BAHASA KEDANG DAN KESETARAAN JENDER

Orang tidak dilahirkan sebagai wanita, melainkan menjadi wanita. Kata-kata ini ditulis oleh Simone de Beauvoir,  dalam bukunya The Second Sex, yang terbit tahun 1949 di Perancis. Jelas bahwa konsep de Beauvoir adalah eksistensialis. Menjadi wanita artinya seorang wanita itu bebas untuk memilih, dan tidak bisa ditentukan sebelumnya menjadi wanita seperti apa. Ini sejalan dengan konsep pokok eksistensialist bahwa “eksistensi mendahului essensi”. Artinya manusia dalam hal ini wanita tidak berkembang sesuai dengan satu essensi yang sudah ditentukan sebelumnya, seperti ketika seorang tukang membuat lemari, melainkan berkembang bebas tanpa bisa dipastikan. Ketika membuat lemari misalnya, seorang tukang sudah mempunyai gambar, seperti apa lemari ini nantinya. Ini tidak bisa terjadi pada perkembangan manusia. Manusia adalah makhluk bebas yang selalu berhadapan dengan berbagai kemungkinan pilihan yang tidak terbatas dan karena itu tidak bisa ditentukan sebelumnya.

Konsep ini sepintas tampak sejalan dengan apa yang terkandung dalam bahasa Kedang. Seperti dikatakan dalam artikel sebelumnya, “Pria dan Wanita dalam Bahasa Kedang,” bahwa dalam bahasa Kedang, wanita dilahirkan sebagai areq rian (perempuan besar) dan kemudian menjadi areq weriq (perempuan kecil), dan terakhir menjadi weq rian (badan besar). Sepertinya dalam konsep ini, wanita tidak dilahirkan sebagai wanita, melainkan menjadi wanita. Tetapi apa artinya menjadi wanita?

Menjadi wanita dalam konsep bahasa Kedang tidak seperti yang dimaksudkan de Beauvoir. Konsep menjadi wanita dalam bahasa Kedang di sini, tampaknya selalu dalam ketersandingan dengan pria. Artinya walaupun tidak dilahirkan sebagai wanita melainkan menjadi wanita, essensi wanitanya sepertinya sudah jelas, yakni areq weriq dan nantinya weq rian, walaupun itu pun masih tetap menjadi bagian pilihan. Memang betul bahwa orang tidak dilahirkan sebagai wanita, melainkan menjadi wanita. Tetapi menjadi wanita di sini berarti menjadi weq rian, suatu essensi yang sudah ditetapkan dalam masyarakat.

Seperti sudah dikatakan, bahwa dalam bahasa Kedang laki-laki lahir sebagai anaq abe (laki-laki kecil) menjadi ebe abe (laki-laki muda) dan ate rian (orang besar) ketika dia menjadi suami. Bila kita menyandingkan dua model perkembangan ini, akan tampak bahwa bahasa Kedang sedikit banyak menggambarkan perkembangan fisik dan psikologis manusia. Wanita memang lebih cepat bertumbuh daripada pria, termasuk perkembangan psikologisnya. Pantas kalau laki-lakinya masih kecil (anaq abe), perempuannya sudah lebih cepat besar dan dewasa (areq rian). Tetapi ketika seorang pria menjadi laki-laki perkasa (ebe abe), wanita justru menjadi gadis mungil (areq weriq). Dan akirnya laki-laki (ebe abe) hanya menjadi ate rian (orang besar) ketika dia menjadi suami seorang wanita.

Walaupun tidak benar-benar sejalan dengan pemikiran de Beauvoir, konsep bahasa Kedang juga tidak sepenuhnya sejalan dengan apa yang ditentang Jane Austin seorang wanita penulis sebelumnya, bahwa wanita hanya menjadi orang ketika mendapat perhatian dari pria. Dalam bahasa Kedang pria atau laki-laki justru baru menjadi ate rian (orang besar) ketika berhadapan dengan perempuan. Berarti perempuan justru yang membuat laki-laki menjadi orang besar. Suami atau pria yang sudah beristeri dalam bahasa Kedang disebut ate rian, yang harafiahnya berarti orang besar.

Berarti dalam bahasa Kedang memang ada nuansa ketidak-setaraan jender, tetapi sebenarnya tidak separah yang ditentang baik oleh de Beauvoir maupun Jane Austin. Tampak ada semacam rsiprositas gender yang ditunjukkan dalam bahasa Kedang. Itu berarti kalau terjadi kesenjangan atau ketidak-setaraan gender yang terlalu besar dalam masyarakat Kedang, maka bisa disimpulkan bahwa ada kemersotan dalam perkembangan pemikiran mengenai gender dalam masyarakat Kedang, kalau tidak mau dikatakan bahwa kemungkin ada pengaruh yang datang dari luar.

Dalam masyarakat dan budaya Kedang mesti ada resiprositas yang progresif dan sinergik. Artinya pertemuan pria dan wanita harus membawa arti dan signifikansi baru bagi kedua pihak. Bahwa pria hanya menjadi ate rian (orang besar) ketika menjadi suami seorang wanita. Dan wanita hanya menjadi weq rian (badan besar) ketika menjadi isteri dari seorang pria. Artinya bahasa Kedang tidak membenarkan bahwa wanita hanya menjadi manusia ketika diperhatikan pria, karena pria juga hanya menjadi manusia utuh kalau diperhatikan wanita.

Perbedaan kecil ini kiranya tidak untuk merendahkan martabat wanita melainkan sebagai konsekuensi dari pola masyarakat patriarkhal. Dalam pola ini pria harus menjadi kepala, pemimpin, pengayom dan sebagainya; tetapi ini hanyalah masalah perbedaan dalam pemberian dan pelaksanaan fungsi yang diatur berdasarkan kemampuan dan energi, bukan atas dasar perbedaan martabat. Maka ketidak-adilan, kekerasan, keputusan sepihak dalam rumah tangga, jelas tidak sesuai dengan konsep gender dalam bahasa dan budaya Kedang karena melanggar martabat manusia. Segala sesuatu yang menyangkut fungsi dalam rumah tangga atau masyarakat harus dibicarakan bersama dalam dialog yang jujur, setara, dan demokratis.

Apakah praktik belis atau mahar pernikahan tidak sejalan dengan konsep bahasa ini? Sebenarnya tidak, lantaran dalam praktiknya, belis memang datang dari pihak pria, tetapi selalu ada balasan dalam bentuk lain yang harus diserahkan juga oleh pihak wanita kepada pihak lelaki. Jadi sebenarnya ada unsur timbal balik. Apa lagi konsep belis sebaiknya dibicarakan dalam konteks keluarga yang lebih besar atau suku. Mungkin ini bisa menjadi tema pembahasan di lain kesempatan.

Benyamin Molan Amuntoda

2 thoughts on “BAHASA KEDANG DAN KESETARAAN JENDER

  1. Amo, tulisan amo bagus, sangat inspiratif. Saya menilik dari segi yang lain, agar pemaknaannya bertambah satu lagi. Pola masyarakat patriarkhal cukup berpengaruh juga, namun, seperti dihimbau amo, tidak perlu dilebih-lebihkan. Saya pikir bahwa seorang perempuan Kedang justru sudah menjadi orang besar, bermakna, berharga, sejak dilahirkan. (Areq rian = orang besar). Melampaui pola masyarakat patriarkhal, kata ‘areq rian’ yang dikenakan pada seorang anak perempuan Kedang saat dilahirkan/masih bayi, menunjukkan primat mulia seorang wanita dari kodratnya. Seperti kata “empu” dalam bahasa Jawa, yang diserap Bahasa Indonesia menjadi kata per-empu-an. Seorang perempuan Kedang, dari kodratnya/sananya, dia sudah mulia dan besar sejak lahir. Bahwa setelah menjadi remaja menjadi areq weriq = perempuan kecil dan ketika bersuami sebutannya menjadi weq rian = badan besar, itu hanyalah pelabelan bersifat fisik-lahiriah yang didasarkan pada pertimbangan seperti amo nukilkan di atas. Dalam konteks kita, seorang laki-laki Kedang baru menjadi ‘orang besar’ = ate rian, setelah beristri atau menjadi suami. Kalau dimaknai, kata ‘anaq areq rian’ = ‘anak/bayi perempuan besar’, memang tidak sekedar besar, tidak sembarang besar, atau besar karena dibesarkan dengan air susu, makanan-minuman, dll, tetapi dia besar dari ‘sana’-nya, dia membawa meterai ilahi (nimon rian) sejak lahir-bayi atau “mendarat di bumi”. Jadi, seperti perempuan dimana-mana senantiasa dihormati, maka perempuan Kedang yang sudah ‘besar’ dan ‘mulia’ sejak masih bayi, tentu sekarang tidak menuntut dihormati secara berlebihan, namun serius dihargai, dilindungi, diperhatikan. Ya, timbal-balik! Bukankah begitu wahai “areq weriq” dan “weq rian” Kedang? hahaha

    • Terima kasih Ariq Rofin Pati Amunrian. Comment yang bagus. Bahasa Kedang memang sarat makna dan penuh inspirasi, maka perlu digali terus dari berbagai aspek. Jangan hanya satu kalau masih ada aspek lain silahkan ditambah. Bahasa ini sudah banyak berjasa mempersaudarakan komunitas penuturnya dan meneruskan nilai-nilai budaya yang perlu untuk keberlanjutan hidup berbagai generasi dalam komunitas ini. Sayang kalau semua nilai yang luhur dan mulia ini dirongrong oleh bahasa-bahasa lain yang memecah belah, seperti bahasa politik, bahasa kekuasaan, bahasa ekonomi, bahasa agama. Betul amo, perempuan itu sudah besar dari “sananya”, jangan sampai dikerdilkan di “sininya” oleh berbagai kepentingan dan bahasa lainnya. Saya punya banyak pertanyaan tentang bahasa Kedang, tetapi tidak punya cukup jawaban. Ketika diajukan, jawabannya adalah “sudah dari sananya begitu” dan tidak ada jawaban mengapa begitu. Contoh kecil saja, kata “gatal” terjemahan bahasa Kedangnya adalah “kawaq”. Pada hal kata kawaq itu terjemahan Indonesia harafiahnya adalah “makan batu”. Apa hubungannya “gatal” dengan “makan batu”? Atau “anak bungsu” itu bahasa Kedangnya “anaq tuwutuq”. “Tuwutuq” itu terjemahan harafiah Indonesiannya adalah “ujung susu”. Apa hubungannya bungsu dengan ujung susu?
      Emas tidak hanya ada dalam perut bumi Kedang melainkan juga dalam perut budaya dan bahasa Kedang. Maka perlu digali. Semoga comment Anda mengajak orang Kedang lainnya untuk ikut menggali. Selamat menggali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s