REFLEKSI AKHIR TAHUN 2012

Pada tanggal 29 Oktober 1945, Paris dihebohkan oleh Sartre dengan ceramahnya berjudul ‘Existentialism is a humanism’ (‘ L’Existentialisme est un Humanisme ’). Ceramah itu menarik audiens begitu besar sehingga ada yang sampai jatuh pingsan karena terhimpit oleh desakan manusia.

Mengapa ceramah itu begitu menghebohkan Paris? Saat itu dunia baru saja terpapar pada pengalaman yang paling mengerikan dalam sejarah umat manusia, yakni Perang Dunia II. Perang itu begitu menghancurkan kemanusiaan. Martabat manusia direndahkan sampai titik paling rendah. Orang merasa seperti kehilangan harapan. Trauma masa lampau begitu mengusik kehidupan mereka sehingga ada rasa terbelenggu oleh peristiwa-peristiwa yang teramat memilukan itu. Mereka kehilangan harapan, seolah-olah tak pernah bisa lagi terbebaskan dari pengalaman dan mimpi buruk yang terus menghantui mereka. Mereka bertanya apakah hidup ini masih ada artinya, dan masih adakah harapan yang bisa dikais dari  balik puing-puing reruntuhan kehidupan manusia yang telah hancur oleh trauma dan pengalaman mengerikan Perang Dunia II?

Eksistensialisme bangkit dari balik puing reruntuhan kemanusiaan itu dan mengukir satu harapan baru. Sartre tampil dan mengumandangkan lagu kebebasan manusia. Dengan konsep kebebasannya dia ingin mengorak rantai trauma yang membelenggu manusia. Bahwa manusia adalah makhluk yang bebas. Dia tidak terdeterminasi oleh masa lampau. Bahwa eksistensi manusia mendahului esensinya. Manusia tidak mengembangkan diri berdasarkan esensi yang sudah terpatok, melainkan dia membentuk esensinya sendiri setelah bereksistensi. Tidak seperti halnya benda. Sebuah pisau misalnya, dibuat oleh seorang tukang besi sesuai dengan esensi pisau. Artinya esensi pisau sudah ada sebelum eksistensinya. Tetapi tidak demikian dengan manusia. Manusia bereksistensi dulu baru terbentuk esensinya. Artinya bahwa trauma masa lampau itu tidak harus membelenggu manusia. Manusia bisa memilih untuk melepaskan diri dari belenggu-belenggu keterpurukan itu dan bangkit lagi dan memulai satu eksistensi baru.

Walaupun tidak seheboh Paris tetapi peristiwa pergantian tahun sebenarnya sedikit banyak mengekspresikan aroma kehebohan serupa. Peristiwa tahun baru menunjukkan ekspresi terselubung dari apa yang diserukan eksistensialisme bahwa manusia itu bebas. Dia tidak terdeterminasi oleh masa lampaunya; bahwa eksistensi mendahului esensi. Pantas kalau orang selalu cenderung mengharapkan sesuatu yang baru, perubahan ke arah yang lebih baik. Entah yang buruk menjadi baik, atau yang baik menjadi lebih baik lagi.

Raungan terompet, ledakan petasan dan gemerlapnya kembang api, adalah ekspresi letupan kerinduan manusia akan sesuatu yang baru, setelah terhimpit dalam masa lampau yang tak banyak memberi harapan. Masing-masing orang menghadapi masalahnya di masing-masing negerinya. Khusus di negeri sendiri kita berhadapan dengan berbagai masalah. Kehidupan ekonomi yang semakin menghimpit.  Gaji naik, langsung disambut oleh kenaikan harga bahan pokok. UMR naik langsung ditimpali ancaman PHK. KPK makin gila, korupsi tambah menggurita. Agama makin khusuk, kekerasan pun semakin menusuk. Ketika ada harapan bahwa sepak bola mulai menonjol sebagai sarana pemersatu bangsa, eh, langsung dikapling sekelompok orang dan dipetak-patok menjadi alat politik. Setelah rakyat memilih para pemimpin yang berani mengatakan tidak pada korupsi, koruptor memang lenyap karena tak ada yang terbukti berkorupsi, tetapi anehnya korupsinya ada, bahkan kita termasuk juaranya.

Ah, mudah-mudahan ada titik terang di tahun 2013. Atas nama kebebasan, kita seharusnya tidak terhipnotis oleh angka tigabelas sebagai angka sial. Pertama, bagi yang cenderung terhipnotis, jangan melihat penggalannya; angka harus dilihat secara utuh sebagai 2103. Kedua, satu hal jelas; sekurang-kurangnya tahun 2013 sudah membersitkan sekelumit harapan yakni bahwa dia akan menghantar kita ke 2014. Mudah-mudahan kita sedang bererot menuju perubahan.

Selamat Tahun Baru 2013.

Benyamin Molan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s