PESAN PASKAH: SAMPAI JUMPA DI GALILEA

Karya besar penuh pengorbanan,  fisik sekaligus psikis yang total,habis-habisan, telah ditampilkan Yesus dengan sangat kasat mata dan tanpa sembunyi-sembunyi.  Satu hal yang terlihat nyata adalah keyakinanNya yang besar pada tujuan finalNya: Kebangkitan. Dia tidak hanyut oleh kekuasaan yang mau diberikan kepadaNya ketika seluruh kota Yerusalem mendukungNya. Kaum Parisi pun sempat dibuat bingung. Mereka meminta Dia menghentikan seluruh aksi demonstrasi dan mendiamkan para demonstrannya yang mendukung Dia menjadi raja. Tetapi apa jawabNya? “Kalau mereka diam maka batu ini akan berteriak.“ Mereka merasa tak berdaya, dan berkata satu sama lain bahwa mereka tidak berhasil menyingkirkan Dia, “karena seluruh dunia telah mengikutiNya.” Tetapi mereka seolah-oleh merasa beruntung karena Yesus tidak tergiur dengan kekuasaan semu yang justru mereka takuti itu. Bahkan mereka terkecoh ketika merasa sukses telah berhasil membunuh Dia.  Mereka dikalahkan justru ketika mereka merasa menang. Kekuatan Yesus bahkan telah menjadi lebih hebat lagi. Dia malah hidup. Dan sekarang justru mereka sama sekali tak akan mampu lagi membunuh Dia.

Dengan cara inilah Yesus mau menuntaskan karyaNya, bahwa apa yang diajarkanNya bukan hanya bualan yang akan habis termakan zaman. Dia ingin menyakinkan kita bahwa Dia bersedia mati untuk sesuatu yang sangat bernilai bagi manusia. Dan keyakinan akan kebenaran ini tidak ditawarkan dengan kekerasan, karena kekerasan yang biasanya berbareng dengan kekuasaan, tidak akan mampu membangun keyakinan. Kekerasan hanya akan berhasil memaksa dan menimbulkan ketakutan, bukan keyakinan. Membangun keyakinan harus dengan keteguhan keyakinan.

Dalam bahasa yang sangat teologis sering dikatakan, bahwa Dia telah mati bagi kita untuk menebus dosa-dosa kita, dan menyelamatkan kita. Seluruh pemahaman ini tentu harus mengacu pada seluruh Sejarah Keselamatan bangsa Israel, yang menantikan seorang Mesias yang bisa mendamaikan mereka lagi dengan Yahwe yang telah murka karena kedurhakaan bangsa Israel.  Tetapi konsep pemahaman teologis etnik kultural ini dialihkan menjadi pemahaman teologis universal.  Israel Baru yang mau dibangun di sini adalah bukan Israel sebagai society (bangsa) melainkan Israel sebagai community (persekutuan iman).

Dengan kematian dan kebangkitanNya Yesus mau menunjukkan bahwa Tuhan itu memang Bapa yang penuh kasih dan penuh cinta, dan yang menghargai dan dekat dengan manusia, dan bukan Tuhan seperti yang digambarkan dan diyakini orang Israel sebagai Makhluk yang mahadahsyat dan penuh kemurkaan. Maka kalau Anda berdosa jangan takut untuk kembali kepadaNya, Dia akan menerima Anda dengan penuh kasih, bukannya menghukum dengan kemurkaan penuh kekejaman yang bisa meremukkan Anda. Kita diajak dan digerakkan untuk bertobat dan melakukan sesuatu yang baik itu karena cinta yang tulus dari hati dan bukan karena ketakutan. Bertobat karena takut itu bukan tobat. Menobatkan orang dengan ancaman dan tindakan menakut-nakuti, setali tiga uang dengan menobatkan orang melalui iming-iming. Pertobatan semacam itu hanya pertobatan semu, bohong-bohongan, oportunis, dan cenderung manipulatif.  Maka pertobatan yang menyelamatkan kita adalah pertobatan sejati yang datang dari hati. Pertobatan yang tidak datang dari hati justru akan membinasakan kita, menghancurkan hidup kita. Berpura-pura tobat itu lebih berbahaya daripada yang tidak bertobat. Orang yang berpura-pura tobat bisa bermain sebagai serigala berbuluh domba, tidak menunjukkan sikap yang sesungguhnya, dan bisa mengail di air keruh, dan diam-diam mencelakakan orang.

Pantas kalau Penginjil Matius dalam narasi kebangkitannya mengutip kata-kata pertama Yesus setelah kebangkitan adalah “Jangan takut. Pergi dan katakan kepada saudara-saudaraKu supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.” Pesan pertamanya adalah “jangan takut”. Kata itu pun sering dipesankan Yesus selama bersama murid-muridNya. Hidup yang penuh ketakutan bukan hidup yang membahagiakan. Ketakutan di sini tidak hanya dalam arti menjadi takut, melainkan juga menakut-nakuti. Ketika masyarakat kita menjadi masyarakat yang penuh dengan kekerasan dan sarat dengan ketakutan serta tindakan mengancam dan menakut-nakuti, hidup kita pun menjadi jauh dari tenteram. Hidup semacam ini akan penuh dengan saling kecurigaan, membuat orang tidak berani menunjukkan sikap otentiknya, dan hanya ingin tampil sesuai dengan selera orang lain. Di sini terlahirlah segala macam kemunafikan dan kepura-puraan yang memuakkan. Dan semua kesepakatan yang lahir dari masyarakat semacam ini, adalah kesepakatan semu, tidak jujur, bermuka dua, atau berkaki tiga.

“Pergi dan katakan kepada saudara-saudaraKu supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.” Galilea adalah tempat Yesus banyak menghabiskan waktu hidupNya.  Yesus ingin mengajak murid-muridNya untuk kembali ke dunia keseharian yang sama, tetapi dengan sikap yang berbeda, “jangan takut”. Pembaharuan tidak berarti kita akan menghadapi dunia baru, melainkan dunia yang sama dengan sikap baru, semangat baru, dan pertobatan baru. Itulah semangat Paskah. Selamat datang ke dunia yang sama, ke dunia kerja yang sama, ke masyarakat yang sama, lingkungan yang sama, rumah yang sama, keluarga yang sama, isteri dan suami yang sama, anak-anak yang sama, tetapi dengan semangat yang baru. Selamat Paskah para sahabat. Selamat datang ke Galilea.

Benyamin Molan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s