KAMIS PUTIH: MENCUCI KAKI, ANTARA TELADAN DAN PESAN

Ketika berhadapan dengan keputusan penting yang menentukan, kita harus menentukan sikap, maju atau mundur. Untuk itu kita harus mempersiapkan diri, mengukur tenaga, melihat kemampuan dan kekurangan, risiko yang harus ditanggung, dsb. Tantangan yang dihdapi Yesus pun semakin berat. Tetapi dia tetap pada keputusan untuk maju terus, pantang mundur. Maka Dia pun melakukan persiapan-persiapan yang perlu, termasuk mempersiapkan para muridNya yang akan mengalami saat-saat kritis. Yesus mempersiapkan diri dan para muridNya dengan dua peristiwa yang selalu dikenang: perjamuan dan cuci kaki.

Dengan Perjamuan Paskah bersama murid-muridnya Dia mau menguatkan murid-muridNya untuk menghadapi peristiwa besar yang pasti akan menggoncangkan mereka. Seolah-olah Dia mau mengatakan “Makan dulu, biar kuat.” Tetapi para rasul itu tidak makan sendiri-sendiri melainkan makan bersama dalam perjamuan, dan perjamuannya adalah perjamuan Paskah. Ini persis seperti yang dilakukan orang Israel ketika akan memulai perjalan besar penuh tantangan meninggalkan Mesir, menuju Tanah Terjanji.  Mereka makan Paskah dulu. Untuk itu Yesus mewariskan perjamuan Ekaristi untuk menguatkan para murid bahwa dia tetap berada bersama mereka, dalam suka dan duka, seperti halnya juga orang Israel yang berjalan ke luar dari Mesir melalui padang gurun, dengan tetap disertai oleh Yahwe.

Warisan lainnya adalah cuci kaki. Mengapa kaki yang dicuci dan mengapa kaki Yesus tidak dicuci? Mengapa Petrus hanya menolak untuk dicuci kakinya tetapi tidak meminta untuk mencuci kaki Yesus? Tampak di sini bahwa cuci kaki hanya dilakukan oleh Yesus terhadap murid-muridnya, guru terhadap muridnya, dan bukan murid terhadap gurunya. Dan pesan Yesus adalah supaya mereka saling mencuci kaki. Tidak ada pesan supaya mereka mencuci kaki guru mereka. Yang diteladankan Yesus adalah guru mencuci kaki muridnya. Dan yang dipesankan Yesus adalah agar para muridNya saling mencuci kaki. Artinya tidak ada pesan apa lagi teladan bahwa mereka harus mencuci kaki gurunya. Sebagai murid mereka harus saling mencuci kaki, dan bila kelak menjadi guru, mereka harus mencuci kaki muridnya, bukan memerintahkan murid mencuci kaki mereka.

TeladanNya jelas

Guru harus mencuci kaki murid. Orang yang kuat, kuasa, lebih mampu, harus mencuci kaki orang lemah, orang kecil, orang pinggiran. Namun ini teladan yang aneh. Seorang yang berkuasa, kuat, biasanya lebih senang melakukan hal-hal heroik, sehingga dihormati, dikagumi dan dicuci kakinya, ketimbang melakukan tindakan hina mencuci kaki bawahannya, yang merendahkan wibawanya. Tetapi di sini letak tindakan heroik seorang kuat. Menjadi pemimpin sesungguhnya berarti menjadi pelayan. Dalam kehidupan keluarga, sang suami sering hanya peduli pada tindakan-tindakan heroik untuk menunjukkan kuasanya, dan enggan melakukan hal tetek bengek yang dianggap hanya cocok buat sang isteri. Betapa sering suami tampil sebagai penguasa otoriter dalam rumah tangga, yang menuntut sang isteri mencium tangannya saat berangkat dan enggan mencium tangan isterinya ketika pulang ke rumah. Betapa sering para ndoro memperlakukan begitu kasar dan tidak manusiawi para pembantu rumah tangga dan menuntut mereka untuk bekerja berlebihan tanpa imbalanyang pantas.  Ini sepertinya jauh dari yang diteladankan di sini.

PesanNya terang benderang

Supaya para murid saling mencuci kaki.  Artinya sesama orang kecil jangan saling menindas. Jangan saling menginjak untuk mendapatkan kedudukan, posisi, kekayaan, atau kekuasaan. Sesama manusia berdosa jangan saling menghina, menuduh, mencaci. Sesama murid jangan saling menggurui, jangan ada yang merasa lebih suci, lebih saleh, lebih benar dari yang lain. Sama-sama orang kecil justru harus solider. Betapa ironisnya ketika terlihat bahwa sesama orang kecil justru saling beradu, gampang terprovokasi, mudah disulut oleh berbagai kepentingan sendiri. Sesama “orang kecil” —seharusnya seperti sesama bia kota —jangan saling mendahului. Jangan mau diadu, rukunlah satu sama lain dalam perbedaan, biar tidak menambah beban hidup ini yang sudah berat. Mari saling cuci kaki, agar dalam hidup yang berat ini senyum masih tetap dan senantiasa bisa tersungging.

Benyamin Molan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s