PIALA ASIA U 22: MASALAH MENTAL

Mengamati hasil sementara yang diraih timnas sepak bola Indonesia di babak penyisihan Piala Asia U22, barangkali ada baiknya kita berkaca. Sepertinya ada refleksi mental yang cukup benderang terpantul dari peristiwa ini. Melawan timnas Australia, timnas Indonesia kalah 1-0. Hasil itu sepertinya dianggap wajar dan pantas. Padahal sebenarnya mental rendah diri kita telah membuat kita memang merasa pantas kalah. Dan kemenangan yang diraih pun, seandainya memang terjadi, akan dianggap sebagai kejutan (surprise), lantaran hasil itu dianggap sesuatu yang lebih daripada yang sepantasnya kita dapatkan.

Kemenangan 2-0 dari Timor Leste, memantulkan mental kita, bahwa tim kita memang sedikit di atas Timor Leste. Tetapi anggapan ini tidak berujung pada sikap meremehkan, karena timnas kita sudah mengenal timnas Timor Leste sebelumnya sebagai tim yang berkelas, paling sedikit di Brunei Darussalam. Dan kita pun berhasil menjinakkan Timor Leste dengan skor yang cukup meyakinkan.

Kemenangan timnas kita 2-1 atas Macao, sebenarnya karena Macao dianggap tim paling lemah, dan memang demikian. Terendus sedikit sikap meremehkan yang tercetus dalam harapan berlebihan untuk mengoleksi sebanyak mungkin gol. Akibatnya, malah tim kita kecolongan melalui serangan balik, yang juga malah mencederai kiper utama kita. Melawan Jepang timnas Indonesia kalah telak 5-1, padahal Jepang, dalam pertandingan sebelumnya, hanya mengalahkan Timor Leste 1-0, sementara Indonesia mengalahkan Timor Leste 2-0.  Di sini sekali lagi tampak adanya pantulan mental “kalah wajar, menang kejutan”. Bahkan kalah dengan skor yang begitu telak pun masih dianggap wajar.

Jepang tampaknya sedikit meremehkan Timor Leste sebagai negara kecil baru, yang belum cukup banyak berbicara di arena internasional. Pantas kalau Jepang dengan susah payah menundukkan Timor Leste 1-0. Tetapi ketika melawan Indonesia, Jepang tidak meremehkan Indonesia, bahkan sangat serius mempersiapkan diri menghadapi pertandingan ini. Mereka berlatih keras di tengah terik matahari untuk menyesuaikan diri dengan cuaca.  Pantas kalau hasilnya timnas Indonesia dikalahkan sangat telak.

refleksi mental?

Sementara Indonesia sendiri pun punya masalah mental berhadapan dengan Jepang. Jepang sebagai negara elit Asia, dan telah memproklamirkan dirinya sebagai saudara tua, membuat Indonesia gampang menyesuaikan diri sebagai saudara muda. Dan hubungan kita juga menjadi hubungan saudara. Pantas kalau kita juga sering dikirimi barang-barang bekas dari saudara tua. Kereta bekas, bus bekas, yang ketika datang pertama (walaupun bekas), masih sangat terawat, namun apa jadinya sekarang? Bus-bus itu sudah menjadi bus tua yang jorok dan menjijikkan. Kondisi bus-bus bekas Jepang itu, benar-benar mengenaskan. Atapnya sudah tak berbentuk, jendelanya tak bisa menutup, tempat duduknya sudah diganjal pakai batu, busa di tempat duduk dan sandarannya sudah hilang separuhnya, dan menjadi compang caming. Tombol-tombol yang dulunya dipencet tangan-tangan beradab, kini sudah karatan dan meninggalkan  tampilan sisa-sisa kenyaman yang sudah tak ternikmati dalam bus-bus ini.  Saya membayangkan bagaimana perasaan orang Jepang kalau menaiki bis ini di Jakarta. Mereka akan menertawakan bangsa kita yang tak punya mental maintenance, perawatan, apa lagi membangun dengan tekun.

Tidak mengherankan kalau berhadapan dengan Jepang kita merasa tidak percaya diri. Ini berlaku juga dalam sepak bola. Maka wajar kalau dalam bidang ini pun ada anggapan bahwa ketika berhadapan dengan Jepang, kalah itu wajar, sementara kalau menang, itu kejutan. Kita sebenanrya harus bisa membangun mental sebaliknya, bahwa kalau Indonesia menang itu wajar (sebagai bangsa yang besar), dan kalau Indonesia kalah, itu mengejutkan.

Bertahun-tahun kita hidup di alam penjajahan, membuat kita tanpa sadar, telah membangun sikap mental yang sesuai dengan keinginan penjajah. Dulu kita disebut negara terkebelakang. Dan kita pun berperilaku sesuai dengan istilah yang dikenakan pada kita. Kemudian julukan kita diubah menjadi negara yang belum berkembang, dan kemudian muncul istilah yang terasa sedikit lebih bermartabat “negara yang sedang berkembang”, tetapi itu pun membuat kita mengembangkan sikap mental kita sesuai dengan apa yang dikatakan tentang kita. Harus diakui Wittgenstein benar, bahasa itu bukan hanya menggambarkan sesuatu melainkan bisa menciptakan; Shakespeare tidak salah, apa artinya sebuah nama; orang Latin juga tidak keliru, nomen est omen.

Kita perlu membangun bangsa ini menjadi bangsa yang besar. Itu cita-cita Bung Karno. Dia tidak ingin kita menjadi bangsa kuli dan babu, melainkan bangsa yang setara dengan bangsa-bangsa lain. Ini juga menjadi pemikirannya ketika dia merumuskan Pancasila dalam pidatonya tanggal 1 Juni 1945, dengan Kebangsaaan sebagai sila pertama dan Internasionalisme sebagai sila kedua. Di situ dia menekankan kebangsaan yang tetap memperhatikan penghargaan terhadap bangsa-bangsa lain sebagai manusia. Artinya kebangsaan yang dibangun tidak mengarah ke chauvinisme yang merendahkan bangsa lain. Kebangsaan yang dibangun adalah kebangsaan yang menghargai kemanusiaan atau martabat manusia pada semua bangsa lain. Dan itu diperjuangkan dan dicontohkan sendiri oleh Bung Karno yang tampil sangat percaya diri berhadapan dengan bangsa-bangsa lain, bahkan Amerika Serikat sekalipun.

Tetapi apa yang terjadi? Jangankan chauvinisme, menyetarakan diri dengan bangsa lain saja kita masih kesulitan. Akibatnya kita selalu menuntut (atau malah mengemis) penghargaan, tetapi tak pernah membangun diri agar pantas mendapatkan penghargaan. Penghargaan tidak bisa dituntut. Penghargaan harus timbul dengan sendirinya dari hati, tatkala terpapar dengan sesuatu yang pantas dihargai, dan bukan paksaan terhadap hati untuk menghargai sesuatu yang tidak pantas untuk dihargai.

Seluruh sikap mental kita tampak sangat transparan pada dunia sepak bola kita. Maka bola pantas menjadi salah satu tempat yang baik untuk berkaca dan bebenah diri, tidak hanya menyangkut dunia sepak bola saja, melainkan dalam seluruh aspek hidup kita. Dalam sepak bola, seluruh originalitas sebuah bangsa terpantul. Mari benahi sepak bola kita, biar menjadi kaca yang bening tempat kita bercermin diri.

Benyamin Molan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s