HARI RAYA PANTEKOSTA: MENGHASILKAN BUAH

Kekuatan tenaga uap sebenarnya sudah lama diketahui oleh para ibu di dapur selama berabad-abad. Tetapi hanya upaya dan kerja keras James Watt yang telah mengubah pengetahuan itu menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Keberaniannya untuk memeras otak, tekatnya untuk bekerja keras menguras waktu dan tenaga, telah membuat pengetahuannya tentang tenaga uap akhirnya menghasilkan tenaga luar biasa untuk menarik gerbong-gerbong kereta dan mendorong kapal untuk mengarungi lautan lepas.

Jelas bahwa pengetahuan saja tidak banyak manfaatnya kalau tidak disertai keberanian untuk mengimplementasi pengetahuan itu. Setiap orang tahu, misalnya,  bahwa korupsi itu merupakan perbuatan yang buruk dan tidak terpuji. Tetapi untuk tidak terseret arus ikut-ikutan korupsi, pengetahuan saja bahwa korupsi itu jelek sebenarnya tidak cukup. Diperlukan keberanian untuk mengimplementasikan pengetahuan itu.

Yesus telah datang dan menyampaikan ajaran-ajaranNya untuk membekali kita dalam mengarungi hidup ini. Dan ajaran-ajaranNya tidak hanya disampaikan dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan, bahkan diri dan hidupNya sendiri. Karena itu Yoh 1:14 mengatakan “Firman itu telah menjadi manusia.” Firman itu tidak lain daripada Diri dan Hidup Yesus sendiri. Selama berada di tengah murid-muridnya di Galilea, Dia menyampaikan Firman itu melalui hidupNya sendiri.  Dan kita pun mengetahui ajaran-ajaranNya.

Jika hanya tinggal sebagai pengetahuan saja, Firman itu tidak akan menghasilkan buah apa pun. Maka dia pun mengirim Roh Kudus, untuk memberanikan kita mengimplementasi apa yang sudah diajarkan supaya kita pun menghasilkan buah. Roh Kudus membuat Firman itu menjadi hidup dalam diri manusia, sehingga manusia bisa berkembang menjadi dewasa dan pada saatnya menghasilkan buah-buah.

Maka ketika hari Pantekosta tiba (Pantekosta adalah pesta panen), yang perlu kita refleksikan adalah buah-buah apa yang telah kita hasilkan bagi sesama kita. Tentu saja, tidak semua buah berasal dari Roh Kudus, hanya buah-buah yang baik. Maka kalau demi mengejar suatu nilai luhur, manusia justru menebarkan perpecahan, perselisihan, penderitaan, penindasan, ketidak-adilan, penyiksaan, permusuhan, maka perlu dipertanyakan apakah nilai luhur itu itu betul berasal dari Roh Kudus. Dengan kata lain buah-buah yang didapatkan dari Roh Kudus semestinya adalah buah-buah yang baik. Kalau Anda mengejar suatu kebaikan dengan cara yang tak baik maka itu pasti bukan dari Roh Kudus. Mencapai sesuatu yang luhur dengan jalan kekerasan, misalnya, pasti bukan jalanNya Roh Kudus. Kekerasan tidak pernah bisa menjadi cara yang dapat dibenarkan untuk mendapatkan keselamatan. Kekerasan hanya melahirkan kekerasan dan bukan kedamaian apa lagi keselamatan.  Tindakan-tindakan yang datang dari hati tak tulus, yang sarat dengan rasa iri, dengki,  dan kebencian, mustahil melahirkan kedamaian dan ketenangan batin.

Simbol Pantekosta yang nyata adalah lidah-lidah api dan kemampuan untuk berbicara berbagai bahasa. Lidah api adalah simbol kehangatan, dinamika, kegairahan, semangat. Sedangkan kemampuan berbicara berbagai bahasa adalah tanda bahwa apa yang diajarkan Yesus harus diwartakan kepada semua bangsa manusia di dunianya. Kasih dan keselamatan dari Tuhan tidak boleh dibatasi pada satu bahasa dan bangsa saja melainkan harus melintasi batas-batas bahasa negara dan bangsa.  Roh Kudus tidak hanya menyapa orang dengan bahasa roh saja melainkan dengan bahasa masing-masing kita. Roh Kudus adalah Roh yang mampu berbicara dalam bahasa kita sendiri, mampu menyapa kita dengan bahasa kita sendiri.  Artinya dia ditanamkan dalam hati kita agar menghasilkan buah-buah yang baik di mana pun kita berada.  Dan buah-buah Roh Kudus itu tidak boleh tereksklusifikasi pada satu bangsa saja, melainkan harus inklusif dan dirasakan dan dikenyam oleh berbagai bangsa, di tempat dan lingkungan mereka sendiri.

Selamat Hari Raya Panteksota. Semoga Roh Kudus yang kita terima memampukan kita untuk menghasilkan lebih banyak buah-buah yang baik bagi sesama manusia kita, tidak peduli dia dari suku mana, agama mana, gender mana, keyakinan mana. Yang penting: dia manusia. Itu saja.

Benyamin Molan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s