LAUNCHING RALLY WISATA BAHARI LEMBATA 2013

Launching Rally Wisata Bahari Lembata di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Senin, 6 Mei 2013 berlangsung meriah. Promosi hebat yang memanfaatkan program nasional, Sail Komodo 2013, sambil merangkul kementerian pariwisata dan ekonomi kreatif. Tampak bahwa Lembata dan bupatinya serius berkonsentrasi di bidang ini, dan memanfaatkan momentum yang ada. Selamat untuk bupati Lembata.

Tetapi kesan saya—mudah-mudahan salah—bahwa yang dipromosikan itu cuma obyek wisata; seperti orang mempromosikan bulan, indah memang. Tetapi bagaimana wisatawan bisa sampai ke sana; di tempat seperti apa mereka harus tinggal; apakah perjalanan ke sananya lancar, nyaman, dan sesuai dengan jadual mereka yang sering sudah tertata cukup ketat? Segi ini rasanya belum cukup tersentuh, dan karena itu juga belum bisa dipromosikan. Jangan sampai timbul kekhawatiran di pihak wisatawan bahwa mereka bisa datang, tetapi tidak bisa pulang … pada waktunya, karena transportasinya tidak pasti. Bagaimana bisa mempromosikan obyek wisata yang bagus, ketika kapal ferinya sering on-off. “Satu bulan on dua bulan off” kata bapak Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar, yang dalam acara itu dilantik menjadi Belen (orang besar) Tanah Lembata. Jalur udara pun hanya bisa ditempuh menggunakan pesawat kecil jenis Cessna 208 Caravan, berkapasitas 12 sampai 14 penumpang, dengan jadual penerbangan yang tidak pasti.

Promosi yang tidak utuh ini bisa jadi bumerang. Para wisatawan yang datang bisa saja mengalami semua ketidak-nyamanan itu dan menjungkir-balikkan semua promosi yang hebat ini. Mereka bisa menyebarkan cerita-cerita negatif, yang pada gilirannya membuat wisatawan lain akan berpikir dua kali sebelum datang ke Lembata (kecuali mereka yang berjiwa avontur, atau para backpackers). Perlu diingat, riset pemasaran menyatakan bahwa cerita buruk mengenai ketidak-puasan, lebih cepat beredar ketimbang cerita bagus mengenai kepuasan.

Juga riset pemasaran mengatakan bahwa produk dan jasa yang berkualitas akan mempromosikan dirinya sendiri. Jika pariwisata, transportasi, perhotelan, dan hospitalitas sudah siap dan mantap, maka promosi akan menjadi lebih efektif dan berjalan dengan sendirinya tanpa perlu dilakukan secara khusus. Itu berarti biaya promosi pun akan berkurang. Tetapi jika yang dipromosikan adalah sesuatu yang tidak berkualitas, maka biaya promosi akan terbuang percuma, dan malah tidak mendatangkan hasil yang memadai.

Karena itu, pengembangan pariwisata tidak bisa dilakukan secara fragmentaris—dalam hal ini hanya berfokus pada obyek wisata dan promosinya saja. Pariwisata harus dibangun dan ditata-kelola dalam satu keutuhan dengan pembangunan di bidang lain, seperti infrastruktur, transportasi, hospitalitas, dll. Mempromosikan obyek wisata yang bagus tanpa aspek penunjang lainnya, bisa menjadi pekerjaan sia-sia yang menghabiskan biaya dan tenaga; gaungnya nyaring, tetapi tongnya kosong. Para wisatawan yang datang, akhirnya pulang dengan kecewa, dan pada gilirannya, bukan hanya menolak untuk berkunjung lagi, melainkan malah menyebarkan pengalaman buruk itu sehingga wisatawan lain pun enggan untuk datang.

Barangkali juga ada baiknya untuk menjelaskan secara terus terang, kekurangan-kekurangan yang ada atau bahkan secara kreatif mengubahnya menjadi kekuatan. Tadinya, ketika mendengar kata rally, saya membayangkan akan ada semacam perjalanan atau petualangan yang asyik dan menantang. Perjalanan model ini bisa juga dipromosikan menjadi pengalaman yang menarik. Perjalanan darat yang berkelok-kelok dan penuh goncangan, juga bisa menjadi pengalaman yang menarik, dan membuat tidur menjadi lebih lelap. Atau juga, terbang dengan pesawat kecil di atas perairan pulau-pulau di NTT pun pasti mendatangkan sensasi tersendiri dan kadang-kadang bisa menaikkan adrenalin. Pengalaman berlayar dengan berok, dari pulau ke pulau, atau keluar masuk teluk Hadakewa/Lewolein, atau perairan Lewoleba juga tak kalah menarik.

Yang jelas, obyek-obyek wisata alam dan budaya yang menarik ini, harus dikemas dengan baik agar bisa diterima para wisatawan, sehingga pada gilirannya bisa mempromosikan dirinya sendiri. Beberapa konsep dan pandangan tentang pariwisata di Lembata dan NTT, bisa dibaca juga dalam artikel LEMBATA: TOLAK TAMBANG, LALU APA? (21 Oktober 2010) dan NT4: NTT TOLAK TAMBANG (18 Maret 2012) di blog ini.
Mudah-mudahan pengembangan pariwisata di Lembata dan NTT bisa berjalan dengan baik, dan kelak membawa kesejahteraan bagi masyarakatnya dengan cara yang lebih manusiawi dan ramah lingkungan.

Benyamin Molan Amuntoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s