LEWOLEBA: BIG VILLAGE ATAU GREAT VILLAGE

Orang sering mengejek ibu kota kabupaten Lembata, Lewoleba, sebagai bukan kota melainkan kampung besar, terutama kalau dibandingkan dengan ibu kota kabupaten-kabupaten hasil pemekaran baru seperti Wangi-Wangi di Wakatobi, atau Ba’a di Rotendao dll. Ejekan ini bahkan dibuat terkesan lebih keren ketika diucapkan dalam bahasa Inggris:  Lewoleba is a big village.

Village itu indah

Kata village sebenarnya tidak selalu berkonotasi jelek. Kota bernuansa village justru menjadi dambaan orang modern.  Bahkan ada hotel yang menamakan dirinya Village Hotel. Jelas hotel itu tidak bermaksud menggambarkan hotelnya sebagai bersuasana ndeso  atau kampungan, melainkan sebuah hotel dengan suasana yang tenang, nyaman, asri, dan jauh dari hiruk pikuk dan kebisingan. Tentu saja village dalam arti ini, sama sekali jauh dari kesan yang bernuansa jelek. Yang bernuansa jelek sebenarnya adalah kampungan atau ndeso, bukan kampung, apa lagi desa.

Kampungan sebenarnya merujuk pada perilaku yang memalukan dan tidak terpuji. Banyak orang yang walaupun sudah lama tinggal di kota besar tetapi sikap dan perilakunya tetap kampungan; kotor, dekil, jorok, sok, dan penuh lagak. Orang kaya di kota juga banyak yang berperilaku kampungan, Mereka sering dijuluki sebagai “muka kampung rejeki kota.” Tidak jarang kelihatan sampah dibuang dari mobil keren yang sedang melaju di jalan.

Sebenarnya kampungan tidak selalu harus terjadi di kampung. Orang kampung tidak serta merta identik dengan kampungan. Gadis desa pasti lebih mempesona (charming) daripada gadis kota yang kampungan. Pemuda desa dengan aroma matahari pasti lebih bermutu daripada preman kota dengan aroma parfum murahan menyengat, berjalan dengan dada membusung dan lengan mengangkang, seperti ada bisul di ketiak.

Lewoleba yang diberi julukan big village sebenarnya lebih berkonotasi pada kota yang kampungan itu. Lewoleba lalu terlihat seperti kampung yang mau berlagak kota tetapi malah jadi kampungan. Membangun Lewoleba sebenarnya tidak dalam arti membuatnya menjadi kota modern yang hiruk pikuk, serba sibuk dan bising dengan berbagai aktivitas kehidupan yang berjalan di atas aspal panas di tengah hutan beton, melainkan menjadi kampung yang bersih, asri, santun, ceriah.

Jalan-jalan yang rusak tak terurus, gedung-gedung dan bangunan asal jadi, perilaku manusia yang jorok dan tidak santun, kurangnya air bersih yang membuat kota tampak kering , tidak segar, dan penuh debu, lalu lintas yang tidak tertata, listrik yang bisa mati dan hidup semaunya, jelas menjadi ciri kota yang kampungan. Kota yang baik tidak harus menjadi hutan beton yang angker dan jorok, melainkan kota yang ramah terhadap manusia dan lingkungan.  Kota yang baik tidak harus hiruk pikuk dengan kemacetan, melainkan kota yang terkesan leluasa, lancar, tidak mampet; kota di mana semua kegiatan berkehidupan dalam segala aspek mengalir dengan lancar.

Saya mendambakan Lewoleba yang tetap menjadi village bergengsi dan bukan kota yang kampungan. Maka Lewoleba harus dibangun dan ditata bukan sekadar menjadi village yang big dan kampungan melainkan village yang great dan hebat.  Dengan kata lain Lewoleba harus ditata-alihkan dari big village yang kampungan menjadi great village yang hebat. Salah satu konsep yang bisa menjadi arah bagi pembangunan ibu kota Lembata ini adalah pembangunan yang berorientasi pada pariwisata (tourism and hospitality oriented). Kota yang dibangun dengan konsep pariwisata, paling tidak akan menjadi kota yang great, hebat dan mengagumkan, dan bukan sekedar big, yang malah membuat gerah dan sesak napas.

Berita terbaru yang ditiupkan dari Lembata mengabarkan bahwa jalan-jalan yang baru saja dibangun seiring dengan perluasan, sudah mulai berpotensi menjadi kubangan yang penuh dengan genangan air. Plastik-plastik dan sampah-sampah modern bertebaran di pinggir jalan, dan setiap saat bisa beterbangan ke udara ketika diterpa angin, seolah menggantikan kupu-kupu yang lucu, yang tak tau sudah terbang ke mana. Pantainya sudah tak lagi alami, dan gundul dari hutan bakau. Pada hal pohon bakau merupakan pohon yang tetap menghijau di segala musim, dan menjadi benteng pertahanan pantai.

Pembangunan fisik sekaligus mental

Selain fisik dan infrastrukturnya yang memadai sekaligus menarik dan tetap bernuansa kampung, Lewoleba harus juga dilengkapi dengan mental serta perilaku manusianya yang hebat, great, dan mengagumkan dan bukan sekadar big dan menakutkan. Lewoleba harus menjadi gerbang masuk dunia, sekaligus representasi manusia, Lembata.  Pelabuhan laut pelabuhan udara, pasar, terminal, lalu lintas, harus menjadi tempat-tempat publik yang merepresentasikan hospitalitas manusia Lembata. Preman-preman pelabuhan yang seram yang siap menyerbu dan menarik-narik barang dan bagasi para penumpang seperti yang menjadi tren di pelabuhan-pelabuhan kabupaten jirannya harus dipastikan tidak akan terjadi di Lewoleba. Penampilan yang menggambarkan hospitality dan great-nya orang Lembata, harus ditampilkan di gerbang-gerbang dan di pintu masuk Lewoleba, dan diwartakan ke segala penjuru. Tetapi tentu saja semua itu harus dibangun melalui satu rencana yang matang dan ketekunan yang tidak pernah luntur. Pembangunana harus dilakukan dengan tekun, karena pembangunan itu tak pernah selesai; apa lagi pembangunan manusia. Pembangunan fisik pun sebenarnya tidak pernah selesai karena harus dilanjutkan dengan perawatan dan pemeliharaan (maintenance).

Dua aspek pembangunan ini, yakni pembangunan fisik dan mental harus berjalan secara simultan atau serempak dan bukannya sekuensial atau satu sesudah yang lain.  Setiap pembangunan fisik harus ditunjang oleh budaya di belakangnya. Aspal, beton, teknologi dan sebagainya, hanya bisa menjadi manusiawi kalau dilingkupi oleh budaya yang mendukungnya. Membuang sampah sembarangan tidak bisa terjadi di sebuah great village, apa lagi sampah-sampah modern itu kan kebanyakan sampah non-organik yang tidak bisa hancur di atas aspal dan beton.

Memacu kendaraan bermotor dengan mental budaya naik kuda itu bukan zamannya lagi. Tata-krama dan etika mengemudi kendaraan bermotor itu lain dari etika dan tata-krama mengendarai kuda. Yang mengemudi kendaraan bermotor itu punya kebebasan lebih besar, maka tanggung jawabnya juga lebih besar. Dia dituntut harus punya SIM, menguasai tata cara, tata krama, dan tatatertib berlalu lintas. Dua kuda bertabrakan (jarang terjadi) itu tidak sepenuhnya salah penunggang melainkan kudanya juga. Kuda kan juga punya mata sendiri yang cenderung akan menghindari tabrakan.  Tetapi tabrakan kendaraan bermotor itu sepenuhnya salah pengemudi. Sepeda motor tidak takut tabrakan. Motor yang hancur pun tidak akan meringis kesakitan. Yang menangis dan meringis adalah pengemudinya.

Karena itu membangun Lewoleba dari big village menjadi great village tidak bisa dilakukan tanpa pembangunan mental dan budaya perilaku manusianya. Dan barangkali pembangunan ini paling wajar kalau dimulai dari dunia birokrasi, komunitas agama, sekolah, kelompok masyarakat, dan mudah-mudahan bisa merembes dan menjadi kebiasaan dalam masyarakat. Dan, sebagai great village, tentu saja Lewoleba akan lebih menarik bagi dunia pariwisata dan menjadi pintu masuk menuju Lembata.

Benyamin Molan Amuntoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s