JUMAT AGUNG: MAMPIR DI GOLGOTA

Dalam menuntaskan karyaNya, Yesus harus melalui Golgota. Golgota, suatu perjalanan yang sangat  kontradiktif. Perjalanannya menanjak, memberi kesan naik, tetapi sebenarnya sedang turun, meluncur, menuju kehancuran dan kekosongan. Inilah ironisnya. Kalau jatuh ke bawah itu wajar. Orang tak perlu mengerahkan tenaga, tinggal membiarkan diri dikendalikan oleh hukum gravitasi. Tetapi jatuh ke atas, itu benar-benar tak bisa dibayangkan. Orang seperti sedang berjuang keras, justru untuk menuju kejatuhan dan kehancurannya. Dalam kondisi seperti ini, penderitaan menjadi berganda,  berjuang untuk mengangkat diri, tetapi ternyata perjuangan keras itu sedang menuntun kita menuju kehancuran. Itulah perjalan yang ditempuh Yesus. Tetapi Dia siap menjalaninya, karena Dia yakin Golgota cuma tempat transit. Golgota bukan tujuan akhirNya. Dari Golgota dia bahkan akan memasuki liang pemakaman yang gelap, tempat yang umumnya dianggap sebagai peristirahatan terakhir. Tidak. Dia tidak beristirahat selamanya. Dia tidak akan tinggal lama-lama di sana. Karena tujuanNya bukan Golgota, melainkan Galilea, bukan kematian melainkan kebangkitan, bukan kehancuran melainkan kemuliaan, bukan kesengsaraan dan penderitaan, melainkan kebahagiaan.

Ketika dieluk-elukkan masuk Yerusalem, Yesus tidak tersanjung dan berhenti di situ, dan berlama-lama menikmati kebesaran elukan semu, yang dipoleskan dari luar. Tidak. Yesus terus berlalu. Walaupun betapa megah dan mulia rasanya ketika disanjung, Yesus tidak terpukau dan stop di situ. Dia tahu, itu bukan tujuan finalNya. Dia terus berlalu. Setelah melewati masa tersanjung, Dia malah terjerembab. Tetapi dia juga tidak berhenti dan hanyut dalam keputus-asaan. MataNya tetap tertuju pada titik final. Maka pada saat ini pun Dia tidak putus asa.

Dengan kata lain, Dia tidak hanyut dan terlena dalam sanjungan ketika dia dieluk-elukan, tetapi juga tidak tergoncang dan terhempas dalam keputus-asaan ketika mala-petaka datang. Dia tidak larut dalam kehancuran sambil mengutuk diriNya dan meratapi nasibNya. Tidak, Dia terus berlalu karena Dia tahu, di mana titik final perjalananNya.

Perjalanan Yesus adalah juga perjalanan kita. Betapa sering kita mengalami masa-masa ketika kita disanjung, dieluk-elukan.  Kita ingin tetap berada dalam situasi itu tanpa mau meninggalkannya. Ketika mendapatkan posisi yang bagus kita enggan melepaskannya. Ketika keenakan duduk, kita lupa berdiri. Tetapi Yesus mengajarkan kita untuk berlalu, terus berlalu, ketika kita tergoda untuk bertakhta di sana.

Setelah sekian tinggi tersanjung, kita merasakan betul, betapa hebat sakitnya, ketika kita terjerembab. Kita gampang larut dalam keputus-asaan. Kita sepertinya tak bisa bangkit lagi dan akan tinggal berlama-lama di situ meratapi dan mengutuki nasib buruk yang menimpa kita. Kita larut dalam emosi dan hanyut dalam penderitaan dan kesedihan yang berkepanjangan. Tetapi Yesus mengajak kita untuk bangun, jangan parkir lama-lama di situ.

Hari ini, Jumat Agung, kita diajak Yesus naik ke Golgota, dan turun ke titik kehancuran paling mengerikan dan menakutkan: liang kubur. Tetapi ingat, Golgota, liang kubur, bukan tujuan akhir kita. Kita cuma numpang lewat. Jangan berhenti di situ, jangan berkema di sana. Kita akan lanjutkan perjalanan kita menuju tujuan final: Galilea. Yesus sudah mendahului kita ke sana. Sampai jumpa di Galilea.

Benyamin Molan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s