MINGGU PALMA: JANGAN TERSANJUNG OLEH ELUKAN

Hari ini orang Katolik di seluruh dunia mulai memasuki pekan suci, yang dikenal sebagai Minggu Palma. Pada hari ini umat melakukan prosesi dengan menggunakan daun palma, untuk memperingati masuknya Yesus ke kota Yerusalem. Ketika itu Yesus dieluk-elukan dan didukung oleh orang-orang Yahudi untuk menjadi pemimpin mereka. Mereka memperlakukan Dia sebagai raja. Betapa mereka menaruh harapan yang besar di atas pundaknya, ketika mereka merindukan pembebasan dari kekuasaan Romawi. Kemampuan-kemampuannya yang ajaib, yang mereka saksikan, membuat mereka sangat yakin bahwa Dia pasti sangat berpotensi menjadi seorang raja yang akan mengusir orang-orang Roma dan membawa kesejahteraan bagi bangsa Yahudi. Tetapi Yesus sendiri tidak terpengaruh dan tetap berpenampilan sederhana. Dia tidak duduk di atas kuda perkasa atau kereta kencana untuk menunjukkan kehormatan dan kemuliaan seorang raja. Dia cuma duduk di atas seekor keledai, dan keledainya pun betina.

Yesus sedang dalam perjalanan menuju titik final karya agungNya. Tetapi menjelang final, cobaannya menjadi semakin hebat. Dia tidak terhipnotis atau terlena oleh elukan dan sanjungan yang semakin besar terhadap diriNya, karena ini bukan tujuannya akhirNya, bukan destinasiNya. Sanjungan dan eluk-elukan yang didapatkan sekarang, cuma elukan yang datang dari luar, eluk-elukan dan sanjungan berpretensi. Kebesaran dan kemegahan  yang dia dapatkan dari eluk-elukan dan sanjungan ini sebenarnya kebesaran palsu, kemuliaan jadi-jadian. Kebesaran ini tidak otentik, karena datang dari luar, bukan dari dalam. Kebesaran ini adalah kebesaran karbitan, yang tidak bermutu dan bersifat terpaksa. Ketika sanjungan itu berlalu, segala kemuliaan dan kemegahan yang terkandung di dalamnya pun akan lewat, hilang tak berbekas.

Dan itu terbukti betul. Dia kemudian ditinggalkan dan harus menempuh perjalanan lanjutannya menuju destinasi utamaNya. Dia tahu apa yang menjadi destinasiNya. Suatu destinasi yang jauh lebih terhormat dan otentik ketimbang sanjungan dan eluk-elukan palsu yang cuma tempelan dari luar dan sesewaktu bisa hilang itu. Karena itu Dia harus berjalan terus, melewati dan melintasi semua kemuliaan dan kemegahan palsu itu.

Dia benar-benar tidak hanyut dan tidak tergiur oleh sanjungan dan eluk-elukan yang hanya merupakan tempelan dari luar tersebut. Dia terus berlalu. Dia terus berjalan dan melewatinya, karena yang dia kejar bukan sanjungan elukan palsu, melainkan kemuliaan dan kehormatan sejati yang melekat dalam diriNya sendiri, yang tidak akan sirna bahkan ketika orang lain itu menarik dukungan dan sanjungan.

Di sini Yesus mengajak kita untuk menempuh perjalanan yang sama. Dia mengajak kita untuk jangan berhenti pada sanjungan dan elukan orang lain. Jalan terus, jangan berhenti di situ. Kejarlah tujuan yang lebih sejati, yakni kemuliaan dam keluhuran sejati dan abadi, yang tidak lekang oleh manisnya sanjungan, dan pahitnya hujatan. Jangan parkir di atas anjungan yang dibangun oleh sanjungan orang. Ketika sanjungan itu lenyap, anjungan itu akan roboh dan Anda pun akan terjerembab, hancur lebur dan  tidak bisa bangun lagi. Maka berjalanlah terus, ini bukan tujuan akhir Anda. Destinasi Anda bukanlah kecantikan dari luar yang mengagumkan karena dipoles gincu dan maskara yang mudah luntur. Destinasi Anda adalah kecantikan dari dalam (inner beauty) yang berkualitas dan tak akan luntur selamanya.

Minggu Palma mengingatkan kita untuk berhati-hati agar tidak tinggal dan hanyut oleh sanjungan, dan terlena oleh elukan dan pujian. Minggu Palma mengingatkan kita untuk jalan terus dan jangan berhenti di sini. Lanjutkan perjalanan Anda dengan tetap duduk di atas keledai betina. Perjalanan Anda masih panjang. Tetaplah terfokus pada tujuan dan destinasi Anda. Kejarlah kemuliaan dan kehormatan sejati yang tak lagi membutuhkan sanjungan dan elukan dari luar. Destinasi Anda adalah  ketika keluhuran, kehormatan, kemuliaan, telah menjadi bagian dari kualitas diri Anda.  Itulah saatnya Anda dihormati karena memang terhormat, dan bukannya berupaya untuk dihormati melalui trik-trik yang tidak terhormat. Itulah saatnya Anda tersanjung oleh kualitas Anda, dan bukannya tersanjung oleh trik dan manipulasi orang yang mau memanfaatkan Anda. Jadilah diri Anda sendiri sebagaimana Tuhan menghendaki, dan bukan sebagaimana orang lain menghendaki. Dan Tuhan menghendaki Anda mencapai kemuliaan sejati dan bukan kemuliaan yang palsu.

Selamat Berhari Minggu Palma. Tetapi jangan berhenti di sini. Perjalanan masih harus dilanjutkan ke Golgota. Sampai jumpa di sana, tetapi juga, jangan berhenti di sana.

Benyamin Molan

2 thoughts on “MINGGU PALMA: JANGAN TERSANJUNG OLEH ELUKAN

  1. Walaupun perayaan Paskah sudah lewat tapi makna Kebangkitan Tuhan tetap melekat didalam hati kita, Kebangkitan Tuhan Kita Yesus Kristus memberikan makna yang sangat dalam kepada kita semua apabila kita hayati secara baik dan tepat, kadang, orang berbicara tentang Tuhan tetapi tingkah lakunya tidak seiring dengan keinginan Tuhan, maka marilah kita perbaharui lewat wafat dan kebangkitan Yesus, semoga arti Wafat menguburkan keangkuhan dan kemunafikan kita dan arti Kebangkitan membangunan kembali klemahan dan kekurangan kita.
    Akhirnya atas nama Keluarga Besar Apeworen khususnya dan Kdang pada Umumnya di Makassar “Mengucapkan Selamat Pasakah, Semoga arti Wafat dan Kbangkitan Tuhan kita Yesus Kristus memperbaharui iman dan perbuatan kita semua………………amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s