DENDANG NATALKU

Dunia sedang menyambut Natal. Lagu-lagu Natal sudah mulai bergema, tidak hanya di gereja-gereja tertentu (Gereja Katolik masih berada dalam masa Advent), tetapi juga di tempat-tempat perbelanjaan, di HP, bahkan di dendangnya anak-anak. Ada empat dendang Natal yang berkesan bagi saya. Yang mana?

Suatu hari di saat istirahat di hari libur antara Natal 2010 dan Tahun Baru 2011 yang lalu, saya tergelitik oleh suara nyanyian sekelompok anak yang tengah bermain di gang yang sempit. Lagunya jelas, lagu Natal yang khas: Jingle Bells. Tetapi liriknya sudah dipelesetkan menjadi:

Jingle Bells, Jingle Bells, bapak lu gembel.
Kerjanya di hotel
Bagian ngepel…..
Jingle Bells …..

Terdengar mereka bernyanyi penuh semangat diiringi perkusi seadanya, buatan mereka sendiri dari kayu, bambu, dll. Saya langsung hafal liriknya, lebih hafal dari lirik aslinya. Ini menjadi lagu Natal pertama yang berkesan bagi saya. Saya pikir, betul. Itulah lagu Natal sesungguhnya. Natal harus menjadi perayaan bagi mereka yang hidupnya sengsara tetapi tak bisa bersuara. Istilahnya uskup Bello, voice of the voiceless. Para pemimpin agama sudah berteriak menyampaikan pesan profetisnya. Para filsuf dan etikawan sudah menuliskan ulasan etisnya. Para seniman sudah mementaskan pesan moralitasnya, dan anak-anak gembel sudah mendendangkan originalitasnya. Tinggal giliran para politisi, penguasa, pengusaha, elit partai, mengambil langkah taktisnya. Dan tak kalah penting, para koruptor menghentikan gelojolitasnya.

Dengan demikian, Natal tidak sekadar menjadi sinar bulan purnama, yang indah menyejukkan, serta menenangkan, dan yang segera akan datang dan pergi, melainkan menjadi mata hari yang menghangatkan di sepanjang hayat. Di sini dendang keroncongnya Sundari Soekotjo (dengan berfokus pada dua baris terakhir liriknya) menjadi lagu Natal keduaku:

Di bawah sinar bulan purnama
air laut berkilauan
berayun-ayun ombak mengalir
ke pantai senda gurauan

Di bawah sinar bulan purnama
hati susah tak dirasa
gitar berbunyi riang gembira
jauh malam dari petang

Reff:
Beribu bintang taburan
menghiasi langit hijau
menambah cantik alam dunia
serta murni pemandangan

Di bawah sinar bulan purnama
hati susah jadi senang
si miskin pun yang hidup sengsara
semalam itu bersuka.

Semoga si miskin bisa ikut bersuka di malam Natal dan seterusnya. Kapan? Dan inilah lagu Natal ketigaku:

Oh When the saints go marchin in
Oh, when the saints go marchin in
I want to be in that number
When the saints go marchin in

(Bila orang kudus sudah berbaris [masuk surga ketika sangka kala berbunyi], saya ingin turut serta dalam barisan itu).

Oh Lord, lama sekali. Masakan mesti tunggu sampai akhirat? Mengapa tidak dari sekarang.
Dan inilah lagu Natal keempatku

Di sini senang
Di sana senang
Di mana-mana hatiku senang

Bukankah lebih baik ada suka cita di dunia ini, yang kelak diabadikan di akhirat? Semoga Natal membawa damai dan suka cita, sekarang dan selamanya. Amin

Selamat Natal teman-teman.
25 Desember 2011

Benyamin Molan Amuntoda

One thought on “DENDANG NATALKU

  1. Atasnama Keluarga besar Uyelewun di Makassar mengucapkan selamat kepada Bapak Bupati dan Wakil Bupati Lmbata semoga lewat Kelahiran Tuhan Ysus kita Kristus dapat memberikan kekuatan baru kepada Bapak berdua dalam mewujudkan amanah rakyat melalui program kerja yang telah dirancang oleh Pemerintah Kab. Lembata, smoga cita-cita luhur kedua beliau terwujud di Bumi Pertiwi Lmbata. Tuhan Selalu teriring bersama Bapak ……………..Trims

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s