MARX DAN POLANYI : MENYOROTI EKONOMI PASAR BEBAS

Oleh Benyamin Molan

(Artikel ini merupakan ringkasan dari tulisan yang selengkapnya dimuat, dengan judul: “Sosialisme Ekonomi: Karl Marx dan Karl Polanyi dalam Perbandingan,” dalam Respons, Jurnal Etika Sosial, Volume 15 – Nomor 02 – Desember 2010)

Krisis demi krisis yang melanda ekonomi pasar membuat cita-cita ekonomi yang sejati, yakni membangun kesejahteraan bersama, semakin jauh panggang dari api. Kegagalan ekonomi dalam melahirkan kesejahteraan dan kebaikan bersama telah mendorong kita untuk mencari jalan keluar yang lain. Pemikiran Karl Polanyi dan para tokoh gerakan sosialisme ekonomi terkemuka lainnya menjadi bagian dari pilihan. Tulisan ini secara khusus mau mendalami konsep Marx sebagai salah satu tokoh sosialis termuka, dalam rangka memahami lebih jelas konsep dan pemikiran Karl Polanyi. Dengan menyoroti pandangan Marx, kita dapat melihat lebih jelas pendekatan yang ditempuh Karl Polanyi. Ternyata, pendekatan Marx yang ideologis dan teknis serta kontekstual  terhadap masalah ini, sebenarnya masih berkecimpung dalam koridor ekonomi pasar yang justru menjadi sumber masalahnya. Sebaliknya Polanyi ingin melakukan satu gerakan yang lebih komprehensif, dengan menyoroti bahwa ekonomi pasar sendiri pada dasarnya bermasalah, karena telah membuat ekonomi tercerabut dari relasi sosial.

Sesama Karl, Marx dan Polanyi, walaupun sama-sama bergerak dalam sosialisme ekonomi, pandangan keduanya memang serupa tapi tak sama. Harus diakui bahwa Polanyi cukup dipengaruhi oleh, atau sekurang-kurangnya mendapatkan banyak inspirasi dari, pemikiran Karl Marx. Memang perlu diakui bahwa berbicara tentang sosialisme ekonomi, biasanya yang pertama muncul di benak banyak orang bukanlah Karl Polanyi melainkan Karl Marx. Karl Marx berada di garda paling depan dalam menentang kapitalisme. Polanyi baru mendapat perhatian setelah Marxisme mulai redup, sementara kapitalisme yang semakin berkibar, ternyata tak putus juga dirundung krisis.

Kedua tokoh ini termasuk dalam gelombang pemikir sosialisme ekonomi yang berpengaruh. Gerakan sosialisme ekonomi sendiri muncul ketika pasar yang menjadi andalan kapitalisme, mulai bergerak liar dan meninggalkan konsep ekonomi sebagai kegiatan bersama untuk mencapai kebaikan bersama. Masyarakat terbelah dan terpola menjadi kelompok kapitalis dan buruh, lalu menjadi borjuis dan proletar. Ekonomi bertumbuh tetapi kesejahteraan bersama tidak ikut bertumbuh.

Sudah terus menerus dipaparkan bahwa pada dasarnya ekonomi sejak awal, adalah bagian dari tindakan manusia dalam kehidupan bersama untuk mencapai kesejahteraan bersama. Karena itu ekonomi masuk dalam bagian perilaku manusia yang diatur dalam etika atau filsafat moral; bahwa ilmu ekonomi pada mulanya termasuk dalam filsafat moral. Tercatat dalam sejarah ekonomi bahwa Aristoteles berbicara tentang ekonomi dalam konteks etika. Adam Smith yang dianggap sebagai pencetus kapitalisme justru adalah seorang dosen filsafat moral. Dia tidak hanya bicara tentang pasar bebas melainkan juga tentang moral sentiments.

Dengan kata lain, konsep dasar ekonomi sesungguhnya adalah menjadi sarana untuk mencapai kesejahteraan bersama. Ini cukup terlihat dengan jelas dalam perkembangan sejarah ekonomi sendiri. Merkantilis muncul dengan konsep bahwa perdagangan akan membawa kesejahteraan bersama. Kelompok fisiokrat dengan konsep pertanian, sudah mulai mengusung konsep bagaimana menumbuhkan ekonomi. Ada semacam keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi akan membawa kesejahteraan bersama. Lalu muncul ekonomi pasar yang pada mulanya juga diharapkan bisa membawa pertumbuhan dan membawa kesejahteraan bersama. Pada tataran ini harus dikatakan bahwa pemikiran ekonomi pasarnya Adam Smith juga masih dalam konteks ekonomi sosial, ingin mencapai kesejahteraan bersama. Tetapi ekonomi pasar mulai bergerak untuk lebih berfokus pada menciptakan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi memang tercapai, tetapi muncul masalah baru yakni  tidak terjadinya pemerataan.  Kesejahteraan bersama tidak tercapai.

Di sinilah ekonomi mulai meninggalkan akarnya. Dan sejak saat itu gerakan-gerakan sosialisme ekonomi pun mulai bermunculan yang diprakarsai tokoh-tokoh seperti Lord Luderdale (1759-1830), Adam Müller (1779 –1829), Saint Simon (1760-1825),  dan  J. C. L. Simonde de Sismondi (1773-1842), Bastiat, Frédéric (1801-1850), Henry Charles (1793-1879). Mereka terutama mengeritik konsep laissez-faire dalam bisnis. Menurut mereka kunci pada ekonomi yang bertujuan untuk mencapai kesejahteraan bersama harus bersentuhan langsung dengan martabat manusia. Artinya pencapaian tujuan-tujuan ekonomi tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan martabat manusia.

Hal yang kemudian oleh Karl Marx diaplikasikan dengan memperjuangkan kesejahteraan para buruh. Dia melihat nasib buruh sebagai masalah paling urgen yang harus dibereskan. Maka dia pun berkonfrontasi langsung dengan kaum kapitalis, dan menuntut perlakuan yang adil terhadap kaum buruh. Dengan teori surplus-value, dia menunjukkan bahwa laba dalam sistem kapitalis adalah perampokan dan penjarahan hak buruh. Apa yang dihasilkan sebagai laba adalah bukan hasil dari modal melainkan dari tenaga buruh yang dirampas oleh, dan masuk ke dalam kantong, kaum kapitalis.

Dia mengeritik sistem kapitalisme sebagai sistem yang mengalienasi manusia dan karyanya. Hasil karya seseorang tidak lagi menjadi miliknya melainkan milik pemilik modal yang membiaya dia untuk mengerjakannya.  Dan dengan teorinya tentang materialisme sejarah dia berkeyakinan bahwa sistem kapitalis akan termakan oleh perkembangan sejarah, dan sejarah akan melahirkan revolusi yang menghancurkan kapitalisme dan akan terlahir masayarakat tanpa kelas, tanpa negara. Dengan teorinya mengenai akumulasi modal, dia pun meramalkan nahwa dalam kapitalisme, modal akan perlahan-lahan terakumulasi pada pemilik modal tertentu akibat persaingan, maka akan tiba saatnya produksi berhenti dan akan terjadi revolusi, saat sistem kapitalisme mandek dan tidak bisa lagi berjalan.

Perkembangan selanjutnya adalah bahwa Marxisme meredup dan kapitalisme semakin berkibar dengan pasar swatata di bawah bayang-bayang neoliberalisme. Tetapi kenyataan yang tak bisa dipungkiri juga bahwa kapitalisme diterpa berbagai krisis dan masalah.

Pandangan Polanyi kembali mendapat perhatian. Konsep-konsep Polanyi yang tampil ramah tetapi tidak kalah tegas mulai dipelajari. Polanyi telah menimbulkan kesadaran bahwa ekonomi sesungguhnya telah tercerabut dari akarnya. Ekonomi telah dilepaskan dari relasi sosial, maka perlu ditanam kembali.

Jadi sebenarnya Polanyi tidak bergerak dalam pasar bebas, dan mengkonfrontasinya seperti Marx, melainkan dia menyoroti ekonomi kapitalis sebagai sudah tercerabut dari akar ekonomi sesungguhnya yang bergerak dalam relasi sosial. Ini merupakan cita-cita awal yang dicanangkan Aristoteles dan ditunjukkan oleh Polanyi dalam penelitiannya pada kultur dan masyarakat suku. Tujuan luhur ini pun sebenarnya menjadi cita-cita Adam Smith, bapak kapitalis. Tetapi kapitalisme rupanya sudah melenceng jauh dari cita-cita awalnya.

Gerakan sosialisme ekonomi ingin kembali ke konsep awalnya yang mendasar, walaupun tidak tanpa masalah. Berbagai upaya dan refleksi telah dilakukan, mulai dari yang radikal sampai yang lebih ramah. Marx dan Polanyi ikut bersama dengan gerakan ini. Keduanya sama-sama menghargai manusia, tidak ingin manusia dikorbankan demi ekonomi. Ekonomi tidak boleh mengalienasikan manusia, ekonomi tidak boleh menciptakan diskriminasi dan penindasan. Maka ekonomi harus dikembalikan di atas relasi manusia, dibangun di atas dasar etika, dan berjalan di atas prinsip keadilan.

Perbedaan-perbedaan yang bisa diidentifikasi pada pemikiran Polanyi dan Marx dalam pembahasan sebelumnya, sebenarnya lebih merupakan perbedaan interpretasi terhadap pemikiran mereka yang terlalu kompleks dan kaya untuk disederhanakan dan direduksi menjadi poin-poin pertentangan. Bisa saja orang mengatakan bahwa Marx lebih teknokratis sementara Polanyi lebih intelektualis, terutama karena konsepnya tentang menanam kembali ekonomi membutuhkan satu konsep yang lebih komprehensif dan membutuhkan pengkajian lebih panjang ketimbang mengeritik kelemahan-kelemahan kapitalisme dan memberikan jalan keluar teknis menolak kapitalisme. Karena itu ada kesan bahwa yang lebih penting pada Polanyi adalah menunjukkan masalahnya. Seolah-olah bagi Polanyi berlaku pepatah lama “A well-defined problem is a problem half solved,” (pengidentifikasian masalah secara tepat sebenarnya merupakan separuh jalan menuju penyelesaian). Maka dengan menemukan masalahnya Polanyi telah menyelesaikan separuh masalahnya, dan selanjutnya bagaimana teknik penyelesaiannya diserahkan kepada pihak-pihak berkepentingan.

Ibaratnya Polanyi sudah mendiagnosa masalahnya dan mengajak kita untuk mengubah pola hidup kita agar menjadi sehat kembali. Penyakit yang didiagnosa Polanyi tidak membutuhkan obat melainkan niat kita untuk menata kembali pola hidup kita agar seluruh fungsi metabolisme bisa berjalan dengan baik dan semua bagian-bagian fungsional dalam tubuh kita bisa bekerja kembali secara maksimal. Itulah tugas kita. Sementara bagi Marx langkahnya jelas dan radikal, pertentangan kelas dan revolusi.

Pendekatan Marx juga cenderung eksklusif dan konfrontatif.  Sosialisme adalah lawan dari ekonomi pasar dan kapitalisme. Maka hanya ada kemungkinan eksklusifikasi: atau Sosialisme atau Kapitalisme. Sedangkan pendekatan Polanyi  cenderung lebih inklusif.  Kalau kita menggunakan analogi ikan dan lautan atau rajawali dengan alam bebas, maka Polanyi ingin mengembalikan ikan ke lautan, dan rajawali ke alam bebas, Marx sebenarnya hanya berbicara tentang bagaimana memperbaiki nasib ikan yang sudah lepas dari lautan dan rajawali yang sudah lepas dari alam bebas. Marx berupaya agar kehidupan ikan yang sudah lepas dari lautan itu ditata menjadi satu kehidupan bersama yang mensejahterakan semua, dan bukan hanya sekelompok ikan atau rajawali yang punya  kapital. Marx menginginkan agar ada sharing yang adil bagi semua ikan atau rajawali.

Karena itu konsep sosialisme ekonomi Marx lebih bersifat kontekstual. Marx prihatin dengan masalah konkrit dan kontekstual yang dialami oleh masyarakat zamannya terutama masyarakat buruh. Karena itu dia dianggap keliru mengidentifikasi ekonomi sebagai pasar. Sedangkah jalan pemikiran Polanyi adalah konseptual. Dia tidak berhadapan dengan pasar, melainkan dia menempatkan konsep sosialisme dan pasar dalam satu kerangka pemikiran. Polanyi tidak menempatkan diri di pihak Marx melainkan dia membangun satu konsep yang dia sebut embeddedness (ketertanaman) dan disembeddedness (ketercerabutan), dan menemukan bahwa sosialisme ekonomi Marx dan kapitalisme  bergelut dalam ekonomi pasar yang sudah tercerabut.

Namun demikian harus dikatakan bahwa pemikiran keduanya lebih bersifat komplementer daripada substitusional.  Karena itu di balik perbedaan-perbedaan pandangan mereka ada tujuan luhur bersama yakni bahwa ekonomi harus merupakan upaya bersama untuk mencapai kebaikan dan kesejahteraan bersama. Bahkan hal yang sama harus juga dikatakan untuk kapitalisme awal. Hendaknya Karl Polanyi, Karl Marx bahkan Adam Smith dapat menjadi inspirasi kita untuk kembali belajar sejarah, belajar dari Aristoteles, untuk melangkah lebih bijaksana, membangun ekonomi yang lebih manusiawi, sosialis, etis, dan berkeadaban. Aristoteles menanam, Adam Smith menyiram, Polanyi merawat dan Marx melindungi pertumbuhannya. Dari Aristoteles kita belajar tentang konsep dasar ekonomi. Dari Adam Smith kita belajar tentang bagaimana menumbuhkan ekonomi. Dari Polanyi kita belajar tentang bagaimana menjaga agar pertumbuhannya sehat dan tak tercerabut, dan dari Marx kita belajar untuk melindunginya dari ancaman dan hama.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Baum, Gregory. 1996. Karl Polanyi on Ethics and Economics. Montreal & Kingston. Mc-Gill-Queen’s University Press.
  2. Colletti, Lucio. 1973. Marxism and Hegel, translated by L. Garner, London. New Left Books.
  3. Dua, Michael. 2008. Filsafat Ekonomi. Upaya Mencari Kesejahteraan Bersama. Yogyakarta. Kanisius.
  4. Halperin, Rhoda.1994. Cultural Economies: Past and Present, Austin. University of Texas Press.
  5. Magnis Suseno, Franz. 1992.  Berfilsafat dalam Konteks. Jakarta. Gramedia
  6. Magnis Suseno, Franz. 1999. Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta. Gramedia.
  7. Manicas, P. 1987.  A History and Philosophy of the Social Sciences. New York. Basic Blackwell.
  8. Marx, Karl .1973. Grundrisse, diterjemahkan oleh M. Nicolaus. London. Penguin.
  9. Marx, Karl .1975. Early Writings, diterjemahkan oleh R. Livingstone. London. Penguin.
  10. Marx, Karl .1976. Capital, v. I, diterjemahkan oleh B. Fowkes, London.  Penguin.
  11. Marx, Karl dan Engels. F. 1970. The German Ideology. C. J. Arthur (ed.). New York. International Publishers.
  12. Marx, Karl, dan Engels, F. 1970. The German Ideology. C. J. Arthur (ed.). New York. International Publishers.
  13. Marx, Karl. 1981. Capital, v. III, diterjemahkan oleh D. Fernbach. London: Penguin.
  14. Polanyi, Karl. 2001. The Great Transformation. The Political and Economic Origins of Our Time. Foreword by Joseph E. Stiglitz, Introduction by Fred Block. Boston. Beacon Press.
  15. Stanfield, J. Ron. 1986. The Economic Thought of Karl Polanyi: Lives and Livelihood, New York.  St. Martin’s Press.
  16. Wilshire, H.G. 1891. Fabian Essays in Socialism. London. New York. The Humboldt Publishing Co.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s