TEHAER

Sebentar lagi Natal. Hujan baru saja turun. Sangat deras. Saya melangkah masuk rumah, mengepit koran yang separuh basah. Walaupun bekas, koran itu saya kepit erat-erat di ketiak. Maklum, di dalamnya kuceklek sebuah amplop. Amplop pemberian bosku. Amplop yang selalu kutunggu-tunggu pada saat-saat menjelang Natal seperti ini. Amplop Tunjangan Hari Raya yang lebih akrab dikenal dengan THR. Untuk menghindari bahaya berpindahnya amplop ini ke tangan-tangan jahil si pencopet atau tukang totok, maka kubuatkan kamuflase ini. Biar mereka tak tahu bahwa di balik koran bekas ini ada duit. Dan dengan cara itu THRku pun akhirnya selamat tiba di tangan isteri tercinta.

Dia pun segera membukanya, sementara aku melepaskan sepatuku. Aroma segar yang menyebar dari kaus kakiku yang setengah basah membuat dia memalingkan wajah sambil mendengus mengusir bau yang singgah di hidungnya yang mungil.

“Kurang lagi pak, tidak sebesar gaji satu bulan”, nyeletuk sang isteri sebelum sempat menghitung. “Habis, mudah sekali. Tak perlu dihitung juga tau. Gaji bapak kan dua dua lima. Kalau tak ada uang lima-ribuan berarti kurang pak. Karena lebih itu tak pernah, dan potong itu biasa”. Betul juga ocehan isteri saya. Enam tahun bekerja baru sekali dapat THR utuh. Selebihnya selalu disunat. Alasannya selalu sama. Penjualan sepi. Padahal bos semakin menjadi kaya saja. rumah baru, mobil baru, tanah baru. Bahkan ada desas desus di lingkungan karyawan, bahwa bos juga punya simpanan baru. “Si bos itu terlalu ya pak”, lanjut isteri saya. “Apa sih artinya dua puluh lima ribu itu bagi dia selama setahun? Untuk pengeluarannya sehari saja pasti tidak cukup. Pada hal uang sejumlah itu sangat berarti bagi kita, bisa untuk beli beberapa baju buat di pakai selama setahun. Apa lagi tahun ini. Boro-boro bisa beli baju baru. Membetulkan atap bocor saja tak bisa.”

Begitulah keadaan kami  Setiap hujan turun, ember, panci, atau peralatan apa saja akan dipasang di setiap titik bocoran untuk menampung cucuran air yang masuk ke dalam rumah. Suatu saat bisa terjadi, bahwa untuk pergi ke dapur saja kami mesti pakai payung. Pada hal itu masih dalam rumah. Isteri saya menyadari sepenuhnya bahwa banyak sekali keperluan yang siap menelan THR yang jumlahnya tak seberapa itu. Atap yang bocor berat. Baju baru, sepatu baru buat anak-anak. Kue dan sirup untuk suguhan Natal. Anak-anak minta jalan-jalan ke Monas, Ancol atau “pasar dalam tanah” di Blok M. Belum lagi recehan buat anak-anak tetangga yang nantinya datang salaman Natal. Ah, THR jadi seperti hujan gerimis yang turun di atas tanah kering yang dibakar kemarau panjang. Dan gerimis yang cuma sebentar itu langsung disapu oleh terik yang menyusul.

Itulah nasib orang kecil. Haknya selalu tak seimbang dengan kewajibannya. Kewajibannya mendapat pengawasan ketat agar berjalan seefisien dan seefektif mungkin. Tetapi tidak demikian dengan haknya. Sudah kecil malah tak bisa juga didapatkan sepenuhnya. Seperti sekarang ini, dipotong. Tapi mungkin memang harus demikian. dulu di sekolah guru juga pernah bilang: “Anda tak pernah bisa mendapatkan nilai sepuluh. Sepuluh itu untuk Tuhan, sembilan itu untuk guru. Dan seorang murid hanya bisa mendapat nilai paling tinggi delapan”. Ya, mungkin saya harus terus menjadi murid. Entah sampai kapan. Tapi yang jelas saya tak akan pernah bisa menjadi Tuhan.

Itu pun disadari oleh isteri saya. Dan dia yang sudah terbiasa dengan gaji saya yang tak seberapa itu, sudah pandai membuat alokasi yang ketat. Natal dia jelang dengan gembira. Atap tak bocor lagi. Hujan lebat tak mengganggu dia lagi membuat adonan dan membakar kue yang kebanyakan terigunya sehingga terasa alot; menggoreng kembang goyang yang hanya bisa dikunya oleh orang bergigi kuda. Baju baru buat anak-anak dijahitnya sendiri. Sementara sepatu baru terpaksa dibelinya karena dia sendiri tak bisa membuatnya. Saya pun kebagian juga; sebuah kemeja baru Sevino seharga sepuluh ribu. “Pakai ini saja”, kata sang isteri. “Jangan batik. Kalau bodinya makmur sih bisa berpenampilan seperti pejabat. Wong kurang gizi begitu, malah membuat bapak tampak memprihatinkan”. Begitu ungkap isteri saya. Dan untuk dia sendiri? Tidak ada. “Ah, nanti paling-paling saya dapat dari kak Moni”. Moni itu isteri dari kakak lelaki isteri saya. Dia mengajar di sebuah SMP swasta, sementara suaminya yang kakak ipar saya itu kepala gudang pada sebuah pabrik konveksi. Dan betul. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini juga kak Moni membelikan baju baru buat isteri saya.

Duapuluh tiga Desember, sehari menjelang malam Natal, kantor kami diliburkan. Karena baru masuk lagi tanggal 3 Januari tahun berikutnya,maka hari itupun kami menerima gaji bulan Desember. Seperti biasa koran bekas kupakai lagi untuk kamuflase. Dan amplop gaji saya pun sampai dengan selamat ke tangan isteri tercinta. Kakinya dilepaskan sebentar dari pedal mesin jahit, sementara tangannya membuka amplop yang kuberikan. Ternyata dia menemukan sesuatu yang lain dari biasanya. Uang gajian dalam amplop itu kali ini terbungkus selembar kertas. Pada kertas itu tertulis: “Bapak Agus, Gaji Rp 225.000; ongkos ke gereja Rp 25.000; jumlah Rp 250.000,-. Isteri saya tertawa. “Ada tambahan dua puluh lima ribu pak”. Tapi bukan karena itu dia tertawa. Dia tertawa karena menurut dia “si bos itu pintar ya pak. Waktu itu THR kita cuma dibayar duaratus ribu, berarti kurang dua puluh lima ribu. Sekarang kita dihadiahi dua puluh lima ribu untuk sesuatu yang kedengarannya sangat mulia: ke gereja di hari Natal nanti. Ah, anak kecil juga tau; bos menggunakan duit kita untuk beramal kepada kita yang kecil dan miskin ini”. “Yalah, apa lagi anak Yesus ya mak, pasti lebih tahu”, nyosor anak saya yang sedang membantu ibunya merapikan pakaian bersih yang baru diangkat dari jemuran.

Dan keesokan harinya, ketika isteri saya sedang ngerumpi dengan ibu sebelah rumah, terdengar bahan ini pun dipresentasikan. “Tapi itu belum apa-apa bu”, nyeletuk ibu tetangga yang urun rumpi siang itu, “dibanding pejabat kaya yang mengorupsi uang rakyat berjuta-juta rupiah, kemudian mengembalikan sepersepuluhnya kepada rakyat miskin dalam bentuk amal sosial. Namanya harum sampai di surga. Kita boleh berdecak kagum pada pejabat itu. Dia orang baik, kaya tapi tak kikir. Bersedia menyumbangkan sebagian kekayaannya untuk membantu rakyat kecil. Pada hal itu bukan uang dia. Uang rakyat. Hebat kan”.

Kata-kata teman ngrumpi isteri saya itu membuat saya teringat akan Dani, teman kantor saya. Dia sering membuat ketawa tetangganya dengan lelucon-lelucon konyol. Tak ada yang marah sama dia. Sekali dia menangkap ayam tetangga yang “main” ke rumahnya. Dia sembeli ayam itu lalu dibuatkannya sop. Setelah siap, tetangga pun diundang untuk menikmati sop hidangannya. “Tumben ya si Dani baik amat, memotong ayam, membuat sop, lalu membagikannya ke tetangganya”. Mereka tak tahu kalau ayam itu adalah ayam mereka sendiri. Setelah puas, Dani lalu menyampaikan sepatah dua kata yang intinya adalah pemberitahuan bahwa ayam yang mereka santap itu adalah ayam tetangganya. Tetangganya itu hanya bisa melotot kemudian tertawa. “Habis kalau menangis, marah, atau tertawa tidak bakal mengubah kenyataan, lebih baik pilih tertawa dong”. Begitu kata tetangga itu.

Dua puluh empat Desember sore, kami sekeluarga sedang bersiap-siap ke gereja. Tiba-tiba si Dani muncul dengan sebuah bungkusan. Bingkisan Natal katanya. Karena mau ke Gereja juga, dia tak mau berlama-lama. Dia serahkan bingkisan itu kepada isteri saya lalu segera kabur. “Aneh. Dani yang gajinya lebih rendah dari saya malah masih bisa menyisihkan THRnya untuk membeli bingkisan Natal buat saya. Ah, paling-paling dari bos”, pikirku. Kami buka bingkisan itu. Wah, sepasang sepatu merek lokal terkenal. “Terima kasih Dani”, kataku dalam hati. “Kau sepertinya tau saja bahwa sepatu saya sudah tak pantas dipakai ke gereja. Kau sepertinya tau bahwa akhir-akhir ini kalau ke gereja aku senang kalau tak kebagian tempat duduk. Biar ada alasan untuk berdiri saja di deret paling belakang. Habis kalau dapat bangku duduk berarti harus kadang-kadang bertelut. Dan kalau bertelut aku malu. Orang di belakangku akan melihat tumit sepatuku yang sudah kehabisan tutup luarnya, dan menampakkan bolong-bolong yang kadang-kadang membawa serta kerikil atau lumpur”.

Belum habis rasa syukurku, sang isteri sudah mengeluarkan sebuah amplop yang diselipkan di situ, dan mengeluarkan isinya. Sebuah bon pembelian bernilai dua puluh lima ribu rupiah, berikut sebuah kartu Natal sederhana. Pada kartu itu tertulis dengan huruf cakar ayamnya Dani: “sepatu ini kubeli dengan uang arisanmu. Selamat Natal Mas”. Aku kaget….. dan tertawa. Memang betul. Di antara kami berenam di kantor ada kegiatan arisan kecil-kecilan setiap bulan. Cuma lima ribu rupiah per orang. Dan bulan ini saya yang beruntung mendapatkannya.

“Ayo cepat siap”, aku mendesak anak-anak. “Kita harus tiba di gereja lebih cepat, biar dapat tempat duduk”. Kami tiba di gereja setengah jam sebelum acara dimulai. Kami memilih tempat duduk bagian depan, karena sudah tak ada lagi alasan untuk berdiri pada barisan paling belakang. Lagu Malam Kudus pun bergema. Aku berdiri mantap, tak ada lagi kerikil dan lumpur nyangkut di sepatuku. Dan kemudian dengan mantap pula aku bertelut, ketika bayi Yesus dibaringkan di palungan. Aku pun berdoa dalam hati “Terima kasih Yesus, Engkau mau mengambil kemiskinanku, biar aku boleh merasakan juga sedikit kebahagiaan di dunia ini dan kelak kebahagiaan itu menjadi sempurna di surga nanti. Amin”.

Jakarta, 27 Desember 1994

Benyamin Molan Amuntoda

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s