EURO 2012: SEPAK BOLA DAN TURNAMEN KEHIDUPAN

Menarik ketika kita mengamati bahwa tim yang bermain bagus seperti Rusia (menekuk Ceko sang juara grup dengan angka telak 4-1 dan menguasai pertandingan melawan Yunani), akhirnya harus angkat koper lebih awal pada UEFA EURO 2012. Ceko yang pada mulanya hampir hilang harapannya justru menjadi juara grup, dan Yunani yang tertatih-tatih akhirnya malah bisa lolos ke delapan besar. Kemungkinan yang dialami Yunani, sebenarnya bisa juga terjadi pada Belanda. Sayangnya Belanda akhirnya kalah dari Portugal dan pulang kampung lebih dini.

Dalam turnamen ini Yunani bisa diselamatkan oleh sebuah sistem. Yang jelas sistem Head to Head UEFA EURO 2012 telah memastikan Yunani lolos ke perempat final. Walaupun Rusia dan Yunani mengumpulkan nilai yang sama, tetapi Rusia, yang kalah dalam head to head dengan Yunani, harus tersingkir. Aturan UEFA jelas. Ada beberapa urutan ketentuan yang harus dipertimbangkan jika dua tim atau lebih mempunyai nilai yang sama.  Ketentuan urutan pertama yang harus diperhitungkan adalah poin tertinggi yang diraih pada pertandingan antar tim-tim tersebut. Ketentuan selanjutnya baru akan diperhitungkan kalau poin tim-tim bersangkutan pada ketentuan pertama ini masih tetap sama juga. Pada kasus Rusia dan Yunani, butir pertama ini sudah menjadi penentu. Di sini Yunani mendapatkan poin 3 dan Rusia 0. Maka Yunani yang melenggang ke babak berikutnya dan Rusia pun tersingkir.

Terlihat dalam turnamen ini bahwa yang penting adalah peningkatan. Awal buruk tidak jadi masalah yang penting ada kemajuan. Ada kesalahan di awal tidak menjadi persoalan, yang penting ada pertobatan, dan itu berarti ada peningkatan. Awal buruk, dan terus buruk, merupakan indikasi tidak adanya pertobatan. Awal baik dan bahkan sangat baik, tetapi selanjutnya memburuk, berarti yang terjadi bukannya pertobatan melainkan kemerosotan. Awal baik dan terus membaik, juga merupakan tanda ada upaya untuk mempertahankan prestasi yang baik.

Ini seharusnya juga terjadi dalam turnamen kehidupan. Harus ada sistem yang bisa mengatur supaya tetap ada peluang untuk menang bagi mereka yang memulai turnamen kehidupan dengan kekalahan. Orang miskin dan marginal adalah mereka yang memulai turnamen kehidupan dengan kekalahan. Harus ada sistem yang bisa memberikan peluang bagi mereka juga untuk lolos dalam turnamen kehidupan. Sistem yang kita kenal, hanya memberi peluang kepada pihak yang menang untuk tambah menang dan terus berjaya, sementara yang kalah tambah kalah dan terus terpuruk.

Ini sebenarnya tidak adil.  Pantas kalau John Rawls meneriakkan justice as fairness. Keadilan adalah soal fairness, soal prosedur, soal sistem, yang harus diatur sedemikian rupa sehingga turnamen kehidupan ini berjalan secara adil (fair), dan tetap ada peluang bagi mereka yang pada awalnya terpuruk, terutama oleh nasib buruk, untuk bangkit dan tetap eksis meramaikan turnamen kehidupan ini.

Ketika sekolah hanya diperuntukkan bagi mereka yang bisa membayar, maka jelas tidak ada peluang bagi kaum miskin dan marginal, yang bernasib buruk, untuk bisa memperbaiki nasib buruknya, sementara mereka yang sudah bernasib baik dan berpeluang, terus menerus mendapatkan peluang yang semakin besar. Selama gizi dan kesehatan hanya bisa didapatkan oleh mereka yang mampu membayar, maka bagi mereka yang bernasib buruk dan terlahir sebagai orang miskin, tidak  ada peluang untuk meningkatkan mutu kehidupannya. Selama keadilan hanya berpihak kepada yang bayar, maka dewi keadilan, yang sebenarnya ditutup matanya untuk tidak memihak, malah berpaling menjadi dewi yang sudah dibayar, untuk menutup matanya dan tidak lagi melihat  ketidak-adilan yang terjadi di depan matanya. Ketika tindakan mencuri pun hanya bisa dilakukan oleh mereka yang punya uang dan jabatan, maka orang miskin tidak bisa lagi mencuri semangka untuk sekadar melepaskan rasa dahaga yang tak tertahankan dalam turnamen kehidupan yang berat ini. Selama jabatan hanya diperuntukkan bagi mereka yang punya duit, maka orang miskin hanya menjadi korban politik uang, sambil menunggu nikmatnya serangan fajar. Selama surga hanya diperuntukkan bagi yang bisa membagi-bagi uang, maka tak ada tempat bagi orang miskin, di emperan surga sekali pun. Dan kalau itu toh terjadi, berarti politik uang sudah menguasai dunia dan akhirat. Orang miskin sepertinya tak punya tempat lagi di dunia dan di akhirat.

Ini masalah sistem, bukan masalah mentalitas dan moralitas. Upah buruh rendah itu bukan karena orang kaya terlalu pelit, atau para buruh miskin itu terlalu malas. Ini soal sistem. Sama halnya Yunani masuk delapan besar bukan karena belas kasihan Rusia, melainkan karena sistem. Kita doakan semoga para penentu kebijakan di negeri ini mampu menetapkan satu sistem yang lebih memberi peluang kepada orang miskin dan terpinggirkan untuk berkembang dalam turnamen kehidupan ini. Mudah-mudahan masih ada emperan surga bagi kaum miskin dan marjinal.

Benyamin Molan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s