SELAMAT JALAN SAHABATKU: HAJI BACHTIAR SARABITI

Petang ini, Minggu 25 Maret 2012, saya baru saja pulang dari melayat sekaligus menghantar sahabatku almarhum Bapak Haji Bachtiar Sarabiti yang menghadap sang Khalik pagi tadi di RS Fatmawati Jakarta. Tadinya saya berencana membesuk beliau di rumah sakit setelah ada kabar bahwa dia dipindahkan ke ruang ICU. Ternyata perjalanan ke rumah sakit harus dibelokkan ke rumah duka. Selamat Jalan sahabatku. Kami merasa kehilangan dan turut berduka cita. Semoga keluarga yang ditinggalkan mendapatkan kekuatan dan dianugerahi keikhlas an untuk menerima kenyataan ini.

Jenazah yang disemayamkan di rumah keluarga di Kompleks Perdagangan Bintaro,  sudah dimakamkan di pemakaman umum Tanah Kusir hari ini, setelah sholat Ashar. Walaupun waktunya singkat, banyak sanak keluarga dan sahabat  sempat datang melayat dan menghantarnya ke tempat peristirahatan terakhirnya.  Semoga dia diterima oleh Allah SWT sesuai amal ibadahnya.

Manusia sejati

Saya mengenalnya secara dekat ketika kami bersama-sama menjadi pengurus K3J (Kerukunan Keluarga Kedang Jakarta), di mana dia adalah ketuanya.  Selama dekat dan bekerja sama dengan dia, saya terkesan dengan kepribadiannya. Pertama-tama saya melihat dia sebagai manusia yang utuh. Dia punya perhatian besar terhadap kemanusiaan. Dia menghargai orang sebagai manusia tanpa membeda-bedakan identitas seseorang yang sesungguhnya memang tidak tunggal. Dia sadar bahwa ketika dia tampil dengan identitas Kedang, dia akan berhadapan dengan sesama orang Kedang tetapi dengan identitas keyakinan yang bisa berbeda. Ketika dia tampil dalam kelompok dengan identitas keyakinanan yang sama, dia akan berhadapan dengan orang-orang yang sama dengan identitas kesukuan, budaya dan cara berpikir yang bisa berbeda. Dia tak ingin terpelotot hanya pada satu identitas saja. Prinsip ini yang membuat dia bisa “bermain” dengan siapa saja. Dia punya sahabat-sahabat lintas identitas.

Kedang sejati

Jangan tanya bagaimana perhatiannya terhadap Kedang. Ketika menjadi Ketua YPIK (Yayasan Pendidikan Islam Kedang) dia bekerja keras untuk menggerakkan pendidikan Islam di Kedang, bahkan juga Lembata dan Flores Timur. Dia sadar betul bahwa pendidikan bisa membuat orang menjadi terbuka dan berwawasan luas, percaya diri dan mampu membangun keyakinan yang sehat.

Ketika terpilih menjadi Ketua Kerukunan Keluarga Kedang, dia bertekad untuk menjadi pemimpin yang loyal dan royal. Dan itu tidak hanya diucapkan tetapi juga dijalankannya dengan konsisten. Berkat keteguhannya, Kerukunan Keluarga Kedang Jakarta (K3J) bisa dideklarasikan pada bulan November tahun 2009. Banyak rencana dan program yang ingin dilakukannya untuk mengabdi pada K3J. Sayang bahwa kesehatannya tidak mengizinkan beliau untuk mewujudkan idealismenya. Semangatnya yang membara ternyata tidak cukup didukung oleh kesehatan fisiknya yang mulai semakin menurun.

Muslim sejati

Saya juga mengenal dia sebagai seorang sahabat Muslim yang mengagumkan. Keyakinannya yang kokoh pada iman Islamnya membuat dia begitu percaya diri dan bisa bergaul dengan siapa pun dari kelompok keyakinan mana pun tanpa merasa khawatir akan luntur imannya. Dia bahkan menyelesaikan sekolah menengahnya di SMP St. Pancratio Larantuka, dan tinggal di asrama di bawah bimbingan pastor. Keyakinan dan konsistensinya itulah yang membuat dia menjadi pribadi yang menarik. Dengan keyakinannya yang kokoh, dia justru bisa “menari” di mana pun tanpa menyembunyikan identitasnya. Dan tariannya menjadi asli, original, indah dan mengagumkan.

Bagi dia mutu manusia bukan terletak pada keyakinan melainkan pada bagaimana manusia menjalankannya keyakinannya secara konsisten. Bagi dia, adalah sia-sia alias percuma, kalau orang mengaku beragama tetapi tidak menjalankan keyakinan itu dengan sungguh. Prinsip dia jelas, menjadi Muslim seharusnya berarti menjalankan iman Islamnya dengan setia. Menjadi Katolik berarti hiduplah sesuai dengan keyakinan imanmu sebagai orang  Katolik.  Tidak heran, misalnya, ketika mengusulkan waktu rapat pada hari Minggu, dia selalu menetapkan waktunya agak siang, biar saudara-saudaranya yang Katolik bisa pergi ke gereja dulu. Dia juga tak menunjukkan keengganannya ketika sahabatnya almarhum Mateus Lolonrian dan teman-teman Katolik mendoakan kesehatannya. Dia melihat ini sebagai maksud baik dan ketulusan teman-teman untuk menguatkan dia dan mengharapkan kesembuhannya.  Apakah dikabulkan atau tidak itu urusan “Tuang Allah ne’e ne wa”, begitu katanya dalam bahasa Kedang.

Kini sahabat kita sudah meninggalkan kita, tetapi semangat, cita-citanya tetap tinggal bersama kita. Pang mo’o reu. Kami Keluarga Kedang Jakarta kehilanganmu. Semoga kami boleh menemukan dan meneruskan semangatmu dalam kebersamaan sejati. Beristirahatlah dalam damai.

Benyamin Molan Amuntoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s