HARI RAYA KENAIKAN: JANGAN HANYA MELIHAT KE LANGIT

Sering kita suka mempertentangkan hidup di dunia ini dengan hidup di akhirat. Bahkan tidak jarang hidup di dunia ini dianggap bukan hidup sesungguhnya, dan karena itu kurang diperhatikan. Anggapan bahwa hidup di dunia ini bersifat sementara, sering membuat kita sepertinya kurang menghargai hidup di dunia ini. Hidup di dunia yang dianggap fana ini hampir selalu berujung pada sikap untuk lebih tertuju pada, dan lebih mengandalkan,  hidup abadi dan bukan hidup di dunia ini.

Tidak jarang kita mendengar ungkapan lain juga yang mengatakan bahwa hidup di dunia ini cuma jembatan menuju hidup abadi. Tetapi itu berarti kita juga harus membangun jembatan yang kokoh supaya bisa menjadi tempat kita berlalu menuju kehidupan abadi. Jembatan itu tidak boleh ambruk supaya bisa menjalankan fungsinya dengan baik.  Dengan kata lain hidup kita di dunia harus dibangun dengan kokoh untuk menjadi jembatan menuju kehidupan di akhirat.

Hari Raya Kenaikan Yesus sebenarnya mau mewartakan kepada kita betapa berartinya juga hidup di dunia ini. Yesus naik ke surga untuk menurunkan Roh Kudus. Roh itulah yang membuat para murid menjadi bersemangat, dan dianugerahi berbagai macam kemampuan seperti kemampuan mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, dsb. Berarti hidup sekarang di dunia ini juga tidak kalah penting dibandingkan hidup di akhirat. Maka kurang ideal kalau demi hidup di akhirat orang boleh mengabaikan hidup di dunia ini. Yang lebih ideal adalah senang di dunia senang juga di akhirat.

Sering sekali kesenangan di dunia dianggap sebagai hal yang negatif. Pada hal belum pasti. Tentu sekali senang di dunia tidak selalu harus dilakukan dengan merampok, menodong, mengumbar nafsu dan keserakahan, menimbun harta dan bertindak manipulatif, membangun kebenaran dengan cara kekerasan dan main kuasa. Hidup semacam itu justru tidak membahagiakan dan malah menjauhkan orang dari rasa nyaman. Tindakan-tindakan semacam itu justru telah membuat hidup di dunia ini pun menjadi kacau dan menjauhkan orang dari rasa aman. Orang yang menjalani hidup semacam ini sebenarnya tidak bahagia di dunia, dan sulit dibayangkan untuk menjadi bahagia juga di akhirat.

Dengan kata lain, hidup di akhirat adalah lanjutan dari hidup kita sekarang ini. Dengan demikian mutu hidup kita di dunia akan menentukan mutu hidup kita di akhirat.  Maka jangan hanya melihat ke langit (Kis.1:11) melainkan kembalilah ke dunia dan bangunlah hidup yang bermutu di dunia ini. Hidup macam itu memang pantas untuk dihidupi dan pada waktunya layak untuk dinaikkan ke surga.

Benyamin Molan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s