Hannah Arendt: Mengurai Kekerasaan

Kekerasan sepertinya berada di mana-mana. Dia seolah-olah ada dalam manusia sebagai bagian dari kodrat manusia, menyerap dan merasuki hampir semua aspek kehidupan manusia, mulai dari keluarga sampai negara, bahkan institusi yang lebih besar lagi; mulai dari tawuran antar kampung sampai perang dunia, kehidupan yang sekuler sampai yang religius. Malahan ada kesan bahwa Tuhan pun menggunakan kekerasan. Pantas kalau kekerasan sepertinya merasuki kekuasaan, dikaitkan dengan kekuatan, wewenang, pengaruh, penaklukan.

Tetapi anehnya, kata Arendt, orang yang berpikir tentang sejarah dan politik tidak menyadari besarnya peran yang dimainkan kekerasan dalam segala sesuatu menyangkut manusia. Maka sedikit mengejutkan bahwa kekerasan jarang sekali dipilih untuk dibahas secara khusus. Memang banyak pembicaraan dan literatur tentang perang dan peperangan tetapi yang dibicarakan adalah alat kekerasan, bukan kekerasan itu sendiri. Pantas kalau dalam edisi terakhir Encyclopedia of the Social Sciences, (saat Arendt menulis buku On Violence), tidak ada entri “kekerasan.”

Berhadapan dengan topik ini Hannah Arendt berusaha mengurai kekerasan itu. Arendt memperlihatkan betapa kekerasan itu merusak karena selalu dianggap bagian dari politik, kekuasaan, kekuatan, otoritas. Arendt memperlihatkan bahwa dengan menguraikan kekerasan dari politik, maka, politik, kekuasaan, negara, dan manusia akan menemukan dirinya.

Kehadiran kekerasan sebenarnya lebih banyak mengganggu daripada membantu,. terutama menyangkut bidang politik dan kekuasaan. Kekuasaan sepertinya tak sempurna tanpa dilengkapi kekerasan. Pantas kalau kekuasaan harus tampil dengan wajah yang beringas menyeramkan. Kekuatan juga sepertinya harus ditunjukkan dengan kekerasan. Otoritas dan wewenang pun seakan tidak kuasa memamerkan wibawanya tanpa memperalat kekerasan.

Tulisan ini mau menarik perhatian kita pada upaya Hannah Arendt untuk mengurai kekeresan dari berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk politik.. Pendekatan ini akan dimulai dengan Mengurai Kekerasan dari Manusia, untuk memperlihatkan bahwa pada dasarnya kekerasan itu bukan bawaan manusia. Selanjutnya Mengurai Kekerasan dari Negara, untuk memperlihatkan bahwa kekerasan juga tidak harus menjadi strategi negara untuk mendapatkan ketaatan warganya. Mengurai Kekerasan dari Kekuasaan, untuk menunjukkan bahwa Kekerasan bukan merupakan bagian dari bangun kekuasaan; dan Mengurai Kekerasan dari Politik, untuk memperlihatkan bahwa kekerasan juga bukan merupakan bagian dari politik. Kesimpulannya, kehadiran kekerasan dalam diri manusia, negara, kekuasaan, politik sebenarnya justru merupakan kehadiran yang merusak dan bukannya membangun.

Hidup dan Karya Hannah Arendt

Hannah Arendt lahir di Hanover, Jerman 14 Oktober 1906, sebagai anak tunggal dari keluarga Yahudi sekuler. Selama masa kecilnya Arendt berpindah-pindah, pertama ke Königsberg, dan kemudian ke Berlin. Pada tahun 1922-23, Arendt memulai studinya (dalam teologi Kristen klasik) di University of Berlin, dan pada tahun 1924 memasuki Universitas Marburg, dan belajar filsafat pada Martin Heidegger. Pada tahun 1925 dia sempat menjalin hubungan romantis dengan Heidegger tetapi putus pada tahun berikutnya. Dia kemudian pindah ke Heidelberg dan belajar pada Karl Jaspers, filsuf eksistensial dan teman Heidegger. Di bawah supervisi Jasper, dia menulis disertasinya tentang konsep cinta dalam pemikiran Agustinus. Dia tetap dekat dengan Jasper sepanjang hidupnya, walaupun pengaruh fenomenologi Heidegger ternyata lebih besar dalam karya-karyanya.

Pada tahun 1929, dia berjumpa dengan Gunther Stern, seorang filsuf muda Yahudi, yang kemudian dinikahinya (1930). Pada tahun 1929, disertasinya (Der Liebesbegrift bei Augustin) dipublikasikan. Dalam tahun-tahun berikut, dia terus terlibat dalam politik Jahudi dan Zionisme. Pada tahun 1933, menghindari penganiayaan Nazi, dia terbang ke Paris, di mana dia bertemu dengan, dan menjadi teman, Walter Benjamin dan Raymond Aron. Beberapa tahun kemudian, dia berjumpa dengan Heinrich Blücher, seorang pelarian politik Jerman. Dia bercerai dari Stern pada tahun 1939, dan di tahun berikutnya dia menikah dengan Blücher.

Ketika Jerman menginvasi Prancis, Arendt ditawan dalam kamp bersama tuna-warga-negara lainnya dari Jerman. Dia kemudian berhasil meloloskan diri, dan bersama Blücher terbang ke A.S. pada tahun 1941. Tinggal di New York, Arendt menulis untuk surat kabar berbahasa Jerman Aufbau dan melakukan riset untuk Commission on European Jewish Cultural Reconstruction. Pada tahun 1944, dia mulai mengerjakan apa yang akan menjadi buku politik utamanya yang pertama, The Origins of Totalitarianism. Di tahun 1946, dia mempublikasikan ‘What is Existenz Philosophy’, dan dari 1946 sampai 1951 dia bekerja sebagai editor pada Schoken Books di New York. Pada tahun 1951, The Origin of Totalitarianism terbit. Setelah itu dia mulai melakukan rangkaian kunjungan ke universitas-universitas Amerika dan mendapatkan kewarganegaraan Amerika.

Pada tahun 1958, dia menerbitkan The Human Condition dan Rahel Varnhagen: The Life of a Jewess. Di tahun berikutnya, terbit ‘Reflection on Little Rock’, pertimbangan kontroversialnya tentang gerakan hak sipil warga kulit hitam yang sedang menghangat. Karya lainnya Between Past and Future terbit pada tahun 1961.

Selanjutnya dia melakukan perjalanan ke Jerusalem untuk meliput pemeriksaan pengadilan Nazi Adolf Eichman untuk New Yorker. Refleksi kontroversialnya tentang pengadilan Eichman diterbitkan pada tahun 1963, pertama dalam New Yorker, dan kedua dalam bentuk buku: Eichman in Jerusalem: A Report on Banality of Evil. Di tahun yang sama, dia juga menerbitkan On Revolution. Pada tahun 1967, selain pada Berkeley dan Chicago, dia juga merebut posisi pada New School for Social Research di New York. Pada tahun berikutnya, dia mempublikasikan Men in Dark Times.
Pada tahun 1970 Blücher meninggal. Di tahun yang sama, Arendt memberikan seminarnya tentang Kant’s philosophy of judgement pada New School. Bahan seminar ini kemudian diterbitkan sebagai Reflections on Kant’s Political Philosophy, 1982) setelah kematiannya. Pada tahun 1970 terbit On Violence, disusul Thinking and Moral Considerations dan Crisis of the Republic berturut-turut pada tahun 1971 dan 1972. Pada tahun-tahun menjelang akhir hidupnya, dia mengerjakan karya tiga jilid yang menjadi proyeknya, The Life of the Mind. Jilid 1 dan 2 (tentang ‘Thinking’ dan ‘Willing’) diterbitkan setelah kematiannya. Dia meninggal pada tanggal 4 Desember 1975, setelah hanya sempat mulai mengerjakan jilid ketiga proyeknya yang berjudul Judging.

Tampak di sini bahwa Arendt menulis banyak sekali karyanya yang mencakup banyak aspek. Karena itu butir-butir sumbangan pemikiran Arendt sangat kaya untuk dipetik. Butir-butir pikiran ini tidak ditulis secara sistematis tetapi didekati secara taat asas gaya Arendt dengan tetap berangkat dari pengalaman konkrit fenomenologis.

Mengurai Kekerasan dari Manusia

Hobbes berpendapat bahwa kekerasaan merupakan keadaan alamiah manusia (state of nature). Maka hanya pemerintahan negara yang kuat dan terpusat (Leviatan) yang bisa mengatasi masalah ini. Manusia adalah makluk yang dikuasai dorongan irasional, anarkitis dan mekanistis; manusia adalah makluk yang saling iri dan benci sehingga menjadi kasar, jahat, buas, dan berpikiran pendek. Manusia adalah homo homini lupus, serigala bagi sesamanya, dan karena itu menimbulkan perang semua lawan semua (bellum omnium contra omnes).

Arendt menampik pendapat itu. Dalam uraiannya tentang vita activa (The Human Condition) dia membedakan tiga aktivitas fundamental manusia yakni kerja (labor), karya (work), dan tindakan (action). Yang dimaksudkan dengan kerja adalah cara kita melakukan aktivitas setiap hari yang membuat kita tetap hidup; makan, minum, dan aktivitas apa saja yang diasosiasikan dengannya, seperti memasak. Yang dimaksudkan dengan karya adalah aktivitas produksi, dalam arti bahwa satu proses diikuti untuk mengadakan satu obyek material. Karya, kata Arendt, menciptakan dunia di sekitar kita. Yang dimaksudkan dengan tindakan (action) adalah juga aktivitas produksi, tetapi tidak menyangkut barang, dalam arti material. Tindakan itu dilakukan manusia ketika berkomunikasi satu sama lain. Itu berarti tindakan dilakukan dalam kebersamaan dengan orang lain, dalam pluralitas. Orang-orang (men) harus mengorganisasi diri mereka dengan cara-cara tertentu, dan tindakan (action) adalah cara mereka melakukan ini.

Ketiga kegiatan ini erat terkait dengan kondisi paling umum eksistensi manusia: kelahiran dan kematian, natalitas dan mortalitas. Kerja di sini artinya bahwa kita manusia mempertahankan keberlanjutan hidup individu dan spesies secara keseluruhan. Karya memberi kita “permanence and durability”, satu cara untuk mendapatkan arti hidup kita, dan menangkal kesia-siaan mortalitas; kita dapat membuat segala sesuatu tetap bertahan ketika kita mati (ars longa vita brevis: karya seni itu bertahan lama, hidup itu singkat). Tindakan membiarkan kita menciptakan sejarah, dan mengingat masa lampau. Ketiga-tiganya juga berupaya untuk menunjang kehidupan generasi berikut.
Dari ketiga aktivitas ini tingkatan kekerasan lebih tampak pada kerja dan kurang tampak pada tindakan. Dan kalau aktivitas kekerasan lebih merupakan actus hominis daripada actus humanus, maka harus ditampik bahwa kekerasan merupakan bagian kodrati manusia. Terutama karena manusia adalah makluk yang dikondisikan karena segala sesuatu yang terkontak dan terpapar dengan manusia, langsung menjadi kondisi eksistensi manusia. Dengan kata lain, segala sesuatu yang kita ciptakan dapat menjadi kondisi eksistensi kita. Begitu kita sebagai manusia menganut sesuatu, kita menyerapnya dan ia menjadi bagian dari kita. Itu berarti tindakan telah memanusiawikan kerja dan karya, dan dengan demikian kekerasan dalam kerja dan karya tidak mereduksi tindakan; sebaliknya tindakan mengangkat kerja dan karya ke tingkat manusiawi dalam tindakan yang tak mengenal kekerasan. Arendt membuktikan itu dalam kegiatan politik sebagai bagian dari kegiatan tindakan. Hal ini akan dibahas lebih lanjut dalam bagian mengurai kekerasan dari politik.

Mengurai Kekerasan dari Negara

Menurut Max Weber, negara adalah hubungan dominasi antar manusia yang ditopang dengan sarana penggunaan kekerasan (yang dianggap legitim). Ciri khas negara adalah monopoli pemakaian kekerasan fisik secara legitim. Dalam teori Weber, aksi politik adalah dominasi teritori dengan sarana kekerasan. Aktor-aktor politik, termasuk negara-negara modern, dapat memiliki semua macam tujuan — keadilan, damai, keluhuran negara. Apa yang membedakan mereka dari jenis aktor lain (aktor ekonomi, misalnya atau wewenang religius) adalah penggunaan kekerasan. Negara-negara modern, khususnya, karena mereka berhasil memonopoli legitimasi, maka dibenarkan untuk menggunakan kekerasan. Jadi bagi Weber negara boleh memonopoli dan menggunakan kekerasan secara legitim, karena negara menuntut kepatuhan warga.

Nada yang kurang lebih sama kedengarannya didengungkan Machiavelli yang berpendapat bahwa seorang pangeran yang berhasil harus siap menggunakan kekerasan secara bijaksana Itu berarti kekerasan dapat digunakan oleh negara demi tercapainya tujuan negara. Negara boleh menghalalkan cara untuk mencapai sesuatu yang baik.

Pendapat senada juga dikumandangkan Hobbes yang berpendapat bahwa kekuasaan dari tubuh artifisial (negara) yang dapat sepenuhnya mencapai dominasi ini harus dipusatkan pada kekuasaan pedang. Negara harus menjadi semacam Leviatan yang bisa mensubordinasi rakyatnya agar tujuan negara bisa tercapai. Machiavelli, Hobbes dan Weber melihat kekerasan sebagai instrumen yang bisa digunakan negara untuk mencapai tujuannya.

Namun Arendt tidak sepakat. Kekerasan harus diurai dari negara. Dalam The Origins of Totalitarianism dia menguraikan asal usul dari totalitarianisme yang merupakan akar kekerasan negara. Dan totalitarianisme itu berawal dari gerakan antisemitisme, imperialisme dan terisisihnya tindakan politis demokratis. Maka untuk menghindari kekerasan negara dalam totalitarianisme dia membuat klasifikasi atas masyarakat “pariah” dan “parvenu”, rakyat dan massa, yang otentik dan inotentik, hak manusia dan hak warga nasional,. Untuk menghindari kekerasan, negara harus memberi perhatian pada kelompok paria dan bukan parvenu yang oportunis, pada rakyat dan bukan pada massa yang mengambang dan tidak punya tujuan; pada yang otentik dan bukan yang inotentik, pada manusia dan bukan hanya warga negara.

Salah satu model kekerasan negara yang dikecam Hannah Arendt mengambil wujud Niemand Herschaft (dominasi oleh tak seorang pun) terutama yang dilakukan oleh birokrasi. Tampaknya konsep ini senada dengan politik banyak tangan yang dikemukakan Denise F. Thompson, bahwa kekerasan negara bisa menjadi sulit teridentifikasi karena dilakukan oleh birokrasi, banyak tangan, sehingga siapa yang harus bertanggung jawab menjadi tidak jelas.. Di sini negara sering berlindung di balik hierarki atas tindakan-tindakan kekerasan untuk menuntut kepatuhan rakyat. Demi kepentingan stabilitas misalnya, negara bisa buat apa saja bahkan dengan menempuh jalan kekerasan. When the act accuses, the result excuses (Bila tindakannya salah, hasilnya memaafkan). Bagi Arendt kekerasan tidak bisa menjadi alat negara terutama karena instrumen ini tidak bisa dipakai untuk melakukan tindakan (action) karena bisa merusak tindakan itu sendiri.

Mengurai Kekerasan dari Kekuasaan

Ada yang mengidentifikasi kekerasan itu sebagai bagian dari kekuasaan. C. Wright Mills: “Semua politik adalah perjuangan untuk mendapatkan kekuasaan; kekerasan adalah kekuasaan yang meningkat ke puncaknya. Senada dengan ini adalah pandangan Max Weber tentang negara sebagai pengaturan manusia atas manusia berbasis sarana yang sah, yakni kekerasan.” Kekerasan adalah alat kekuasaan. Kekerasan adalah jalan diplomasi terakhir. Maka membongkar kekerasan harus dilakukan dengan membongkar kekuasaan.

Tetapi menurut Hannah Arendt kekerasan bukanlah satu paket dengan kekuasaan. Membongkar kekerasan tidak harus dilakukan dengan membongkar kekuasaan. Bahkan saat kekerasan terjadi kekuasaan sudah tidak ada. Maka menggunakan kekerasan untuk mempertahankan kekuasaan itu hal yang kontradiktif. Saat kita menggunakan kekerasan, kekuasan sudah tidak ada. Jadi tidak ada gunanya menggunakan kekerasan untuk mempertahankan kekuasaan.

Untuk menguraikan kekerasan dari kekuasaan Arendt membuat distingsi dan klarifikasi yang menarik antara kekuasaan (power), kekuatan (strength), daya paksa (force), otoritas (authority), kekerasan (violence)

Kekuasaan (power) berhubungan dengan kemampuan manusia untuk tidak sekadar bertindak melainkan bertindak bersama-sama (in concert). Kekuasaan tidak pernah menjadi properti individual. Kekuasaan termasuk dalam satu kelompok dan tetap eksis hanya sejauh kelompok itu masih bersama.. Ketika kita mengatakan seseorang berkuasa itu berarti dia diberdayakan oleh masyarakat atau kelompok untuk bertindak atas nama mereka. Kalau kita mengatakan seorang secara pribadi berkuasa, sebenarnya ini semacam metafor. Yang mau dikatakan sebenarnya adalah bahwa seseorang itu kuat.

Kekuatan (strength) adalah suatu entitas tunggal atau individual. Kekuatan itu inheren pada individu dan menjadi karakternya. Kekuatan tidak selalu berkaitan dengan kekuasaan. Orang kuat tidak selalu berkuasa, dia bahkan bisa mendapatkan perlawanan dari kekuasaan yang berasal dari orang banyak.

Daya paksa (force) berbeda dari kekerasan. Paksaan harus dipahami dari segi terminologi bahasa untuk daya paksa alam (forces of nature) daya paksa lingkungan (force of circumstances). Daya paksa mengindikasikan energi yang dilepaskan oleh gerakan fisik atau sosial.

Otoritas (authority) dikenakan pada pribadi (person) — ada wewenang personal semacam itu, misalnya, dalam hubungan antara orang tua dan anak, antara guru dan murid — atau dikenakan pada jabatan, misalnya, dalam senat Romawi atau dalam jabatan-jabatan hirarkis dalam Gereja (seorang pastor tetap bisa memberikan absolusi [pengampunan] dalam sakramen pengakuan, walaupun dlam keadaan mabuk). Tandanya adalah pengakuan yang tidak perlu dipertanyakan lagi oleh mereka yang dituntut untuk taat; tidak perlu pemaksaan juga tidak perlu bujukan.

Kekerasan (violence) ditandai oleh ciri instrumentalnya. Secara fenomenologis, kekerasan itu dekat dengan kekuatan, karena alat-alat kekerasan, sama seperti alat-alat lain, dirancang dan digunakan untuk melipat-gandakan kekuatan (strength) manusia atau alat-alat organis, sampai pada tahap alat-alat buatan itu menggantikan alat-alat alamiah. Kekerasan, menurut Arendt, dapat selalu menghancurkan kekuasaan. Di luar laras bedil tumbuhlah komando paling efektif, yang menghasilkan ketaatan paling instan dan sempurna. Yang tidak dapat bertumbuh dari kekerasan adalah kekuasaan. Contohnya, kekerasan atau penggunaan kekerasan oleh Caligula dan Nero tidak meningkatkan kekuasaan mereka. Kekerasan justru mengurangi kekuasaan mereka.

Arendt menulis bahwa dalam pertentangan langsung antara kekerasan dan kekuasaan, hasilnya hampir tidak diragukan — seperti ketika militer melawan (kekuasaan) penolakan yang non-kekerasan. Namun, dia menambahkan, “tidak ada faktor yang menghancurkan-dirinya sendiri dalam kemenangan kekerasan atas kekuasaan yang lebih jelas terlihat daripada dalam penggunaan teror untuk mempertahankan dominasi. Kesuksesan dan kegagalan para teroris yang mengerikan ini barangkali kita tahu lebih baik daripada generasi mana pun sebelum kita.” Kekerasan, dia menyimpulkan, “dapat menghancurkan kekuasaan; kekerasan sangat tidak mampu untuk menciptakan kekuasaan itu..”

Dalam kondisi tertentu, tulis Arendt, kekerasan dapat dibenarkan. Dia berpendapat bahwa walaupun kekerasan tak pernah bisa legitimate, namun kadang-kadang bisa dibenarkan. Ini karena tidak ada satu solusi politik untuk setiap masalah, dan kadang-kadang satu-satunya solusi bagi ketidak-adilan atau keganasan adalah kekerasan. Dalam On Violence ada dua konteks di mana kekerasan disajikan sebagai dapat dibenarkan. Pertama, bisa dibenarkan sebagai tanggapan terhadap ketidak-adilan yang ekstrim. Kedua, bisa dibenarkan sejauh bisa membuka ruang bagi politik.. Kedua pembenaran ini terikat pada rasa kekerasan sebagai memiliki sejenis efektivitas tertentu, dan juga memadai dalam konteks tertentu. Kekerasan dapat membuat segala sesuatu terjadi secara cepat. Ia juga merupakan tanggapan yang tepat, misalnya, terhadap korban yang tak bersalah. Arendt berpendapat bahwa penggunaan non-kekerasan sebagai taktik menuntut, sebagai prasyarat, bahwa sudah ada beberapa ruang politik dan oleh karena itu ruang bagi kekuasaan. Kampanye Ghandi, ujarnya, tidak menjadi efektif kalau dia berhadapan dengan rezim yang lebih murni anti-politik seperti Nazi Jerman atau Stalinist Rusia. Dalam konteks terakhir kekerasan akan menjadi perlu untuk membuat politik menjadi mungkin. Kekerasan, kata dia, adalah rasional sejauh efektif dalam mencapai tujuan yang harus membenarkannya. Tetapi, dia menambahkan, bahwa kita tak pernah mengetahui dengan pasti konsekuensi akhir dari apa yang kita lakukan.

Di sini dia tidak mengatakan bahwa orang harus selalu menahan diri supaya tidak melakukan kekekerasan. Namun dia mewanti-wanti bahwa ada bahaya pada kekerasan yang berarti akan menyapu habis tujuan.

Mengurai Kekerasan dari Politik

Fanon berpendapat bahwa kekerasan adalah sarana yang perlu untuk aksi politik, dan juga satu kekuatan atau energi organik. Arendt berpendapat bahwa kekerasan secara inheren tidak dapat diramalkan, dan karena itu bersifat antipolitik.

Dalam On Violence seperti di dalam karya lainnya Arendt menyinggung terus menerus satu ideal kehidupan politik: Yang membuat seorang menjadi makluk politik adalah kemampuan tindakannya (action); kemampuan itu memungkinkan dia berkumpul bersama dengan rekan-rekannya, untuk bertindak bersama, dan mengejar tujuan-tujuannya dan usaha-usaha yang belum pernah terlintas dalam pikirannya, apa lagi menjadi hasrat hatinya.— untuk memulai sesuatu yang baru. Berbicara secara filosofis, bertindak (act) adalah jawaban manusia terhadap kondisi natalitas. Untuk memahami apa yang dikatakan tentang politik dalam On Violence, konsep Hannah Arendt tentang vita activa yang dikemukakan dalam The Human Condition perlu ditinjau kembali.

The Human Condition secara fundamental berhubungan dengan masalah penegasan kembali politik sebagai satu rangkaian kegiatan manusia yang bernilai, praxis, dan nyata. Arendt berpendapat bahwa tradisi filsafat Barat telah mendevaluasikan dunia aksi manusia (vita activa), mensubordinasinya kepada kehidupan kontemplasi dan menyibukkan dirinya dengan esensi dan keabadian (vita contemplativa). Biang utamanya adalah Plato, yang metafisiknya mensubordinasi tindakan dan dunia inderawi ke dalam dunia ide-ide yang abadi. Alegori tentang Gua dalam The Republic memulai tradisi tentang filsafat politik; di sini Plato menggambarkan dunia manusia sebagai bayangan dan kegelapan, dan menginstruksikan mereka yang mendambakan kebenaran untuk berpaling darinya supaya bisa mendapatkan ‘langit bersih yang penuh dengan idea-idea abadi’. Hierarki metafisik ini menempatkan theoria di atas praxis dan episteme di atas doxa. Dunia tindakan dan apa yang tampak (termasuk politik) disubordinasikan di bawah dan menjadi instrumental bagi tujuan dari Ide.

Menurut Arendt, Vita Activa terdiri dari Kerja (labor), Karya (work), dan Tindakan (action) Dia menyusun aktivitas-aktivitas ini dalam satu hierarki menurut arti pentingnya, dan mengidentifikasi penjungkir-balikan hierarki ini sebagai penyebab sentral bagi meredupnya kebebasan dan tanggung jawab politik, yang menurut dia, telah menjadi ciri zaman modern.

Kerja (labor) adalah cara kita melakukan aktivitas setiap hari agar tetapi hidup seperti makan, minum, dan aktivitas apa saja yang berkaitan dengan itu (masak). Kerja merupakan aktivitas yang berhubungan dengan proses biologis dan perlu bagi eksistensi manusia. Kerja itu perlu untuk mempertahankan hidup itu sendiri. Kerja terdistingsikan oleh cirinya yang tak-pernah-berakhir; tidak menciptakan permanensi; usahanya cepat dikonsumsi, dan oleh karenanya harus selalu diperbaharui sehingga menunjang kehidupan. Arendt menyebut mode kemanusiaan ini sebagai animal laborans. Karena kerja itu diperintahkan oleh keniscayaan, maka manusia sebagai pekerja itu ekuivalen dengan budak; kerja dicirikan oleh ketidak-bebasan (unfreedom). Kerja itu bertentangan dengan kebebasan, dan dengan demikian bertentangan dengan apa yang khas manusia. Kerja yang melandasi institusi perbudakan di kalangan orang Yunani kuno itu merupakan upaya untuk menyingkirkan kerja dari kondisi kehidupan manusia. Dengan karakterisasi kerja semacam ini, pantas kalau Arendt sangat kritis terhadap Marx yang telah mengangkat animal laborans ke posisi utama dalam visinya tentang tujuan paling tinggi dalam eksistensi manusia.

Berdasarkan distingsi Aristotelain atas oikos (dunia privat rumah tangga) dari polis (dunia publik komunitas politik), Arendt berpendapat bahwa masalah kerja, ekonomi, dan sejenisnya sepertinya lebih tepat termasuk ke dalam yang pertama (oikos) daripada yang kedua (polis). Munculnya kerja (labor) dari dunia oikos ke dalam lingkup publik membawa efek menghancurkan politik dengan mensubordinasi dunia publik dari kebebasan manusia ke bawah masalah yang hanya merupakan kebutuhan hewani.

Karya (work) adalah aktivitas produktif, dalam arti bahwa satu proses diikuti untuk mencapai tujuan material. Karya, kata Arendt, menciptakan dunia di sekitar kita. Karya (work) dapat selalu dibedakan dari kerja (labor). Pertama, sementara kerja (labor) terikat pada tuntutan animalitas, biologis dan alamiah (animal laborans), karya melintasi dunia alamiah dengan membentuk dan mentransformasinya sesuai dengan rencana dan kebutuhan manusia; ini membuat karya menjadi aktivitas khas manusia (yakni non-hewani). Kedua, karena karya diatur oleh tujuan dan maksud manusia maka ia berada di bawah kekuasaan dan kontrol manusia, ia memeragakan satu mutu tertentu dari kebebasan (freedom), tidak seperti kerja (labor) yang tunduk pada alam dan keniscayaan. Ketiga, sementara kerja menyangkut pemuasan kebutuhan hidup individual dan dengan demikian secara hakiki tetap merupakan urusan privat, karya secara inheren bersifat publik; ia menciptakan satu tujuan dan dunia bersama yang keduanya berada di tengah manusia dan menyatukan mereka. Walaupun bukan merupakan mode aktivitas manusia yang berhubungan dengan politik, karya merupakan prakondisi bagi adanya komunitas politik. Dunia bersama (common world) dari institusi dan ruang yang diciptakan karya melengkapi arena di mana warga negara bisa berkumpul bersama sebagai anggota dari dunia yang didiami bersama untuk terlibat dalam aktivitas politik. Aktivitas kerja (labor) dan konsumsi atas hasil-hasilnya, yang akhirnya mendominasi lingkungan publik, tidak dapat melengkapi satu dunia bersama (common world) yang di dalamnya manusia bisa mengejar tujuan mereka yang lebih tinggi.

Tindakan (action) adalah juga aktivitas produktif, tetapi tidak menyangkut benda, dalam pengertian material. Tindakan adalah apa yang dilakukan manusia ketika mereka berkomunikasi satu sama lain; menyangkut fakta bahwa ‘men, not man, live on the earth”; manusia hidup dalam pluralitas. Manusia (men) harus mengorganisasi diri mereka sendiri dalam saslah satu cara, dan tindakan merupakan cara mereka melakukan ini, terutama menyangkut politik.

Dengan demikian, kita memiliki aktivitas dari kerja (labor) yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang esensial untuk mempertahankan eksistensi fisik manusia. Namun aktivitas kerja didasarkan pada keniscayaan yang menduduki anak tangga terendah dari hierarki vita activa. Maka kita memiliki karya (work), yang merupakan aktivitas yang manusiawi (artinya bukan-hewani) yang menciptakan dunia eksistensi kolektif kita yang bersifat umum, publik dan tetap bertahan. Akan tetapi, Arendt sangat bersiteguh bahwa aktivitas homo faber tidak sama dengan dunia kebebasan manusia dan dengan demikian tidak menduduki puncak dari human condition. Karena karya masih tunduk pada jenis keperluan tertentu, yang muncul dari cirinya yang pada hakikatnya instrumental.

Tindakan justru ada pada aktivitas vita activa yang ketiga karena di sini ada kebebasan. Tindakan tidak membutuhkan instrumen seperti pada karya untuk menghasilkan satu produk. Istrumen adalah sesuatu di luar tujuan itu sendiri, yang bisa digunakan untuk mencapai tujuan. Menggunakan mesin untuk menghasilkan kain, adalah karya produktif. Tetapi dalam tindakan tidak pernah ada kepastian mengenai produknya. Karena dalam tindakan ada kebebasan.

Politik ada pada tingkat tindakan (action) dari vita activa. Dia tidak ditentukan oleh spesiesnya, juga tidak oleh tujuannya, melainkan oleh kebebasan. Mengejar kebebasan dengan instrumen kekerasan adalah hal yang mustahil. Bagaimana bisa memaksa orang untuk menjadi bebas. Maka kegiatan politik adalah kegiatan kebebasan. Dan kebebasan bukan satu kegiatan diri sendiri melainkan bersama orang lain. Kebebasan tidak dirasakan dalam kesendirian melainkan ketika berada dalam kebersamaan dengan orang lain. Maka kelahiran, natalitas merupakan awal dari kebebasan, karena itulah saatnya seorang bertindak dalam kebersamaan dengan orang lain.

Mutu fundamental dari tindakan adalah kebebasannya yang tidak dapat dieliminir, statusnya sebagai tujuan dalam dirinya sendiri dan dengan demikian tidak tunduk pada apa pun di luar dirinya sendiri. Arendt berargumentasi bahwa tidak benar menganggap kebebasan terutama sebagai satu fenomena kontemplatif atau privat yang lebih batiniah, karena ia sesungguhnya aktif, mendunia dan publik. Pengertian kita tentang kebebasan lebih dalam didasarkan pada pengalaman pertama kita akan ‘satu kondisi menjadi bebas sebagai realitas dunia yang berwujud. Kita pertama-tama menjadi sadar akan kebebasan atau lawannya, dalam pergaulan kita dengan orang lain, bukan dalan pergaulan dengan diri kita sendiri’. Dalam mendefinisikan tindakan sebagai kebebasan, dan kebebasan sebagai tindakan, kita dapat melihat pengaruh besar Agustinus terhadap pemikiran Arendt. Dari filsafat politik Augustinus dia mengambil tema tentang action as beginning:
Bertindak, dalam pengertiannya yang paling umum, berarti mengambil inisiatif, untuk mulai (seperti yang ditunjukkan kata Yunani archein, ‘memulai’, ‘memimpin’ dan akhirnya ‘mengatur’) untuk menggerakkan segala sesuatu. Karena merupakan initium, orang yang mengambil inisiatip didorong untuk melakukan aksi. Manusia itu bebas karena dia merupakan suatu awal

Definisi tindakan manusia dari segi kebebasan dan kebaruan menempatkannya di luar dunia yang bersifat niscaya dan dapat diramalkan. Di sinilah letaknya basis dari perselisihan Arendt dengan Hegel dan Marx, karena untuk mendefinisikan politik atau pembentangan sejarah dari segi teleologis apa pun atau tujuan yang imanen atau obyektif adalah menyangkal apa yang sentral pada tindakan manusia otentik. Sebaliknya kapasitas tindakan untuk memulai sesuatu yang sama sekali baru, tidak terantisipasi, tidak diharapkan, tidak dikondisikan oleh hukum sebab dan akibat.

Cara lain untuk memahami pentingnya publisitas dan pluralitas dalam tindakan adalah bahwa mengapresiasi tindakan itu akan menjadi sia-sia jika tidak ada orang lain yang hadir untuk melihatnya dan dengan demikian memberikan makna padanya. Makna dari aksi dan identitas dari aktor hanya dapat ditetapkan dalam konteks pluralitas manusia, kehadiran orang lain yang menyukai kita, sekaligus memahami kita dan mengenal keunikan kita dan tindakan kita. Kualitas tindakan yang komunikatif dan disklosif ini memang jelas dalam hal bahwa Arendt menghubungkan tindakan yang paling sentral dengan pidato. Melalui tindakan seperti pidato individu-individu menyingkapkan identitias khas mereka: ‘tindakan adalah penyingkapan publik yang terjadi dalam pidato’. Tindakan semacam ini menuntut satu ruang publik di mana tindakan itu dapat disadari, satu konteks di mana individu-individu dapat menghadapi satu sama lain sebagai anggota dari satu komunitas. Dalam hal ini Arendt berpaling ke masa kuno, mengambil polis Athena sebagai model untuk ruang pidato yang komunikatif dan terbuka. Tindakan semacam itu bagi Arendt sinonim dengan politik; politik adalah aktivitas yang berkelanjutan dari warga negara yang berkumpul bersama sehingga bisa memampukan kapasitas mereka membentuk perwakilan (agency) untuk menjalankan hidup mereka bersama. Politik dan pelaksanaan kebebasan sebagai-aksi adalah satu dan sama: ‘….kebebasan … sesungguhnya merupakan alasan orang hidup bersama dalam organisasi politik Tanpa kebebasan, kehidupan politik semacam itu akan menjadi tidak bermakna. Dasar terpenting dari politik adalah kebebasan, dan bidang pengalamannya adalah tindakan’.

Pantas kalau dia mengatakan “Yang membuat manusia menjadi makluk politik adalah kemampuannya untuk bertindak; kemampuan itu membuat dirinya dapat bergaul dan bertindak bersama sesamanya, dan menetapkan tujuan-tujuan dan melakukan upaya yang tidak dapat dilakukannya sendiri, yaitu untuk memulai sesuatu yang baru. Dari sudut filsafat, bertindak adalah jawaban manusia terhadap kondisi natalitas.. Karena kita semua memasuki sebuah dunia melalui kelahiran, sebagai pendatang baru dan pemula, kita dapat memulai sesuatu yang baru; tanpa fakta kelahiran kita bahkan tidak tahu apa sesungguhnya kebaruan itu, dan semua tindakan akan menjadi perilaku atau pelestarian semata.” Dengan pandangan bahwa politik adalah tindakan bebas dalam kebersamaan persekutuan warga, maka politik tidak bisa dilakukan dalam kekerasan..

Politik adalah persekutuan warga, pemberdayaan, bukan penaklukan, atau penipuan, yang dilakukan dengan kekerasan, apa lagi dengan pembodohan. Politik adalah arena transaksi argumentasi, yang mengandaikan kebebasan, dan akan kehilangan maknanya sebagai pemberdaya kalau dilakukan dengan instrumen pembungkaman seperti kekerasan.

Daftar Pustaka
1. Hannah Arendt (1970), On Violence, New York: Harcourt, Brace & World, Inc.
2. Hannah Arendt (2003). Teori Kekerasan. Yogyakarta: LPIP (Edisi Indonesia dari buku On Violence)
3. Hannah Arendt (1959). The Human Condition. New York: Dobleday Anchor Books.
4. I. Marsana Windhu (1992). Kekuasaan dan Kekerasan menurut Johan Galtung. Yogyakarta: Kanisius.
5. Dennis F. Thompson (1987) Political Ethics and Public Office. President and Fellows of Harvard College, USA.
6. F. Budi Hardiman, Kekerasan Politis menurut Hannah Arendt, Kuliah terbuka PPE Atma Jaya , Jakarta.
7. Alois A. Nugroho, Menggali Warisan Hannah Arendt dalam “Asal-Usul Totalitarisme”, Kuliah umum PPE, Atma Jaya Jakarta

Tulisan ini adalah ringkasan dari Benyamin Molan, Hannah Arendt: Kekerasan Bukan Tiondakan Politik, Namun Bukan Tanpa Risiko, yang selengkapnya dapat dibaca pada Respons: Jurnal Etika Sosial, Volume 14, Nomor 01 –Juli 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s