemikir sebelumnya (dan sesudahnya) dalam hal perhatian mereka terhadap dunia yang ada. Kaum eksistensialis yang terkemuka – Jean-Paul Satre, Albert Camus, Simone de Beauvoir – adalah bukan akademisi melainkan penulis. Mereka hidup dan bekerja di kafe-kafe orang Paris, minum, berdiskusi, beradu argumentasi dan berpikir di tengah kebisingan hidup setiap hari. Kaum eksistensialis berkonfrontasi dengan isu-isu zaman mereka yang menekan dan berupaya menemukan jawaban yang ditarik dari pengalaman, dan bukan dari akal yang abstrak”, tulis Nigel Rodgers dan Mel Thompson (2011) dalam bukunya Existentialism Made It Easy. Mereka meneladani para filsuf Yunani kuno, Sokrates dan kawan-kawan, yang hidup, berpikir dan mengajar filsafat di jalan-jalan berdebu kota mereka, bukan dalam dunia akademik yang terasing.

Eksistensialisme berhasil tampil sebagai ideologi yang dianggap tepat untuk menjawab kebutuhan zaman. Eksistensialisme telah berhasil menenangkan dan memberi harapan kepada orang-orang yang putus asa dan kehilangan harapan karena peristiwa perang dunia kedua yang telah begitu menghancurkan martabat manusia sampai ke titik yang paling rendah. Pantas kalau ceramah Sartre pada tanggal 29 Oktober 1945 sangat menghebohkan Paris. Ceramahanya berjudul ‘Existentialism is a humanism’ (‘ L’Existentialisme est un Humanisme ’) itu menarik audiens begitu besar sehingga ada pendengarnya yang pingsan dalam himpitan.

Tentang ini Nigel Rodgers dan Mel Thompson menulis: “Bagi orang-orang Paris dari tahun-tahun pasca-perang – yang lapar, dingin, lelah, ngeri ketika melihat film pertama tentang kamp kematian Nazi pada bulan April 1945 dan kemudian belajar tentang bom nuklir yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada bulan Agustus, eksistensialisme bukan hanya sok aksi. Ia menawarkan cara memahami dan menghadapi trauma dunia modern. Seperti dikemukakan Beauvoir, sebuah generasi yang ‘kehilangan harapan mereka akan damai abadi, akan kemajuan selamanya, akan esensi yang tidak berubah. . . Mereka telah menemukan Sejarah dalam bentuknya yang paling mengerikan. Mereka membutuhkan sebuah ideologi yang akan mencakupi penyingkapan-penyingkapan tersebut . . . Eksistensialisme, yang berjuang untuk merekonsiliasi sejarah dan moralitas, memberikan mereka wewenang untuk menerima kondisi sementara . . . untuk menghadapi kengerian dan absurditas sambil masih mempertahankan martabat manusia mereka, demi melestarikan individualitas mereka’ (Force of Circumstance, 1965).”

Orang yang kehilangan harapan dan terhimpit oleh pengalaman-pengalaman mengerikan itu bertanya apakah hidup ini masih ada artinya, dan masih adakah harapan yang bisa dikais dari balik puing-puing reruntuhan kehidupan manusia yang telah terasuk oleh trauma dan pengalaman mengerikan yang dipaparkan secara transparan dalam peristiwa kemanusiaan paling buruk dalam sejarah manusia di masa Perang Dunia II?

Sartre dan para filsuf eksistensialis tampil dan memberikan harapan itu. Sartre dengan lantang menyerukan kebebasan manusia. Manusia itu bebas dan tidak terdeterminasi oleh masa lampau. Dengan konsep eksistensi mendahului esensi para eksistensialis mencoba menemukan kembali puing-puing dan serpihan, serta membangun kembali harapan itu. Menurut mereka, manusia tidak mengembangkan dirinya berdasarkan esensi yang sudah ditentukan. Manusia tidak mengembangkan eksistensinya sesuai dengan esensinya yang sudah terpatok, seperti halnya seorang tukang, di saat membuat lemari. Ketika seorang tukang membuat lemari, esensi lemari sudah ditentukan sehingga tukang hanya membuat lemari berdasarkan konsep lemari yang sudah ada. Tidak demikian halnya dengan manusia. Manusia membangun eksistensinya dulu baru esensinya muncul. Artinya dia tidak bisa ditentukan, melainkan menentukan, dia adalah aktor bukan pengekor yang selalu diarahkan pada satu pola yang sudah ditentukan.

Dengan demikian pengalaman buruk masa lampau, keterpurukan yang pernah dialaminya dalam Perang Dunia II tidak perlu membuat manusia kehilangan harapannya. Pengalaman buruk itu tidak mendeterminasi manusia untuk menjadi terus terpuruk dan hanyut dalam mimpi buruknya. Manusia punya kebebasan, punya kehendak dan kemampuan yang bisa dibangunnya sendiri. Manusia tidak terperangkap oleh lingkungan kelahirannya. Menurut para filsuf eksistensialis itu, hidup yang disajikan kepada kita bukan hidup yang dikemas dengan makna dan tujuan, melainkan hidup yang kita bangun sendiri untuk menciptakan sendiri makna dan tujuan.

Apakah eksistensialisme masih relevan di saat ini? Tentu saja eksistensialisme tidak hanya berperan untuk berhadapan dengan kehebohan di Paris melainkan juga bermanfaat bagi kita untuk menghadapi kehebohan dalam hidup kita sendiri. Konsep eksistensialisme memotivasi kita untuk menjadi manusia mandiri, yang percaya diri dan mampu membangun diri kita sendiri secara bebas dan bertanggung jawab. Dia membantu kita untuk tidak mudah putus asa dan kehilangan harapan dan arti hidup, tetap semangat dan selalu mampu untuk bangkit lagi ketika jatuh dan terpuruk. Manusia itu bebas. Manusia itu tidak ditentukan dari luar melainkan mampu menentukan dirinya sendiri. Ketika pipi kirinya ditampar sikap deterministik yang serta merta dipastikan muncul adalah balas menampar; tetapi tidak harus demikian ketika dia malah memasang pipi kanan. Gigi ganti gigi adalah tuntutan deterministik keadilan, tetapi caranya kurang beradab. Menuntut keadilan secara beradab adalah tandanya manusia bebas. Jadilah manusia yang bebas, manusia eksistensial.

Benyamin Molan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s