NARASI NATAL: KEMULIAAN DI SURGA, DAMAI DI BUMI

Gloria in excelsis Deo, et in terra pax hominibus.  Natal bernarasi tentang inkarnasi, Sabda menjadi  manusia dan tinggal di antara kita. Itu berarti Natal bernarasi, tidak hanya tentang eskaton— kehidupan kita kelak setelah kita meninggalkan dunia ini— melainkan juga tentang kehidupan kita kini sini, di dunia ini. Natal mau menunjukkan bahwa kehidupan kita sebagai manusia  di dunia ini, sebenarnya juga bernilai dan tidak kalah penting dibanding kehidupan di akhirat. Itu berarti kehidupan di dunia ini pun perlu kita perhatikan, seperti halnya Yesus juga telah memperhatikannya.

Dengan kata lain, kelahiranNya di dunia ini yang kita rayakan dalam peristiwa Natal, mengajak kita untuk memperhatikan kehidupan kita yang sudah dimulai dari dunia ini dan berlanjut terus ke surga. Kalau Tuhan saja menghargai hidup manusia di dunia ini, bagaimana mungkin manusia justru mengabaikannya, dan bersikap seolah-olah hidup di dunia ini tidak penting untuk dipedulikan. Kiranya tidak pada tempatnya kalau manusia menyia-nyiakan kehidupannya sendiri di dunia ini, dan mengarahkan perhatian sepenuhnya hanya pada kehidupan abadi yang penuh dengan kemuliaan di surga. Sulit untuk membayangkan bahwa kehidupan yang penuh kemuliaan di surga itu bisa dialami nantinya, padahal kehidupan sekarang di dunia ini serba berantakan.

Kehidupan manusia di dunia ini adalah bagian dari seluruh kehidupan yang terus berlangsung dan tak pernah berakhir. Di bumi manusia melantunkan damai, di surga manusia memancarkan kemuliaan. Damai di bumi harus menjadi landas pacu untuk take-off menuju kemuliaan di surga. Itu berarti kemuliaan tanpa damai adalah kemuliaan semu. Kemuliaan yang didapatkan dari kekuasaan dan kekerasan adalah kemuliaan palsu yang hanya akan bertahan di bawah todongan pistol dan ancaman senjata. Kemuliaan yang diraih melalui kekayaan dan keserakahan, dengan merampok dan menjarah, korupsi dan nepotisme —entah terbukti atau tidak terbukti secara hukum— adalah kemuliaan palsu yang hanya mengkilap di luarnya tetapi busuk  di dalamnya. Dan yang paling merasakan dan mengetahui kepalsuan itu adalah diri saya sendiri. Karena yang paling tahu apakah saya korupsi atau tidak, bukan bukti hukum, melainkan suara hati saya sendiri. Akibatnya hidung orang lain boleh mencium wanginya keparlentean saya, tetapi hidung saya sendiri harus setiap saat menghirup busuknya aroma kemunafikan saya, tanpa bisa melengos. Yang jelas itu bukan kemuliaan sejati. Kemuliaan sejati harus bertumbuh dan memancar dari dalam sampai keluar, bukan sekadar mengkilap di luarnya. Sedangkan kemuliaan semu adalah kemuliaan yang direkayasa; kemuliaan yang berlindung di balik bukti hukum; kemuliaan yang penuh dengan kemunafikan dan kamuflase, beraroma formalistik, legalistik, palsu, tak bermutu; tidak beda dengan kuburan, bagus di luar tetapi busuk di dalam.

Misi karya keselamatan Yesus adalah karya untuk membawa damai bagi kehidupan di dunia ini demi mencapai kemuliaan dalam surga. Pantas kalau Yesus mengawali karyaNya dengan menebar damai, bukan menebar kuasa, menebar kemuliaan, apalagi menebar pesona. Damai adalah nilai dasar yang menjadi landasan menuju kemuliaan. Dalam kedamaian inilah segala sesuatu yang otentik dan sejati bisa dibangun. Perubahan sejati, pertobatan sejati tidak bisa dibangun dengan kekuasaan dan kekerasan, apa lagi dengan todongan senjata dan ancaman pentung. Perubahan dan tobat sejati hanya bisa tumbuh dari hati yang damai. Yesus bukanlah Caesar yang mengandalkan damai dengan ancaman senjata (si vis pacem para bellum: siapa yang ingin damai harus siapkan perang). Kekuasaan, kekayaan, kekerasan, senjata hanya menghasilkan damai yang semu; damai yang tercipta karena ketakutan,  kepura-puraan, kemunafikan. Damai di dunia semacam ini tidak pantas untuk dimahkotai dengan kemuliaan eskatologis.

Bethlehem, Nazareth, tempat Yesus mengawali karirNya, sesungguhnya juga bukanlah kota-kota yang gemerlap dengan kemewahan dan hingar bingar, melainkan tempat-tempat yang tenang, tenteram, dan damai. Di tempat-tempat seperti inilah Yesus membangun misi damaiNya. Melintasi hiruk pikuk dan  hingar bingar kota Yerusalem, Yesus tidak tergiur oleh kemuliaan yang ditawarkan kepadanya oleh orang Yahudi. Masih segar dalam ingatan kita, ketika diarak masuk kota Yerusalem, Yesus mau dijadikan raja. Tetapi dia menampik tawaran itu. “KerajaanKu bukan dari dunia ini” begitu akunya kemudian di hadapan Pilatus. Yang Dia inginkan terjadi di dunia ini bukan kemuliaan bagi siapa-siapa melainkan damai bagi semua manusia.

Karena damai yang ditebarkan pada awal kehidupanNya di dunia itulah Yesus memilih keluarga sederhana sebagai tempat untuk memulai karya keselamatanNya. Pantas kalau Gereja dalam Aksi Natal kali ini pun mengajak kita untuk kembali Ke Nazareth. Kita didorong untuk membangun kedamaian mulai dari keluarga. Keluarga adalah tempat yang tepat untuk membangun kedamaian dan bukan tempat untuk membangun kemuliaan bagi sang suami (ayah) yang otoriter, atau kemuliaan bagi sang isteri yang serba dominan (kalau suami takut isteri), atau kemuliaan bagi sang anak yang hedonis.  Ketika salah satu pihak mau membangun kemuliaan dalam keluarga, maka yang timbul adalah bukan kedamaian melainkan kekacauan atau kemuliaan semu.

Maka selama hidup di dunia ini, yang perlu kita bangun adalah damai. Bakat, kemampuan, jabatan dan kekuasaan yang dianugerahkan kepada setiap kita, bertujuan untuk membangun kedamaian dan ketenteraman, bukan untuk membangun mahligai kekuasaan dan kemuliaan di dunia ini.  Semua masalah di dunia ini terjadi ketika terjadi penjungkir-balikan. Orang sudah punya kecenderungan untuk membangun kemuliaan di dunia ini, dan mengharapkan damai nanti di dalam surga. Seolah-olah di dunia ini manusia boleh saling menghadang dan berseteru, saling menginjak dan memanipulasi, sambil merebut hati Tuhan dan mengoleksi pahala untuk meraup kemuliaan di akhirat. Ini kurang sejalan dengan semangat Natal. Damai harus tercipta dalam kehidupan di dunia ini dan kemuliaan akan menjadi mahkotaNya di surga.

Semoga Natal membawa damai dalam hati dan pikiran, dalam keluarga, masyarakat, bangsa, dan seluruh umat manusia di bumi, dan kemuliaan kelak di surga. Karena itu ucapan Selamat Natal lebih afdol rasanya kalau dinyatakan dalam rumusan yang lebih klasik: Salam Damai Natal.

Benyamin Molan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s