INDONESIA VS ARAB SAUDI: PERSATUAN VS KESATUAN

Indonesia sedang hanyut dalam euforia persatuan dua kubu sepak bola yang selama ini berjalan sendiri-sendiri, dan malah cenderung berseteru. Kedua kubu tersebut, yakni ISL dan IPL, telah sepakat membentuk satu timnas Indonesia. Tim ini boleh dikatakan cukup representatif, dan mewakili kekuatan Indonesia sesungguhnya. Ini melahirkan motivasi tersendiri, walaupun masih tersemat kelemahan-kelemahan. Sesungguhnya timnas Indonesia sekarang baru mencapai tingkat persatuan, dan belum menjangkau tingkat kesatuan. Apa lagi dengan persiapan yang begitu minim. Sementara tim Arab Saudi sudah lama terbentuk menjadi tim yang tidak sekadar memiliki persatuan melainkan juga telah menjadi satu kesatuan.

Saya teringat akan Bung Sjahrir vs Bung Karno pada masa revolusi kemerdekaan. Ketika Bung Karno begitu terobsesi dengan nasionalisme Indonesia, Bung Sjahrir yang kritis mengingatkan bahwa nasionalisme saja tidak cukup. Dia bisa ditunggangi semangat feodalisme yang merupakan model fasis dan kolonialisme tradisional. Maka nasionalisme harus dilimbangi dengan demokrasi. Nasionalisme baru menjadi sehat ketika dibangun bersama dengan demokrasi. Nasionalisme tanpa demokrasi hanya menciptakan persatuan tetapi belum sampai pada kesatuan. Dengan kata lain, persatuan harus ditingkatkan mutunya menjadi kesatuan. Rakyat tidak hanya disatukan melainkan merasa bersatu secara merdeka. Artinya persatuan yang lebih bermutu adalah saat sudah menjadi kesatuan. Persatuan itu bisa saja termotivasi secara eksternal, tetapi kesatuan justru termotivasi secara internal.

Menghadapi Arab Saudi kita memang harus realistis. Yang beradu di lapangan adalah persatuan melawan kesatuan. Maka di atas kertas mutu tim yang dibangun di atas kesatuan lebih tinggi daripada yang dibangun di atas persatuan. Kesatuan sudah sampai pada tingkat menghasilkan sinergi (kekuatan yang melebihi jumlah kekuatan individual) sementara persatuan masih berpeluang menghasilkan social loafing (kekuatan kurang dari jumlah kekuatan individual). Karenanya bila timnas kita mengalami kekalahan, itu tidak aneh. Tetapi kalah sebagai tim yang memiliki persatuan itu lebih bermutu daripada kalah sebagai tim yang terbengkalai. Dan lebih mungkin bagi tim yang memiliki persatuan untuk menang atas tim yang memiliki kesatuan (walaupun tipis) ketimbang tim yang kocar-kacir dan terbengkalai. Apa lagi tim Arab Saudi memiliki kelas yang lebih tinggi daripada tim-tim asal Asia Tenggara (Malaysia. Thailand, Singapura, Vietnam). Tetapi entah kalah atau menang, sepak bola Indonesia sudah mencapai satu langkah maju yang berarti. Mudah-mudahan pertandingan ini menjadi pintu masuk bagi tim Garuda menuju kesatuan dan kejayaan. Jika demikian, maka Indonesia sedang menang.

Benyamin Molan