BUKEQ BEKEQ

Judul ini diambil dari istilah bahasa Kedang, sebuah bahasa yang penuturnya adalah sekelompok etnik suku di ujung timur sebuah kabupaten-pulau namanya Lembata, di wilayah NTT. Istilah bukeq bekeq artinya bodoh sekali, kehilangan akal sehat. Tetapi terjemahan harafiahnya adalah bukeq artinya bodoh, dan bekeq artinya marah, tersinggung dan mengamok.

Yang menjadi pertanyaan mengapa dalam bahasa tersebut bodoh selalu dikaitkan dengan marah dan mengamok, atau dengan kekerasan. Terbuka peluang di sini untuk menafsirkan bahwa kekerasan adalah bagian dari kebodohan. Seolah-olah marah, tersinggung mengamok adalah akibat dari kebodohan. Bukankah saat marah orang kehilangan kecerdasannya? Masih ingat pertandingan antara Italia melawan Prancis dalam Piala Dunia 2006? Bukankah Italia berhasil menekuk Prancis setelah Materasi sukses mem-bukeq bekeq-kan bintang Prancis Zidan dan menghasilkan kartu merah bagi sang bintang? Apakah memang bukeq dan bekeq memang berkaitan ?

Konsep ini nampaknya tersirat secara samar-samar dalam apa yang dikemukakan para ahli teori mulai dari Hobbes sampai Weber yang melihat kekerasan sebagai daya terakhir, dan memang perlu untuk perintah politis, karena kata tanpa pedang itu sia-sia (word without sword is nothing). Dari rentetan pemikiran ini kita mendapatkan gagasan bahwa perang adalah politik yang dilanjutkan dengan cara lain, dalam pemikiran Clausewitz, atau bahwa kekuasaan bertumbuh dari laras senjata menurut Mao. Itu berarti kekerasan adalah jalan terakhir ketika orang kehabisan akal. Kalau kehabisan akal atau kehilangan akal itu berarti kebodohan, maka pantas kalau kebodohan sering dianggap sebagai saudara kembarnya kekerasan (Benyamin Molan, Respons, 2009).

Orang yang tidak mampu memerah kecerdasan otaknya dalam beradu argumentasi, akan cenderung mengerahkan kekuatan otot dan emosinya. Apa lagi kalau didukung oleh kekuatan kuasa (ekonomi, politik, keyakinan, intelek) dan massa yang tidak kritis, mudah terpukau. terpesona, terprovokasi.

Ini adalah bagian dari sesat pikir yang sering kita temukan dalam dunia nalar dan argumentasi sebagai argumentum ad hominem atau personam. Karena kehabisan akal orang tidak lagi berbicara dalam konteks permasalahan melainkan beralih ke persona, entah dengan serangan verbal atau pun serangan fisik. Maka menghindari kekerasan adalah bagian dari kecerdasan. Janganlah membiarkan diri menjadi bukeq yang mudah bekeq. Tetapi juga jangan mudah menjadi bekeq agar tidak mempermalukan diri Anda sendiri karena akan dianggap sebagai bukeq.

Benyamin Molan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s